الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

Yang mengajar dengan pena,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِalladzii 'allama bi-l-qalamiyang mengajar dengan pena

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. الَّذِيalladziiyang
  2. عَلَّمَ'allamamengajarkan
  3. بِالْقَلَمِbi-l-qalamidengan pena

Inti bacaan

Pengenalan alat pembelajaran: 'yang mengajar (manusia) dengan pena', pengakuan pentingnya sarana tertulis dalam transmisi pengetahuan, penghormatan terhadap tradisi literasi sejak wahyu pertama.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(manusia)" tidak dipakai. Kata kerja (عَلَّمَ, 'allama) di ayat ini tidak menyebut objeknya, dan objeknya baru datang di 96:5. Menyisipkannya di sini akan memindahkan keterangan dari ayat berikutnya, sama seperti pola penundaan di 96:1 dan 96:2.

Kata (بِالْقَلَمِ, bi-l-qalami) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti pena. Ia cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 3:44, 31:27, 68:1, dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai di seluruh Al-Qur'an.

Kesejajaran dengan 68:1 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama disumpahkan bersama huruf pembuka surahnya. Jadi satu akar yang cuma hidup di empat ayat dipakai sebagai isi sumpah di satu surah dan sebagai perantara pengajaran di surah ini. Kata (بِالْقَلَمِ, bi-l-qalami) di sini didahului huruf ba yang menyatakan alat.

Di 3:44 akar itu dipakai untuk undian yang dilempar dengan pena, dan di 31:27 untuk perumpamaan bahwa pohon di bumi tidak cukup menjadi pena untuk menuliskan kalimat Tuhan. Jadi akar ini memikul alat undian, alat menulis yang tidak cukup, dan perantara pengajaran. Kata (عَلَّمَ, 'allama) menjadi kata kerjanya, dan alatnya menyusul di belakang.

Kata kerja (عَلَّمَ, 'allama) berpola kedua, sehingga artinya membuat seseorang tahu, bukan tahu sendiri. Akarnya berarti mengetahui. Ia muncul empat kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini, dua kali di 96:5, dan sekali di 96:14.

Jadi akar untuk mengetahui yang paling sering muncul di surah ini, dan keempat pemakaiannya terbagi dua: dua di bagian tentang pengajaran dan dua di bagian tentang manusia yang melarang. Al-Qur'an tidak menerangkan pembagian itu dengan satu kalimat pun. Kata (الَّذِي, alladzii) membuka ayat ini, dan ia mengikatnya kepada 96:3.

Kata sambung (الَّذِي, alladzii) di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata untuk Tuhan di 96:3. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan, dan bentuk yang sama sudah dipakai di 96:1 untuk pihak yang sama.

Huruf ba di depan (بِالْقَلَمِ, bi-l-qalami) menyatakan perantara, sehingga yang dinyatakan pengajaran yang berlangsung lewat alat itu. Jadi Al-Qur'an menyebut perantaranya, bukan bahan yang diajarkan, dan perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya.

Bentuk (عَلَّمَ, 'allama) berpola kedua, sehingga artinya membuat orang lain tahu, bukan sekadar tahu. Jadi perbuatannya menuntut dua pihak: yang mengajar dan yang diajar, dan yang diajar baru disebut di 96:5.

Kata (الَّذِي, alladzii) di awal ayat menyambungkannya kepada kata di ujung 96:3, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang diterangkannya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa Tuhan mengajarkan manusia melalui perantaraan tulisan, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 3:44, 31:27, 68:1, dan ayat ini.

Kesejajaran dengan 68:1 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama disumpahkan bersama huruf pembuka surahnya. Jadi satu akar yang cuma hidup di empat ayat dipakai sebagai isi sumpah di satu surah dan sebagai perantara pengajaran di surah ini.

Di 3:44 akar itu dipakai untuk undian yang dilempar dengan pena, dan di 31:27 untuk perumpamaan bahwa pohon di bumi tidak cukup menjadi pena untuk menuliskan kalimat Tuhan. Jadi akar ini memikul alat undian, alat menulis yang tidak cukup, dan perantara pengajaran.

Kata kerjanya berpola kedua, sehingga artinya membuat seseorang tahu, bukan tahu sendiri. Akarnya muncul empat kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini, dua kali di 96:5, dan sekali di 96:14.

Kata kerja itu juga tidak menyebut objeknya, dan objeknya baru datang di 96:5, sama seperti pola penundaan di 96:1 dan 96:2. Bentuk kata keduanya berpola kedua, sehingga artinya membuat orang lain tahu, bukan sekadar tahu. Jadi perbuatannya menuntut dua pihak: yang mengajar dan yang diajar, dan yang diajar baru disebut di 96:5 pada ayat sesudahnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 3:44, 31:27, 68:1, dan 96:4. Kesejajaran dengan 68:1 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama disumpahkan Allah bersama huruf pembuka surahnya. Jadi satu akar yang jarang dipakai berdiri sebagai isi sumpah di satu surah dan sebagai perantara pengajaran di surah ini. Dua pihak yang dituntut bentuk katanya tidak disebut sekaligus di dalam ayat ini, dan yang kedua baru muncul di ayat sesudahnya.
  • Di 31:27 akar kata terakhirnya dipakai untuk perumpamaan bahwa pohon di bumi tidak cukup menjadi pena untuk menuliskan kalimat Allah. Jadi akar yang sama menamai alat yang tidak cukup untuk menuliskan firman-Nya dan alat yang dipakai-Nya mengajar manusia, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Angka itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma daftar tempatnya serta perbedaan pemakaian di masing-masing.
  • Kata kerjanya berpola kedua, sehingga artinya membuat seseorang tahu, bukan tahu sendiri. Akarnya muncul empat kali di dalam surah ini, yaitu di 96:4, dua kali di 96:5, dan sekali di 96:14. Jadi akar untuk mengetahui yang paling sering dipakai Allah di surah ini, dan keempat pemakaiannya terbagi antara dua bagian yang berjauhan. Alat yang disebut berdiri sendiri tanpa keterangan tentang siapa yang memegangnya, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata pun tentang itu.
  • Huruf di depan kata terakhirnya menyatakan perantara, sehingga yang dinyatakan pengajaran yang berlangsung lewat alat itu. Jadi Allah menyebut perantaranya, bukan bahan yang diajarkan. Apa yang dinyatakan sebuah pengajaran ketika yang disebut alatnya, bukan isi yang disampaikannya? Jadi keterangan itu melekat pada ayat sebelumnya, dan memisahkannya berarti kehilangan pihak yang sedang diterangkan seluruh kalimatnya. Pengajaran yang dinyatakan lewat alat menaruh perhatian pada caranya, bukan cuma pada hasilnya.
  • Kata kerjanya tidak menyebut objeknya di ayat ini, dan objeknya baru datang di 96:5. Jadi Allah memakai pola penundaan yang sama seperti di 96:1 dan 96:2: kata kerja disebut tanpa objek, lalu objeknya menyusul di ayat berikutnya bersama pengulangan kata kerjanya. Perbedaan pola itu tidak dinyatakan dengan kata tambahan, dan pembacanya harus melihat susunan hurufnya sendiri untuk menemukannya. Alat tulis disebut sebagai perantara pengajaran, bukan sebagai benda yang berdiri sendiri.
  • Kata sambung di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata untuk Tuhan di 96:3. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan, dan bentuk yang sama sudah dipakai di 96:1 untuk pihak yang sama. Dua kata sambung itu karena itu mengikat empat ayat pertama menjadi satu tarikan. Yang bisa diperiksa cuma di mana kata itu dipakai, dan menyimpulkan lebih jauh berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan ayatnya. Alat tulis disebut sebagai perantara pengajaran, bukan sebagai benda yang berdiri sendiri.