بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَiqra' bi-smi rabbika lladzii khalaqabacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. اقْرَأْiqra'bacalah
  2. بِاسْمِbi-smidengan nama
  3. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  4. الَّذِيlladziiyang
  5. خَلَقَkhalaqamenciptakan

Inti bacaan

Pembukaan Al-'Alaq dengan perintah pertama wahyu: 'bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan', instruksi fundamental yang menempatkan aktivitas membaca dan belajar dalam kerangka spiritual, pengetahuan yang dimulai dengan kesadaran akan sumber penciptaan.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Subjek/objek bacaan tidak ditambahi detail historis (mis. lokasi wahyu) yang tidak eksplisit dalam Arab. Jadi apa yang dibaca dan di mana perintah itu turun tidak disebutkan sama sekali di dalam ayatnya.

Kata kerja (اقْرَأْ, iqra) muncul 3 kali di 2 surah, yaitu di 17:14, 96:1, dan 96:3. Jadi dua dari tiga kemunculannya berada di surah ini, dan keduanya dipakai sebagai pembuka dua bagian yang berdekatan. Akarnya berarti membaca. Ia dipakai di 79 ayat dan muncul dua kali di dalam surah ini.

Rangkaian (بِاسْمِ رَبِّكَ, bi-smi rabbika) muncul 4 kali di 3 surah, yaitu di 56:74, 56:96, 69:52, dan 96:1. Di ketiga tempat lainnya rangkaian itu dipakai bersama perintah menyucikan, sedangkan di sini ia dipakai bersama perintah membaca.

Jadi satu rangkaian yang di tiga tempat lain selalu menyertai perintah menyucikan, di sini menyertai perintah membaca. Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk yang berulang tanpa diubah.

Kata kerja (خَلَقَ, khalaqa) tidak menyebut objeknya di ayat ini, dan objeknya baru datang di 96:2. Jadi ayat ini berhenti pada kata kerja tanpa menyebut apa yang diciptakan, dan penundaan itu menahan perhatian pembacanya sampai ayat berikutnya.

Kata sambung (الَّذِي, alladzii) berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata untuk Tuhan. Bentuk yang sama dipakai lagi di 96:4 dan 96:9, sehingga tiga ayat di surah ini memakai kata sambung yang sama, dan dua yang pertama menerangkan Tuhan sedangkan yang ketiga menerangkan manusia.

Kata kerja (اقْرَأْ, iqra) berbentuk perintah kepada orang kedua tunggal, dan ia kata pertama surah ini sesudah basmalah. Jadi surah ini dibuka dengan perintah, bukan dengan sumpah atau berita, dan pembuka semacam itu berbeda dari 86:1, 89:1, 91:1, dan 92:1 yang seluruhnya dibuka sumpah.

Objek bacaan tidak disebutkan di ayat ini maupun di 96:3. Jadi Al-Qur'an memerintahkan membaca dua kali tanpa sekali pun menyebut apa yang harus dibaca, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.

Bentuk (اقْرَأْ, iqra') berbentuk perintah dan berorang kedua tunggal, sehingga yang disuruh satu orang, bukan orang banyak. Jadi perintah pertama di dalam surah ini dialamatkan kepada satu pihak, dan pihaknya tidak dinamai di sepanjang sembilan belas ayatnya.

Kata (الَّذِي, alladzii) menerangkan kata sebelumnya dan mengikatnya kepada kata kerja di ujung ayat. Jadi Tuhan yang disebut dikenali lewat perbuatan-Nya, bukan lewat sifat yang berdiri sendiri, dan susunan yang sama dipakai lagi di 96:4.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan perintah membaca atas nama Tuhan sang pencipta, dan kata kerja pertamanya muncul 3 kali di 2 surah, yaitu di 17:14, 96:1, dan 96:3.

Jadi dua dari tiga kemunculannya berada di surah ini, dan keduanya dipakai sebagai pembuka dua bagian yang berdekatan. Akarnya dipakai di 79 ayat dan muncul dua kali di dalam surah ini.

Rangkaian dua kata berikutnya muncul 4 kali di 3 surah, yaitu di 56:74, 56:96, 69:52, dan 96:1. Di ketiga tempat lainnya rangkaian itu dipakai bersama perintah menyucikan, sedangkan di sini ia dipakai bersama perintah membaca.

Kata kerja terakhirnya tidak menyebut objeknya di ayat ini, dan objeknya baru datang di 96:2. Jadi ayat ini berhenti pada kata kerja tanpa menyebut apa yang diciptakan, dan penundaan itu menahan perhatian pembacanya sampai ayat berikutnya.

Objek bacaan tidak disebutkan di ayat ini maupun di 96:3. Jadi Al-Qur'an memerintahkan membaca dua kali tanpa sekali pun menyebut apa yang harus dibaca. Bentuk kata pertamanya berbentuk perintah dan berorang kedua tunggal, sehingga yang disuruh satu orang, bukan orang banyak. Jadi perintah pertama di dalam surah ini dialamatkan kepada satu pihak, dan pihaknya tidak dinamai di sepanjang sembilan belas ayatnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja pertamanya muncul 3 kali di 2 surah, yaitu di 17:14, 96:1, dan 96:3. Jadi dua dari tiga kemunculannya berada di surah ini, dan keduanya dipakai Allah sebagai pembuka dua bagian yang berdekatan. Akarnya dipakai di 79 ayat, dan surah ini memuat dua kemunculannya di dalam tiga ayat pertamanya. Yang tidak dinamai tidak bisa dikurung ke satu orang di satu masa, dan itu yang membuat perintahnya terbuka bagi siapa pun yang membacanya sesudahnya.
  • Rangkaian dua kata berikutnya muncul 4 kali di 3 surah, yaitu di 56:74, 56:96, 69:52, dan 96:1. Di ketiga tempat lainnya rangkaian itu dipakai bersama perintah menyucikan nama Allah, sedangkan di sini ia dipakai bersama perintah membaca. Jadi satu rangkaian yang selalu menyertai penyucian, di sini menyertai pembacaan. Kesejajaran itu berlaku sampai ke hurufnya, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua tempat memakai susunan yang sama tanpa satu kalimat penghubung.
  • Objek bacaan tidak disebutkan di ayat ini maupun di 96:3. Jadi Allah memerintahkan membaca dua kali tanpa sekali pun menyebut apa yang harus dibaca, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama. Apa yang ditambahkan seseorang ke dalam sebuah perintah ketika ia memastikan sendiri apa yang harus dibaca? Angka itu tidak diterangkan di dalam Al-Qur'an sendiri, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma daftar tempatnya serta apa yang berdiri di masing-masing.
  • Kata kerja pertamanya berbentuk perintah kepada orang kedua tunggal, dan ia kata pertama surah ini sesudah basmalah. Jadi Allah membuka surah ini dengan perintah, bukan dengan sumpah atau berita, dan pembuka semacam itu berbeda dari 86:1, 89:1, 91:1, dan 92:1 yang seluruhnya dibuka sumpah. Perbedaan itu tidak dinyatakan dengan kata tambahan mana pun, dan pembacanya harus melihat bentuk katanya sendiri untuk menemukannya. Perintah yang tidak menyebut apa yang harus dibaca membiarkan bacaannya terbuka bagi seluruh kemungkinan.
  • Kata kerja terakhirnya tidak menyebut objeknya di ayat ini, dan objeknya baru datang di 96:2. Jadi ayat ini berhenti pada kata kerja tanpa menyebut apa yang diciptakan Allah, dan penundaan itu menahan perhatian pembacanya sampai ayat berikutnya tanpa satu kata penanda pun. Jadi keterangan itu tidak bisa dilepaskan dari ayatnya tanpa mengubah apa yang dinyatakan, dan terjemahan yang melepaskannya kehilangan sebagian isinya. Perintah yang tidak menyebut apa yang harus dibaca membiarkan bacaannya terbuka bagi seluruh kemungkinan.
  • Kata sambung di ayat ini berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata untuk Tuhan. Bentuk yang sama dipakai Allah lagi di 96:4 dan 96:9, sehingga tiga ayat di surah ini memakainya, dan dua yang pertama menerangkan Dia sedangkan yang ketiga menerangkan manusia yang melarang. Yang bisa dicatat cuma apa yang tertulis, dan menambahkan keterangan di luar itu berarti menaruh kesimpulan yang tidak disediakan ayatnya sendiri. Nama yang disebut lebih dulu daripada perintahnya menentukan atas nama siapa perbuatan itu dikerjakan.