إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ

Kecuali karena mencari keridaan Tuhannya yang tertinggi.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰillaa btighaa'a wajhi rabbihi l-a'laakecuali karena mencari keridaan Tuhannya yang tertinggi

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. إِلَّاillaakecuali
  2. ابْتِغَاءَbtighaa'amencari
  3. وَجْهِwajhiwajah
  4. رَبِّهِrabbihiTuhannya
  5. الْأَعْلَىٰl-a'laaYang Mahatinggi

Inti bacaan

Motivasi tunggal yang murni: 'kecuali (dia memberikannya semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya yang tertinggi', kejelasan orientasi yang hanya mengarah pada satu tujuan, kemurnian niat tanpa pencampuran motif duniawi.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(dia memberikannya semata-mata)" tidak dipakai. Kata (الْأَعْلَىٰ, al-a'laa) berbentuk elatif bertakrif dan diterjemahkan dengan huruf kecil sebagai "yang tertinggi", konsisten dengan pola elatif di 87:1. Kata itu muncul 9 kali di 9 surah, antara lain di 16:60, 20:68, 30:27, 87:1, dan 92:20.

Kesejajaran dengan 87:1 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama membuka surahnya sedangkan di sini ia hampir menutup surah ini. Jadi satu kata berdiri di dua ujung yang berlawanan di dua surah yang berdekatan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (الْأَعْلَىٰ, al-a'laa) di sini menyifati Tuhannya, bukan wajah-Nya.

Rangkaian (ابْتِغَاءَ وَجْهِ, ibtighaa-a wajhi) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 2:272, 13:22, dan 92:20. Di 2:272 dan 13:22 rangkaian yang sama dipakai untuk orang yang memberi dan bersabar dengan mencari keridaan Tuhan semata.

Jadi tiga tempat memakai rangkaian yang sama untuk maksud yang berdekatan, dan ketiganya menyangkut perbuatan yang dikerjakan tanpa mengharap balasan dari manusia. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun.

Akar (ابْتِغَاءَ, ibtighaa-a) berarti melampaui dan mencari. Akar itu dipakai di 90 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk melampaui batas, antara lain di 7:33 dan 42:39. Jadi satu akar memikul mencari dengan sungguh-sungguh dan melampaui batas.

Kata (وَجْهِ, wajhi) berasal dari akar yang berarti wajah dan arah. Akar itu dipakai di 78 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk wajah, antara lain di 88:2 dan 88:8. Kesejajaran dengan 88:2 dan 88:8 patut dicatat, sebab di sana kata yang seakar dipakai untuk wajah manusia pada hari perhitungan.

Kata (رَبِّهِ, rabbihi) memakai kata ganti yang menunjuk orang yang paling bertakwa di 92:17. Jadi empat ayat dari 92:17 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak, dan pengikatan itu dikerjakan kata ganti belaka tanpa mengulang sebutannya.

Kata (إِلَّا, illaa) di awal ayat huruf pengecualian, dan ia menyambung kepada pengingkaran di 92:19. Jadi dua ayat itu satu kalimat, dan yang dikecualikan bukan dari pemberiannya melainkan dari alasan mengapa ia memberi. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya.

Bentuk (ابْتِغَاءَ, ibtighaa-a) kata benda berbaris fathah, bukan kata kerja, sehingga yang dinyatakan perkaranya, bukan peristiwa yang sedang berlangsung. Jadi alasannya disebut sebagai keadaan yang melekat, bukan sebagai perbuatan yang dikerjakan pada satu waktu.

Kata (الْأَعْلَىٰ, al-a'laa) berbaris kasrah mengikuti kata yang diterangkannya, sehingga keduanya terikat sebagai satu satuan. Jadi yang tertinggi Tuhannya, bukan wajah-Nya, dan perbedaan itu terbawa di dalam baris katanya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa satu-satunya motif orang bertakwa adalah mencari rida Allah, dan rangkaian dua kata pertamanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 2:272, 13:22, dan 92:20.

Di 2:272 dan 13:22 rangkaian yang sama dipakai untuk orang yang memberi dan bersabar dengan mencari keridaan Tuhan semata. Jadi tiga tempat memakai rangkaian yang sama untuk maksud yang berdekatan, dan ketiganya menyangkut perbuatan yang dikerjakan tanpa mengharap balasan dari manusia.

Kata terakhirnya berbentuk elatif bertakrif dan muncul 9 kali di 9 surah, antara lain di 16:60, 20:68, 30:27, 87:1, dan 92:20. Kesejajaran dengan 87:1 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama membuka surahnya sedangkan di sini ia hampir menutup surah ini.

Akar kata pertamanya dipakai di 90 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk melampaui batas, antara lain di 7:33 dan 42:39. Jadi satu akar memikul mencari dengan sungguh-sungguh dan melampaui batas.

Kata pertamanya juga didahului huruf pengecualian yang menyambung kepada pengingkaran di 92:19. Jadi yang dikecualikan bukan dari pemberiannya melainkan dari alasan mengapa ia memberi.

Kata terakhirnya berbaris kasrah mengikuti kata yang diterangkannya, sehingga keduanya terikat sebagai satu satuan. Jadi yang tertinggi Tuhannya, bukan wajah-Nya, dan perbedaan itu terbawa di dalam baris katanya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 9 kali di 9 surah, antara lain di 16:60, 20:68, 30:27, 87:1, dan 92:20. Kesejajaran dengan 87:1 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama membuka surahnya sedangkan di sini ia hampir menutup surah ini. Jadi satu kata yang menerangkan Allah berdiri di dua ujung yang berlawanan di dua surah berdekatan. Satu kata yang membuka satu surah dan hampir menutup surah lain menandai keduanya sepasang. Mencari wajah-Nya menutup seluruh alasan lain tanpa perlu menyebutkan satu pun di antaranya.
  • Rangkaian dua kata pertamanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 2:272, 13:22, dan 92:20. Di 2:272 dan 13:22 rangkaian yang sama dipakai untuk orang yang memberi dan bersabar dengan mencari keridaan Allah semata. Jadi ketiganya menyangkut perbuatan yang dikerjakan tanpa mengharap balasan dari manusia. Rangkaian yang berulang di tiga tempat seluruhnya menyangkut perbuatan tanpa mengharap balasan. Mencari wajah-Nya menutup seluruh alasan lain tanpa perlu menyebutkan satu pun di antaranya.
  • Akar kata pertamanya dipakai di 90 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk melampaui batas, antara lain di 7:33 dan 42:39. Jadi satu akar memikul mencari dengan sungguh-sungguh dan melampaui batas, dan yang menyatukannya barangkali kesungguhan yang tidak berhenti pada tempat yang lazim. Satu akar untuk mencari sungguh-sungguh dan melampaui batas menuntut pemeriksaan atas letaknya. Mencari wajah-Nya menutup seluruh alasan lain tanpa perlu menyebutkan satu pun di antaranya.
  • Kata pertamanya didahului huruf pengecualian yang menyambung kepada pengingkaran di 92:19. Jadi yang dikecualikan Allah bukan dari pemberiannya melainkan dari alasan mengapa ia memberi. Perbedaan itu perlu dijaga: yang pertama tentang apa yang dikerjakan, dan yang kedua tentang mengapa ia dikerjakan. Yang dikecualikan alasannya, bukan perbuatannya, dan perbedaan itu menentukan seluruh maknanya. Satu kata di dua ujung dua surah berdekatan menandai keduanya sepasang tanpa penghubung.
  • Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 78 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk wajah, antara lain di 88:2 dan 88:8. Kesejajaran dengan kedua ayat itu patut dicatat, sebab di sana kata yang seakar dipakai untuk wajah manusia pada hari perhitungan, sedangkan di sini untuk wajah Allah yang dicari. Dua surah yang memakai satu akar untuk wajah manusia dan wajah-Nya berdiri sejajar tanpa penghubung. Satu kata di dua ujung dua surah berdekatan menandai keduanya sepasang tanpa penghubung.
  • Kata ketiganya memakai kata ganti yang menunjuk orang yang paling bertakwa di 92:17. Jadi empat ayat dari 92:17 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak, dan pengikatan itu dikerjakan kata ganti belaka tanpa Allah mengulang sebutannya. Apa yang dijaga sebuah teks ketika ia menahan diri dari mengulang nama yang sudah jelas? Menahan diri dari mengulang nama yang sudah jelas menjaga teksnya tetap sepersis yang tertulis. Satu kata di dua ujung dua surah berdekatan menandai keduanya sepasang tanpa penghubung.