وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
Dan sungguh kelak Tuhanmu akan memberimu, sehingga engkau rida.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰwa-la-sawfa yu'thiika rabbuka fa-tardhaadan sungguh kelak Tuhanmu akan memberimu, sehingga engkau rida
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَلَسَوْفَwa-la-sawfadan sungguh kelak
- يُعْطِيكَyu'thiikamemberimu
- رَبُّكَrabbukaTuhanmu
- فَتَرْضَىٰfa-tardhaalalu engkau rida
Inti bacaan
Janji kepuasan penuh di masa depan: 'dan sungguh kelak Tuhanmu akan memberimu, sehingga engkau rida', jaminan konkret bahwa kesabaran saat ini akan membuahkan hasil yang memuaskan sepenuhnya.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (يُعْطِيكَ, yu'thiika) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti memberi. Ia dipakai di 12 ayat, antara lain 9:29, 17:20, 20:50, 53:34, 78:36, dan 92:5. Di 92:5 tertulis (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ, fa-ammaa man a'thaa), adapun orang yang memberi, dan di sana yang memberi manusia sedangkan di sini yang memberi Allah.
Kata kerja (فَتَرْضَىٰ, fa-tardhaa) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti rela menerima. Ia dipakai di 64 ayat, dan akar yang sama memberi kata sifat di 101:7 untuk kehidupan yang rida. Jadi dua surah memakai satu akar untuk dua hal yang bersambung: yang di sini keadaan orangnya, yang di sana keadaan kehidupannya.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa objek pemberian tidak disebut. Tidak tertulis akan memberimu apa. Kata kerjanya memuat kata ganti orang kedua sebagai penerimanya, tetapi barangnya dibiarkan kosong. Jadi yang dijanjikan bukan sesuatu yang bisa dihitung lebih dulu, melainkan pemberian yang ukurannya ditentukan oleh akibatnya, yaitu sampai orangnya rida.
Susunan itu perlu dijaga. Yang menjadi batas bukan jumlah melainkan keadaan penerimanya. Sebuah janji yang batasnya keadaan penerimanya tidak bisa dinyatakan kurang oleh siapa pun kecuali oleh penerimanya sendiri, dan ia tidak akan menyatakannya kurang sebab batasnya justru ridanya.
Kata (وَلَسَوْفَ, wa-la-sawfa) memuat huruf penegas dan kata yang menunjuk masa depan yang agak jauh. Rangkaian keduanya menyatakan kepastian sekaligus jarak: pasti terjadi, dan tidak sekarang. Bahasa Indonesia menahannya dengan "sungguh kelak", memakai dua kata untuk menahan dua muatan itu sekaligus. Jarak waktunya bagian dari yang hendak dinyatakan, dan ia tidak dihapus oleh kepastiannya.
Susunan ayat ini menaruh (رَبُّكَ, rabbuka) sesudah kata kerjanya, sedangkan di 93:3 kata yang sama berdiri sebagai pokok kalimat di depan. Jadi dua ayat memakai kata yang sama pada dua kedudukan yang berbeda: yang di sana Yang menyangkal, yang di sini Yang memberi. Kata itu muncul 3 kali di dalam surah ini, yaitu di 93:3, 93:5, dan 93:11, dan ia satu-satunya nama Allah yang dipakai di seluruh surahnya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kapan pemberian itu datang, tidak disebut di mana, dan tidak disebut apakah ia datang sekaligus atau bertahap. Yang disebut cuma bahwa ia pasti datang dan bahwa akibatnya rida. Sebuah janji yang cuma menyebut akibatnya tidak bisa diperiksa dengan daftar, dan karena itu ia juga tidak bisa dinyatakan belum ditepati oleh orang yang sedang menunggunya.
Tafsiran
Ayat ini menjanjikan pemberian yang belum datang, dan yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa objek pemberiannya tidak disebut. Tidak tertulis akan memberimu apa. Kata kerjanya memuat kata ganti orang kedua sebagai penerimanya, tetapi barangnya dibiarkan kosong.
Jadi yang dijanjikan bukan sesuatu yang bisa dihitung lebih dulu, melainkan pemberian yang ukurannya ditentukan oleh akibatnya, yaitu sampai orangnya rida. Yang menjadi batas bukan jumlah melainkan keadaan penerimanya. Sebuah janji yang batasnya keadaan penerimanya tidak bisa dinyatakan kurang oleh siapa pun kecuali oleh penerimanya sendiri.
Kedua kata kerja di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akar yang pertama dipakai di 12 ayat, dan di 92:5 ia dipakai untuk manusia yang memberi. Akar yang kedua dipakai di 64 ayat, dan akar yang sama memberi kata sifat di 101:7 untuk kehidupan yang rida.
Rangkaian di awal ayat memuat huruf penegas dan kata yang menunjuk masa depan yang agak jauh. Keduanya menyatakan kepastian sekaligus jarak: pasti terjadi, dan tidak sekarang. Jarak waktunya bagian dari yang hendak dinyatakan, dan ia tidak dihapus oleh kepastiannya. Yang dijanjikan tetap harus ditunggu, sekalipun tidak perlu diragukan.
Renungan dan Hikmah
- Allah tidak menyebutkan akan memberi apa. Kata kerjanya memuat kata ganti orang kedua sebagai penerimanya, tetapi barangnya dibiarkan kosong. Jadi yang dijanjikan bukan sesuatu yang bisa dihitung lebih dulu, melainkan pemberian yang ukurannya ditentukan oleh akibatnya. Sebuah janji tanpa barang tidak bisa dibandingkan dengan janji siapa pun yang lain.
- Yang menjadi batas pemberian itu bukan jumlah melainkan keadaan penerimanya, yaitu sampai ia rida. Sebuah janji yang batasnya keadaan penerimanya tidak bisa dinyatakan kurang oleh siapa pun kecuali oleh penerimanya sendiri, dan ia tidak akan menyatakannya kurang sebab batasnya justru ridanya. Allah menaruh ukurannya di dalam diri orang yang menerima. Ukuran seperti itu juga memindahkan seluruh perbandingan keluar dari jangkauan orang lain. Selama batasnya jumlah, selalu ada yang bisa membandingkan bagian satu orang dengan bagian orang lain. Begitu batasnya keadaan penerimanya, perbandingan itu kehilangan pijakan, sebab tidak ada dua orang yang ridanya sama.
- Akar kata kerja pertama dipakai di 12 ayat, antara lain 9:29, 17:20, 20:50, 53:34, 78:36, dan 92:5. Di 92:5 Allah memakainya untuk manusia yang memberi, dan di sini untuk diri-Nya sendiri. Jadi satu akar menyebut pemberian dari manusia kepada sesamanya dan pemberian dari Allah kepada hamba-Nya, dan bentuk yang dipakai di sini tidak dipakai di tempat lain mana pun.
- Akar kata kerja kedua dipakai di 64 ayat, dan akar yang sama memberi kata sifat di 101:7 untuk kehidupan yang rida. Jadi dua surah memakai satu akar untuk dua hal yang bersambung: yang di sini keadaan orangnya, yang di sana keadaan kehidupannya. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkan cuma akarnya.
- Rangkaian di awal ayat memuat huruf penegas dan kata yang menunjuk masa depan yang agak jauh. Keduanya menyatakan kepastian sekaligus jarak: pasti terjadi, dan tidak sekarang. Jarak waktunya bagian dari yang hendak dinyatakan Allah, dan ia tidak dihapus oleh kepastiannya. Yang dijanjikan tetap harus ditunggu, sekalipun tidak perlu diragukan sedikit pun. Menyatakan jarak waktunya secara terbuka lebih jujur daripada menghapusnya. Orang yang dijanjikan sesuatu tanpa keterangan waktu akan menagihnya besok dan kecewa lusa. Di sini penantiannya diakui sebagai bagian dari janjinya, sehingga menunggu tidak lagi terbaca sebagai tanda janji itu gagal.
- Allah tidak menjanjikan bahwa kesulitannya akan berhenti, dan tidak menjanjikan bahwa keadaannya akan berubah besok. Yang dijanjikan pemberian yang akan membuatnya rida. Apa yang sebenarnya dicari seseorang ketika ia meminta agar keadaannya berubah, dan apakah yang dicarinya perubahan itu sendiri atau ridanya? Surah ini menaruh jawabannya di kata terakhir ayat ini. Batasnya bukan jumlah melainkan keadaan penerimanya, dan itu tak bisa diukur orang lain. Bedanya besar dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang menunggu keadaannya berubah akan menghitung hari dan menilai Tuhannya dari kecepatan perubahan itu. Orang yang menunggu sampai ia rida sedang menunggu sesuatu yang bisa datang bahkan sebelum keadaannya berubah, dan kadang justru itu yang lebih dahulu diberikan.