وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

Dan terhadap orang yang meminta, janganlah engkau menghardik,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْwa-ammaa s-saa'ila fa-laa tanhardan terhadap orang yang meminta, janganlah engkau menghardik

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
  2. السَّائِلَs-saa'ilapeminta
  3. فَلَاfa-laamaka janganlah
  4. تَنْهَرْtanharengkau menghardik

Inti bacaan

Instruksi praktis kedua tentang kepedulian: 'dan terhadap orang yang meminta, janganlah engkau menghardik', kelanjutan prinsip kepedulian, respons lembut terhadap yang membutuhkan bantuan atau pengetahuan.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (تَنْهَرْ, tanhar) cuma dipakai di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, yaitu 17:23 dan ayat ini. Di 17:23 tertulis (وَلَا تَنْهَرْهُمَا, wa-laa tanharhumaa) dalam rangkaian perintah berbuat baik kepada kedua orang tua, dan di sana yang dilarang dihardik kedua orang tua.

Jadi (تَنْهَرْ, tanhar) melindungi kedua orang tua dan melindungi orang yang meminta. Al-Qur'an memakai bentuk yang persis sama untuk keduanya, dan tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun. Yang paling dekat kedudukannya dan yang paling jauh kedudukannya dijaga dengan larangan yang memakai kata yang satu.

Kata (السَّائِلَ, as-saa-ila) berasal dari akar yang berarti bertanya dan meminta. Akar itu dipakai di 118 ayat, dan akar yang sama memberi kata kerja di 102:8 untuk pertanyaan pada hari perhitungan. Jadi akar yang menyebut orang yang meminta di sini juga menyebut pertanyaan yang akan dihadapi setiap orang kelak.

Kata (السَّائِلَ, as-saa-ila) bertakrif, sehingga yang disebut orang yang meminta sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Bentuknya bentuk pelaku, sehingga yang disebut orang yang sedang meminta, bukan orang yang miskin. Perbedaan itu perlu dijaga: yang dilindungi bukan keadaannya melainkan perbuatannya, yaitu tindakan meminta itu sendiri.

Susunan ayat ini sejajar dengan susunan 93:9 dan 93:11: penanda pembagian (وَأَمَّا, wa-ammaa), lalu objeknya, lalu perintah atau larangan. Tiga ayat terakhir surah ini memakai rangka yang sama persis, dan yang berbeda cuma isinya. Dua yang pertama larangan dan yang terakhir perintah, sehingga rangkaiannya berakhir dengan sesuatu yang harus dikerjakan, bukan dengan sesuatu yang harus dihindari.

Kata (السَّائِلَ, as-saa-ila) berasal dari akar yang berarti bertanya dan meminta. Akar itu dipakai di 118 ayat, dan akar yang sama memberi kata kerja di 102:8 untuk pertanyaan pada hari perhitungan. Jadi akar yang menyebut orang yang meminta di sini juga menyebut pertanyaan yang akan dihadapi setiap orang kelak. Yang menghardik peminta hari ini akan berdiri sebagai yang ditanya kelak.

Kata (السَّائِلَ, as-saa-ila) bertakrif, sehingga yang disebut orang yang meminta sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Jadi larangannya tidak terbatas pada satu peminta yang dianggap pantas dikasihani. Al-Qur'an tidak menyediakan penyaringan itu di dalam ayat ini, dan ketiadaan penyaringan membuat larangannya berlaku sebelum siapa pun sempat menimbang. Larangannya berlaku sekalipun yang meminta ternyata tidak sungguh memerlukan, sebab yang disebut permintaannya, bukan kebutuhannya. Larangannya berlaku sekalipun yang meminta ternyata tidak sungguh memerlukan, sebab yang disebut permintaannya, bukan kebutuhannya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rangkaian perintah dengan larangan menghardik orang yang meminta, dan kata kerjanya cuma dipakai di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, yaitu 17:23 dan ayat ini. Di 17:23 bentuk yang sama dipakai dalam rangkaian perintah berbuat baik kepada kedua orang tua.

Jadi kata kerja yang sama melindungi kedua orang tua dan melindungi orang yang meminta. Al-Qur'an memakai bentuk yang persis sama untuk keduanya, dan tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun. Yang paling dekat kedudukannya dan yang paling jauh kedudukannya dijaga dengan larangan yang memakai kata yang satu.

Kata untuk orang yang meminta berasal dari akar yang dipakai di 118 ayat, dan akar yang sama memberi kata kerja di 102:8 untuk pertanyaan pada hari perhitungan. Jadi akar yang menyebut orang yang meminta di sini juga menyebut pertanyaan yang akan dihadapi setiap orang kelak.

Bentuknya bentuk pelaku, sehingga yang disebut orang yang sedang meminta, bukan orang yang miskin. Perbedaan itu perlu dijaga: yang dilindungi bukan keadaannya melainkan perbuatannya, yaitu tindakan meminta itu sendiri. Jadi larangannya berlaku sekalipun yang meminta ternyata tidak sungguh memerlukan, sebab yang disebut bukan kebutuhannya melainkan permintaannya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja di ayat ini cuma dipakai di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, yaitu 17:23 dan 93:10. Di 17:23 Allah memakainya dalam rangkaian perintah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jadi kata kerja yang sama melindungi kedua orang tua dan melindungi orang yang meminta, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun. Kata تَنْهَرْ muncul dua kali di seluruh Al-Quran, di 17:23 dan 93:10. Di 17:23 larangan itu ditujukan kepada anak terhadap kedua orang tuanya, dan di sini kepada siapa pun terhadap orang yang meminta. Satu kata untuk dua hubungan yang jaraknya sangat jauh. Yang satu orang yang paling berhak atas kelembutan kita, dan yang satu lagi orang yang tidak punya hak apa pun atas kita. Allah memakai larangan yang sama untuk keduanya.
  • Bentuk kata yang dipakai bentuk pelaku, sehingga yang disebut orang yang sedang meminta, bukan orang yang miskin. Yang dilindungi Allah bukan keadaannya melainkan perbuatannya, yaitu tindakan meminta itu sendiri. Jadi larangannya berlaku sekalipun yang meminta ternyata tidak sungguh memerlukan, sebab yang disebut bukan kebutuhannya melainkan permintaannya. Melindungi perbuatannya, bukan orangnya, membuat larangan ini tidak bergantung pada penilaian kita atas si peminta. Orang bisa menduga peminta itu berpura-pura, malas, atau tidak benar-benar memerlukan. Dugaan seperti itu tidak dilarang di sini, dan tidak juga dibenarkan. Yang dilarang cuma satu, yaitu membentaknya.
  • Kata untuk orang yang meminta berasal dari akar yang dipakai di 118 ayat, dan akar yang sama memberi kata kerja di 102:8 untuk pertanyaan pada hari perhitungan. Jadi akar yang menyebut orang yang meminta di sini juga menyebut pertanyaan yang akan dihadapi setiap orang kelak. Yang menghardik peminta hari ini akan berdiri sebagai yang ditanya kelak.
  • Kata untuk orang yang meminta bertakrif, sehingga yang disebut orang yang meminta sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Jadi larangannya tidak terbatas pada satu peminta yang pantas dikasihani. Siapa yang berhak menentukan apakah seseorang pantas diberi sebelum ia diperlakukan dengan baik? Allah tidak menyediakan penyaringan itu di dalam ayat ini.
  • Susunan ayat ini sejajar dengan susunan 93:9 dan 93:11: kata penanda pembagian, lalu objeknya, lalu perintah atau larangan. Tiga ayat terakhir surah ini memakai rangka yang sama persis, dan yang berbeda cuma isinya. Kesejajaran serapat itu membuat ketiganya terbaca sebagai satu daftar yang tidak bisa dipisah-pisah.
  • Yang dilarang menghardik peminta adalah orang yang di 93:8 dinyatakan pernah tidak punya apa-apa lalu dicukupkan Allah. Jadi larangannya dialamatkan kepada orang yang paling tahu bagaimana rasanya memerlukan. Urutan ayatnya sendiri yang mengerjakan hubungan itu, dan Al-Qur'an tidak perlu menyatakannya dengan satu kalimat pun. Yang dilindungi perbuatannya, yaitu tindakan meminta, bukan keadaan orang yang meminta. Orang yang pernah berada di pihak yang meminta mengenali sesuatu yang tidak dikenali orang lain, yaitu bahwa yang paling melukai bukan penolakannya. Penolakan bisa diterima. Yang melukai cara penolakannya, dan itu bagian yang tidak memerlukan biaya apa pun untuk diperbaiki.