بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
وَالضُّحَىٰ
Demi waktu duha,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالضُّحَىٰwa-dh-dhuhaademi waktu duha
Terjemahan per kata (1 kata)
- وَالضُّحَىٰwa-dh-dhuhaademi waktu duha
Inti bacaan
Pembukaan Ad-Duha dengan sumpah penuh kehangatan: 'demi waktu duha', penggunaan cahaya pagi yang hangat sebagai simbol harapan, membuka surah yang berfungsi sebagai penghiburan personal.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Kata (وَالضُّحَىٰ, wa-dh-dhuhaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan seluruh ayat ini terdiri atas satu kata saja, sama seperti 101:1.
Akar (الضُّحَىٰ, adh-dhuhaa) berarti matahari sepenggalah naik. Akar itu dipakai di 7 ayat, yaitu 7:98, 20:59, 20:119, 79:29, 79:46, 91:1, dan ayat ini. Di 91:1 tertulis (وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا, wa-sy-syamsi wa-dhuhaahaa), demi matahari dan cahaya paginya. Jadi dua surah memakai akar yang sama sebagai isi sumpah, dan yang di 91:1 disandingkan dengan mataharinya sedangkan yang di sini berdiri sendiri.
Waktu yang disebut waktu ketika matahari sudah naik dan cahayanya sudah penuh, tetapi hari belum sampai ke tengahnya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "waktu duha", memakai kata yang sudah dikenal pembaca Indonesia untuk waktu yang sama. Menerjemahkannya menjadi pagi akan kehilangan ketertentuan waktunya, sebab pagi mencakup rentang yang jauh lebih luas.
Kata (الضُّحَىٰ, adh-dhuhaa) bertakrif, sehingga yang disumpahkan bukan sembarang waktu duha melainkan yang tertentu. Ketertentuan itu sama dengan ketertentuan pada kata untuk malam di 93:2. Jadi dua ayat pertama surah ini menyumpahkan dua waktu yang keduanya bertakrif, dan keduanya berlawanan: yang satu terang penuh, yang lain gelap yang telah hening.
Susunan sumpah di surah ini cuma dua ayat, dan itu yang terpendek di antara surah-surah yang dibuka sumpah waktu. Di 91:1 sampai 91:7 sumpahnya tujuh ayat, dan di 100:1 sampai 100:5 lima ayat. Di sini dua. Jadi jawaban sumpahnya datang paling cepat, dan yang dijawab bukan pernyataan tentang manusia pada umumnya melainkan pernyataan kepada satu orang. Yang disumpahkan pun waktu, bukan benda dan bukan tempat, dan waktu satu-satunya hal yang tidak bisa dipegang, dimiliki, atau ditolak siapa pun.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut mengapa waktu itu yang dipilih, tidak disebut hubungannya dengan malam di 93:2, dan tidak disebut hubungannya dengan pernyataan di 93:3. Al-Qur'an menyandingkan keduanya tanpa satu pun kalimat penghubung, dan pembacanya dibiarkan menimbang sendiri apa yang menyatukan dua waktu itu dengan pernyataan yang menyusulnya.
Yang disumpahkan waktu, bukan benda dan bukan tempat. Waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dipegang, tidak bisa dimiliki, dan tidak bisa ditolak siapa pun. Bandingkan dengan 95:1 sampai 95:3 yang menyumpahkan buah, gunung, dan negeri, dan dengan 100:1 sampai 100:5 yang menyumpahkan gerak. Di sini yang dipakai sebagai saksi justru sesuatu yang berjalan terus tanpa bisa dihentikan.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan sumpah demi waktu duha, dan seluruh ayatnya terdiri atas satu kata saja, sama seperti 101:1. Kata itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, sedangkan akarnya dipakai di 7 ayat, yaitu 7:98, 20:59, 20:119, 79:29, 79:46, 91:1, dan ayat ini.
Di 91:1 akar yang sama berdiri sebagai isi sumpah juga, disandingkan dengan mataharinya. Di sini ia berdiri sendiri tanpa disandingkan dengan apa pun. Jadi dua surah memakai satu akar untuk maksud yang sama dengan dua cara yang berbeda, dan yang di sini lebih pendek.
Waktu yang disebut waktu ketika matahari sudah naik dan cahayanya sudah penuh, tetapi hari belum sampai ke tengahnya. Ia bertakrif, sehingga yang disumpahkan bukan sembarang waktu duha melainkan yang tertentu. Ketertentuan itu sama dengan ketertentuan pada kata untuk malam di 93:2.
Susunan sumpah di surah ini cuma dua ayat, dan itu yang terpendek di antara surah-surah yang dibuka sumpah waktu. Di 91:1 sampai 91:7 sumpahnya tujuh ayat, dan di 100:1 sampai 100:5 lima ayat. Di sini dua. Jawaban sumpahnya datang paling cepat, dan yang dijawab bukan pernyataan tentang manusia pada umumnya melainkan pernyataan kepada satu orang. Yang disumpahkan pun waktu, bukan benda dan bukan tempat, dan waktu satu-satunya hal yang tidak bisa dipegang, dimiliki, atau ditolak siapa pun.
Renungan dan Hikmah
- Seluruh ayat ini terdiri atas satu kata saja, sama seperti 101:1. Kata itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Allah membuka surah dengan menyebut satu waktu, tanpa kata kerja dan tanpa keterangan. Sebuah sumpah sependek itu tidak menyediakan apa pun untuk ditimbang selain waktunya sendiri, dan pendengarnya harus menunggu dua ayat lagi untuk mengetahui apa yang disumpahkan. Sumpah sependek itu juga tidak menyediakan tempat bersembunyi bagi pendengarnya. Sumpah yang panjang memberi waktu untuk bersiap, dan selama sumpahnya berjalan orang bisa mengikutinya tanpa merasa disapa. Di sini jaraknya cuma dua ayat, dan sesudah itu kalimatnya langsung berbunyi Tuhanmu.
- Akar kata ini dipakai di 7 ayat, yaitu 7:98, 20:59, 20:119, 79:29, 79:46, 91:1, dan 93:1. Di 91:1 Allah memakainya sebagai isi sumpah juga, disandingkan dengan mataharinya. Di sini ia berdiri sendiri tanpa disandingkan dengan apa pun. Jadi dua surah memakai satu akar untuk maksud yang sama dengan dua cara yang berbeda, dan yang di sini lebih pendek.
- Waktu yang disebut Allah waktu ketika matahari sudah naik dan cahayanya sudah penuh, tetapi hari belum sampai ke tengahnya. Yang dipilih bukan waktu terbit dan bukan waktu tengah hari. Yang dipilih justru saat ketika terang sudah mantap dan belum menyengat. Sebuah waktu yang tenang dan terang sekaligus dipakai sebagai saksi bagi pernyataan yang datang di 93:3. Pilihan waktu itu cocok dengan yang hendak disampaikan. Kepada orang yang merasa ditinggalkan, yang disodorkan bukan gambaran fajar yang baru mulai dan belum pasti, melainkan siang yang cahayanya sudah tegak. Sesuatu yang sudah terang tidak sedang dijanjikan; ia sedang ditunjukkan.
- Susunan sumpah di surah ini cuma dua ayat, dan itu yang terpendek di antara surah-surah yang dibuka sumpah waktu. Di 91:1 sampai 91:7 sumpahnya tujuh ayat, dan di 100:1 sampai 100:5 lima ayat. Di sini dua. Jawaban sumpahnya datang paling cepat, dan Allah tidak menahan pendengarnya lama-lama sebelum menyampaikan apa yang hendak disampaikan.
- Kata ini bertakrif, sehingga yang disumpahkan bukan sembarang waktu duha melainkan yang tertentu. Ketertentuan itu sama dengan ketertentuan pada kata untuk malam di ayat berikutnya. Jadi dua ayat pertama surah ini menyumpahkan dua waktu yang keduanya bertakrif, dan keduanya berlawanan: yang satu terang penuh, yang lain gelap yang telah hening.
- Yang disumpahkan Allah waktu, bukan benda dan bukan tempat. Waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dipegang, tidak bisa dimiliki, dan tidak bisa ditolak siapa pun. Apa yang membuat waktu menjadi saksi yang lebih kuat daripada benda bagi seseorang yang sedang merasa ditinggalkan? Surah ini tidak menerangkannya, dan jawabannya menunggu di ayat ketiga. Sumpahnya cuma dua ayat, dan itu yang terpendek di antara surah yang dibuka sumpah waktu. Waktu juga satu-satunya hal yang dialami sama oleh yang bersumpah dan yang mendengar. Benda bisa dimiliki sebagian orang saja, tempat bisa jauh dari sebagian orang, tetapi pagi yang terang datang kepada semua yang hidup. Saksi yang dipilih Allah di sini saksi yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun dan tidak bisa diakui sebagai milik siapa pun.