خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
Menciptakan manusia dari sesuatu yang melekat.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍkhalaqa l-insaana min 'alaqinmenciptakan manusia dari sesuatu yang melekat
Terjemahan per kata (4 kata)
- خَلَقَkhalaqamenciptakan
- الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
- مِنْmindari
- عَلَقٍ'alaqinsesuatu yang melekat
Inti bacaan
Rujukan asal-usul biologis manusia: 'menciptakan manusia dari sesuatu yang melekat', pengingat rendah hati tentang permulaan sederhana, dasar bagi kerendahan hati bahkan saat menerima perintah pertama untuk membaca dan belajar.
Penjelasan pilihan kata
Kata (عَلَقٍ, 'alaqin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia sekaligus menjadi nama surahnya. Akarnya berarti melekat dan menggantung. Ia cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 4:129, 22:5, 23:14, 40:67, 75:38, dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang jarang dipakai.
Di 22:5, 23:14, dan 40:67 akar itu dipakai untuk tahap penciptaan manusia yang menyusul setetes air. Jadi tiga tempat memakai akar yang sama di dalam rangkaian tahapan, sedangkan di sini ia berdiri sendiri tanpa tahapan yang mendahului atau menyusul. Kata (عَلَقٍ, 'alaqin) di sini tidak bertakrif, sehingga yang disebut jenisnya.
Di 4:129 akar yang sama dipakai untuk perempuan yang dibiarkan tergantung, tidak bersuami dan tidak pula bercerai. Jadi satu akar memikul tahap penciptaan dan keadaan tergantung, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang melekat pada tempatnya tanpa lepas. Kata (الْإِنْسَانَ, al-insaana) menjadi objeknya, dan bahannya menyusul di belakang.
Kata kerja (خَلَقَ, khalaqa) diulang persis dari 96:1, sehingga dua ayat berturut-turut dibuka atau ditutup dengan kata yang sama. Yang di 96:1 tanpa objek dan yang di sini dengan objek, jadi pengulangan itu melengkapi apa yang ditahan di ayat sebelumnya.
Kata (الْإِنْسَانَ, al-insaana) memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Bentuk yang sama dipakai lagi di 96:5 dan 96:6, sehingga kata itu muncul tiga kali di dalam surah ini.
Kesejajaran dengan 86:5 dan 90:4 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu penciptaan manusia disebut bersama bahan asalnya. Jadi tiga surah di juz ini menyebut asal-usul manusia, dan bahan yang disebut berbeda-beda di ketiganya.
Kata (مِنْ, min) di depan kata terakhir menyatakan asal, sehingga yang dinyatakan bahannya, bukan tempatnya. Susunan yang sama dipakai di 86:6 pada surah lain, dan di kedua tempat itu yang disebut dari apa manusia dibuat.
Kata (عَلَقٍ, 'alaqin) tidak bertakrif, sehingga yang disebut bahan yang sesuai gambarannya, bukan satu benda tertentu. Bahasa Indonesia menahannya dengan "sesuatu yang melekat", memakai kata umum untuk menahan ketiadaan kata sandang alih-alih menyebutnya sebagai benda yang sudah dikenal.
Kata (عَلَقٍ, 'alaqin) tidak bertakrif dan berbentuk jenis, sehingga yang disebut bahannya sebagai jenis, bukan satu benda tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan mempersempitnya kepada satu wujud akan menambahkan apa yang tidak tertulis.
Huruf min di depan (مِنْ, min) menyatakan asal bahan, bukan sebagian dari sesuatu. Jadi yang dinyatakan dari apa manusia dibuat, dan susunan semacam itu dipakai juga di 55:14 serta 23:12 untuk bahan penciptaan yang lain.
Tafsiran
Ayat ini merinci penciptaan manusia dari tahap awal yang sederhana, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sekaligus menjadi nama surahnya. Akarnya cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 4:129, 22:5, 23:14, 40:67, 75:38, dan ayat ini.
Di 22:5, 23:14, dan 40:67 akar itu dipakai untuk tahap penciptaan manusia yang menyusul setetes air. Jadi tiga tempat memakai akar yang sama di dalam rangkaian tahapan, sedangkan di sini ia berdiri sendiri tanpa tahapan yang mendahului.
Di 4:129 akar yang sama dipakai untuk perempuan yang dibiarkan tergantung, tidak bersuami dan tidak pula bercerai. Jadi satu akar memikul tahap penciptaan dan keadaan tergantung, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang melekat pada tempatnya tanpa lepas.
Kata kerja pertamanya diulang persis dari 96:1, sehingga dua ayat berturut-turut memakai kata yang sama. Yang di 96:1 tanpa objek dan yang di sini dengan objek, jadi pengulangan itu melengkapi apa yang ditahan di ayat sebelumnya.
Kesejajaran dengan 86:5 dan 90:4 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu penciptaan manusia disebut bersama bahan asalnya. Jadi tiga surah di juz ini menyebut asal-usul manusia, dan bahan yang disebut berbeda-beda di ketiganya. Kata terakhirnya tidak bertakrif dan berbentuk jenis, sehingga yang disebut bahannya sebagai jenis, bukan satu benda tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan mempersempitnya kepada satu wujud akan menambahkan apa yang tidak tertulis di dalam ayatnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan sekaligus menjadi nama surahnya, dan akarnya cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 4:129, 22:5, 23:14, 40:67, 75:38, dan 96:2. Jadi surah ini dinamai dengan kata yang tidak muncul lagi di tempat mana pun, dan pembacanya cuma punya lima ayat lain untuk membandingkan akarnya. Cakupan yang dibiarkan luas itu hilang begitu terjemahannya memilih satu wujud tertentu, dan pilihan semacam itu menambahkan apa yang tidak tertulis.
- Di 4:129 akar kata terakhirnya dipakai Allah untuk perempuan yang dibiarkan tergantung, tidak bersuami dan tidak pula bercerai. Jadi satu akar memikul tahap penciptaan dan keadaan tergantung, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang melekat pada tempatnya tanpa lepas dan tanpa berpindah. Jadi dua tempat memakai kata yang sama untuk dua perkara yang berjauhan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat penjelas pun.
- Di 22:5, 23:14, dan 40:67 akar kata terakhirnya dipakai untuk tahap penciptaan yang menyusul setetes air. Jadi tiga tempat memakai akar yang sama di dalam rangkaian tahapan, sedangkan di sini ia berdiri sendiri tanpa tahapan yang mendahului atau menyusul. Allah menyebut satu tahap saja di ayat ini. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah maksud di balik pemusatannya di sini. Yang dibuat dari sesuatu yang sekecil itu tidak punya alasan menyombongkan asalnya sendiri.
- Kata kerja pertamanya diulang persis dari 96:1, dan yang di sana tanpa objek sedangkan yang di sini dengan objek. Jadi pengulangan itu melengkapi apa yang ditahan Allah di ayat sebelumnya, dan dua ayat itu terbaca sebagai satu pernyataan yang dipecah menjadi dua bagian. Susunan semacam itu menaruh bahannya di belakang, sehingga yang lebih dulu terbaca perbuatannya dan yang menyusul asal bahannya. Bahan yang paling rendah disebut berdampingan dengan perbuatan menciptakan yang paling tinggi.
- Kesejajaran dengan 86:5 dan 90:4 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu penciptaan manusia disebut bersama bahan asalnya. Jadi tiga surah di juz ini menyebut asal-usul manusia, dan bahan yang disebut Allah berbeda-beda di ketiganya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan menggantinya dengan huruf lain akan mengubah hubungan antara pembuat dan bahannya. Bahan yang paling rendah disebut berdampingan dengan perbuatan menciptakan yang paling tinggi.
- Kata terakhirnya tidak bertakrif, sehingga yang disebut bahan yang sesuai gambarannya, bukan satu benda tertentu. Terjemahannya memakai kata umum untuk menahan ketiadaan kata sandang. Apa yang berubah pada sebuah pernyataan tentang asal-usul ketika bahannya disebut lewat sifatnya, bukan lewat namanya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma kata itu sendiri, dan menerangkannya lewat pengetahuan dari luar berarti keluar dari apa yang disediakan ayatnya.