وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰ

Padahal tidak ada suatu nikmat pun pada seseorang yang harus dibalasnya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰwa-maa li-ahadin 'indahu min ni'matin tujzaapadahal tidak ada suatu nikmat pun pada seseorang yang harus dibalasnya

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. لِأَحَدٍli-ahadinbagi seorang pun
  3. عِنْدَهُ'indahudi sisi-Nya
  4. مِنْmindari
  5. نِعْمَةٍni'matinnikmat
  6. تُجْزَىٰtujzaadibalas

Inti bacaan

Kemurnian motif tanpa pamrih: 'padahal tidak ada suatu nikmat pun pada seseorang yang harus dibalasnya', penegasan bahwa pemberian yang dilakukan bukan untuk membalas utang budi atau mengharapkan balasan dari penerima, kedermawanan yang benar-benar bebas dari kalkulasi transaksional.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (تُجْزَىٰ, tujzaa) muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:15, 40:17, 45:22, dan 92:19. Akarnya berarti membalas setimpal. Ia dipakai di 109 ayat, antara lain 2:48, 6:160, 37:39, 76:12, dan 98:8, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut balasan atas amal.

Kesejajaran dengan 20:15 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk pernyataan bahwa tiap jiwa dibalas menurut apa yang diusahakannya. Jadi akar yang menamai balasan dari Yang berfirman, di sini menyebut balas budi antarmanusia yang justru diingkari. Kata (نِعْمَةٍ, ni'matin) di sini berada di dalam pengingkaran, bukan di dalam berita.

Kata (نِعْمَةٍ, ni'matin) berasal dari akar yang berarti hidup senang dan tercukupi. Akar itu dipakai di 128 ayat, antara lain 2:211, 14:34, 16:18, 88:8, dan 93:11. Kesejajaran dengan 93:11 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut nikmat Tuhan yang diperintahkan disebut-sebut.

Kata (لِأَحَدٍ, li-ahadin) tidak bertakrif dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan tidak ada seorang pun. Kesejajaran dengan 90:5 dan 90:7 patut dicatat, sebab di sana kata yang seakar juga berada di dalam pengingkaran dua kali berturut-turut.

Bentuk (تُجْزَىٰ, tujzaa) berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang membalas. Jadi ayat ini menyebut balasan tanpa menyebut pelakunya, dan bentuk pasif itu sejalan dengan bentuk pasif di 92:17 yang juga menyembunyikan pelakunya.

Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang menutup satu kemungkinan, dan 92:20 membuka satu pengecualian atasnya. Jadi dua ayat itu satu kalimat yang dipisah menjadi dua, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa alasan yang sebenarnya.

Kata (عِنْدَهُ, 'indahu) memakai kata ganti yang menunjuk orang yang paling bertakwa di 92:17, sehingga tiga ayat dari 92:17 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak. Jadi keterangan tentang golongan itu berlangsung selama empat ayat sampai 92:20.

Yang diingkari di ayat ini bukan bahwa ia menerima nikmat melainkan bahwa ada nikmat pada seseorang yang harus ia balas. Jadi yang ditutup kemungkinan bahwa pemberiannya berupa balas budi, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun.

Bentuk (تُجْزَىٰ, tujzaa) berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata benda yang diterangkannya. Jadi kesesuaian bentuk itu terbawa di dalam kalimatnya sendiri, dan bahasa Indonesia tidak membedakan bentuk laki-laki dan perempuan sehingga kesesuaian itu tidak bisa ditahan.

Kata (وَمَا, wa maa) di awal ayat huruf pengingkaran, sama seperti huruf di awal 92:11. Jadi dua ayat di surah ini dibuka dengan huruf yang sama, dan keduanya mengingkari kegunaan sesuatu yang berhubungan dengan harta.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kemurnian motif orang yang bertakwa: tidak memberi karena membalas budi, dan kata kerja terakhirnya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:15, 40:17, 45:22, dan 92:19.

Akarnya dipakai di 109 ayat, antara lain 2:48, 6:160, 37:39, 76:12, dan 98:8, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut balasan atas amal. Kesejajaran dengan 20:15 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk pernyataan bahwa tiap jiwa dibalas menurut apa yang diusahakannya.

Jadi akar yang menamai balasan dari Yang berfirman, di sini menyebut balas budi antarmanusia yang justru diingkari. Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu dengan satu kalimat pun.

Bentuk kata kerja terakhirnya berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang membalas. Jadi ayat ini menyebut balasan tanpa menyebut pelakunya, dan bentuk pasif itu sejalan dengan bentuk pasif di 92:17.

Yang diingkari di ayat ini bukan bahwa ia menerima nikmat melainkan bahwa ada nikmat pada seseorang yang harus ia balas. Jadi yang ditutup kemungkinan bahwa pemberiannya berupa balas budi.

Kata pertamanya huruf pengingkaran, sama seperti huruf di awal 92:11. Jadi dua ayat di surah ini dibuka dengan huruf yang sama, dan keduanya mengingkari kegunaan sesuatu yang berhubungan dengan harta. Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang menutup satu kemungkinan, dan 92:20 membuka satu pengecualian atasnya, sehingga dua ayat itu satu kalimat.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja terakhirnya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:15, 40:17, 45:22, dan 92:19, dan akarnya dipakai di 109 ayat. Di 20:15 akar yang sama dipakai untuk pernyataan bahwa tiap jiwa dibalas Allah menurut apa yang diusahakannya. Jadi akar yang menamai balasan dari-Nya, di sini menyebut balas budi antarmanusia yang justru diingkari. Balasan dari-Nya dan balas budi antarmanusia berbagi satu akar, dan yang kedua justru diingkari. Bentuk pasif yang menyembunyikan pelakunya menahan perhatian pada perbuatannya sendiri.
  • Yang diingkari di ayat ini bukan bahwa ia menerima nikmat melainkan bahwa ada nikmat pada seseorang yang harus ia balas. Jadi yang ditutup Allah kemungkinan bahwa pemberiannya berupa balas budi. Apa yang berubah pada nilai sebuah pemberian ketika diketahui bahwa yang memberi sedang melunasi utang budi? Yang ditutup bukan penerimaan nikmatnya melainkan kemungkinan pemberiannya berupa pelunasan utang. Pemberian yang bukan balas budi tidak menuntut apa pun dari orang yang menerimanya.
  • Kata kelimanya berasal dari akar yang dipakai di 128 ayat, antara lain 2:211, 14:34, 16:18, 88:8, dan 93:11. Kesejajaran dengan 93:11 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut nikmat Allah yang diperintahkan disebut-sebut. Jadi dua surah di juz ini memakai akar yang sama untuk dua kedudukan nikmat yang berbeda. Dua surah yang memakai satu akar untuk dua kedudukan nikmat berdiri sejajar tanpa saling menyebut. Pemberian yang bukan balas budi tidak menuntut apa pun dari orang yang menerimanya.
  • Kata ketiganya tidak bertakrif dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan tidak ada seorang pun. Kesejajaran dengan 90:5 dan 90:7 patut dicatat, sebab di sana kata yang seakar juga berada di dalam pengingkaran dua kali berturut-turut. Jadi dua surah memakai kata yang sama untuk menutup seluruh kemungkinan. Kata yang menutup seluruh kemungkinan dipakai di dua surah berdekatan dengan cara yang sama. Bentuk pasif yang menyembunyikan pelakunya menahan perhatian pada perbuatannya sendiri.
  • Bentuk kata kerja terakhirnya berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang membalas. Jadi ayat ini menyebut balasan tanpa menyebut pelakunya, dan bentuk pasif itu sejalan dengan bentuk pasif di 92:17 yang juga menyembunyikan pelakunya. Dua ayat berdekatan karena itu sama-sama menahan penyebutan pelaku. Bentuk pasif yang menyembunyikan pelakunya berulang di dua ayat berdekatan di surah ini. Bentuk pasif yang menyembunyikan pelakunya menahan perhatian pada perbuatannya sendiri.
  • Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang menutup satu kemungkinan, dan 92:20 membuka satu pengecualian atasnya. Jadi dua ayat itu satu kalimat yang dipisah menjadi dua, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa alasan yang sebenarnya dinyatakan Allah. Kalimat yang dipecah menjadi dua ayat meninggalkan pembacanya tanpa alasan bila dibaca sendiri. Pemberian yang bukan balas budi tidak menuntut apa pun dari orang yang menerimanya.