بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ
Demi tin dan zaitun,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِwa-t-tiini wa-z-zaytuunidemi tin dan zaitun
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَالتِّينِwa-t-tiinidemi buah tin
- وَالزَّيْتُونِwa-z-zaytuunidan buah zaitun
Inti bacaan
Pembukaan At-Tin dengan sumpah demi buah-buahan berkah: 'demi tin dan zaitun', penggunaan dua buah yang terkait dengan tempat-tempat bersejarah dan berkah sebagai objek sumpah pembuka yang kaya makna simbolis.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Kata (وَالتِّينِ, wa-t-tiini) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti buah tin. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar.
Kata (وَالزَّيْتُونِ, wa-z-zaytuuni) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya berarti zaitun. Ia dipakai di 6 ayat, yaitu 6:99, 6:141, 16:11, 24:35, 80:29, dan ayat ini. Yang paling menerangkan adalah 24:35, sebab di sana tertulis (شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ, syajaratin mubaarakatin zaytuunatin), pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun, di dalam perumpamaan tentang cahaya.
Jadi satu dari dua buah yang disumpahkan di ayat ini punya kerabat di lima ayat lain, dan yang satunya sama sekali tidak punya. Ketimpangan itu sendiri patut dicatat: sebuah sumpah yang menyandingkan dua benda memakai satu kata yang sering dipakai dan satu kata yang tidak pernah dipakai lagi.
Huruf pertama ayat ini huruf sumpah, dan sumpah itu berlanjut sampai 95:3. Jadi tiga ayat pertama surah ini seluruhnya isi sumpah, dan jawabannya baru datang di 95:4. Pola itu sama dengan pola surah 100, yang memakai lima ayat untuk sumpah dan menaruh jawabannya di ayat keenam.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut mengapa kedua benda itu yang dipilih, tidak disebut hubungannya satu sama lain, dan tidak disebut hubungannya dengan pernyataan di 95:4. Al-Qur'an menyandingkan keduanya tanpa satu pun kalimat penghubung, dan pembacanya dibiarkan menimbang sendiri apa yang menyatukan keempat hal yang disumpahkan di tiga ayat pertama ini.
Susunan sumpah di surah ini juga patut dibandingkan dengan surah lain. Di 100:1 sampai 100:5 sumpahnya lima ayat, dan di 89:1 sampai 89:4 empat ayat. Di sini tiga ayat. Panjang sumpah menentukan seberapa lama pendengarnya menunggu, dan penungguan itu bagian dari cara kerjanya. Yang ditahan lebih lama terasa lebih berat ketika akhirnya jatuh.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut mengapa kedua buah itu yang dipilih, tidak disebut apa yang menyatukannya, dan tidak disebut hubungannya dengan pernyataan di 95:4. Al-Qur'an menyandingkan keduanya tanpa satu pun kalimat penghubung. Pembacanya dibiarkan menimbang sendiri apa yang menyatukan empat hal yang disumpahkan di tiga ayat pertama ini, dan surah ini tidak pernah menjawabnya.
Bentuk (وَالتِّينِ, wa-t-tiini) dan (وَالزَّيْتُونِ, wa-z-zaytuuni) bertakrif, sehingga yang disumpahkan bukan sembarang buah melainkan jenis yang tertentu. Ketertentuan itu berbeda dari kata-kata di 95:4 sampai 95:6 yang sebagian besar tidak bertakrif. Jadi yang dipakai sebagai saksi disebut dengan pasti, sedangkan yang dinyatakan tentang manusia dan pahalanya disebut tanpa batas yang tertentu.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan sumpah demi tin dan zaitun, dan yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa kedua kata itu sangat berbeda kelangkaannya. Kata pertama muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sedangkan akar kata kedua dipakai di 6 ayat, yaitu 6:99, 6:141, 16:11, 24:35, 80:29, dan ayat ini.
Ketimpangan itu sendiri patut dicatat. Sebuah sumpah yang menyandingkan dua benda memakai satu kata yang beberapa kali dipakai dan satu kata yang tidak pernah dipakai lagi di ayat mana pun. Yang satu bisa dipahami dengan menengok ke tempat lain; yang lain cuma bisa ditimbang dari ayat ini sendiri.
Pemakaian di 24:35 paling menerangkan, sebab di sana pohon zaitun disebut sebagai pohon yang diberkahi di dalam perumpamaan tentang cahaya. Jadi kata yang di ayat ini disumpahkan, di tempat lain berdiri di tengah salah satu perumpamaan yang paling dikenal di seluruh Al-Qur'an.
Huruf pertama ayat ini huruf sumpah, dan sumpahnya berlanjut sampai 95:3. Tiga ayat pertama surah ini seluruhnya isi sumpah, dan jawabannya baru datang di 95:4. Pola itu sama dengan pola surah 100, yang memakai lima ayat untuk sumpah dan menaruh jawabannya di ayat keenam. Yang ditahan selama beberapa ayat jatuh lebih berat ketika akhirnya datang.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertama ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sedangkan akar kata kedua dipakai di 6 ayat. Ketimpangan itu sendiri patut dicatat. Allah menyandingkan satu kata yang beberapa kali dipakai dan satu kata yang tidak pernah dipakai lagi di ayat mana pun. Yang satu bisa dipahami dengan menengok ke tempat lain; yang lain cuma bisa ditimbang dari ayat ini sendiri. Kelangkaan sebesar itu menahan perhatian pada kata pertamanya, sebab tidak ada tempat lain untuk menimbangnya.
- Akar kata kedua dipakai di 6 ayat, yaitu 6:99, 6:141, 16:11, 24:35, 80:29, dan 95:1. Yang paling menerangkan 24:35, sebab di sana Allah menyebut pohon zaitun sebagai pohon yang diberkahi di dalam perumpamaan tentang cahaya. Jadi kata yang di ayat ini disumpahkan, di tempat lain berdiri di tengah salah satu perumpamaan yang paling dikenal di seluruh Al-Qur'an. Jadi kata yang disumpahkan di sini juga berdiri di tengah gambaran tentang cahaya yang paling dikenal orang.
- Huruf pertama ayat ini huruf sumpah, dan sumpahnya berlanjut sampai ayat ketiga. Jadi tiga ayat pertama surah ini seluruhnya isi sumpah, dan jawabannya baru datang di ayat keempat. Pola itu sama dengan pola surah 100, yang memakai lima ayat untuk sumpah. Yang ditahan Allah selama beberapa ayat jatuh lebih berat ketika akhirnya datang kepada pendengarnya. Panjang sumpah menentukan seberapa lama pendengarnya menunggu, dan penungguan itu bagian dari cara kerjanya.
- Allah tidak menyebutkan mengapa kedua benda itu yang dipilih, tidak menyebutkan hubungannya satu sama lain, dan tidak menyebutkan hubungannya dengan pernyataan di ayat keempat. Keduanya disandingkan tanpa satu pun kalimat penghubung. Apa yang menyatukan buah, gunung, dan negeri di dalam satu rangkaian sumpah yang sama? Pembacanya dibiarkan menimbangnya sendiri sampai surahnya habis. Surah ini tidak pernah menjawabnya sampai ayat terakhir, dan tidak dijawabnya membuat pembacanya terus menimbang.
- Yang disumpahkan Allah dua jenis buah, bukan langit, bukan bintang, dan bukan malaikat. Buah adalah benda yang paling sehari-hari yang bisa dipegang siapa pun. Sumpah dengan benda sebiasa itu menaruh perkara besar di atas sesuatu yang setiap orang sudah kenal, dan kedekatan itulah yang membuat pendengarnya tidak bisa merasa sedang dibawa ke tempat yang jauh dari hidupnya. Kedekatan itulah yang membuat pendengarnya tidak merasa sedang dibawa ke tempat yang jauh dari hidupnya sehari-hari.
- Kedua kata dirangkai dengan satu huruf sambung dan berada di dalam satu ayat yang sama, bukan dipecah menjadi dua ayat. Padahal dua benda berikutnya di 95:2 dan 95:3 masing-masing mendapat ayat sendiri. Jadi Allah menaruh dua yang pertama bersama dan dua berikutnya terpisah, dan susunan itu sendiri sudah menyatakan bahwa keduanya sekelompok. Susunan itu sendiri sudah menyatakan bahwa keduanya sekelompok, tanpa satu pun kalimat yang menyatakannya.