فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ
Maka apa yang mendustakanmu setelah itu tentang pertanggungjawaban?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِfa-maa yukadzdzibuka ba'du bi-d-diinimaka apa yang mendustakanmu setelah itu tentang pertanggungjawaban
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَمَاfa-maamaka apa
- يُكَذِّبُكَyukadzdzibukamendustakanmu
- بَعْدُba'dusetelah itu
- بِالدِّينِbi-d-diinipada hari Pertanggungjawaban
Inti bacaan
Tantangan retoris terhadap penolakan yang tak beralasan: 'maka, apa alasanmu mendustakan pertanggungjawaban setelah (adanya bukti-bukti) itu?', konfrontasi terhadap ketidakkonsistenan menolak akuntabilitas meski bukti-bukti kemuliaan penciptaan sudah jelas dipaparkan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(wahai orang kafir)" dan "(adanya bukti-bukti)" tidak dipakai. Kata (بَعْدُ, ba'du) yang berarti setelah itu dibiarkan tanpa penambahan rujukan yang tidak eksplisit di dalam Arabnya, dan sasaran teguran juga tidak disebutkan. Yang tertulis pertanyaan tanpa penyebutan siapa yang ditanya.
Kata (يُكَذِّبُكَ, yukadzdzibuka) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti berdusta. Ia dipakai di 257 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Bentuk yang dipakai di sini memuat kata ganti orang kedua sebagai objeknya, sehingga arti harfiahnya apa yang mendustakanmu. Susunan itu tidak biasa dan menyisakan lebih dari satu pembacaan.
Kata (بِالدِّينِ, bi-d-diini) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 82:9, 95:7, dan 107:1. Yang paling menerangkan adalah 107:1, sebab di sana ia dirangkai dengan bentuk lain dari akar yang sama, yaitu dalam kalimat tentang orang yang mendustakan pertanggungjawaban. Jadi dua surah memakai dua kata yang sama untuk perkara yang sama.
Kata (الدِّينِ, ad-diini) memikul dua makna yang dipakai bergantian di seluruh Al-Qur'an, yaitu hari perhitungan dan agama. Padanan "pertanggungjawaban" di sini mengikuti makna yang pertama, konsisten dengan pilihan yang sama di 107:1. Pilihan itu menentukan: yang didustakan bukan seperangkat keyakinan melainkan bahwa akan ada hari perhitungan.
Kata (بَعْدُ, ba'du) berdiri tanpa sandaran di belakangnya, dan susunan itu di dalam bahasa Arab menyatakan sesudah sesuatu yang sudah diketahui bersama. Yang sudah diketahui itu tidak disebutkan, dan boleh jadi ia menunjuk kepada empat ayat sebelumnya. Al-Qur'an membiarkannya terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan itu alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.
Letak ayat ini di dalam surahnya juga menerangkan. Ia datang sesudah empat ayat yang menyatakan penciptaan, kemerosotan, dan pengecualian, dan sesudah tiga ayat sumpah sebelum itu. Jadi pertanyaannya berdiri di atas seluruh yang sudah disebutkan, dan kata yang berarti setelah itu boleh jadi menunjuk kepada semuanya sekaligus. Al-Qur'an tidak memastikannya, dan terjemahannya tidak memastikannya juga.
Yang perlu dijaga dalam membaca ayat ini adalah tidak menutup pembacaan yang tersisa. Bentuk kata kerjanya memuat kata ganti orang kedua, dan susunan itu bisa dibaca sebagai apa yang membuatmu mendustakan dan sebagai apa yang membuatmu didustakan. Kedua pembacaan itu punya dasar di dalam bahasanya, dan memilih salah satunya berarti memutuskan sesuatu yang tidak diputuskan teksnya.
Tafsiran
Ayat ini menegur siapa pun yang masih mendustakan pertanggungjawaban meski bukti kekuasaan Allah telah jelas, dan yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa sasaran tegurannya tidak disebutkan. Yang tertulis pertanyaan tanpa penyebutan siapa yang ditanya, dan terjemahannya menahan keterbukaan itu alih-alih menutupnya.
Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 257 ayat. Bentuk yang dipakai memuat kata ganti orang kedua sebagai objeknya, sehingga arti harfiahnya apa yang mendustakanmu. Susunan itu tidak biasa dan menyisakan lebih dari satu pembacaan, dan Al-Qur'an tidak memilih salah satunya.
Kata terakhirnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 82:9, 95:7, dan 107:1. Yang paling menerangkan 107:1, sebab di sana ia dirangkai dengan bentuk lain dari akar yang sama, yaitu dalam kalimat tentang orang yang mendustakan pertanggungjawaban. Jadi dua surah memakai dua kata yang sama untuk perkara yang sama.
Kata itu memikul dua makna yang dipakai bergantian di seluruh Al-Qur'an, yaitu hari perhitungan dan agama. Padanan di sini mengikuti makna yang pertama, konsisten dengan pilihan yang sama di 107:1. Pilihan itu menentukan cara membacanya: yang didustakan bukan seperangkat keyakinan melainkan bahwa akan ada hari ketika perbuatan dihitung.
Renungan dan Hikmah
- Sasaran teguran di ayat ini tidak disebutkan Allah. Yang tertulis pertanyaan tanpa penyebutan siapa yang ditanya, dan menyisipkan sebutan ke dalam terjemahan berarti menutup sesuatu yang sengaja dibiarkan terbuka. Sebuah teguran tanpa alamat tidak bisa dilempar kepada golongan tertentu, dan karena itu ia tetap menempel pada siapa pun yang membacanya. Sebuah teguran tanpa alamat tidak bisa dilempar kepada golongan tertentu, dan karena itu ia menempel pada pembacanya.
- Kata kerja di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 257 ayat. Bentuk yang dipakai memuat kata ganti orang kedua sebagai objeknya, sehingga arti harfiahnya apa yang mendustakanmu. Susunan itu tidak biasa dan menyisakan lebih dari satu pembacaan, dan Allah tidak memilih salah satunya di ayat ini. Susunan itu tidak biasa dan menyisakan lebih dari satu pembacaan, dan Allah tidak memilih salah satunya.
- Kata terakhir ayat ini muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 82:9, 95:7, dan 107:1. Yang paling menerangkan 107:1, sebab di sana ia dirangkai dengan bentuk lain dari akar yang sama, yaitu dalam kalimat tentang orang yang mendustakan pertanggungjawaban. Jadi dua surah memakai dua kata yang sama untuk perkara yang sama persis. Jadi dua surah memakai dua kata yang sama untuk perkara yang sama persis, tanpa saling menunjuk.
- Kata terakhir memikul dua makna yang dipakai bergantian di seluruh Al-Qur'an, yaitu hari perhitungan dan agama. Padanan di sini mengikuti makna yang pertama, konsisten dengan pilihan yang sama di 107:1. Pilihan itu menentukan cara membacanya: yang didustakan bukan seperangkat keyakinan melainkan bahwa akan ada hari ketika perbuatan dihitung Allah. Yang didustakan bukan seperangkat keyakinan melainkan bahwa akan ada hari ketika perbuatan dihitung.
- Kata yang berarti setelah itu berdiri tanpa sandaran di belakangnya, dan susunan itu di dalam bahasa Arab menyatakan sesudah sesuatu yang sudah diketahui bersama. Yang sudah diketahui itu tidak disebutkan Allah, dan boleh jadi ia menunjuk kepada empat ayat sebelumnya. Sesudah apa lagi seseorang masih bisa mendustakan sesuatu yang sudah diterangkan kepadanya? Al-Qur'an membiarkannya terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan itu alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.
- Ayat ini berbentuk pertanyaan, bukan pernyataan atau larangan. Allah tidak berfirman jangan mendustakan, dan tidak berfirman mereka mendustakan. Dia bertanya. Pertanyaan menaruh yang ditanya pada kedudukan yang harus menjawab, sedangkan pernyataan cuma perlu didengar. Yang bertanya juga tidak menyediakan jawaban, sehingga kekosongan itu diisi sendiri oleh yang membacanya. Yang bertanya tidak menyediakan jawaban, sehingga kekosongan itu diisi sendiri oleh yang membacanya. Pertanyaan yang tidak menyebut siapa yang ditanya membuat setiap pembaca berdiri di tempat yang sama. Tidak ada golongan yang disebut, tidak ada nama, dan karena itu tidak ada yang bisa merasa sedang menyaksikan orang lain ditanya.