Ayat 94:5
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاfa-inna ma'a l-'usri yusranmaka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَإِنَّfa-innamaka sesungguhnya
- مَعَma'abersama
- الْعُسْرِl-'usrikesulitan
- يُسْرًاyusrankemudahan
Inti bacaan
Janji pertama tentang kemudahan yang menyertai: 'maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan', prinsip fundamental bahwa kemudahan hadir bersamaan dengan kesulitan, bukan setelahnya, penghiburan yang menyertai bukan menunggu.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, ma'a l-'usri yusran) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 94:5 dan 94:6, keduanya di dalam surah ini dan berurutan. Jadi susunan lengkapnya tidak dipakai di tempat lain mana pun.
Yang paling perlu diperhatikan adalah kata depannya. Yang dipakai (مَعَ, ma'a), yang berarti bersama, bukan kata depan yang berarti sesudah. Bandingkan dengan 65:7, tempat tertulis (بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا, ba'da 'usrin yusran), sesudah kesulitan ada kemudahan. Jadi Al-Qur'an memakai dua kata depan yang berbeda untuk dua pernyataan yang bunyinya mirip, dan perbedaan itu memindahkan seluruh gambarannya.
Yang sesudah berarti kemudahan datang ketika kesulitannya sudah berlalu, sehingga keduanya tidak pernah berada di tempat yang sama. Yang bersama berarti keduanya berada di tempat yang sama pada waktu yang sama. Bahasa Indonesia menahannya dengan "bersama", bukan "sesudah", dan pilihan itu menjaga perbedaan yang memang ada di dalam Arabnya.
Kata (الْعُسْرِ, al-'usri) bertakrif dan (يُسْرًا, yusran) tidak bertakrif, dan hal itu berlaku di kedua ayat. Akar (الْعُسْرِ, al-'usri) berarti sulit. Akar itu dipakai di 12 ayat, antara lain 2:185, 2:280, 65:6, 65:7, dan 92:10. Akar (يُسْرًا, yusran) berarti mudah dan ringan. Akar itu dipakai di 40 ayat, dan bentuk itu sendiri muncul 6 kali, yaitu di 18:88, 51:3, 65:4, 65:7, 94:5, dan 94:6.
Huruf (فَ, fa) di awal ayat menyambungkannya kepada empat ayat sebelumnya, sehingga pernyataan ini kesimpulan dari apa yang sudah disebutkan. Jadi ia tidak berdiri sebagai kalimat umum yang lepas melainkan sebagai kesimpulan atas empat pemberian yang baru saja diingatkan. Yang sudah mengalami dada yang dilapangkan dan beban yang diturunkan punya dasar untuk menerima kesimpulan itu.
Akar (الْعُسْرِ, al-'usri) dipakai di 12 ayat, antara lain 2:185, 2:280, 65:6, 65:7, dan 92:10. Di 2:185 akar itu muncul dalam kalimat bahwa Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan, dan di 2:280 dalam perintah menangguhkan orang yang berada dalam kesulitan. Jadi akar yang sama dipakai untuk keadaan yang tidak dikehendaki Allah bagi hamba-Nya dan untuk keadaan yang menuntut kelapangan dari sesama.
Bentuk (يُسْرًا, yusran) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 18:88, 51:3, 65:4, 65:7, 94:5, dan 94:6. Dua dari enam kemunculannya berada di dalam surah ini, di dua ayat yang bersebelahan. Jadi sepertiga dari seluruh pemakaian bentuk itu berdesakan di satu tempat, dan tempat itu dua ayat yang isinya sama persis.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kemudahan apa, tidak disebut kapan ia terasa, dan tidak disebut seberapa besar. Yang disebut cuma bahwa ia ada bersama kesulitannya. Sebuah janji yang tidak menyebutkan bentuknya tidak bisa diperiksa dengan daftar, dan karena itu ia juga tidak bisa dinyatakan belum datang oleh orang yang sedang menunggunya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa kesulitan selalu disertai kemudahan, dan yang paling perlu diperhatikan adalah kata depannya. Yang dipakai kata yang berarti bersama, bukan kata yang berarti sesudah. Bandingkan dengan 65:7, tempat Al-Qur'an memakai kata yang berarti sesudah untuk pernyataan yang bunyinya mirip.
Perbedaan itu memindahkan seluruh gambarannya. Yang sesudah berarti kemudahan datang ketika kesulitannya sudah berlalu, sehingga keduanya tidak pernah berada di tempat yang sama. Yang bersama berarti keduanya berada di tempat yang sama pada waktu yang sama, sehingga yang sedang berada di dalam kesulitan sudah berada di dekat kemudahannya.
Rangkaian yang dipakai muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 94:5 dan 94:6, keduanya di dalam surah ini dan berurutan. Jadi susunan lengkapnya tidak dipakai di tempat lain mana pun. Kata pertamanya bertakrif dan kata keduanya tidak, dan hal itu berlaku di kedua ayat tanpa berubah.
Huruf di awal ayat menyambungkannya kepada empat ayat sebelumnya, sehingga pernyataan ini kesimpulan dari apa yang sudah disebutkan. Ia tidak berdiri sebagai kalimat umum yang lepas melainkan sebagai kesimpulan atas empat pemberian yang baru saja diingatkan. Yang sudah mengalami dada yang dilapangkan dan beban yang diturunkan punya dasar untuk menerima kesimpulan itu.
Renungan dan Hikmah
- Kata depan yang dipakai Allah berarti bersama, bukan sesudah. Bandingkan dengan 65:7, tempat Al-Qur'an memakai kata yang berarti sesudah untuk pernyataan yang bunyinya mirip. Yang sesudah berarti kemudahan datang ketika kesulitannya sudah berlalu; yang bersama berarti keduanya berada di tempat yang sama pada waktu yang sama, sehingga yang sedang di dalam kesulitan sudah berada di dekat kemudahannya. Perbedaan satu kata depan memindahkan seluruh gambarannya bagi orang yang sedang menanggung.
- Rangkaian yang dipakai muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 94:5 dan 94:6, keduanya di dalam surah ini dan berurutan. Jadi susunan lengkapnya tidak dipakai Allah di tempat lain mana pun. Bagiannya masing-masing sudah dikenal di banyak ayat, dan yang tidak dikenal cuma penggabungannya, sama seperti pola di 102:3 dan 102:4. Yang langka bukan bahan-bahannya, melainkan cara keduanya disusun bersama di satu tempat.
- Kata untuk kesulitan bertakrif dan kata untuk kemudahan tidak bertakrif, dan hal itu berlaku di kedua ayat tanpa berubah. Jadi kesulitannya disebut sebagai sesuatu yang sudah dikenal, sedangkan kemudahannya disebut tanpa batas yang tertentu. Yang sudah dikenal bisa dihitung dan dibayangkan; yang tidak bertakrif tidak punya ukuran yang bisa dibandingkan dengannya. Yang tidak bertakrif tidak punya ukuran yang bisa dibandingkan dengan kesulitannya.
- Huruf di awal ayat menyambungkannya kepada empat ayat sebelumnya, sehingga pernyataan ini kesimpulan dari apa yang sudah disebutkan Allah. Ia tidak berdiri sebagai kalimat umum yang lepas melainkan sebagai kesimpulan atas empat pemberian yang baru saja diingatkan. Yang sudah mengalami dada yang dilapangkan dan beban yang diturunkan punya dasar untuk menerimanya. Yang sudah mengalami pemberian punya dasar untuk menerima kesimpulan itu tanpa ragu.
- Allah tidak menyebutkan kemudahan apa, tidak menyebutkan kapan ia terasa, dan tidak menyebutkan seberapa besar. Yang disebut cuma bahwa ia ada bersama kesulitannya. Sebuah janji yang tidak menyebutkan bentuknya tidak bisa diperiksa dengan daftar, dan karena itu ia juga tidak bisa dinyatakan belum datang oleh orang yang sedang menunggunya. Yang tidak bisa diperiksa dengan daftar juga tidak bisa dinyatakan belum datang oleh siapa pun.
- Kalau kemudahan datang sesudah kesulitan, orang yang sedang berada di dalamnya belum punya apa-apa. Kalau ia bersama kesulitan, orang itu sudah berada di dekatnya tanpa menyadarinya. Apa yang berubah pada seseorang yang mengetahui bahwa yang dicarinya sudah berada di ruangan yang sama dengan dirinya? Allah menyatakannya dua kali berturut-turut, dan tidak menerangkannya sekali pun. Allah menyatakannya dua kali berturut-turut, dan tidak menerangkannya sekali pun. Kata bersama mengubah cara menunggu. Yang menunggu sesudah akan menghitung hari, sedangkan yang tahu keduanya berjalan bersama akan mencarinya sekarang.
Ayat 94:6
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاinna ma'a l-'usri yusransesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- مَعَma'abersama
- الْعُسْرِl-'usrikesulitan
- يُسْرًاyusrankemudahan
Inti bacaan
Penguatan melalui pengulangan: 'sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan', repetisi yang menegaskan kepastian prinsip ini, penekanan ganda yang memperkuat keyakinan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini pengulangan persis 94:5 sebagai penekanan retoris, dan satu-satunya yang berbeda huruf (فَ, fa) di depannya yang tidak ada di sini. Jadi yang di 94:5 tersambung kepada ayat-ayat sebelumnya sebagai kesimpulan, dan yang di sini berdiri sendiri sebagai pernyataan lepas.
Perbedaan sekecil itu menentukan. Yang tersambung berlaku atas apa yang baru disebutkan, sedangkan yang berdiri sendiri berlaku tanpa syarat. Jadi pernyataan yang sama diberikan dua kali dengan dua kedudukan yang berbeda: sekali sebagai kesimpulan dari pengalaman tertentu, sekali sebagai kaidah yang berlaku sendiri.
Bandingkan dengan pengulangan di 102:3 dan 102:4. Di sana yang ditambahkan sebuah kata di depan ayat kedua, sedangkan di sini justru sebuah huruf dihilangkan. Jadi Al-Qur'an memakai dua cara yang berbeda untuk mengulang: menambahkan penanda tahap di satu tempat, dan melepaskan penyambung di tempat lain.
Rangkaian (مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, ma'a l-'usri yusran) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 94:5 dan 94:6. Kata (الْعُسْرِ, al-'usri) juga muncul 2 kali, keduanya di dua ayat ini. Jadi kata untuk kesulitan dalam bentuk bertakrif ini tidak dipakai di ayat lain mana pun.
Bentuk (يُسْرًا, yusran) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 18:88, 51:3, 65:4, 65:7, 94:5, dan 94:6. Jadi dua dari enam kemunculannya berada di dalam surah ini, di dua ayat yang bersebelahan. Yang berulang bukan cuma kalimatnya melainkan juga kata yang menutupnya, dan pengulangan itu terjadi dalam jarak yang paling rapat yang mungkin.
Susunan surah ini juga patut dicatat. Empat ayat pertama berupa berita tentang apa yang sudah diberikan, dua ayat ini berupa kaidah, dan dua ayat terakhir berupa perintah. Jadi delapan ayatnya terbagi rata menjadi tiga bagian yang berbeda jenisnya, dan pengulangan di dua ayat ini berdiri tepat di tengahnya sebagai engsel yang menghubungkan pemberian dengan perintah.
Yang perlu dijaga dalam membaca ayat ini adalah tidak menyimpulkan bahwa dua kemudahan yang berbeda dijanjikan. Kata untuk kesulitan bertakrif di kedua ayat, sedangkan kata untuk kemudahan tidak bertakrif di keduanya. Menyimpulkan lebih dari yang tertulis berarti menambahkan hitungan yang tidak diberikan teksnya sendiri, dan Al-Qur'an tidak menyebutkan satu pun angka di dalam kedua ayat ini.
Pengulangan (مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, ma'a l-'usri yusran) di dua ayat ini juga berbeda dari pengulangan di 102:3 dan 102:4. Di sana kedua ayatnya dipisahkan oleh kata penanda tahap yang menyatakan jarak waktu, sedangkan di sini tidak ada penanda tahap sama sekali. Jadi dua pernyataan di surah ini tidak berjarak waktu, melainkan berdampingan pada tempat yang sama.
Tafsiran
Ayat ini mengulang penegasan sebelumnya untuk memperkuat keyakinan, dan satu-satunya yang berbeda huruf penyambung di depan 94:5 yang tidak ada di sini. Jadi yang di 94:5 tersambung kepada ayat-ayat sebelumnya sebagai kesimpulan, dan yang di sini berdiri sendiri sebagai pernyataan lepas.
Perbedaan sekecil itu menentukan. Yang tersambung berlaku atas apa yang baru disebutkan, sedangkan yang berdiri sendiri berlaku tanpa syarat. Jadi pernyataan yang sama diberikan dua kali dengan dua kedudukan yang berbeda: sekali sebagai kesimpulan dari pengalaman tertentu, sekali sebagai kaidah yang berlaku sendiri.
Bandingkan dengan pengulangan di 102:3 dan 102:4. Di sana yang ditambahkan sebuah kata di depan ayat kedua, sedangkan di sini justru sebuah huruf dihilangkan. Jadi Al-Qur'an memakai dua cara yang berbeda untuk mengulang, dan keduanya menghasilkan akibat yang berbeda pada pembacanya.
Bentuk kata terakhirnya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 18:88, 51:3, 65:4, 65:7, 94:5, dan 94:6. Dua dari enam kemunculannya berada di dalam surah ini, di dua ayat yang bersebelahan. Yang berulang bukan cuma kalimatnya melainkan juga kata yang menutupnya, dan pengulangan itu terjadi dalam jarak yang paling rapat yang mungkin.
Renungan dan Hikmah
- Satu-satunya yang berbeda antara ayat ini dan ayat sebelumnya huruf penyambung yang ada di sana dan tidak ada di sini. Jadi yang di ayat kelima tersambung kepada ayat-ayat sebelumnya sebagai kesimpulan, dan yang di sini berdiri sendiri sebagai pernyataan lepas. Allah mengulang seluruhnya dan cuma melepaskan satu huruf, dan huruf itulah yang memindahkan kedudukan kalimatnya. Satu huruf yang dilepaskan memindahkan kedudukan seluruh kalimatnya tanpa mengubah satu kata pun. Yang diulang tanpa diperkeras menyatakan bahwa yang pertama sudah cukup sejak awal.
- Yang tersambung berlaku atas apa yang baru disebutkan, sedangkan yang berdiri sendiri berlaku tanpa syarat. Jadi Allah memberikan pernyataan yang sama dua kali dengan dua kedudukan yang berbeda: sekali sebagai kesimpulan dari pengalaman tertentu, sekali sebagai kaidah yang berlaku sendiri. Yang berlaku bagi satu orang ternyata juga berlaku bagi siapa pun yang membacanya. Yang berlaku bagi satu orang ternyata juga berlaku bagi siapa pun yang membacanya kemudian.
- Bandingkan dengan pengulangan di 102:3 dan 102:4. Di sana yang ditambahkan sebuah kata di depan ayat kedua, sedangkan di sini justru sebuah huruf dihilangkan. Jadi Allah memakai dua cara yang berbeda untuk mengulang, dan keduanya menghasilkan akibat yang berbeda pada pembacanya. Yang ditambahi menandai tahap; yang dilepaskan penyambungnya menjadi berdiri sendiri. Yang ditambahi menandai tahap; yang dilepaskan penyambungnya menjadi berdiri sendiri.
- Kata untuk kesulitan dalam bentuk bertakrif ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya di dua ayat ini. Jadi bentuk itu tidak dipakai Allah di ayat lain mana pun. Yang paling sering dikutip orang ketika sedang berat ternyata memakai bentuk kata yang tidak muncul di tempat lain, dan kelangkaannya jarang disadari yang mengutipnya. Kedua kemunculannya di 94:5 dan 94:6, dan kelangkaannya jarang disadari orang yang mengutipnya.
- Bentuk kata terakhirnya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 18:88, 51:3, 65:4, 65:7, 94:5, dan 94:6. Dua dari enam kemunculannya berada di dalam surah ini, di dua ayat yang bersebelahan. Yang berulang bukan cuma kalimatnya melainkan juga kata yang menutupnya, dan pengulangan itu terjadi dalam jarak yang paling rapat yang mungkin. Sepertiga dari seluruh pemakaian bentuk itu berdesakan di dua ayat yang bersebelahan.
- Pernyataan di ayat ini tidak dinaikkan bobotnya, tidak diperkeras kata-katanya, dan tidak ditambah rinciannya. Ia dikembalikan hampir persis seperti semula. Allah tidak memerlukan kata yang lebih kuat untuk mengulang. Apa yang membuat sebuah kalimat perlu diucapkan dua kali kepada orang yang sudah mendengarnya sekali? Allah tidak memerlukan kata yang lebih kuat untuk mengulang sesuatu yang sudah diucapkan. Pengulangan tanpa penambahan menandakan bahwa yang kurang bukan keterangannya, melainkan kesediaan mendengarnya sekali lagi.