اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

Bacalah, dan Tuhanmu yang paling mulia,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُiqra' wa-rabbuka l-akramubacalah, dan Tuhanmu yang paling mulia

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. اقْرَأْiqra'bacalah
  2. وَرَبُّكَwa-rabbukadan Tuhanmu
  3. الْأَكْرَمُl-akramuYang Mahamulia

Inti bacaan

Pengulangan perintah dengan penegasan keagungan: 'bacalah! Tuhanmulah Yang Paling Mulia', repetisi instruksi yang diperkuat dengan pengakuan keagungan tertinggi sumber pengetahuan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الْأَكْرَمُ, al-akramu) berbentuk elatif bertakrif dan diterjemahkan dengan huruf kecil sebagai "yang paling mulia", bukan bentuk bergelar berkapital seperti pada draf, konsisten dengan pola elatif di 87:1, 91:12, 92:15, 92:17, dan 92:20.

Kata (الْأَكْرَمُ, al-akramu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mulia dan murah hati. Ia dipakai di 46 ayat, antara lain 17:70, 49:13, 82:6, 89:15, dan 89:17. Kesejajaran dengan 89:15 dan 89:17 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk pemuliaan yang disangka manusia diterimanya dan yang tidak ia berikan.

Jadi akar yang di surah tetangga menamai salah paham manusia tentang pemuliaan, di sini menamai sifat Tuhan sendiri. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya yang berulang di dua surah berdekatan. Kata (الْأَكْرَمُ, al-akram) berdiri sebagai keterangan bagi kata sebelumnya.

Kata kerja (اقْرَأْ, iqra) diulang persis dari 96:1, sehingga dua dari tiga kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini. Jadi satu perintah diucapkan dua kali dalam tiga ayat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun.

Perbedaan kedua perintah itu patut dicatat. Yang di 96:1 disusul keterangan tentang nama Tuhan, dan yang di sini disusul pernyataan tentang sifat-Nya. Jadi pengulangannya tidak sekadar mengulang melainkan menambah, dan yang ditambahkan sifat, bukan nama.

Kata (وَرَبُّكَ, wa rabbuka) dibuka huruf waw yang menyatakan keadaan, bukan kata sambung biasa. Jadi bagian kedua ayat ini keterangan bagi perintah di depannya, dan bukan pernyataan yang berdiri sendiri. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya.

Bentuk (الْأَكْرَمُ, al-akramu) berbentuk elatif tanpa pembanding yang disebut, sehingga tidak dinyatakan lebih mulia daripada siapa. Ketiadaan pembanding itu perlu dijaga: menyisipkannya akan menambah keterangan yang tidak ada di dalam Arabnya.

Ayat ini menutup bagian pertama yang dimulai di 96:1, dan sesudahnya 96:4 melanjutkan dengan keterangan tentang pengajaran. Jadi lima ayat pertama surah ini seluruhnya tentang Tuhan dan apa yang dikerjakan-Nya, dan mulai 96:6 pembicaraannya berpindah kepada manusia.

Kata (اقْرَأْ, iqra') diulang persis dari 96:1, dan ini satu-satunya kata di dalam surah ini yang membuka dua ayat sekaligus. Jadi perintah yang sama diucapkan dua kali dengan jarak satu ayat, dan yang berbeda cuma keterangan yang menyusulnya.

Bentuk (الْأَكْرَمُ, al-akram) berpola perbandingan yang paling tinggi dan bertakrif, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar mulia melainkan yang paling mulia. Jadi bentuk katanya sendiri yang membawa kadar itu, dan tidak ada kata tambahan yang menyatakannya.

Tafsiran

Ayat ini mengulang perintah membaca disertai penegasan kemuliaan Tuhan, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 46 ayat, antara lain 17:70, 49:13, 82:6, 89:15, dan 89:17.

Kesejajaran dengan 89:15 dan 89:17 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk pemuliaan yang disangka manusia diterimanya dan yang tidak ia berikan. Jadi akar yang di surah tetangga menamai salah paham manusia tentang pemuliaan, di sini menamai sifat Tuhan sendiri.

Kata kerja pertamanya diulang persis dari 96:1, sehingga dua dari tiga kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini. Jadi satu perintah diucapkan dua kali dalam tiga ayat.

Perbedaan kedua perintah itu patut dicatat. Yang di 96:1 disusul keterangan tentang nama Tuhan, dan yang di sini disusul pernyataan tentang sifat-Nya. Jadi pengulangannya tidak sekadar mengulang melainkan menambah, dan yang ditambahkan sifat, bukan nama.

Ayat ini menutup bagian pertama yang dimulai di 96:1, dan sesudahnya 96:4 melanjutkan dengan keterangan tentang pengajaran. Kata pertamanya diulang persis dari 96:1, dan ini satu-satunya kata di dalam surah ini yang membuka dua ayat sekaligus. Jadi perintah yang sama diucapkan dua kali dengan jarak satu ayat, dan yang berbeda cuma keterangan yang menyusulnya di belakang.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 46 ayat, antara lain 17:70, 49:13, 82:6, 89:15, dan 89:17. Di 89:15 dan 89:17 akar yang sama dipakai untuk pemuliaan yang disangka manusia diterimanya dari Allah dan yang tidak ia berikan kepada anak yatim. Jadi akar yang menamai salah paham manusia, di sini menamai sifat-Nya sendiri. Pengulangan itu tidak diberi penanda apa pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa perintah yang sama datang untuk kedua kalinya.
  • Kata kerja pertamanya diulang persis dari 96:1, dan yang di sana disusul keterangan tentang nama Allah sedangkan yang di sini disusul pernyataan tentang sifat-Nya. Jadi pengulangannya tidak sekadar mengulang melainkan menambah, dan yang ditambahkan sifat, bukan nama. Dua perintah yang sama karena itu tidak sepenuhnya sama isinya. Bentuk yang paling tinggi itu tidak dibandingkan dengan siapa pun di dalam ayatnya, sehingga pembandingnya dibiarkan terbuka bagi seluruh kemungkinan.
  • Bentuk kata terakhirnya elatif tanpa pembanding yang disebut, sehingga tidak dinyatakan lebih mulia daripada siapa. Ketiadaan pembanding itu perlu dijaga: menyisipkannya akan menambah keterangan yang tidak ada di dalam Arabnya. Jadi Allah menyatakan sifat-Nya tanpa menaruh satu pun pihak di sisi lain timbangannya. Jadi keterangan yang menyusul perintah kedua berbeda jenisnya dari keterangan yang menyusul perintah pertama, dan perbedaan itu tidak dijelaskan.
  • Kata keduanya dibuka huruf yang menyatakan keadaan, bukan kata sambung biasa. Jadi bagian kedua ayat ini keterangan bagi perintah di depannya, dan bukan pernyataan yang berdiri sendiri. Perbedaan itu perlu dijaga: yang pertama mengikat keduanya, dan yang kedua memisahkannya menjadi dua hal. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan mengapa justru kata itu yang dipilih untuk diulang. Sifat yang paling tinggi disebut tanpa pembanding, sehingga pembandingnya dibiarkan terbuka.
  • Ayat ini menutup bagian pertama yang dimulai di 96:1, dan lima ayat pertama surah ini seluruhnya tentang Allah dan apa yang dikerjakan-Nya. Mulai 96:6 pembicaraannya berpindah kepada manusia, dan Al-Qur'an tidak menandai peralihan itu dengan satu kata penghubung pun. Yang bisa dicatat cuma bahwa dua ayat berdiri berdampingan dengan kata pembuka yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Perintah yang diulang tanpa perubahan menaruh beratnya pada keterangan yang menyusulnya.
  • Kata terakhirnya diterjemahkan dengan huruf kecil, bukan bentuk bergelar berkapital, konsisten dengan pola elatif di 87:1, 91:12, 92:15, 92:17, dan 92:20. Apa yang berubah pada pembacaan sebuah sifat ketika ia dituliskan sebagai gelar, padahal bentuk katanya sendiri menyatakan perbandingan? Susunan itu membuat pembacanya membandingkan dua keterangan tanpa satu kata pembanding pun, dan perbandingan itu muncul dari letaknya saja.