وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ
Dan demi malam apabila telah hening,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰwa-l-layli idzaa sajaadan demi malam apabila telah hening
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَاللَّيْلِwa-l-laylidan demi malam
- إِذَاidzaaapabila
- سَجَىٰsajaahening
Inti bacaan
Sumpah demi ketenangan malam: 'dan demi malam apabila telah hening', pasangan kontras dengan cahaya duha, keheningan malam sebagai bagian dari siklus yang menenangkan.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (سَجَىٰ, sajaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti sunyi tenang. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Artinya malam yang telah tenang dan menutup, yaitu keadaan ketika gerak sudah berhenti dan segala sesuatu diam. Bahasa Indonesia menahannya dengan "telah hening", dan padanan itu menjaga sisi diamnya tanpa menambahkan gambaran gelap yang tidak ada di dalam katanya. Yang disebut bukan gelapnya melainkan diamnya.
Kata (إِذَا, idzaa) di tengah ayat menandai waktu yang pasti datang, bukan pengandaian. Jadi yang disumpahkan bukan malam pada umumnya melainkan malam pada keadaan tertentu, yaitu ketika ia sudah hening. Susunan yang menyertakan keadaan seperti itu dipakai juga di 91:4 dan 92:1, dan di ketiga tempat itu yang disumpahkan waktu beserta keadaannya.
Dua ayat pertama surah ini menyumpahkan dua waktu yang berlawanan: (وَالضُّحَىٰ, wa-dh-dhuhaa) yang terang penuh, dan malam yang telah hening. Keduanya bagian dari satu hari yang sama, dan keduanya datang bergantian tanpa satu pun bisa menghentikan yang lain. Al-Qur'an tidak menerangkan mengapa keduanya yang dipilih, dan jawaban sumpahnya di 93:3 juga tidak menyebut keduanya lagi.
Yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya bergantian. Terang yang penuh datang dan pergi, lalu gelap yang hening datang dan pergi, dan pergantian itu tidak pernah berarti bahwa yang satu sudah hilang selamanya. Surah ini tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan pembacanya dibiarkan menemukannya sendiri di dalam pernyataan yang menyusul.
Kata untuk malam di ayat ini bertakrif, sama seperti (وَالضُّحَىٰ, wa-dh-dhuhaa) di 93:1. Jadi dua waktu yang disumpahkan keduanya disebut sebagai yang sudah dikenal, bukan sebagai waktu mana pun. Ketertentuan itu membuat sumpahnya menunjuk kepada sesuatu yang dialami setiap orang setiap hari, bukan kepada sesuatu yang jarang terjadi.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa lama malam itu hening, tidak disebut apa yang terjadi di dalamnya, dan tidak disebut apakah heningnya menenangkan atau menakutkan. Yang disebut cuma keadaannya. Sebuah gambaran yang menyebut keadaan tanpa menyebut rasanya menyerahkan pengisiannya kepada pembacanya, dan tiap orang mengisinya dengan malamnya sendiri. Yang dipakai sebagai saksi justru sesuatu yang berjalan terus tanpa bisa dihentikan siapa pun, dan pergantiannya tidak pernah bisa ditolak.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan sumpah dengan malam yang telah hening, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Artinya malam yang telah tenang dan menutup, yaitu keadaan ketika gerak sudah berhenti dan segala sesuatu diam. Yang disebut bukan gelapnya melainkan diamnya. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab malam yang gelap dan malam yang hening bukan hal yang sama: yang pertama tentang cahaya, yang kedua tentang suara dan gerak.
Kata penanda waktu di tengah ayat menandai waktu yang pasti datang, bukan pengandaian. Jadi yang disumpahkan bukan malam pada umumnya melainkan malam pada keadaan tertentu. Susunan yang menyertakan keadaan seperti itu dipakai juga di 91:4 dan 92:1.
Dua ayat pertama surah ini menyumpahkan dua waktu yang berlawanan, dan keduanya bagian dari satu hari yang sama. Keduanya datang bergantian tanpa satu pun bisa menghentikan yang lain. Terang yang penuh datang dan pergi, lalu gelap yang hening datang dan pergi, dan pergantian itu tidak pernah berarti bahwa yang satu sudah hilang selamanya. Surah ini tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Jadi ia sendirian dua kali: sebagai bentuk dan sebagai akar. Tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya, dan pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang apa yang dimaksud Allah dengan keadaan malam itu. Pembacanya mengisi gambaran itu dengan malamnya sendiri, dan tiap malam berbeda rasanya. Pembacanya mengisi gambaran itu dengan malamnya sendiri, dan tiap malam berbeda rasanya.
- Artinya malam yang telah tenang dan menutup, yaitu keadaan ketika gerak sudah berhenti dan segala sesuatu diam. Yang disebut Allah bukan gelapnya melainkan diamnya. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab malam yang gelap dan malam yang hening bukan hal yang sama: yang pertama tentang cahaya, yang kedua tentang suara dan gerak yang berhenti. Pembacanya mengisi gambaran itu dengan malamnya sendiri, dan tiap malam berbeda rasanya. Pembacanya mengisi gambaran itu dengan malamnya sendiri, dan tiap malam berbeda rasanya.
- Dua ayat pertama surah ini menyumpahkan dua waktu yang berlawanan: yang terang penuh dan yang telah hening. Keduanya bagian dari satu hari yang sama, dan keduanya datang bergantian tanpa satu pun bisa menghentikan yang lain. Allah menyandingkan keduanya tanpa menerangkan mengapa, dan jawaban sumpahnya di ayat berikutnya juga tidak menyebut keduanya lagi. Pembacanya mengisi gambaran itu dengan malamnya sendiri, dan tiap malam berbeda rasanya.
- Terang yang penuh datang dan pergi, lalu gelap yang hening datang dan pergi, dan pergantian itu tidak pernah berarti bahwa yang satu sudah hilang selamanya. Surah ini tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Apa yang dirasakan seseorang ketika terang yang biasa menyertainya tiba-tiba tidak ada, dan apakah ketiadaan itu sama dengan kehilangan? Pembacanya mengisi gambaran itu dengan malamnya sendiri, dan tiap malam berbeda rasanya.
- Kata penanda waktu di tengah ayat menandai waktu yang pasti datang, bukan pengandaian. Jadi yang disumpahkan Allah bukan malam pada umumnya melainkan malam pada keadaan tertentu, yaitu ketika ia sudah hening. Susunan yang menyertakan keadaan seperti itu dipakai juga di 91:4 dan 92:1, dan di ketiga tempat itu yang disumpahkan waktu beserta keadaannya. Pembacanya mengisi gambaran itu dengan malamnya sendiri, dan tiap malam berbeda rasanya.
- Kata yang dipakai menyebut malam yang menutup dengan tenang, bukan malam yang menakutkan atau menyesakkan. Jadi gelap di ayat ini tidak digambarkan Allah sebagai ancaman melainkan sebagai keadaan yang wajar dan tenang. Yang menyusul di ayat ketiga memang bukan ancaman melainkan penenangan, dan pilihan kata di sini sudah menyiapkannya sejak awal. Pembacanya mengisi gambaran itu dengan malamnya sendiri, dan tiap malam berbeda rasanya.