الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ

Yang memberatkan punggungmu,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَalladzii anqadha zhahrakayang memberatkan punggungmu

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. الَّذِيalladziiyang
  2. أَنْقَضَanqadhamemberatkan
  3. ظَهْرَكَzhahrakapunggungmu

Inti bacaan

Detail intensitas beban yang dahulu: 'yang memberatkan punggungmu', deskripsi tingkat keparahan beban sebelumnya, menegaskan skala pertolongan yang telah diberikan.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (أَنْقَضَ, anqadha) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata (ظَهْرَكَ, zhahraka) juga muncul 1 kali. Jadi ayat pendek ini seluruhnya tersusun dari kata penunjuk dan dua kata yang tidak dipakai di ayat lain mana pun.

Akar (أَنْقَضَ, anqadha) berarti membongkar dan melanggar. Akar itu dipakai di 9 ayat, yaitu 2:27, 4:155, 5:13, 8:56, 13:20, 13:25, 16:91, 16:92, dan ayat ini. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa delapan dari sembilan pemakaiannya tentang melanggar perjanjian. Di 2:27 dan 13:25 tertulis (يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ, yanqudhuuna 'ahda llaahi), mereka melanggar perjanjian Allah.

Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an hampir selalu menyebut perjanjian yang diputus, di sini dipakai pada (أَنْقَضَ, anqadha) untuk beban yang menekan punggung sampai berbunyi. Arti asalnya memang memutuskan sesuatu yang terjalin, dan bunyi retak itulah yang menghubungkan kedua pemakaiannya. Al-Qur'an tidak menunjuk hubungan itu dengan satu kalimat pun.

Akar (ظَهْرَكَ, zhahraka) berarti punggung dan yang tampak. Akar itu dipakai di 57 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk punggung, untuk yang tampak, dan untuk yang menang. Jadi bagian tubuh yang menanggung beban dinamai dengan akar yang juga berarti tampak dan unggul. Yang paling terlihat dari belakang justru bagian yang paling banyak memikul.

Kata (الَّذِي, alladzii) di awal ayat menyambung langsung kepada kata terakhir di 94:2, sehingga ayat ini keterangan bagi bebannya dan bukan kalimat baru. Susunan itu membuat dua ayat terbaca sebagai satu kalimat yang dipenggal, dan penggalan itu menaruh gambaran beratnya di ayat tersendiri, sesudah pembacanya lebih dulu mendengar bahwa bebannya sudah diturunkan.

Ayat ini yang terpendek di dalam surahnya, dan ia satu-satunya di paruh pertama yang tidak memuat kata kerja berjamak yang menunjuk kepada Yang berfirman. Tiga ayat lain di sekitarnya menyebut perbuatan Allah, dan ayat ini menyebut apa yang dikerjakan bebannya. Jadi satu-satunya pelaku selain Allah di paruh pertama surah ini adalah beban itu sendiri.

Susunan itu patut dicatat. Beban ditaruh sebagai pelaku di dalam kalimatnya, dan punggung orangnya sebagai yang dikenai. Pola yang sama dipakai di 102:1, tempat perlombaan ditaruh sebagai pelaku dan manusianya sebagai objek. Jadi dua surah memakai susunan yang sama untuk menyatakan bahwa yang menekan seseorang bergerak dengan sendirinya, sementara orangnya cuma menanggung.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut sejak kapan beban itu menekan, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut apakah ada yang melihatnya. Yang disebut cuma bekasnya pada punggung. Sebuah gambaran yang menyebut bekas tanpa menyebut lamanya membuat pembacanya sendiri yang mengisi berapa lama sesuatu perlu ditanggung sampai ia meninggalkan bekas seperti itu.

Tafsiran

Ayat ini merinci beban tersebut sebagai sesuatu yang sangat memberatkan, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya dipakai di 9 ayat. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa delapan dari sembilan pemakaiannya tentang melanggar perjanjian.

Di 2:27 dan 13:25 akar yang sama dipakai dalam kalimat bahwa mereka melanggar perjanjian Allah. Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an hampir selalu menyebut perjanjian yang diputus, di sini dipakai untuk beban yang menekan punggung sampai berbunyi. Arti asalnya memang memutuskan sesuatu yang terjalin, dan bunyi retak itulah yang menghubungkan kedua pemakaiannya.

Akar kata keduanya dipakai di 57 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk punggung, untuk yang tampak, dan untuk yang menang. Jadi bagian tubuh yang menanggung beban dinamai dengan akar yang juga berarti tampak dan unggul. Yang paling terlihat dari belakang justru bagian yang paling banyak memikul.

Kata penunjuk di awal ayat menyambung langsung kepada kata terakhir di 94:2, sehingga ayat ini keterangan bagi bebannya dan bukan kalimat baru. Susunan itu membuat dua ayat terbaca sebagai satu kalimat yang dipenggal. Penggalan itu menaruh gambaran beratnya di ayat tersendiri, sesudah pembacanya lebih dulu mendengar bahwa bebannya sudah diturunkan.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerja di ayat ini dipakai di 9 ayat, yaitu 2:27, 4:155, 5:13, 8:56, 13:20, 13:25, 16:91, 16:92, dan 94:3. Delapan dari sembilan pemakaiannya tentang melanggar perjanjian, dan di 2:27 serta 13:25 Allah menyebut mereka yang melanggar perjanjian-Nya. Cuma di ayat ini akar itu dipakai untuk beban yang menekan sampai berbunyi. Cuma di ayat ini akar itu dipakai untuk sesuatu yang menekan sampai berbunyi retak. Bunyi yang keluar dari sesuatu yang tertekan selalu lebih menerangkan daripada ukurannya.
  • Arti asal akar itu memutuskan sesuatu yang terjalin, dan bunyi retak itulah yang menghubungkan kedua pemakaiannya. Perjanjian yang diputus dan punggung yang menahan beban sama-sama mengeluarkan bunyi patah pada titik yang tidak lagi tertahan. Al-Qur'an tidak menunjuk hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya sendiri. Yang menyambungkan kedua pemakaiannya cuma akarnya sendiri, bukan satu pun kalimat.
  • Akar kata kedua dipakai di 57 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk punggung, untuk yang tampak, dan untuk yang menang. Jadi bagian tubuh yang menanggung beban dinamai Allah dengan akar yang juga berarti tampak dan unggul. Yang paling terlihat dari belakang justru bagian yang paling banyak memikul, dan orang yang melihatnya jarang menyadari apa yang sedang ditanggungnya. Orang yang melihatnya dari belakang jarang menyadari apa yang sedang ditanggungnya.
  • Kata penunjuk di awal ayat menyambung langsung kepada kata terakhir di ayat sebelumnya, sehingga ayat ini keterangan bagi bebannya dan bukan kalimat baru. Allah menaruh gambaran beratnya di ayat tersendiri, sesudah pembacanya lebih dulu mendengar bahwa bebannya sudah diturunkan. Mengapa berat sesuatu baru diterangkan sesudah ia tidak lagi ditanggung? Yang sudah lewat baru bisa diukur beratnya, dan yang sedang ditanggung tidak pernah sempat diukur.
  • Kata kerja di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata keduanya juga muncul 1 kali. Jadi ayat pendek ini seluruhnya tersusun dari kata penunjuk dan dua kata yang tidak dipakai Allah di ayat lain mana pun. Pembacanya tidak punya pembanding untuk keduanya, dan gambaran beratnya cuma bisa ditimbang dari bunyi katanya sendiri. Gambaran beratnya cuma bisa ditimbang dari bunyi katanya sendiri, tanpa pembanding mana pun.
  • Yang dinyatakan bukan bahwa bebannya berat, melainkan bahwa ia menekan sampai berbunyi. Berat adalah ukuran yang bisa dibandingkan; bunyi retak adalah tanda bahwa batasnya sudah dilewati. Allah memilih menggambarkan bukan ukurannya melainkan tandanya, dan tanda selalu lebih dekat kepada pengalaman orang yang menanggungnya daripada angka mana pun. Tanda selalu lebih dekat kepada pengalaman orang yang menanggungnya daripada angka mana pun. Yang menekan tidak selalu yang paling berat timbangannya, melainkan yang paling lama dipikul tanpa sempat diletakkan sekali pun.