وَطُورِ سِينِينَ
Dan demi gunung Sinai,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَطُورِ سِينِينَwa-thuuri siiniinadan demi gunung Sinai
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَطُورِwa-thuuridan demi bukit
- سِينِينَsiiniinaSinin
Inti bacaan
Sumpah kedua demi lokasi wahyu Musa: 'dan demi gunung Sinai', rujukan pada tempat bersejarah penerimaan wahyu, menghubungkan rangkaian sumpah dengan tradisi kenabian sebelumnya.
Penjelasan pilihan kata
Kata (طُورِ, thuuri) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, yaitu di 23:20 dan ayat ini. Akarnya berarti gunung. Ia dipakai di 11 ayat, antara lain 2:63, 4:154, 19:52, 28:29, dan 52:1. Di 52:1 ia berdiri sebagai isi sumpah juga, sama seperti di sini.
Pemakaian di 23:20 paling menerangkan, sebab di sana tertulis (طُورِ سَيْنَاءَ, thuuri saynaa-a) dalam kalimat tentang pohon yang keluar dari sana dan menghasilkan minyak. Pohon yang dimaksud pohon zaitun, dan zaitun disebut di ayat sebelumnya, yaitu 95:1. Jadi dua ayat pertama surah ini menyebut dua hal yang di 23:20 berada di dalam satu kalimat yang sama.
Kata (سِينِينَ, siiniina) adalah nama diri, dan morfologi menandainya demikian, sehingga ia tidak punya akar yang bisa ditelusuri. Ia muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuk namanya di sini berbeda dari bentuk namanya di 23:20, dan Al-Qur'an memakai kedua bentuk itu untuk tempat yang sama.
Bahasa Indonesia menahannya dengan "gunung Sinai", memakai nama yang sudah dikenal pembaca Indonesia. Menerjemahkan (طُورِ, thuuri) menjadi gunung menjaga agar pembaca menerima keterangan yang sama dengan pembaca Arabnya, sebab kata itu di dalam bahasa Arab memang berarti gunung dan bukan nama diri.
Huruf sambung di awal ayat merangkainya kepada 95:1, sehingga sumpahnya berlanjut tanpa jeda. Tiga ayat pertama surah ini dirangkai dengan huruf yang sama, dan ketiganya berisi benda atau tempat, bukan perbuatan. Baru di 95:4 sebuah perbuatan disebut, dan pelakunya Allah sendiri.
Akar (طُورِ, thuuri) dipakai di 11 ayat, yaitu 2:63, 2:93, 4:154, 19:52, 20:80, 23:20, 28:29, 28:46, 52:1, 71:14, dan ayat ini. Di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut tempat yang menjadi latar penerimaan perintah dan perjumpaan, dan di 52:1 ia berdiri sebagai isi sumpah juga, sama seperti di sini.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang terjadi di gunung itu, tidak disebut siapa yang pernah berada di sana, dan tidak disebut mengapa ia disumpahkan. Yang tertulis cuma namanya. Sebuah nama tempat yang berdiri sendirian tanpa cerita menyerahkan pengisiannya kepada pembacanya, dan tiap pembaca mengisinya dengan yang sudah diketahuinya.
Bentuk (سِينِينَ, siiniina) berbeda dari bentuk namanya di 23:20, sekalipun tempat yang ditunjuk sama. Al-Qur'an memakai dua bentuk nama untuk satu tempat, dan perbedaan bentuk itu tidak diterangkan di ayat mana pun. Yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya dipakai, dan bahwa yang dipakai di sini yang tidak pernah muncul lagi di tempat lain. Sebuah nama yang cuma sekali dipakai menempel lebih kuat pada surah yang memuatnya.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan sumpah demi gunung Sinai, dan pelakunya tetap Yang bersumpah di ayat pertama. Kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, yaitu di 23:20 dan ayat ini. Pemakaian di 23:20 paling menerangkan, sebab di sana ia berdiri di dalam kalimat tentang pohon yang keluar dari sana dan menghasilkan minyak.
Pohon yang dimaksud pohon zaitun, dan zaitun disebut di ayat sebelumnya, yaitu 95:1. Jadi dua ayat pertama surah ini menyebut dua hal yang di 23:20 berada di dalam satu kalimat yang sama. Al-Qur'an tidak menunjuk hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya bertemu di ayat lain.
Kata keduanya nama diri, dan morfologi menandainya demikian, sehingga ia tidak punya akar yang bisa ditelusuri. Ia muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuk namanya di sini berbeda dari bentuk namanya di 23:20, dan Al-Qur'an memakai kedua bentuk itu untuk tempat yang sama.
Huruf sambung di awal ayat merangkainya kepada 95:1, sehingga sumpahnya berlanjut tanpa jeda. Tiga ayat pertama surah ini dirangkai dengan huruf yang sama, dan ketiganya berisi benda atau tempat, bukan perbuatan. Baru di 95:4 sebuah perbuatan disebut, dan pelakunya Allah sendiri. Dua benda dan satu tempat berdiri lebih dulu sebagai saksi, dan yang menciptakan keduanya baru disebut sesudah ketiganya selesai dinamai.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertama ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, yaitu di 23:20 dan 95:2. Di 23:20 Allah menyebutnya di dalam kalimat tentang pohon yang keluar dari sana dan menghasilkan minyak, dan pohon itu pohon zaitun. Jadi dua ayat pertama surah ini menyebut dua hal yang di ayat lain berada di dalam satu kalimat yang sama. Al-Qur'an tidak menunjuk hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya bertemu di ayat lain.
- Kata kedua ayat ini nama diri, dan morfologi menandainya demikian, sehingga ia tidak punya akar yang bisa ditelusuri. Ia muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuk namanya di sini berbeda dari bentuk namanya di 23:20, dan Allah memakai kedua bentuk itu untuk tempat yang sama. Nama yang tidak punya akar tidak bisa diterangkan dari dalam bahasanya sendiri. Nama yang tidak punya akar tidak bisa diterangkan dari dalam bahasanya sendiri, dan cuma bisa dikenali dari tempat yang ditunjuknya.
- Kata pertama di dalam bahasa Arab memang berarti gunung dan bukan nama diri, karena itu ia diterjemahkan. Menerjemahkannya menjaga agar pembaca Indonesia menerima keterangan yang sama dengan pembaca Arabnya. Yang dibiarkan sebagai nama cuma kata keduanya, sebab kata itu memang nama. Ketelitian membedakan keduanya menjaga agar tidak ada keterangan yang hilang dan tidak ada yang ditambahkan. Ketelitian membedakan keduanya menjaga agar tidak ada keterangan yang hilang dan tidak ada yang ditambahkan.
- Tiga ayat pertama surah ini dirangkai dengan huruf sambung yang sama, dan ketiganya berisi benda atau tempat, bukan perbuatan. Baru di ayat keempat sebuah perbuatan disebut, dan pelakunya Allah sendiri. Jadi surah ini dibuka dengan benda-benda yang diam, lalu berpindah kepada satu perbuatan penciptaan. Yang diam lebih dulu, yang bergerak menyusul. Yang diam lebih dulu, yang bergerak menyusul, dan yang bergerak pertama kali bukan manusia melainkan Allah.
- Gunung yang disebut di ayat ini tempat yang di banyak ayat lain dikaitkan dengan perjumpaan dan penerimaan perintah, antara lain di 2:63, 4:154, 19:52, dan 28:29. Akarnya dipakai Allah di 11 ayat, dan di 52:1 ia berdiri sebagai isi sumpah juga. Jadi tempat yang sama menjadi latar bagi lebih dari satu peristiwa besar di dalam Al-Qur'an. Jadi tempat yang sama menjadi latar bagi lebih dari satu peristiwa besar di dalam Al-Qur'an, dan namanya cukup untuk membangkitkan semuanya.
- Ayat pertama menyebut dua buah, dan ayat ini menyebut sebuah gunung. Perpindahan dari yang bisa dipegang tangan kepada yang tidak bisa dipindahkan siapa pun terjadi tanpa satu pun kalimat penjelas. Apa yang menyatukan sesuatu yang dimakan orang setiap hari dengan sesuatu yang berdiri sejak sebelum siapa pun lahir? Allah menyandingkannya dan tidak menerangkannya. Allah menyandingkan keduanya dan tidak menerangkannya, dan pembacanya sendiri yang harus mencari sambungannya.