وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ
Dan Dia mendapatimu dalam keadaan belum-terbimbing, lalu Dia memberi petunjuk?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰwa-wajadaka dhaallan fa-hadaadan Dia mendapatimu dalam keadaan belum-terbimbing, lalu Dia memberi petunjuk
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَوَجَدَكَwa-wajadakadan Dia mendapatimu
- ضَالًّاdhaallandalam kebingungan
- فَهَدَىٰfa-hadaalalu memberi petunjuk
Inti bacaan
Pengingat kedua tentang bimbingan yang diberikan: 'dan Dia mendapatimu dalam keadaan belum-terbimbing, lalu Dia memberi petunjuk?', pengakuan perjalanan dari ketidakpastian menuju kejelasan arah, transformasi yang telah terbukti terjadi.
Penjelasan pilihan kata
Kata (ضَالًّا, dhaallan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk tak bertakrif ini. Akarnya berarti tersesat. Ia dipakai di 170 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut kesesatan yang disengaja atau kekeliruan yang disalahkan.
Padanan "belum-terbimbing" dipakai untuk menahan sisi ketiadaan bimbingan tanpa membawa muatan celaan yang melekat pada kata sesat dalam bahasa Indonesia. Bentuknya di sini bentuk pelaku tak bertakrif yang menyatakan keadaan, bukan perbuatan yang dituduhkan, dan kalimatnya berpasangan dengan pemberian petunjuk sesudahnya.
Kata kerja (فَهَدَىٰ, fa-hadaa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 87:3 dan 93:7. Di 87:3 tertulis (قَدَّرَ فَهَدَىٰ, qaddara fa-hadaa), Yang menentukan kadar dan memberi petunjuk, dan di sana yang diberi petunjuk seluruh makhluk. Jadi bentuk yang sama dipakai untuk pemberian petunjuk kepada segala sesuatu dan kepada satu orang.
Akar (فَهَدَىٰ, fa-hadaa) berarti menunjukkan jalan. Akar itu dipakai di 268 ayat, dan itu menjadikannya salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Jadi ayat pendek ini menyandingkan dua akar yang sama-sama dipakai ratusan kali, yaitu akar untuk tersesat dan akar untuk diberi petunjuk, dan keduanya bertemu di satu kalimat yang cuma tiga kata.
Susunan ayat ini sama dengan susunan 93:6 dan 93:8: mendapatimu dalam keadaan tertentu, lalu mengerjakan sesuatu. Tiga ayat berturut-turut memakai rangka yang sama, dan yang berbeda cuma keadaannya dan perbuatannya. Kesejajaran serapat itu membuat ketiganya terbaca sebagai satu daftar, dan daftar itu berhenti tepat sebelum tiga perintah di 93:9 sampai 93:11.
Akar (فَهَدَىٰ, fa-hadaa) berarti menunjukkan jalan. Akar itu dipakai di 268 ayat, dan itu menjadikannya salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Jadi ayat pendek ini menyandingkan dua akar yang sama-sama dipakai ratusan kali, yaitu akar untuk tersesat dan akar untuk diberi petunjuk, dan keduanya bertemu di satu kalimat yang cuma tiga kata.
Susunan ayat ini sama dengan susunan 93:6 dan 93:8: mendapatimu dalam keadaan tertentu, lalu mengerjakan sesuatu. Tiga ayat berturut-turut memakai rangka yang sama, dan yang berbeda cuma keadaannya dan perbuatannya. Kesejajaran serapat itu membuat ketiganya terbaca sebagai satu daftar, dan daftar itu berhenti tepat sebelum tiga perintah di 93:9 sampai 93:11. Yang mengurus arah seluruh makhluk di 87:3 juga yang mengurus arah satu orang di ayat ini, dan bentuk katanya sama persis. Yang mengurus arah seluruh makhluk di 87:3 juga yang mengurus arah satu orang di ayat ini, dan bentuk katanya sama persis.
Tafsiran
Ayat ini mengingatkan Nabi akan petunjuk Allah yang datang setelah masa belum terbimbing, dan ia melanjutkan rangkaian pengingatan dengan keadaan kedua, dan kata yang menyebutnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk tak bertakrif ini. Akarnya dipakai di 170 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut kesesatan yang disengaja atau kekeliruan yang disalahkan.
Bentuknya di sini bentuk pelaku tak bertakrif yang menyatakan keadaan, bukan perbuatan yang dituduhkan, dan kalimatnya berpasangan dengan pemberian petunjuk sesudahnya. Padanan yang dipakai menahan sisi ketiadaan bimbingan tanpa membawa muatan celaan yang melekat pada kata sesat dalam bahasa Indonesia.
Kata kerja keduanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 87:3 dan ayat ini. Di 87:3 yang diberi petunjuk seluruh makhluk, sesudah kadarnya ditentukan. Jadi bentuk yang sama dipakai untuk pemberian petunjuk kepada segala sesuatu dan kepada satu orang.
Susunan ayat ini sama dengan susunan 93:6 dan 93:8: mendapatimu dalam keadaan tertentu, lalu mengerjakan sesuatu. Tiga ayat berturut-turut memakai rangka yang sama, dan yang berbeda cuma keadaannya dan perbuatannya. Kesejajaran serapat itu membuat ketiganya terbaca sebagai satu daftar, dan daftar itu berhenti tepat sebelum tiga perintah di 93:9 sampai 93:11.
Renungan dan Hikmah
- Bentuk kata yang dipakai bentuk pelaku tak bertakrif yang menyatakan keadaan, bukan perbuatan yang dituduhkan, dan kalimatnya berpasangan dengan pemberian petunjuk sesudahnya. Padanan yang dipakai menahan sisi ketiadaan bimbingan tanpa membawa muatan celaan. Ketelitian itu menjaga agar ayat ini terbaca sebagai pengingatan atas pemberian, bukan sebagai celaan atas masa lalu. Yang membuat kata ini berat bukan artinya saja, melainkan kepada siapa ia dilekatkan. Kata yang di banyak tempat lain dipakai untuk menyebut orang yang jauh dari kebenaran, di sini dipakai untuk menyebut keadaan seseorang sebelum petunjuk sampai kepadanya. Perbedaannya terletak pada apa yang menyusul. Di tempat lain yang menyusul akibatnya, sedangkan di sini yang menyusul pemberian.
- Akar kata pertama dipakai di 170 ayat dan akar kata kedua di 268 ayat, dan keduanya termasuk yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Jadi ayat pendek ini menyandingkan dua akar yang sama-sama dipakai ratusan kali, yaitu akar untuk tersesat dan akar untuk diberi petunjuk, dan keduanya bertemu di satu kalimat yang cuma tiga kata.
- Kata kerja kedua muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 87:3 dan 93:7. Di 87:3 Allah memakainya untuk pemberian petunjuk kepada seluruh makhluk, sesudah kadarnya ditentukan. Jadi bentuk yang sama dipakai untuk pemberian petunjuk kepada segala sesuatu dan kepada satu orang. Yang mengurus arah seluruh makhluk juga mengurus arah satu orang.
- Susunan ayat ini sama dengan susunan 93:6 dan 93:8: mendapatimu dalam keadaan tertentu, lalu mengerjakan sesuatu. Tiga ayat berturut-turut memakai rangka yang sama, dan yang berbeda cuma keadaannya dan perbuatannya. Kesejajaran serapat itu membuat ketiganya terbaca sebagai satu daftar, dan daftar itu berhenti tepat sebelum tiga perintah di ayat-ayat terakhir. Rangka itu juga menyusun urutan kekurangannya dari yang paling luar ke yang paling dalam. Yatim menyebut keadaan yang tampak, fakir menyebut keadaan yang bisa dihitung, dan yang di tengah ini menyebut keadaan yang tidak kelihatan oleh siapa pun. Yang paling tidak terlihat ditaruh di tengah, terlindung di antara dua yang bisa disaksikan orang.
- Dari tiga keadaan yang disebut, yang ini di tengah. Yang pertama tentang ketiadaan orang tua, yang ini tentang ketiadaan arah, dan yang ketiga tentang ketiadaan harta. Jadi Allah menyusun tiga kekurangan yang berbeda jenisnya: yang menyangkut orang, yang menyangkut jalan, dan yang menyangkut bekal. Apa yang paling terasa hilang bagi seseorang ketika ketiganya tidak ada sekaligus?
- Kata kerja kedua tidak memuat objek, sama seperti di 93:6 dan 93:8. Tertulis lalu Dia memberi petunjuk, tanpa disebutkan kepada siapa. Allah membiarkan ketiga objek itu kosong di tiga ayat berturut-turut. Yang tertulis perbuatannya saja, dan siapa yang dikenainya terbaca dari kalimat sebelumnya tanpa perlu diulang satu kali pun. Allah memakai kata mendapati, bukan menjadikan, di ketiga ayat pengingatan ini. Kekosongan itu membuat kalimatnya bisa dibaca dua arah tanpa memaksa satu pun. Ia bisa berarti lalu Dia memberi petunjuk kepadamu, dan bisa berarti lalu Dia memberi petunjuk. Yang kedua jauh lebih luas, sebab orang yang diberi petunjuk kemudian menjadi jalan bagi petunjuk itu sampai kepada orang lain. Al-Quran tidak memilih di antara keduanya.