كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰkallaa inna l-insaana la-yathghaasekali-kali tidak, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas
Terjemahan per kata (4 kata)
- كَلَّاkallaasekali-kali tidak
- إِنَّinnasesungguhnya
- الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
- لَيَطْغَىٰla-yathghaabenar-benar melampaui batas
Inti bacaan
Peringatan tentang kecenderungan negatif manusia: 'sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas', transisi dari tema pembelajaran menuju kritik terhadap watak yang cenderung melampaui batas ketika merasa mampu.
Penjelasan pilihan kata
Kata (كَلَّا, kallaa) distandarkan menjadi "Sekali-kali tidak!", konsisten di seluruh terjemahan ini. Kata itu muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, dan di surah ini ia muncul tiga kali, yaitu di ayat ini, di 96:15, dan di 96:19.
Jadi surah ini memakai kata itu tiga kali, lebih banyak daripada surah 89 yang memakainya dua kali. Ketiga pemakaiannya membuka tiga bagian yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun. Kata (كَلَّا, kallaa) di sini berdiri sendiri, tanpa terikat kepada kata sesudahnya.
Kata kerja (لَيَطْغَىٰ, la-yathghaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti melampaui batas. Ia dipakai di 39 ayat, antara lain 20:24, 53:17, 69:11, 89:11, dan 91:11. Kesejajaran dengan 89:11 dan 91:11 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu akar yang sama menyebut kaum yang melampaui batas.
Jadi akar yang di dua surah tetangga menyebut kaum-kaum terdahulu, di sini menyebut manusia sebagai jenis. Perbedaan itu memperluas cakupannya: yang di sana beberapa kaum yang sudah binasa, dan yang di sini tiap orang tanpa kecuali. Kata (لَيَطْغَىٰ, la-yathghaa) menutup ayatnya, dan hurufnya huruf penegas.
Kata (الْإِنْسَانَ, al-insaana) muncul untuk ketiga kalinya di dalam surah ini sesudah 96:2 dan 96:5. Jadi manusia yang diciptakan dan diajar itu juga manusia yang melampaui batas, dan ketiganya satu pihak yang sama tanpa satu kata pun yang memisahkannya.
Huruf inna di awal kalimat keduanya dan huruf lam di depan kata terakhir membentuk dua penguatan sekaligus. Jadi pernyataan ini disampaikan dengan susunan yang paling kuat yang tersedia, dan penguatan itu datang tepat sesudah kata yang membalikkan arah. Kata (إِنَّ, inna) berdiri di depan pokoknya, dan ia huruf penegas yang lain.
Bentuk (لَيَطْغَىٰ, la-yathghaa) berbentuk sekarang, sehingga yang dinyatakan kebiasaan yang berlangsung, bukan satu perbuatan yang sekali terjadi. Jadi yang ditegur bukan satu kejadian melainkan kecenderungan yang berulang.
Ayat ini membuka bagian kedua surah yang berlangsung sampai 96:8, yaitu tiga ayat tentang manusia secara umum. Sesudahnya 96:9 berpindah kepada satu orang tertentu, dan Al-Qur'an tidak menandai peralihan itu dengan satu kata pun.
Kata (كَلَّا, kallaa) berdiri sendiri tanpa terikat kepada kata sesudahnya, dan ia membuka bagian kedua surah ini. Jadi lima ayat pertama tentang pemberian, dan mulai ayat ini pembicaraan berpindah kepada sikap manusia atas pemberian itu.
Huruf lam di dalam (لَيَطْغَىٰ, la-yathghaa) huruf penegas, bukan huruf tujuan, dan ia bekerja bersama huruf penegas di awal kalimatnya. Jadi satu kalimat memuat dua penegas sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.
Tafsiran
Ayat ini beralih menegur kecenderungan manusia melampaui batas, dan kata pertamanya muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an sementara di surah ini ia muncul tiga kali, yaitu di ayat ini, di 96:15, dan di 96:19.
Jadi surah ini memakai kata itu tiga kali, lebih banyak daripada surah 89 yang memakainya dua kali. Ketiga pemakaiannya membuka tiga bagian yang berbeda.
Kata kerja terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 39 ayat, antara lain 20:24, 53:17, 69:11, 89:11, dan 91:11. Kesejajaran dengan 89:11 dan 91:11 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu akar yang sama menyebut kaum yang melampaui batas.
Jadi akar yang di dua surah tetangga menyebut kaum-kaum terdahulu, di sini menyebut manusia sebagai jenis. Perbedaan itu memperluas cakupannya: yang di sana beberapa kaum yang sudah binasa, dan yang di sini tiap orang tanpa kecuali.
Kata ketiganya muncul untuk ketiga kalinya di dalam surah ini sesudah 96:2 dan 96:5. Jadi manusia yang diciptakan dan diajar itu juga manusia yang melampaui batas. Kata pertamanya berdiri sendiri tanpa terikat kepada kata sesudahnya, dan ia membuka bagian kedua surah ini. Jadi lima ayat pertama tentang pemberian, dan mulai ayat ini pembicaraan berpindah kepada sikap manusia atas pemberian itu.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, dan di surah ini ia muncul tiga kali, yaitu di 96:6, 96:15, dan 96:19. Jadi surah ini memakainya lebih banyak daripada surah 89 yang memakainya dua kali, dan ketiga pemakaiannya membuka tiga bagian yang berbeda tanpa satu kalimat penjelas dari Allah. Perpindahan bagian itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa pokoknya sudah berganti. Melampaui batas disebut sebagai kecenderungan, bukan sebagai satu perbuatan yang selesai.
- Kata kerja terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 39 ayat termasuk 89:11 dan 91:11. Di kedua surah tetangga itu akar yang sama menyebut kaum yang melampaui batas, sedangkan di sini ia menyebut manusia sebagai jenis. Jadi cakupannya meluas dari beberapa kaum yang sudah binasa kepada tiap orang tanpa kecuali. Dua penegas di dalam satu kalimat itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya berdiri di ayat yang sama.
- Kata ketiganya muncul untuk ketiga kalinya di dalam surah ini sesudah 96:2 dan 96:5. Jadi manusia yang diciptakan Allah dan diajar-Nya itu juga manusia yang melampaui batas, dan ketiganya satu pihak yang sama tanpa satu kata pun yang memisahkannya di dalam surahnya. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah maksud di balik keseringannya di sini. Melampaui batas disebut sebagai kecenderungan, bukan sebagai satu perbuatan yang selesai.
- Bentuk kata kerja terakhirnya berbentuk sekarang, sehingga yang dinyatakan kebiasaan yang berlangsung, bukan satu perbuatan yang sekali terjadi. Jadi yang ditegur Allah bukan satu kejadian melainkan kecenderungan yang berulang, dan kecenderungan tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu perbuatan baik. Jadi manusia disebut sebagai jenis, bukan sebagai satu orang tertentu, dan mempersempitnya akan mengubah siapa yang sedang dibicarakan. Bantahan yang datang sebelum sebabnya membuat pembacanya menunggu keterangan yang menyusul.
- Huruf di awal kalimat keduanya dan huruf di depan kata terakhir membentuk dua penguatan sekaligus. Jadi pernyataan Allah disampaikan dengan susunan yang paling kuat yang tersedia, dan penguatan itu datang tepat sesudah kata yang membalikkan arah pembicaraan. Yang tersedia bagi pembacanya cuma bentuk katanya, dan menambahkan keterangan tentang sebabnya berarti mendahului ayat berikutnya. Bantahan yang datang sebelum sebabnya membuat pembacanya menunggu keterangan yang menyusul.
- Ayat ini datang tepat sesudah pernyataan bahwa Allah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Jadi teguran itu berdiri berdampingan dengan pemberian yang baru disebut. Apa yang menghubungkan diajarnya seseorang dengan kecenderungannya melampaui batas, kalau Al-Qur'an tidak menyebut satu kalimat pun? Susunan itu menaruh bantahan lebih dulu dan sebabnya belakangan, sehingga pembacanya membaca penolakan sebelum tahu apa yang ditolak.