وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka kisahkanlah.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْwa-ammaa bi-ni'mati rabbika fa-hadditsdan terhadap nikmat Tuhanmu, maka kisahkanlah

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
  2. بِنِعْمَةِbi-ni'matidengan nikmat
  3. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  4. فَحَدِّثْfa-hadditsmaka ceritakanlah

Inti bacaan

Instruksi praktis ketiga tentang syukur aktif: 'dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka kisahkanlah', bentuk syukur yang diwujudkan melalui berbagi cerita dan pengalaman, bukan hanya perasaan internal melainkan tindakan menyebarkan kebaikan yang telah diterima.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (فَحَدِّثْ, fa-haddits) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti baru terjadi. Ia dipakai di 36 ayat, dan akar yang sama memberi kata kerja di 99:4 untuk bumi yang menuturkan berita-beritanya. Jadi dua surah memakai satu akar untuk dua penuturan: yang di sana penuturan bumi tentang apa yang terjadi di atasnya, yang di sini penuturan seseorang tentang nikmat Tuhannya.

Bentuk (فَحَدِّثْ, fa-haddits) bukan bentuk sederhana melainkan bentuk yang menyatakan penuturan yang dirinci, bukan sekadar pemberitahuan singkat. Bahasa Indonesia menahannya dengan "kisahkanlah", dan padanan itu menjaga sisi terincinya. Yang diperintahkan bukan menyebutkan melainkan menceritakan.

Rangkaian (بِنِعْمَةِ رَبِّكَ, bi-ni'mati rabbika) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:2 dan ayat ini. Di 68:2 rangkaian yang sama dipakai dalam kalimat penyangkalan terhadap tuduhan gila. Jadi rangkaian yang di satu tempat menjadi dasar penyangkalan, di sini menjadi objek perintah menceritakan.

Kata (نِعْمَةِ, ni'mati) berasal dari akar yang berarti hidup senang dan tercukupi. Akar itu dipakai di 128 ayat, dan akar yang sama memberi kata di 102:8 untuk kenikmatan yang akan ditanyakan. Jadi akar yang di sana menyebut sesuatu yang dimintai pertanggungjawaban, di sini menyebut sesuatu yang diperintahkan diceritakan. Yang diceritakan dan yang ditanyakan dinamai dengan akar yang satu.

Susunan tiga ayat terakhir surah ini juga patut dicatat. Dua yang pertama larangan dan yang ketiga perintah, sehingga rangkaiannya berakhir dengan sesuatu yang harus dikerjakan. Dan yang diperintahkan bukan bersyukur di dalam hati melainkan menceritakan dengan lisan. Jadi surah yang dibuka dengan penyangkalan bahwa Tuhannya meninggalkannya ditutup dengan perintah agar pemberian-Nya diceritakan kepada orang lain.

Kata (نِعْمَةِ, ni'mati) berasal dari akar yang berarti hidup senang dan tercukupi. Akar itu dipakai di 128 ayat, dan akar yang sama memberi kata di 102:8 untuk kenikmatan yang akan ditanyakan. Jadi akar yang di sana menyebut sesuatu yang dimintai pertanggungjawaban, di sini menyebut sesuatu yang diperintahkan diceritakan. Yang diceritakan dan yang ditanyakan dinamai dengan akar yang satu.

Susunan tiga ayat terakhir surah ini juga patut dicatat. Dua yang pertama larangan dan yang ketiga perintah, sehingga rangkaiannya berakhir dengan sesuatu yang harus dikerjakan. Dan yang diperintahkan bukan bersyukur di dalam hati melainkan menceritakan dengan lisan. Jadi surah yang dibuka dengan penyangkalan bahwa Tuhannya meninggalkannya ditutup dengan perintah agar pemberian-Nya diceritakan kepada orang lain.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini memerintahkan agar nikmat Tuhannya diceritakan, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 36 ayat, dan akar yang sama memberi kata kerja di 99:4 untuk bumi yang menuturkan berita-beritanya.

Bentuk kata kerjanya bukan bentuk sederhana melainkan bentuk yang menyatakan penuturan yang dirinci, bukan sekadar pemberitahuan singkat. Yang diperintahkan bukan menyebutkan melainkan menceritakan. Perbedaan itu menentukan, sebab menyebutkan selesai dalam satu kalimat sedangkan menceritakan menuntut perincian.

Rangkaian yang menyebut nikmat Tuhannya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:2 dan ayat ini. Di 68:2 rangkaian yang sama dipakai dalam kalimat penyangkalan terhadap tuduhan gila. Jadi rangkaian yang di satu tempat menjadi dasar penyangkalan, di sini menjadi objek perintah menceritakan.

Kata untuk nikmat berasal dari akar yang dipakai di 128 ayat, dan akar yang sama memberi kata di 102:8 untuk kenikmatan yang akan ditanyakan. Jadi akar yang di sana menyebut sesuatu yang dimintai pertanggungjawaban, di sini menyebut sesuatu yang diperintahkan diceritakan. Surah yang dibuka dengan penyangkalan bahwa Tuhannya meninggalkannya ditutup dengan perintah agar pemberian-Nya diceritakan kepada orang lain.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 36 ayat. Akar yang sama memberi kata kerja di 99:4 untuk bumi yang menuturkan berita-beritanya. Jadi dua surah memakai satu akar untuk dua penuturan: yang di sana penuturan bumi tentang apa yang terjadi di atasnya, yang di sini penuturan seseorang tentang nikmat Tuhannya.
  • Bentuk kata kerjanya bukan bentuk sederhana melainkan bentuk yang menyatakan penuturan yang dirinci, bukan sekadar pemberitahuan singkat. Yang diperintahkan Allah bukan menyebutkan melainkan menceritakan. Perbedaan itu menentukan, sebab menyebutkan selesai dalam satu kalimat sedangkan menceritakan menuntut perincian dan menuntut ada yang mendengarkan. Kata فَحَدِّثْ hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran, yaitu di ayat ini. Bentuknya menuntut ada yang mendengar, sebab menceritakan tidak bisa dikerjakan sendirian. Jadi perintah terakhir surah ini menaruh orangnya kembali di tengah orang lain, sesudah dua ayat sebelumnya juga berbicara tentang orang lain. Surah yang dibuka dengan seseorang yang merasa sendirian ditutup dengan tiga perintah yang semuanya memerlukan kehadiran orang.
  • Rangkaian yang menyebut nikmat Tuhannya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:2 dan 93:11. Di 68:2 Allah memakai rangkaian yang sama dalam kalimat penyangkalan terhadap tuduhan gila. Jadi rangkaian yang di satu tempat menjadi dasar penyangkalan, di sini menjadi objek perintah menceritakan. Satu rangkaian, dua kedudukan yang berbeda sama sekali.
  • Kata untuk nikmat berasal dari akar yang dipakai di 128 ayat, dan akar yang sama memberi kata di 102:8 untuk kenikmatan yang akan ditanyakan. Jadi akar yang di sana menyebut sesuatu yang dimintai pertanggungjawaban, di sini menyebut sesuatu yang diperintahkan diceritakan. Yang diceritakan dan yang ditanyakan dinamai Allah dengan akar yang satu.
  • Dua ayat sebelumnya berupa larangan dan ayat ini berupa perintah, sehingga rangkaiannya berakhir dengan sesuatu yang harus dikerjakan. Allah tidak menutup surah ini dengan sesuatu yang harus dihindari. Yang terakhir diminta bukan menahan diri melainkan bergerak, dan yang harus dikerjakan itu menyangkut orang lain, bukan cuma dirinya sendiri. Dua perintah sebelumnya berbentuk larangan, dan yang terakhir ini berbentuk suruhan. Urutan itu bergerak dari menahan diri kepada berbuat. Menahan diri lebih mudah diperiksa dan lebih cepat dikerjakan, sedangkan menceritakan menuntut orangnya keluar dari diamnya. Yang paling menuntut ditaruh paling akhir, sesudah dua yang lebih ringan.
  • Yang diperintahkan bukan bersyukur di dalam hati melainkan menceritakan dengan lisan. Jadi surah yang dibuka dengan penyangkalan bahwa Tuhannya meninggalkannya ditutup dengan perintah agar pemberian-Nya diceritakan kepada orang lain. Apa gunanya sebuah pemberian yang tidak pernah diketahui siapa pun selain penerimanya? Allah menaruh jawabannya di kata terakhir surah ini. Yang diperintahkan menceritakan dengan lisan, bukan menyimpannya di dalam hati sendiri. Ada jarak tipis antara menceritakan karunia dan memamerkannya, dan ayat ini tidak menyediakan aturan pembedanya. Yang disebut cuma bahwa yang diceritakan karunia Tuhanmu, dan penyebutan itu sendiri sudah menentukan arahnya. Cerita yang berpusat pada pemberinya sulit berubah menjadi pameran, sedangkan cerita yang berpusat pada penerimanya sudah berubah sejak kalimat pertamanya.