لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍla-qad khalaqnaa l-insaana fii ahsani taqwiiminsungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk
Terjemahan per kata (6 kata)
- لَقَدْla-qadsungguh
- خَلَقْنَاkhalaqnaaKami ciptakan
- الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
- فِيfiidalam
- أَحْسَنِahsaniterbaik
- تَقْوِيمٍtaqwiiminbentuk
Inti bacaan
Pernyataan inti tentang kesempurnaan penciptaan: 'sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk', pengakuan tegas tentang kualitas tertinggi desain manusia, baik secara fisik maupun potensi spiritual.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ, ahsani taqwiimin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata (تَقْوِيمٍ, taqwiimin) sendiri juga muncul 1 kali, dan akarnya berarti berdiri dan menegakkan. Ia dipakai di 597 ayat, salah satu akar yang paling sering muncul. Jadi akar yang dipakai ratusan kali memberi satu bentuk yang cuma muncul sekali, dan sekali itu di sini.
Akar (تَقْوِيمٍ, taqwiimin) memberi kata untuk berdiri, untuk menegakkan, untuk kaum, dan untuk yang lurus. Bentuk yang dipakai di sini menyatakan penegakan yang menghasilkan sesuatu yang tegak dan seimbang. Bahasa Indonesia menahannya dengan "bentuk", dan padanan itu menjaga sisi wujudnya, sementara sisi ketegakannya terbawa oleh rangkaian kata pertamanya.
Kata (أَحْسَنِ, ahsani) bentuk elatif, yaitu bentuk yang menyatakan paling. Ia dirangkai dengan kata sesudahnya dalam susunan yang menyandarkan, sehingga artinya sebaik-baik penegakan. Bentuk elatif yang disandarkan seperti ini muncul lagi di 95:8 pada (بِأَحْكَمِ, bi-ahkami), sehingga dua ujung surah ini memakai susunan yang sama.
Kata kerja (خَلَقْنَا, khalaqnaa) berbentuk jamak yang menunjuk kepada Yang berfirman. Ini pertama kalinya sebuah perbuatan disebut di dalam surah ini, sesudah tiga ayat yang seluruhnya berisi benda dan tempat. Jadi yang bergerak pertama kali di dalam surah ini bukan manusia melainkan Yang menciptakannya.
Kata (الْإِنْسَانَ, al-insaana) memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Bentuk yang sama dipakai di 99:3 dan 100:6, dan di ketiga tempat itu pernyataannya berlaku bagi seluruh jenisnya. Yang berbeda di sini, pernyataannya berupa pujian, bukan celaan, dan pujian itu datang lebih dulu sebelum 95:5 membalikkannya.
Kata (لَقَدْ, laqad) di awal ayat memuat dua penegas sekaligus, yaitu huruf sumpah dan huruf yang menyatakan kepastian. Jadi kalimat ini bukan sekadar berita melainkan jawaban bagi sumpah di tiga ayat sebelumnya. Susunan itu menandai bahwa yang dinyatakan di sini memang perkara yang disiapkan oleh seluruh pembukaannya, dan bukan kalimat baru yang berdiri sendiri.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut dari apa manusia diciptakan, tidak disebut kapan, dan tidak disebut apa yang membuat bentuknya disebut sebaik-baiknya. Yang disebut cuma bahwa penciptaannya begitu. Sebuah pujian yang tidak dirinci tidak bisa diukur oleh yang menerimanya, dan karena itu ia juga tidak bisa dijadikan alasan untuk merasa cukup.
Susunan kalimat ini menaruh keterangan keadaan di ujungnya, sesudah objeknya. Jadi yang dibaca lebih dulu penciptaannya, baru sesudah itu keadaan yang menyertainya. Urutan itu membuat pendengarnya menerima kabar penciptaan terlebih dahulu, dan baru kemudian mengetahui bahwa penciptaan itu disifati dengan sebaik-baiknya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kesempurnaan bentuk penciptaan manusia, dan rangkaian yang dipakai muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata keduanya sendiri juga muncul 1 kali, sedangkan akarnya dipakai di 597 ayat. Jadi akar yang dipakai ratusan kali memberi satu bentuk yang cuma muncul sekali, dan sekali itu di sini.
Akar itu memberi kata untuk berdiri, untuk menegakkan, untuk kaum, dan untuk yang lurus. Bentuk yang dipakai di sini menyatakan penegakan yang menghasilkan sesuatu yang tegak dan seimbang. Jadi yang dipuji bukan sekadar keindahan wujudnya, melainkan ketegakan susunannya.
Ini pertama kalinya sebuah perbuatan disebut di dalam surah ini, sesudah tiga ayat yang seluruhnya berisi benda dan tempat. Yang bergerak pertama kali di dalam surah ini bukan manusia melainkan Yang menciptakannya. Manusia baru muncul sebagai objek, bukan sebagai pelaku, dan kedudukan itu bertahan sampai 95:5.
Kata untuk manusia memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Bentuk yang sama dipakai di 99:3 dan 100:6, dan di ketiga tempat itu pernyataannya berlaku bagi seluruh jenisnya. Yang berbeda di sini, pernyataannya berupa pujian, bukan celaan, dan pujian itu datang lebih dulu sebelum ayat berikutnya membalikkannya.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian yang dipakai muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata keduanya sendiri juga muncul 1 kali, sedangkan akarnya dipakai di 597 ayat. Jadi akar yang dipakai Allah ratusan kali memberi satu bentuk yang cuma muncul sekali, dan sekali itu di sini. Yang paling sering dipakai justru menyimpan satu bentuk yang tidak pernah dipakai lagi. Yang paling sering dipakai justru menyimpan satu bentuk yang tidak pernah dipakai lagi di ayat mana pun.
- Akar kata itu memberi kata untuk berdiri, untuk menegakkan, untuk kaum, dan untuk yang lurus. Bentuk yang dipakai di sini menyatakan penegakan yang menghasilkan sesuatu yang tegak dan seimbang. Jadi yang dipuji Allah bukan sekadar keindahan wujudnya, melainkan ketegakan susunannya. Sesuatu yang tegak bisa merosot; sesuatu yang cuma indah tidak punya arah untuk merosot. Sesuatu yang tegak punya arah untuk merosot; sesuatu yang cuma indah tidak punya arah itu sama sekali.
- Ini pertama kalinya sebuah perbuatan disebut di dalam surah ini, sesudah tiga ayat yang seluruhnya berisi benda dan tempat. Yang bergerak pertama kali di dalam surah ini bukan manusia melainkan Allah yang menciptakannya. Manusia baru muncul sebagai objek, bukan sebagai pelaku, dan kedudukan itu bertahan sampai ayat berikutnya yang juga menaruhnya sebagai yang dikenai. Manusia muncul sebagai objek, bukan sebagai pelaku, dan kedudukan itu bertahan sampai ayat berikutnya.
- Kata untuk manusia memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Bentuk yang sama dipakai Allah di 99:3 dan 100:6, dan di ketiga tempat itu pernyataannya berlaku bagi seluruh jenisnya. Yang berbeda di sini, pernyataannya berupa pujian dan bukan celaan, dan pujian itu datang lebih dulu sebelum ayat berikutnya membalikkannya. Pernyataannya berupa pujian dan bukan celaan, dan pujian itu datang lebih dulu sebelum ayat berikutnya membalikkannya.
- Kata pertama rangkaian ini bentuk elatif, yaitu bentuk yang menyatakan paling, dan ia dirangkai dengan kata sesudahnya dalam susunan yang menyandarkan. Bentuk elatif yang disandarkan seperti ini muncul lagi di 95:8. Jadi dua ujung surah ini memakai susunan yang sama: yang di pangkal tentang manusia yang diciptakan, yang di ujung tentang Allah yang menghakimi. Yang di pangkal tentang manusia yang diciptakan, yang di ujung tentang Allah yang menghakimi, dan susunannya sama.
- Allah memuji lebih dulu, baru membalikkannya di ayat berikutnya. Susunan itu bisa saja dibalik, dan tidak dibalik. Yang diberi tahu bahwa dirinya diciptakan sebaik-baiknya lalu diberi tahu bahwa ia bisa dikembalikan serendah-rendahnya menerima kedua kabar itu dalam urutan yang membuatnya kehilangan sesuatu. Apa rasanya diberi tahu tentang ketinggian lebih dulu, baru tentang kejatuhan? Urutan itu bisa saja dibalik, dan Allah tidak membaliknya di dalam surah pendek ini.