ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

Kemudian Kami kembalikan dia ke serendah-rendah yang rendah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَtsumma radadnaahu asfala saafiliinakemudian Kami kembalikan dia ke serendah-rendah yang rendah

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. رَدَدْنَاهُradadnaahuKami mengembalikannya
  3. أَسْفَلَasfalapaling bawah
  4. سَافِلِينَsaafiliinayang paling rendah

Inti bacaan

Peringatan tentang kemerosotan yang mungkin terjadi: 'kemudian Kami kembalikan dia ke serendah-rendah yang rendah', pengakuan bahwa martabat tinggi yang dianugerahkan bisa merosot drastis jika tidak dijaga, potensi kemunduran yang nyata bagi yang menyia-nyiakan keunggulan awal.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (رَدَدْنَاهُ, radadnaahu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 28:13 dan 95:5. Di 28:13 tertulis (فَرَدَدْنَاهُ إِلَىٰ أُمِّهِ, fa-radadnaahu ilaa ummihi), maka Kami kembalikan dia kepada ibunya. Jadi bentuk yang sama dipakai untuk pengembalian kepada ibu dan untuk pengembalian ke tempat yang paling rendah.

Akar (رَدَدْنَاهُ, radadnaahu) berarti mengembalikan. Akar itu dipakai di 57 ayat. Artinya mengembalikan sesuatu ke keadaan atau tempat sebelumnya. Jadi yang dinyatakan di ayat ini bukan penurunan ke tempat baru melainkan pengembalian, dan kata itu mengandaikan bahwa tempat yang dituju pernah menjadi asalnya atau menjadi tempat yang wajar baginya.

Rangkaian (أَسْفَلَ سَافِلِينَ, asfala saafiliina) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kedua katanya berasal dari akar yang sama, yaitu akar yang berarti rendah, dan akar itu dipakai di 9 ayat, yaitu 4:145, 8:42, 9:40, 11:82, 15:74, 33:10, 37:98, 41:29, dan ayat ini. Susunan yang mengulang akar sebagai elatif dan sebagai bentuk pelaku dipakai untuk menyatakan tingkat yang paling ujung.

Pemakaian di tempat lain menerangkan. Di 4:145 tertulis (الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ, ad-darki l-asfali), tingkat yang paling bawah dari api, dan di 11:82 serta 15:74 tertulis (عَالِيَهَا سَافِلَهَا, 'aaliyahaa saafilahaa), yang di atasnya dijadikan yang di bawahnya. Jadi akar yang sama menyebut dasar yang paling bawah dan pembalikan yang menaruh atas menjadi bawah.

Kata (ثُمَّ, tsumma) di awal ayat menandai urutan yang berjarak, bukan sekadar penambahan. Jadi pengembalian ini tidak terjadi bersamaan dengan penciptaan di 95:4 melainkan sesudahnya, dengan selang di antaranya. Selang itu tidak diisi keterangan apa pun, dan yang terjadi di dalamnya tidak disebutkan sama sekali.

Bentuk kata kerja (رَدَدْنَاهُ, radadnaahu) berjamak yang menunjuk kepada Yang berfirman, sama seperti (خَلَقْنَا, khalaqnaa) di 95:4. Jadi dua ayat berturut-turut memakai bentuk yang sama untuk dua perbuatan yang tampak berlawanan: menciptakan sebaik-baiknya dan mengembalikan serendah-rendahnya. Yang mengerjakan keduanya satu, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pertentangan yang tampak itu dengan satu kalimat pun.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang dikembalikan, tidak disebut apa sebabnya, dan tidak disebut apakah semua orang mengalaminya. Baru di 95:6 sebuah pengecualian datang, dan pengecualian itulah yang menerangkan bahwa pernyataan di sini tidak berlaku bagi semua orang tanpa kecuali.

Kata ganti pada ujung (رَدَدْنَاهُ, radadnaahu) berbentuk tunggal, menunjuk kepada manusia yang disebut di 95:4. Jadi yang dikembalikan orang yang sama dengan yang diciptakan sebaik-baiknya, bukan golongan lain. Kesinambungan itu ditandai cuma dengan satu kata ganti, tanpa pengulangan namanya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa manusia dapat merosot ke derajat paling rendah jika lalai, dan kata kerjanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 28:13 dan ayat ini. Di 28:13 bentuk yang sama dipakai untuk pengembalian seorang anak kepada ibunya. Jadi satu bentuk memikul pengembalian yang melegakan dan pengembalian yang menjatuhkan.

Akar kata kerjanya dipakai di 57 ayat, dan artinya mengembalikan sesuatu ke keadaan atau tempat sebelumnya. Jadi yang dinyatakan bukan penurunan ke tempat baru melainkan pengembalian. Kata itu mengandaikan bahwa tempat yang dituju pernah menjadi asalnya atau menjadi tempat yang wajar baginya, dan pengandaian itu tidak diterangkan lebih jauh.

Rangkaian yang menyebut tempatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kedua katanya berasal dari akar yang sama. Akar itu dipakai di 9 ayat, yaitu 4:145, 8:42, 9:40, 11:82, 15:74, 33:10, 37:98, 41:29, dan ayat ini. Di 4:145 ia menyebut tingkat yang paling bawah dari api, dan di 11:82 serta 15:74 pembalikan yang menaruh atas menjadi bawah.

Kata penanda tahap di awal ayat menandai urutan yang berjarak, bukan sekadar penambahan. Jadi pengembalian ini tidak terjadi bersamaan dengan penciptaan di 95:4 melainkan sesudahnya, dengan selang di antaranya. Selang itu tidak diisi keterangan apa pun, dan yang terjadi di dalamnya tidak disebutkan sama sekali.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja di ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 28:13 dan 95:5. Di 28:13 Allah memakainya untuk pengembalian seorang anak kepada ibunya. Jadi satu bentuk memikul pengembalian yang melegakan dan pengembalian yang menjatuhkan. Yang membedakan bukan kata kerjanya melainkan ke mana pengembalian itu tertuju, dan yang menentukan arah itu bukan katanya. Yang membedakan bukan kata kerjanya melainkan ke mana pengembalian itu tertuju, dan yang menentukan arah bukan katanya.
  • Akar kata kerjanya dipakai di 57 ayat, dan artinya mengembalikan sesuatu ke keadaan atau tempat sebelumnya. Jadi yang dinyatakan Allah bukan penurunan ke tempat baru melainkan pengembalian. Kata itu mengandaikan bahwa tempat yang dituju pernah menjadi asalnya atau menjadi tempat yang wajar baginya, dan pengandaian itu tidak diterangkan lebih jauh di ayat mana pun. Pengandaian itu tidak diterangkan lebih jauh di ayat mana pun, dan pembacanya dibiarkan menimbangnya sendiri.
  • Rangkaian yang menyebut tempatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kedua katanya berasal dari akar yang sama. Susunan yang mengulang akar sebagai bentuk paling dan sebagai bentuk pelaku dipakai untuk menyatakan tingkat yang paling ujung. Jadi Allah tidak memakai kata sifat tambahan; Dia mengulang akarnya sendiri, dan pengulangan itulah yang menyatakan kedalamannya. Allah tidak memakai kata sifat tambahan; Dia mengulang akarnya sendiri, dan pengulangan itulah yang menyatakan kedalamannya.
  • Akar kata itu dipakai di 9 ayat, yaitu 4:145, 8:42, 9:40, 11:82, 15:74, 33:10, 37:98, 41:29, dan 95:5. Di 4:145 Allah memakainya untuk tingkat yang paling bawah dari api, dan di 11:82 serta 15:74 untuk pembalikan yang menaruh atas menjadi bawah. Jadi satu akar menyebut dasar yang paling bawah dan pembalikan yang menjadikan yang tinggi berada di bawah. Jadi satu akar menyebut dasar yang paling bawah dan pembalikan yang menjadikan yang tinggi berada di bawah.
  • Kata penanda tahap di awal ayat menandai urutan yang berjarak, bukan sekadar penambahan. Jadi pengembalian ini tidak terjadi bersamaan dengan penciptaan di ayat sebelumnya melainkan sesudahnya, dengan selang di antaranya. Allah tidak mengisi selang itu dengan keterangan apa pun. Apa yang terjadi di antara diciptakan sebaik-baiknya dan dikembalikan serendah-rendahnya? Allah tidak mengisi selang itu dengan keterangan apa pun, dan yang terjadi di dalamnya tidak disebutkan sama sekali.
  • Sesuatu yang diciptakan tegak punya arah untuk merosot, dan sesuatu yang tidak pernah tegak tidak punya arah itu. Jadi kedalaman yang disebut Allah di ayat ini justru akibat dari ketinggian yang disebut di ayat sebelumnya. Dua ayat berturut-turut menyatakan hal yang tampak berlawanan, dan yang menghubungkan keduanya bukan pertentangan melainkan satu susunan yang sama. Yang menghubungkan keduanya bukan pertentangan melainkan satu susunan yang sama sejak awal penciptaannya.