مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰmaa wadda'aka rabbuka wa-maa qalaaTuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. مَاmaatidaklah
  2. وَدَّعَكَwadda'akameninggalkanmu
  3. رَبُّكَrabbukaTuhanmu
  4. وَمَاwa-maadan tidaklah
  5. قَلَىٰqalaamembenci

Inti bacaan

Penghiburan langsung terhadap kekhawatiran: 'Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak (pula) membencimu', respons penuh kasih terhadap keraguan atau kesedihan akibat jeda wahyu, penegasan bahwa keheningan sementara bukan tanda penolakan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(pula)" tidak dipakai. Yang tertulis dua pengingkaran yang dirangkai huruf sambung, dan menyisipkan kata penghubung tambahan akan menambah sesuatu yang tidak ada di dalam Arabnya.

Kata kerja (وَدَّعَكَ, wadda'aka) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti meninggalkan. Ia dipakai di 4 ayat, yaitu 6:98, 11:6, 33:48, dan ayat ini. Bentuk yang dipakai di sini bentuk yang menyatakan meninggalkan dengan sengaja dan tuntas, bukan sekadar berpisah sementara.

Kata kerja (قَلَىٰ, qalaa) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti membenci sampai menjauh. Ia cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 26:168 dan ayat ini. Di 26:168 tertulis dalam kalimat seorang utusan yang menyatakan dirinya termasuk orang yang sangat membenci perbuatan kaumnya. Jadi akar yang di satu tempat menyebut kebencian seorang hamba terhadap perbuatan buruk, di sini dinyatakan tidak ada pada Tuhannya terhadap dirinya.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa (قَلَىٰ, qalaa) tidak memuat objek, sedangkan (وَدَّعَكَ, wadda'aka) memuat kata ganti orang kedua. Susunan itu tidak biasa, dan Al-Qur'an membiarkan objeknya kosong. Ketiadaan objek itu menjaga agar pengingkarannya tidak dirangkai dengan kata yang menyakitkan, sekalipun maksudnya terbaca dari kata kerja sebelumnya.

Kata (رَبُّكَ, rabbuka) menyebut Yang tidak meninggalkan dengan kata yang berarti pemelihara dan pengasuh. Kata itu muncul 3 kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini, di 93:5, dan di 93:11, dan ia satu-satunya nama Allah yang dipakai di seluruh surahnya. Jadi Yang menyangkal meninggalkan, Yang menjanjikan pemberian, dan Yang nikmat-Nya diperintahkan dikisahkan disebut dengan satu nama yang sama, dan nama itu nama yang menyebut pemeliharaan.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut mengapa hal itu perlu disangkal, tidak disebut siapa yang mengiranya begitu, dan tidak disebut sejak kapan sangkaan itu ada. Yang disebut cuma penyangkalannya. Sebuah penyangkalan yang tidak menyebutkan tuduhannya menjaga agar tuduhan itu tidak ikut tertulis, dan yang tersisa cuma bantahannya.

Susunan tiga ayat pertama surah ini juga patut dicatat. Dua ayat sumpah dan satu ayat jawaban, dan jawabannya berupa dua penyangkalan. Jadi yang pertama kali disampaikan bukan janji melainkan bantahan atas dua hal yang paling menakutkan bagi orang yang merasa ditinggalkan. Baru sesudah bantahan itu, janji datang di 93:4 dan 93:5. Yang paling ditakuti orang yang merasa ditinggalkan memang dua hal itu, dan keduanya disangkal sebelum satu pun janji diberikan.

Tafsiran

Ayat ini menenangkan Nabi bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan atau membencinya, dan ia menjawab sumpah dua ayat sebelumnya dengan dua pengingkaran, dan kedua kata kerjanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Yang pertama berarti meninggalkan dengan sengaja dan tuntas, bukan sekadar berpisah sementara.

Akar kata kerja kedua cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 26:168 dan ayat ini. Di 26:168 ia muncul dalam kalimat seorang utusan yang menyatakan dirinya termasuk orang yang sangat membenci perbuatan kaumnya. Jadi akar yang di satu tempat menyebut kebencian seorang hamba terhadap perbuatan buruk, di sini dinyatakan tidak ada pada Tuhannya terhadap dirinya.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa kata kerja kedua tidak memuat objek. Yang pertama memuat kata ganti orang kedua, sedangkan yang kedua tidak memuat apa pun. Al-Qur'an membiarkan objeknya kosong, dan ketiadaan itu menjaga agar pengingkarannya tidak dirangkai dengan kata yang menyakitkan.

Kata yang menyebut Yang tidak meninggalkan berarti pemelihara dan pengasuh, dan ia muncul 3 kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini, di 93:5, dan di 93:11. Ia satu-satunya nama Allah yang dipakai di seluruh surahnya. Jadi Yang menyangkal meninggalkan, Yang menjanjikan pemberian, dan Yang nikmat-Nya diperintahkan dikisahkan disebut dengan satu nama yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja kedua di ayat ini tidak memuat objek. Yang pertama memuat kata ganti orang kedua, sedangkan yang kedua tidak memuat apa pun. Susunan itu tidak biasa, dan Allah membiarkan objeknya kosong. Ketiadaan objek itu menjaga agar pengingkarannya tidak dirangkai dengan kata yang menyakitkan, sekalipun maksudnya sudah terbaca dari kata kerja sebelumnya.
  • Bentuk kata kerja pertama menyatakan meninggalkan dengan sengaja dan tuntas, bukan sekadar berpisah sementara. Akarnya dipakai di 4 ayat, yaitu 6:98, 11:6, 33:48, dan 93:3. Jadi yang disangkal Allah bukan jarak yang sementara melainkan perpisahan yang diputuskan. Yang merasa ditinggalkan biasanya takut pada yang tuntas, bukan pada yang sebentar.
  • Akar kata kerja kedua cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 26:168 dan 93:3. Di 26:168 Allah memakainya dalam kalimat seorang utusan yang menyatakan dirinya termasuk orang yang sangat membenci perbuatan kaumnya. Jadi akar yang di satu tempat menyebut kebencian seorang hamba terhadap perbuatan buruk, di sini dinyatakan tidak ada pada Tuhannya terhadap dirinya.
  • Kata yang menyebut Yang tidak meninggalkan berarti pemelihara dan pengasuh, dan ia muncul 3 kali di dalam surah ini, yaitu di 93:3, 93:5, dan 93:11. Ia satu-satunya nama Allah yang dipakai di seluruh surahnya. Jadi Yang menyangkal meninggalkan, Yang menjanjikan pemberian, dan Yang nikmat-Nya diperintahkan dikisahkan disebut dengan satu nama yang sama. Nama itu berarti yang memelihara dan mengasuh sampai sesuatu menjadi sempurna, dan pilihannya tepat untuk surah ini. Yang sedang ditenangkan bukan orang yang butuh diperlihatkan kekuasaan, melainkan orang yang mengira pengasuhnya sudah berhenti mengasuhnya. Nama yang dipakai persis nama yang menyangkal hal itu.
  • Yang tertulis dua pengingkaran, bukan satu. Allah tidak cukup menyangkal meninggalkan; Dia menyangkal juga membenci. Dua hal itu berbeda: seseorang bisa pergi tanpa benci, dan bisa benci tanpa pergi. Yang disangkal keduanya sekaligus, sehingga tidak ada satu pun celah yang tersisa bagi orang yang sedang mencurigai keduanya pada dirinya. Menyangkal dua-duanya juga menunjukkan bahwa yang disangkal bukan tuduhan yang diucapkan orang, melainkan kecurigaan yang tumbuh di dalam. Tuduhan dari luar cukup dijawab sekali. Kecurigaan di dalam selalu bercabang: kalau bukan pergi, mungkin benci; kalau bukan benci, mungkin lupa. Ayat ini memotong dua cabang yang paling besar sekaligus.
  • Sesudah dua ayat sumpah, yang datang bukan ancaman dan bukan teguran melainkan penenangan. Allah menyangkal dua hal yang paling ditakuti orang yang merasa ditinggalkan. Apa yang paling ingin didengar seseorang yang mengira dirinya sudah tidak diperhatikan lagi? Surah ini menjawabnya di ayat ketiga, sebelum satu pun perintah diberikan kepadanya. Yang disangkal dua hal sekaligus, sehingga tidak ada satu celah pun yang tersisa. Urutan itu juga menerangkan cara surah ini bekerja. Perintah baru datang di ujung, di 93:9 sampai 93:11, sesudah penenangan, sesudah janji, dan sesudah pengingatan. Orang tidak disuruh berbuat lebih dahulu lalu ditenangkan kalau berhasil. Ia ditenangkan lebih dahulu, dan perintahnya menyusul sebagai kelanjutan yang wajar.