أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ

Bukankah Allah hakim yang paling penuh hikmah?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَa-laysa llaahu bi-ahkami l-haakimiinabukankah Allah hakim yang paling penuh hikmah

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَلَيْسَa-laysabukankah
  2. اللَّهُllaahuAllah
  3. بِأَحْكَمِbi-ahkamiseadil-adil
  4. الْحَاكِمِينَl-haakimiinapara pemutus perkara

Inti bacaan

Penegasan keadilan tertinggi sebagai penutup: 'bukankah Allah hakim yang paling penuh hikmah?', kesimpulan yang menempatkan kepercayaan pada sistem penilaian yang bijaksana, jaminan bahwa keputusan akhir akan proporsional dan adil.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ, bi-ahkami l-haakimiina) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuk yang hampir sama, yaitu tanpa huruf depan di awalnya, muncul di 11:45. Jadi dua ayat memakai susunan yang sama dengan kedudukan i'rab yang berbeda, dan dua-duanya tentang kedudukan Allah sebagai hakim.

Kata (أَحْكَمِ, ahkami) bentuk elatif yang disandarkan kepada kata sesudahnya, dan diterjemahkan dengan huruf kecil "yang paling penuh hikmah", konsisten dengan pola elatif yang dipakai di seluruh proyek. Kedua katanya berasal dari akar yang sama, yaitu akar yang berarti memutuskan dengan hikmah, dan akar itu dipakai di 189 ayat. Jadi susunannya mengulang satu akar sebagai bentuk paling dan sebagai bentuk pelaku.

Susunan yang mengulang akar seperti itu sama dengan susunan (أَسْفَلَ سَافِلِينَ, asfala saafiliina) di 95:5. Jadi dua ayat di dalam surah ini memakai pola yang sama: yang di 95:5 untuk tingkat yang paling bawah, dan yang di sini untuk kedudukan yang paling tinggi. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.

Akar (أَحْكَمِ, ahkami) memberi kata untuk menghakimi dan kata untuk hikmah sekaligus. Karena itu bentuk elatifnya bisa dibaca yang paling adil dalam memutuskan dan yang paling berhikmah. Padanan "yang paling penuh hikmah" mengambil sisi yang kedua tanpa menutup yang pertama, sebab kata sesudahnya sudah memuat sisi menghakimi.

Ayat ini berbentuk pertanyaan yang dibuka huruf tanya dan huruf pengingkaran, sehingga ia menyatakan penegasan, bukan keraguan. Bentuk yang sama dipakai di 95:7, sehingga dua ayat penutup surah ini keduanya berupa pertanyaan. Yang pertama pertanyaan kepada manusia tentang pendustaannya, dan yang kedua pertanyaan tentang kedudukan Allah. Surah ini karena itu berakhir tanpa satu pun kalimat berita di dua ayat terakhirnya.

Letak nama Allah di dalam surah ini juga patut dicatat. Nama itu muncul 1 kali saja, yaitu di ayat penutup ini. Tujuh ayat sebelumnya tidak memuat nama-Nya sama sekali, sekalipun dua di antaranya memakai kata kerja berjamak yang menunjuk kepada-Nya. Jadi surah ini menahan penyebutan nama-Nya sampai ayat terakhir, dan yang disebut bersamaan dengan nama itu sifat menghakimi.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang akan diputuskan, tidak disebut kapan, dan tidak disebut siapa yang akan menerima keputusannya. Yang disebut cuma kedudukan Yang memutuskan. Sebuah penutup yang berhenti pada sifat, bukan pada akibat, menyerahkan sisanya kepada pembacanya, dan sisanya itu tidak selesai ketika bacaannya selesai.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini menegaskan keadilan dan kebijaksanaan mutlak Allah sebagai hakim tertinggi, dan rangkaian yang dipakai muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuk yang hampir sama, yaitu tanpa huruf depan di awalnya, muncul di 11:45.

Kedua katanya berasal dari akar yang sama, dan akar itu dipakai di 189 ayat. Jadi susunannya mengulang satu akar sebagai bentuk paling dan sebagai bentuk pelaku. Susunan yang sama dipakai di 95:5 untuk tingkat yang paling bawah. Jadi dua ayat di dalam surah ini memakai pola yang sama: satu untuk yang paling rendah, satu untuk yang paling tinggi.

Akar itu memberi kata untuk menghakimi dan kata untuk hikmah sekaligus. Karena itu bentuk elatifnya bisa dibaca yang paling adil dalam memutuskan dan yang paling berhikmah. Padanan yang dipakai mengambil sisi yang kedua tanpa menutup yang pertama, sebab kata sesudahnya sudah memuat sisi menghakimi.

Ayat ini berbentuk pertanyaan yang dibuka huruf tanya dan huruf pengingkaran, sehingga ia menyatakan penegasan, bukan keraguan. Bentuk yang sama dipakai di 95:7, sehingga dua ayat penutup surah ini keduanya berupa pertanyaan. Surah ini berakhir tanpa satu pun kalimat berita di dua ayat terakhirnya, dan yang terakhir disebut bukan nasib manusia melainkan kedudukan Yang menghakimi.

Renungan dan Hikmah

  • Susunan yang mengulang satu akar sebagai bentuk paling dan sebagai bentuk pelaku sama dengan susunan di 95:5. Jadi dua ayat di dalam surah ini memakai pola yang sama: yang di 95:5 untuk tingkat yang paling bawah, dan yang di sini untuk kedudukan yang paling tinggi. Allah tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang menemukannya. Allah tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang menemukannya.
  • Akar kata di ayat ini memberi kata untuk menghakimi dan kata untuk hikmah sekaligus, dan ia dipakai di 189 ayat. Karena itu bentuknya bisa dibaca yang paling adil dalam memutuskan dan yang paling berhikmah. Padanan yang dipakai mengambil sisi yang kedua tanpa menutup yang pertama, sebab kata sesudahnya sudah memuat sisi menghakimi. Padanan yang dipakai mengambil satu sisi tanpa menutup sisi yang lain, sebab kata sesudahnya sudah memuatnya.
  • Ayat ini berbentuk pertanyaan yang dibuka huruf tanya dan huruf pengingkaran, sehingga ia menyatakan penegasan, bukan keraguan. Bentuk yang sama dipakai di 95:7. Jadi dua ayat penutup surah ini keduanya berupa pertanyaan, dan surah ini berakhir tanpa satu pun kalimat berita di dua ayat terakhirnya. Yang ditanya diminta mengakui, bukan diminta menerima keterangan. Yang ditanya diminta mengakui, bukan diminta menerima keterangan yang belum diketahuinya.
  • Yang disebut di ujung surah ini bukan nasib manusia melainkan kedudukan Allah. Sesudah menyebut penciptaan yang sebaik-baiknya, pengembalian ke yang serendah-rendahnya, pengecualian bagi yang beriman, dan teguran atas pendustaan, yang datang terakhir sifat Yang menghakimi. Surah ini menutup dengan menaruh perhatian bukan pada yang dihakimi melainkan pada Yang memutuskan. Surah ini menutup dengan menaruh perhatian bukan pada yang dihakimi melainkan pada Yang memutuskan.
  • Rangkaian ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan bentuk yang hampir sama tanpa huruf depan di awalnya muncul di 11:45. Jadi dua ayat memakai susunan yang sama dengan kedudukan i'rab yang berbeda, dan dua-duanya tentang kedudukan Allah sebagai hakim. Sebagai bentuk ia sendirian; sebagai susunan ia punya satu saudara di surah lain. Sebagai bentuk ia sendirian; sebagai susunan ia punya satu saudara di surah lain, dan keduanya tentang Allah.
  • Pertanyaan yang dibuka huruf tanya dan huruf pengingkaran menuntut jawaban ya, dan tidak menyediakan tempat bagi jawaban tidak. Jadi Allah menutup surah ini dengan pertanyaan yang jawabannya sudah tertentu sejak bentuknya. Apa yang tersisa bagi seseorang yang ditanya begitu, selain mengakui apa yang sudah diketahuinya sendiri sejak sebelum ditanya? Jadi Allah menutup surah ini dengan pertanyaan yang jawabannya sudah tertentu sejak bentuk kalimatnya. Menutup surah dengan pertanyaan seperti itu meninggalkan pembacanya memegang jawabannya sendiri. Yang dijawab dengan mulut bisa dilupakan besok; yang dijawab di dalam diri biasanya bertahan lebih lama, sebab tidak ada orang lain yang mendengarnya.