فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

Maka apabila engkau telah selesai, bekerja keraslah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْfa-idzaa faraghta fa-nshabmaka apabila engkau telah selesai, bekerja keraslah

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
  2. فَرَغْتَfaraghtaengkau selesai
  3. فَانْصَبْfa-nshabmaka bekerja keraslah

Inti bacaan

Instruksi untuk terus produktif: 'maka apabila engkau telah selesai, bekerja keraslah', dorongan untuk tidak berhenti pada satu pencapaian, kesinambungan usaha sebagai bagian dari kehidupan yang bermakna.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (فَرَغْتَ, faraghta) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata kerja (فَانْصَبْ, fa-nshab) juga muncul 1 kali. Jadi ayat pendek ini tersusun dari dua kata kerja yang tidak dipakai di ayat lain mana pun, ditambah satu kata penanda waktu.

Akar (فَرَغْتَ, faraghta) berarti selesai dan kosong. Akar itu dipakai di 6 ayat, yaitu 2:250, 7:126, 18:96, 28:10, 55:31, dan ayat ini. Di 28:10 tertulis (فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَارِغًا, fu-aadu ummi muusaa faarighan), hati ibu Musa menjadi kosong, dan di 55:31 tertulis (سَنَفْرُغُ لَكُمْ, sa-nafrughu lakum), Kami akan menyelesaikan urusan kalian. Jadi akar yang sama menyebut kekosongan hati dan penyelesaian urusan.

Akar (فَانْصَبْ, fa-nshab) berarti menegakkan dan memancangkan. Akar itu dipakai di 29 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk kepayahan, untuk sesuatu yang ditegakkan, dan untuk batu-batu yang ditegakkan sebagai sesembahan. Jadi akar yang berarti menegakkan dengan susah payah juga dipakai untuk letih yang menyertainya.

Yang tidak disebut di ayat ini objek (فَرَغْتَ, faraghta) dan (فَانْصَبْ, fa-nshab). Tidak disebut selesai dari apa, dan tidak disebut bersungguh-sungguh untuk apa. Kedua bagian itu dibiarkan kosong. Jadi perintahnya tidak terikat pada satu pekerjaan tertentu, dan siapa pun yang membacanya bisa mengisi keduanya dengan pekerjaannya sendiri.

Susunan ayat ini juga patut dicatat. Ia perintah pertama di dalam surah ini, dan ia datang sesudah enam ayat yang seluruhnya berupa berita. Empat ayat pertama menyebut apa yang sudah diberikan, dua ayat berikutnya menyebut kaidah tentang kesulitan, dan baru di sini sesuatu diminta. Yang menerima diberi tahu apa yang sudah diterimanya sebelum diminta mengerjakan apa pun.

Kata (فَإِذَا, fa-idzaa) di awal ayat menandai waktu yang pasti datang, bukan pengandaian yang belum tentu terjadi. Jadi yang dinyatakan bukan seandainya engkau selesai melainkan apabila engkau selesai. Bentuk itu mengandaikan bahwa selesainya memang akan tiba, dan yang belum tentu bukan selesainya melainkan apa yang dikerjakan sesudahnya.

Susunan (فَرَغْتَ, faraghta) dan (فَانْصَبْ, fa-nshab) yang berurutan tanpa objek juga patut dicatat. Kalimatnya cuma tiga kata, dan dua di antaranya kata kerja. Tidak ada satu pun kata benda di dalamnya. Sebuah perintah yang tidak memuat kata benda tidak menunjuk kepada satu pekerjaan mana pun, dan karena itu ia berlaku atas semuanya tanpa perlu menyebut satu per satu.

Akar (فَانْصَبْ, fa-nshab) dipakai di 29 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk kepayahan di 18:62 serta kata untuk batu-batu yang ditegakkan sebagai sesembahan di 5:90. Jadi satu akar memberi kata untuk menegakkan sesuatu, untuk letih yang menyertainya, dan untuk sesuatu yang ditegakkan lalu disembah. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun.

Tafsiran

Ayat ini memerintahkan Nabi untuk terus bersungguh-sungguh setelah menyelesaikan satu tugas, dan kedua kata kerjanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi ayat pendek ini tersusun dari dua kata kerja yang tidak dipakai di ayat lain mana pun, ditambah satu kata penanda waktu.

Akar kata kerja pertamanya dipakai di 6 ayat, yaitu 2:250, 7:126, 18:96, 28:10, 55:31, dan ayat ini. Di 28:10 ia menyebut hati yang menjadi kosong, dan di 55:31 penyelesaian urusan. Jadi akar yang sama menyebut kekosongan hati dan penyelesaian urusan, dan keduanya bertetangga: yang selesai mengosongkan tempat yang tadinya terisi.

Akar kata kerja keduanya dipakai di 29 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk kepayahan, untuk sesuatu yang ditegakkan, dan untuk batu-batu yang ditegakkan sebagai sesembahan. Jadi akar yang berarti menegakkan dengan susah payah juga dipakai untuk letih yang menyertainya.

Yang tidak disebut adalah objek kedua kata kerjanya. Tidak disebut selesai dari apa, dan tidak disebut bersungguh-sungguh untuk apa. Kedua bagian itu dibiarkan kosong, sehingga perintahnya tidak terikat pada satu pekerjaan tertentu. Ini perintah pertama di dalam surah ini, dan ia datang sesudah enam ayat yang seluruhnya berupa berita.

Renungan dan Hikmah

  • Perintah di ayat ini bukan beristirahat sesudah selesai melainkan bersungguh-sungguh lagi. Allah tidak menaruh jeda di antara keduanya, dan kata penanda waktu di awal ayat menyatakan bahwa yang kedua menyusul yang pertama tanpa selang. Yang selesai bukan tanda bahwa pekerjaannya habis, melainkan tanda bahwa satu bagian sudah lewat dan bagian berikutnya menunggu. Yang selesai bukan tanda pekerjaannya habis, melainkan tanda satu bagian sudah lewat. Perintah yang tidak menyebut objek berlaku atas apa pun yang sedang dikerjakan pembacanya.
  • Allah tidak menyebutkan selesai dari apa, dan tidak menyebutkan bersungguh-sungguh untuk apa. Kedua bagian itu dibiarkan kosong. Jadi perintahnya tidak terikat pada satu pekerjaan tertentu, dan siapa pun yang membacanya bisa mengisi keduanya dengan pekerjaannya sendiri. Perintah tanpa objek tidak bisa dianggap selesai dikerjakan oleh siapa pun. Perintah tanpa objek tidak bisa dianggap selesai dikerjakan oleh siapa pun yang membacanya. Perintah yang tidak menyebut objek berlaku atas apa pun yang sedang dikerjakan pembacanya.
  • Akar kata kerja pertama dipakai di 6 ayat, yaitu 2:250, 7:126, 18:96, 28:10, 55:31, dan 94:7. Di 28:10 Allah memakainya untuk hati yang menjadi kosong, dan di 55:31 untuk penyelesaian urusan. Jadi satu akar menyebut kekosongan hati dan penyelesaian urusan, dan keduanya bertetangga: yang selesai mengosongkan tempat yang tadinya terisi. Yang selesai mengosongkan tempat yang tadinya terisi, dan tempat kosong menuntut diisi lagi.
  • Akar kata kerja kedua dipakai di 29 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk kepayahan, untuk sesuatu yang ditegakkan, dan untuk batu-batu yang ditegakkan sebagai sesembahan. Jadi akar yang berarti menegakkan dengan susah payah juga dipakai Allah untuk letih yang menyertainya. Yang ditegakkan dan letih yang menegakkannya dinamai dari satu sumber kata. Yang ditegakkan dan letih yang menegakkannya dinamai Allah dari satu sumber kata.
  • Ini perintah pertama di dalam surah ini, dan ia datang sesudah enam ayat yang seluruhnya berupa berita. Empat ayat pertama menyebut apa yang sudah diberikan Allah, dua ayat berikutnya menyebut kaidah tentang kesulitan, dan baru di sini sesuatu diminta. Yang menerima diberi tahu apa yang sudah diterimanya sebelum diminta mengerjakan apa pun. Urutan itu bisa saja dibalik, dan Allah tidak membaliknya di dalam surah pendek ini.
  • Kedua kata kerja di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi perintah yang paling menentukan di surah ini disusun Allah dari dua kata yang tidak punya pembanding di ayat mana pun. Apa yang harus dikerjakan seseorang ketika satu urusannya selesai, dan mengapa yang diperintahkan justru bukan berhenti? Perintah yang paling menentukan di surah ini disusun dari dua kata tanpa pembanding. Dua kata yang tidak dipakai lagi di mana pun dipakai untuk satu perintah yang paling sederhana bunyinya.