أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

Bukankah Dia mendapatimu sebagai yatim, lalu Dia melindungi?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰa-lam yajidka yatiiman fa-aawaabukankah Dia mendapatimu sebagai yatim, lalu Dia melindungi

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَلَمْa-lamtidakkah
  2. يَجِدْكَyajidkamendapatimu
  3. يَتِيمًاyatiimananak yatim
  4. فَآوَىٰfa-aawaalalu Dia melindungi

Inti bacaan

Pengingat perlindungan masa lalu pertama: 'bukankah Dia mendapatimu sebagai yatim, lalu Dia melindungi?', refleksi terhadap pengalaman kerentanan awal yang diikuti dengan perlindungan nyata, dasar keyakinan bahwa pola yang sama akan berlanjut.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (يَجِدْكَ, yajidka) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata kerja (فَآوَىٰ, fa-aawaa) juga muncul 1 kali. Akar yang pertama berarti menemukan. Ia dipakai di 99 ayat. Akar yang kedua berarti berlindung dan menampung, dan ia dipakai di 36 ayat.

Kalimat ini dibuka huruf tanya yang diikuti huruf pengingkaran, sehingga bentuknya pertanyaan yang menyatakan penegasan, bukan keraguan. Bentuk yang sama dipakai di 94:1, dan dua surah yang berdampingan karena itu sama-sama membuka bagian pengingatannya dengan pertanyaan yang menuntut pengakuan.

Kata (يَتِيمًا, yatiiman) tidak bertakrif di sini, berbeda dari (الْيَتِيمَ, al-yatiima) di 93:9 yang bertakrif. Jadi yang di sini menyebut keadaan, dan yang di sana menyebut orang yang sudah dikenal kedudukannya. Perbedaan itu menentukan: yang pertama tentang siapa dirinya dahulu, yang kedua tentang siapa yang harus diperlakukannya dengan baik sekarang.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa (فَآوَىٰ, fa-aawaa) tidak memuat objek. Tertulis lalu Dia melindungi, tanpa disebutkan melindungi siapa. Susunan yang sama dipakai di 93:7 dan 93:8, sehingga ketiga kata kerja pemberian di tiga ayat itu seluruhnya tanpa objek. Ketiadaan objek itu berulang tiga kali, dan pengulangan itu bukan kebetulan susunan.

Bahasa Indonesia menahan (فَآوَىٰ, fa-aawaa) dengan "lalu Dia melindungi", tanpa menambahkan kata ganti yang tidak ada di dalam Arabnya. Menyisipkan objek akan menutup sesuatu yang dibiarkan terbuka di ketiga ayat itu. Yang tertulis perbuatannya saja, dan siapa yang dikenainya terbaca dari kalimat sebelumnya tanpa perlu diulang.

Kata (يَتِيمًا, yatiiman) tidak bertakrif di sini, berbeda dari (الْيَتِيمَ, al-yatiima) di 93:9 yang bertakrif. Jadi yang di sini menyebut keadaan, dan yang di sana menyebut orang yang sudah dikenal kedudukannya. Perbedaan itu menentukan: yang pertama tentang siapa dirinya dahulu, yang kedua tentang siapa yang harus diperlakukannya dengan baik sekarang.

Kata kerja (يَجِدْكَ, yajidka) berarti mendapati, bukan menjadikan. Jadi Allah tidak dinyatakan membuatnya yatim, melainkan mendapatinya dalam keadaan itu. Perbedaan itu menentukan cara membaca ketiga ayat ini, dan Al-Qur'an memakai kata itu tiga kali berturut-turut di 93:6, 93:7, dan 93:8. Keadaan yang paling pahit disebut sebagai titik tempat seseorang didapati, bukan tempat ia ditinggalkan. Ketiga kata kerja pemberian di tiga ayat itu seluruhnya tanpa objek, dan pengulangan itu bukan kebetulan susunan melainkan pilihan. Ketiga kata kerja pemberian di tiga ayat itu seluruhnya tanpa objek, dan pengulangan itu bukan kebetulan susunan melainkan pilihan.

Tafsiran

Ayat ini mengingatkan Nabi akan perlindungan Allah sejak masa yatimnya, dan bentuknya pertanyaan yang menyatakan penegasan, bukan keraguan. Bentuk yang sama dipakai di 94:1, dan dua surah yang berdampingan karena itu sama-sama membuka bagian pengingatannya dengan pertanyaan yang menuntut pengakuan.

Kedua kata kerjanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akar yang pertama dipakai di 99 ayat dan akar yang kedua di 36 ayat. Jadi dua akar yang cukup sering dipakai masing-masing memberi satu bentuk yang cuma muncul sekali, dan keduanya berada di ayat yang sama.

Kata untuk yatim tidak bertakrif di sini, berbeda dari kata yang sama di 93:9 yang bertakrif. Jadi yang di sini menyebut keadaan, dan yang di sana menyebut orang yang sudah dikenal kedudukannya. Yang pertama tentang siapa dirinya dahulu, yang kedua tentang siapa yang harus diperlakukannya dengan baik sekarang.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa kata kerja keduanya tidak memuat objek. Tertulis lalu Dia melindungi, tanpa disebutkan melindungi siapa. Susunan yang sama dipakai di 93:7 dan 93:8, sehingga ketiga kata kerja pemberian di tiga ayat itu seluruhnya tanpa objek. Ketiadaan objek itu berulang tiga kali, dan pengulangan itu bukan kebetulan susunan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja kedua di ayat ini tidak memuat objek. Tertulis lalu Dia melindungi, tanpa disebutkan melindungi siapa. Susunan yang sama dipakai Allah di 93:7 dan 93:8, sehingga ketiga kata kerja pemberian di tiga ayat itu seluruhnya tanpa objek. Ketiadaan objek itu berulang tiga kali, dan pengulangan itu bukan kebetulan susunan melainkan pilihan yang dijaga.
  • Kalimat ini dibuka huruf tanya yang diikuti huruf pengingkaran, sehingga bentuknya pertanyaan yang menyatakan penegasan, bukan keraguan. Bentuk yang sama dipakai Allah di 94:1. Dua surah yang berdampingan karena itu sama-sama membuka bagian pengingatannya dengan pertanyaan yang menuntut pengakuan, bukan dengan pernyataan yang cukup didengar.
  • Kata untuk yatim tidak bertakrif di sini, berbeda dari kata yang sama di 93:9 yang bertakrif. Jadi yang di sini menyebut keadaan, dan yang di sana menyebut orang yang sudah dikenal kedudukannya. Yang pertama tentang siapa dirinya dahulu, yang kedua tentang siapa yang harus diperlakukannya dengan baik sekarang. Satu kata, dua kedudukan, di dalam satu surah. Perbedaan itu menyusun seluruh surahnya. Bagian pertama menyebut keadaan orangnya dahulu, dan bagian terakhir menyebut orang lain yang sekarang berada dalam keadaan yang sama. Yang menghubungkan keduanya bukan nasihat, melainkan satu kata yang dipakai dua kali dengan bentuk yang berbeda.
  • Kedua kata kerja di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akar yang pertama dipakai di 99 ayat dan akar yang kedua di 36 ayat. Jadi dua akar yang cukup sering dipakai masing-masing memberi satu bentuk yang cuma muncul sekali, dan keduanya berada di ayat yang sama. Kelangkaan itu berdesakan di satu tempat.
  • Kata kerja pertama berarti mendapati, bukan menjadikan. Jadi Allah tidak dinyatakan membuatnya yatim, melainkan mendapatinya dalam keadaan itu. Perbedaan itu menentukan cara membacanya, dan Al-Qur'an memakai kata itu tiga kali berturut-turut di tiga ayat. Apa yang berubah pada seseorang ketika keadaannya yang paling pahit disebut sebagai titik tempat ia didapati, bukan tempat ia ditinggalkan? Kata itu juga menaruh Allah sebagai pihak yang datang, bukan pihak yang menetapkan lalu pergi. Yang mendapati berarti hadir di tempat itu. Bagi orang yang mengingat masa tersulitnya sebagai masa ketika tidak ada siapa pun, keterangan bahwa di situlah ia didapati mengubah seluruh ingatan tersebut tanpa mengubah satu pun kejadiannya.
  • Dari tiga keadaan yang disebut di tiga ayat ini, yang ditaruh Allah paling dulu keadaan yatim. Ia keadaan yang paling awal dialami seseorang di dalam hidupnya, sebelum ia sempat memilih apa pun. Jadi rangkaian pengingatan ini dimulai dari titik ketika orangnya belum bisa berbuat apa-apa, dan dari sana barulah dua keadaan berikutnya menyusul. Ketiadaan objek itu berulang di tiga ayat berturut-turut, dan itu bukan kebetulan susunan. Memulai dari titik ketika orangnya belum bisa berbuat apa-apa juga meniadakan pembacaan bahwa pemberian itu upah atas usahanya. Bayi yatim tidak mengerjakan apa pun untuk mendapat perlindungan. Kalau yang pertama disebut diberikan tanpa syarat sama sekali, dua yang menyusul juga sulit dibaca sebagai imbalan.