عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ'allama l-insaana maa lam ya'lamDia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya
Terjemahan per kata (5 kata)
- عَلَّمَ'allamamengajarkan
- الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
- مَاmaaapa yang
- لَمْlamtidak
- يَعْلَمْya'lamdiketahuinya
Inti bacaan
Proses transformasi dari ketidaktahuan menuju pengetahuan: 'Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya', pengakuan bahwa pembelajaran adalah proses anugerah yang mengubah kondisi awal ketidaktahuan menjadi pemahaman.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (عَلَّمَ, 'allama) diulang persis dari 96:4, dan di sini ia menyebut objeknya. Jadi dua ayat berturut-turut memakai kata kerja yang sama, dan yang kedua melengkapi apa yang ditahan yang pertama, sama persis seperti pola di 96:1 dan 96:2.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Dua pasangan ayat di surah ini memakai susunan yang sama: kata kerja tanpa objek, lalu kata kerja yang sama dengan objeknya. Jadi empat ayat pertama surah ini dibangun dengan satu pola yang berulang dua kali.
Kata (الْإِنْسَانَ, al-insaana) diulang dari 96:2, dan ia muncul sekali lagi di 96:6, sehingga kata itu muncul tiga kali di dalam surah ini. Jadi manusia disebut sebagai jenis tiga kali: sekali sebagai yang diciptakan, sekali sebagai yang diajar, dan sekali sebagai yang melampaui batas.
Rangkaian (مَا لَمْ يَعْلَمْ, maa lam ya'lam) memakai kata kerja yang seakar dengan kata kerja pertama di ayat ini. Jadi satu akar dipakai dua kali di dalam satu ayat pendek: sekali untuk mengajarkan dan sekali untuk apa yang tidak diketahui.
Susunan itu menyatakan bahwa yang diajarkan justru yang belum diketahui sebelumnya. Jadi Al-Qur'an tidak menyebut apa yang diajarkan melainkan menyebut kedudukannya bagi yang menerimanya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun.
Bentuk (يَعْلَمْ, ya'lam) berpola pertama, sedangkan kata kerja di depannya berpola kedua. Jadi satu akar dipakai dengan dua pola yang berbeda di dalam satu ayat: yang satu membuat orang tahu, dan yang lain sekadar tahu sendiri.
Kata (مَا, maa) di tengah ayat kata sambung yang tidak menyebut nama, sehingga apa yang diajarkan tidak dinamai sama sekali. Ketiadaan nama itu perlu dijaga: menyisipkannya akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis pengetahuan saja.
Ayat ini menutup bagian pertama surah, dan sesudahnya 96:6 berpindah kepada teguran. Jadi lima ayat pertama seluruhnya tentang apa yang dikerjakan Tuhan atas manusia, dan empat belas ayat berikutnya tentang manusia dan apa yang dikerjakannya.
Kata (مَا, maa) di sini kata sambung yang berarti apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi ia menunjuk isi yang tidak diketahui, dan isinya sendiri tidak pernah disebutkan di dalam ayatnya maupun di ayat mana pun sesudahnya. Kata (الْإِنْسَانَ, al-insaana) muncul 26 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 15:26, 55:14, 76:2, 96:2, dan 96:5. Tiga di antaranya berada di dalam surah ini.
Bentuk (يَعْلَمْ, ya'lam) berbaris sukun karena dikenai huruf pengingkaran di depannya, sehingga waktunya berpindah menjadi lampau. Jadi bentuk yang terlihat menunjuk sekarang justru menyatakan yang sudah lewat, dan pergeseran itu terbawa di dalam hurufnya sendiri tanpa satu kata keterangan pun yang menyatakannya.
Tafsiran
Ayat ini menutup pembukaan dengan penegasan bahwa Tuhan sumber segala pengetahuan baru bagi manusia, dan kata kerja pertamanya diulang persis dari 96:4 sementara di sini ia menyebut objeknya.
Jadi dua ayat berturut-turut memakai kata kerja yang sama, dan yang kedua melengkapi apa yang ditahan yang pertama, sama persis seperti pola di 96:1 dan 96:2. Dua pasangan ayat di surah ini memakai susunan yang sama, sehingga empat ayat pertama dibangun dengan satu pola yang berulang dua kali.
Kata keduanya diulang dari 96:2, dan ia muncul sekali lagi di 96:6, sehingga kata itu muncul tiga kali di dalam surah ini. Jadi manusia disebut sebagai jenis tiga kali: sekali sebagai yang diciptakan, sekali sebagai yang diajar, dan sekali sebagai yang melampaui batas.
Rangkaian tiga kata terakhirnya memakai kata kerja yang seakar dengan kata kerja pertama di ayat ini. Jadi satu akar dipakai dua kali di dalam satu ayat pendek: sekali untuk mengajarkan dan sekali untuk apa yang tidak diketahui.
Susunan itu menyatakan bahwa yang diajarkan justru yang belum diketahui sebelumnya, sehingga Al-Qur'an menyebut kedudukan pengetahuan itu bagi yang menerimanya, bukan isinya. Kata ketiganya kata sambung yang berarti apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi ia menunjuk isi yang tidak diketahui, dan isinya sendiri tidak pernah disebutkan di dalam ayatnya maupun di ayat mana pun sesudahnya di surah ini. Susunan ayat ini menutup bagian pertama surahnya, dan 96:6 sesudahnya membuka bagian yang berpindah kepada sikap manusia atas apa yang sudah diberikan kepadanya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja pertamanya diulang persis dari 96:4, dan di sini ia menyebut objeknya. Jadi dua pasangan ayat di surah ini memakai susunan yang sama: kata kerja tanpa objek, lalu kata kerja yang sama dengan objeknya. Empat ayat pertama surah ini karena itu dibangun Allah dengan satu pola yang berulang dua kali. Isi yang tidak disebutkan itu tidak pernah dilengkapi di ayat mana pun sesudahnya, sehingga pembacanya dibiarkan tanpa daftar apa pun.
- Kata keduanya diulang dari 96:2, dan ia muncul sekali lagi di 96:6, sehingga kata itu muncul tiga kali di dalam surah ini. Jadi Allah menyebut manusia sebagai jenis tiga kali: sekali sebagai yang diciptakan, sekali sebagai yang diajar, dan sekali sebagai yang melampaui batas. Ketiganya satu pihak yang sama. Jadi dua ayat berturut-turut memakai kata kerja yang sama, dan yang berbeda cuma pihak yang disebut sebagai penerima pengajarannya. Yang diajar sesuatu yang tidak diketahuinya tidak bisa mengaku menemukannya sendiri.
- Rangkaian tiga kata terakhirnya memakai kata kerja yang seakar dengan kata kerja pertama di ayat ini, dan yang pertama berpola kedua sedangkan yang kedua berpola pertama. Jadi satu akar dipakai Allah dengan dua pola di dalam satu ayat pendek: yang satu membuat orang tahu, dan yang lain sekadar tahu sendiri. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun, dan yang tidak bisa dihitung adalah mengapa akar itu dipusatkan di bagian pembuka surahnya.
- Kata sambung di tengah ayat tidak menyebut nama, sehingga apa yang diajarkan tidak dinamai sama sekali. Ketiadaan nama itu perlu dijaga: menyisipkannya akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis pengetahuan saja. Jadi Allah menyebut kedudukannya bagi yang menerimanya, bukan isinya. Pergeseran waktu itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang mengabaikannya akan menyatakan waktu yang berlainan. Isi pengajaran yang tidak disebut membuat batasnya tidak bisa ditentukan siapa pun.
- Susunan ayat ini menyatakan bahwa yang diajarkan justru yang belum diketahui sebelumnya. Jadi tidak ada satu pun pengetahuan baru yang bisa diakui seseorang sebagai temuannya sendiri. Apa yang tersisa dari kebanggaan seseorang atas ilmunya ketika seluruh yang baru baginya disebut sebagai pengajaran? Yang bisa dicatat cuma susunan katanya, dan menerangkan isi pengajarannya lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis di sini. Isi pengajaran yang tidak disebut membuat batasnya tidak bisa ditentukan siapa pun.
- Ayat ini menutup bagian pertama surah, dan sesudahnya 96:6 berpindah kepada teguran. Jadi lima ayat pertama seluruhnya tentang apa yang dikerjakan Allah atas manusia, dan empat belas ayat berikutnya tentang manusia dan apa yang dikerjakannya. Peralihan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun. Susunan itu menaruh yang diajar lebih dulu dan isinya belakangan, sehingga pihaknya terbaca sebelum pembacanya tahu apa yang diajarkan. Yang diajar sesuatu yang tidak diketahuinya tidak bisa mengaku menemukannya sendiri.