إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka bagi mereka pahala yang tak putus-putus.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍillaa lladziina aamanuu wa-'amiluu sh-shaalihaati fa-lahum ajrun ghayru mamnuuninkecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka bagi mereka pahala yang tak putus-putus

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. إِلَّاillaakecuali
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. آمَنُواaamanuuberiman
  4. وَعَمِلُواwa-'amiluudan beramal
  5. الصَّالِحَاتِsh-shaalihaatikebajikan
  6. فَلَهُمْfa-lahummaka bagi mereka
  7. أَجْرٌajrunupah
  8. غَيْرُghayrutidak
  9. مَمْنُونٍmamnuuninyang terputus

Inti bacaan

Pengecualian yang menyelamatkan dari kemerosotan: 'kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka bagi mereka pahala yang tak putus-putus', jalan keluar konkret dari ancaman kemerosotan, kombinasi keyakinan dan tindakan nyata sebagai penjaga martabat.

Penjelasan pilihan kata

Kata (إِلَّا, illaa) di awal ayat menandai pengecualian, dan pengecualian itu berlaku atas pernyataan di 95:5. Susunan yang menyusulkan pengecualian sesudah pernyataan umum dipakai juga di 103:3, sesudah 103:2 menyatakan kerugian manusia. Jadi dua surah memakai bentuk yang sama, dan keduanya menaruh pengecualiannya pada orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.

Rangkaian (الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ, alladziina aamanuu wa-'amiluu sh-shaalihaati) dipakai di puluhan ayat di seluruh Al-Qur'an, dan ia salah satu rangkaian yang paling sering muncul. Yang khas di sini bukan rangkaiannya melainkan letaknya, yaitu sebagai satu-satunya jalan keluar dari pernyataan yang mendahuluinya.

Rangkaian (غَيْرُ مَمْنُونٍ, ghayru mamnuunin) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 41:8, 84:25, dan ayat ini. Akarnya berarti memberi karunia. Ia dipakai di 25 ayat, dan akar itu memikul dua makna yang bertetangga: memberi karunia, dan mengungkit pemberian. Di 2:262 dan 2:264 akar yang sama dipakai untuk larangan mengungkit sedekah.

Jadi (مَمْنُونٍ, mamnuunin) yang dinegasikan di sini bisa dibaca dua arah: pahala yang tidak terputus, dan pahala yang tidak diungkit-ungkit. Bahasa Indonesia menahannya dengan "tak putus-putus", dan padanan itu mengambil arah yang pertama tanpa menutup arah yang kedua. Al-Qur'an sendiri tidak memilih salah satunya di ayat ini.

Kata (أَجْرٌ, ajrun) tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan pahala tertentu yang sudah dikenal melainkan pahala yang sesuai gambarannya. Ketiadaan kata sandang itu menutup pembacaan bahwa yang dijanjikan sesuatu yang bisa dihitung lebih dulu. Yang disebut cuma sifatnya, dan sifat itu ketiadaan putusnya, bukan besarnya.

Kata (فَلَهُمْ, fa-lahum) menandai akibat yang menyusul syaratnya tanpa jeda. Jadi pahala itu tidak digambarkan sebagai sesuatu yang menunggu di kejauhan melainkan sebagai sesuatu yang langsung menempel pada keadaan mereka. Susunan yang merapatkan syarat dan akibat dipakai juga di 101:7, dan di kedua tempat itu tidak ada satu pun keterangan tentang jalan yang harus dilalui di antaranya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa banyak kebajikan yang diperlukan, tidak disebut apakah ada batas bawahnya, dan tidak disebut apa yang terjadi kalau kebajikannya terputus. Yang disebut cuma dua hal: beriman dan mengerjakan kebajikan. Ketiadaan ukuran menutup jalan untuk merasa aman lewat perhitungan, dan yang tersisa cuma mengerjakannya.

Bentuk kata kerja pada (آمَنُوا, aamanuu) dan (وَعَمِلُوا, wa-'amiluu) berbeda kedudukannya: yang pertama menyatakan sesuatu yang sudah terjadi dan yang kedua juga, tetapi keduanya dirangkai sebagai satu keadaan yang melekat. Jadi yang disebut bukan dua peristiwa terpisah melainkan satu keadaan yang punya dua sisi, dan Al-Qur'an tidak pernah menyebut salah satunya tanpa yang lain di dalam rangkaian ini.

Tafsiran

Ayat ini mengecualikan orang-orang beriman yang beramal saleh dari kemerosotan tersebut, dan susunan yang menyusulkan pengecualian sesudah pernyataan umum dipakai juga di 103:3. Jadi dua surah memakai bentuk yang sama, dan keduanya menaruh pengecualiannya pada orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.

Rangkaian yang menyebut mereka dipakai di puluhan ayat di seluruh Al-Qur'an, dan ia salah satu rangkaian yang paling sering muncul. Yang khas di sini bukan rangkaiannya melainkan letaknya, yaitu sebagai satu-satunya jalan keluar dari pernyataan yang mendahuluinya. Tidak ada golongan lain yang disebut, dan tidak ada syarat tambahan.

Rangkaian yang menyebut pahalanya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 41:8, 84:25, dan ayat ini. Akarnya dipakai di 25 ayat, dan akar itu memikul dua makna yang bertetangga: memberi karunia, dan mengungkit pemberian. Di 2:262 dan 2:264 akar yang sama dipakai untuk larangan mengungkit sedekah.

Jadi kata yang dinegasikan di sini bisa dibaca dua arah: pahala yang tidak terputus, dan pahala yang tidak diungkit-ungkit. Al-Qur'an sendiri tidak memilih salah satunya di ayat ini, dan keduanya masuk akal di tempat ini. Yang menerima sesuatu tanpa diungkit menerima dengan cara yang berbeda dari yang menerima sambil diingatkan terus siapa pemberinya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata di awal ayat menandai pengecualian atas pernyataan di ayat sebelumnya. Susunan yang menyusulkan pengecualian sesudah pernyataan umum dipakai Allah juga di 103:3, sesudah 103:2 menyatakan kerugian manusia. Jadi dua surah memakai bentuk yang sama, dan keduanya menaruh pengecualiannya pada orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, tanpa golongan lain. Dua surah memakai bentuk yang sama, dan keduanya tidak menyebut satu pun golongan lain sebagai pengecualian.
  • Rangkaian yang menyebut mereka dipakai di puluhan ayat di seluruh Al-Qur'an, dan ia salah satu rangkaian yang paling sering muncul. Yang khas di sini bukan rangkaiannya melainkan letaknya, yaitu sebagai satu-satunya jalan keluar dari pernyataan yang mendahuluinya. Allah tidak menyebut golongan lain dan tidak menambahkan syarat lain di ayat ini. Allah tidak menyebut golongan lain dan tidak menambahkan syarat lain di dalam ayat pendek ini.
  • Rangkaian yang menyebut pahalanya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 41:8, 84:25, dan 95:6, dan akarnya dipakai di 25 ayat. Akar itu memikul dua makna yang bertetangga: memberi karunia, dan mengungkit pemberian. Jadi kata yang dinegasikan bisa dibaca dua arah, dan Al-Qur'an sendiri tidak memilih salah satunya di ayat ini. Al-Qur'an sendiri tidak memilih salah satunya, dan keduanya sama-sama masuk akal di tempat ini.
  • Di 2:262 dan 2:264 akar yang sama dipakai Allah untuk larangan mengungkit sedekah. Jadi sifat yang dilarang ada pada manusia dinyatakan tidak ada pada pemberian-Nya sendiri. Yang menerima sesuatu tanpa diungkit menerima dengan cara yang berbeda dari yang menerima sambil diingatkan terus siapa pemberinya, dan perbedaan itu terasa oleh siapa pun yang pernah menerima. Perbedaan itu terasa oleh siapa pun yang pernah menerima sesuatu sambil terus diingatkan siapa pemberinya.
  • Kata untuk pahala tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan pahala tertentu yang sudah dikenal melainkan pahala yang sesuai gambarannya. Ketiadaan kata sandang menutup pembacaan bahwa yang dijanjikan Allah sesuatu yang bisa dihitung lebih dulu. Yang disebut cuma sifatnya, dan sifat itu ketiadaan putusnya, bukan besarnya. Yang disebut cuma sifatnya, dan sifat itu ketiadaan putusnya, bukan besarnya atau bentuknya.
  • Ayat sebelumnya menyatakan pengembalian ke tempat yang paling rendah, dan ayat ini menyebut satu-satunya yang tidak terkena. Jadi kemerosotan itu bukan nasib yang tidak bisa diubah. Apa yang menahan seseorang di tempat ia diciptakan, ketika susunan dirinya sendiri menyediakan arah untuk jatuh? Allah menjawabnya dengan dua hal saja, yaitu beriman dan mengerjakan kebajikan. Allah menjawabnya dengan dua hal saja, dan keduanya bukan perkara yang bisa dikerjakan sekali lalu selesai. Pengecualian itu ditaruh sesudah pernyataan yang berlaku umum, bukan sebelumnya. Susunan seperti itu membuat pembacanya lebih dahulu merasa termasuk di dalam yang buruk, dan baru kemudian diberi tahu ada jalan keluar. Kalau urutannya dibalik, sebagian orang akan berhenti membaca di jalan keluarnya dan tidak pernah merasa perlu memakainya.