بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

Bukankah Kami telah melapangkan dadamu untukmu,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَa-lam nasyrah laka shadrakabukankah Kami telah melapangkan dadamu untukmu

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَلَمْa-lamtidakkah
  2. نَشْرَحْnasyrahKami melapangkan
  3. لَكَlakabagimu
  4. صَدْرَكَshadrakadadamu

Inti bacaan

Pembukaan Ash-Sharh dengan pengingat kelapangan: 'bukankah Kami telah melapangkan dadamu untukmu', pertanyaan retoris yang menegaskan anugerah kejernihan batin dalam menerima kebenaran.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Kata kerja (نَشْرَحْ, nasyrah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata (صَدْرَكَ, shadraka) juga muncul 1 kali. Jadi dua kata pokok di ayat pembuka ini tidak dipakai di ayat lain mana pun.

Akar (نَشْرَحْ, nasyrah) berarti melapangkan. Akar itu dipakai di 5 ayat, yaitu 6:125, 16:106, 20:25, 39:22, dan ayat ini. Yang paling menerangkan adalah 20:25, sebab di sana tertulis (رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي, rabbi syrah lii shadrii), Tuhanku, lapangkanlah dadaku untukku. Susunannya sama persis dengan susunan ayat ini, hanya saja yang di sana permintaan dan yang di sini pernyataan bahwa hal itu sudah dikerjakan.

Dua pemakaian lainnya juga patut dicatat. Di 6:125 tertulis (يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ, yasyrah shadrahu li-l-islaami), dan di 39:22 susunan yang serupa dipakai lagi, sedangkan di 16:106 akar itu dipakai untuk dada yang dilapangkan bagi kekufuran. Jadi akar yang sama dipakai untuk dua arah yang berlawanan, dan yang menentukan bukan kata kerjanya melainkan untuk apa dada itu dilapangkan.

Akar (صَدْرَكَ, shadraka) berarti keluar dari sumbernya. Akar itu dipakai di 43 ayat, dan akar yang sama memberi kata kerja di 99:6 serta kata untuk dada di 100:10. Jadi tiga surah memakai satu akar untuk tiga hal yang berbeda: manusia yang keluar berpencar, isi dada yang dikeluarkan, dan dada yang dilapangkan.

Kalimat ini dibuka huruf tanya yang diikuti huruf pengingkaran, sehingga bentuknya pertanyaan yang menyatakan penegasan, bukan keraguan. Bahasa Indonesia menahannya dengan "bukankah", memakai bentuk pertanyaan yang sama untuk menahan penegasan yang sama. Bentuk itu menuntut pengakuan dari yang ditanya, dan pengakuan berbeda dari penerimaan keterangan baru.

Kedua kata ganti orang kedua di ayat ini, yaitu pada (لَكَ, laka) dan pada (صَدْرَكَ, shadraka), menunjuk kepada satu orang yang sama. Menyebutnya dua kali dalam satu kalimat pendek terlihat berlebih, dan susunan semacam itu dipakai untuk menegaskan bahwa yang menerima memang orang itu dan bukan yang lain. Jadi penegasannya bukan pada perbuatannya melainkan pada siapa yang menerimanya.

Seluruh surah ini menyapa satu orang, dan tidak ada satu ayat pun yang menyapa banyak orang. Bentuk kata gantinya tunggal di kedelapan ayatnya. Jadi yang dibicarakan bukan golongan melainkan seseorang, dan siapa pun yang membacanya membacanya sebagai kalimat yang dialamatkan kepada satu orang. Sapaan tunggal semacam itu tidak menyediakan tempat untuk merasa sedang menonton dari luar.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan mengingatkan Nabi akan kelapangan dada yang dianugerahkan, dan bentuknya pertanyaan yang menyatakan penegasan. Huruf tanya diikuti huruf pengingkaran, sehingga yang ditanya tidak sedang diminta keterangan melainkan diminta mengakui sesuatu yang sudah diketahuinya.

Akar kata kerjanya dipakai di 5 ayat, yaitu 6:125, 16:106, 20:25, 39:22, dan ayat ini. Yang paling menerangkan 20:25, sebab di sana susunan yang sama persis dipakai sebagai permintaan: Tuhanku, lapangkanlah dadaku untukku. Jadi apa yang di satu tempat diminta, di sini dinyatakan sudah dikerjakan.

Dua pemakaian lainnya juga patut dicatat. Di 6:125 dan 39:22 akar itu dipakai untuk dada yang dilapangkan bagi Islam, dan di 16:106 untuk dada yang dilapangkan bagi kekufuran. Jadi akar yang sama dipakai untuk dua arah yang berlawanan, dan yang menentukan bukan kata kerjanya melainkan untuk apa dada itu dilapangkan.

Akar kata keduanya dipakai di 43 ayat, dan akar yang sama memberi kata kerja di 99:6 serta kata untuk dada di 100:10. Tiga surah karena itu memakai satu akar untuk tiga hal yang berbeda: manusia yang keluar berpencar, isi dada yang dikeluarkan, dan dada yang dilapangkan. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerja di ayat ini dipakai di 5 ayat, yaitu 6:125, 16:106, 20:25, 39:22, dan 94:1. Yang paling menerangkan 20:25, sebab di sana susunan yang sama persis dipakai sebagai permintaan: Tuhanku, lapangkanlah dadaku untukku. Jadi apa yang di satu tempat diminta seorang hamba, di sini dinyatakan Allah sudah dikerjakan tanpa diminta lebih dulu. Yang diminta seorang hamba di satu tempat dinyatakan sudah dikerjakan di tempat lain tanpa diminta. Kelangkaan dan kepadatan itu berjalan bersama di dalam satu surah pendek yang sama.
  • Di 6:125 dan 39:22 akar yang sama dipakai untuk dada yang dilapangkan bagi Islam, dan di 16:106 untuk dada yang dilapangkan bagi kekufuran. Jadi satu akar dipakai untuk dua arah yang berlawanan, dan yang menentukan bukan kata kerjanya melainkan untuk apa dada itu dilapangkan. Kelapangan sendiri bukan tanda kebaikan; ia cuma menyatakan bahwa sesuatu masuk tanpa terasa sempit. Kelapangan sendiri bukan tanda kebaikan; ia cuma menyatakan bahwa sesuatu masuk tanpa terasa sempit.
  • Kalimat ini dibuka huruf tanya yang diikuti huruf pengingkaran, sehingga bentuknya pertanyaan yang menyatakan penegasan, bukan keraguan. Bentuk itu menuntut pengakuan dari yang ditanya, dan pengakuan berbeda dari penerimaan keterangan baru. Apa yang berubah pada seseorang ketika ia diminta mengakui sesuatu yang sudah dialaminya sendiri? Pengakuan lebih sulit diberikan daripada penerimaan, sebab ia menuntut orang menengok ke belakang.
  • Akar kata kedua dipakai di 43 ayat, dan akar yang sama memberi kata kerja di 99:6 serta kata untuk dada di 100:10. Jadi tiga surah memakai satu akar untuk tiga hal yang berbeda: manusia yang keluar berpencar, isi dada yang dikeluarkan, dan dada yang dilapangkan Allah. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkan cuma akarnya.
  • Kata kerja di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata keduanya juga muncul 1 kali. Jadi dua kata pokok di ayat pembuka ini tidak dipakai Allah di ayat lain mana pun. Pembacanya tidak punya tempat lain untuk menimbang keduanya, dan kelangkaan itu menahan perhatian pada ayat ini sendiri alih-alih membawanya ke tempat lain. Kelangkaan itu menahan perhatian pada ayat ini sendiri alih-alih membawanya ke tempat lain.
  • Yang dilapangkan Allah bukan jalannya, bukan keadaannya, dan bukan urusannya, melainkan dadanya. Jadi yang diubah bukan yang di luar melainkan yang di dalam. Sesuatu yang berat bisa terasa ringan tanpa bebannya berkurang sedikit pun, dan sesuatu yang ringan bisa terasa berat pada dada yang sempit. Yang disebut lebih dulu di surah ini justru wadahnya, bukan isinya. Yang disebut lebih dulu di surah ini justru wadahnya, bukan isi yang dimasukkan ke dalamnya. Yang dilapangkan sesuatu yang tidak bisa diperiksa siapa pun dari luar, dan itu bagian terpenting dari pemberian ini.