إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الرُّجْعَىٰ

Sesungguhnya kepada Tuhanmulah tempat kembali.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الرُّجْعَىٰinna ilaa rabbika r-ruj'aasesungguhnya kepada Tuhanmulah tempat kembali

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. إِلَىٰilaakepada
  3. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  4. الرُّجْعَىٰr-ruj'aatempat kembali

Inti bacaan

Pengingat penyeimbang terhadap kesombongan: 'sesungguhnya kepada Tuhanmulah tempat kembali', koreksi terhadap ilusi kecukupan diri dengan mengingatkan tujuan akhir yang tetap berada di luar kendali manusia.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الرُّجْعَىٰ, ar-ruj'aa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti kembali. Ia dipakai di 103 ayat, antara lain 2:156, 21:35, 86:8, 86:11, dan 89:28. Kesejajaran dengan 86:8, 86:11, dan 89:28 patut dicatat, sebab tiga surah di juz ini memakai akar yang sama.

Di 86:8 akar itu menyebut kuasa mengembalikan manusia, di 86:11 sesuatu yang dimiliki langit, dan di 89:28 perintah kepada jiwa supaya kembali. Jadi empat tempat di juz ini memakai satu akar untuk empat kedudukan yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan satu pun di antaranya. Kata (الرُّجْعَىٰ, ar-ruj'aa) di sini berbentuk kata benda, bukan kata kerja.

Bentuk (الرُّجْعَىٰ, ar-ruj'aa) kata benda bertakrif, bukan kata kerja, sehingga yang dinyatakan perkaranya, bukan peristiwa yang sedang berlangsung. Jadi Al-Qur'an tidak berkata bahwa mereka akan kembali melainkan bahwa tempat kembalinya kepada Tuhanmu.

Kata (إِلَىٰ رَبِّكَ, ilaa rabbika) didahulukan sebelum pokok kalimatnya, dan susunan yang mendahulukan keterangan dipakai untuk menegaskan. Jadi yang ditegaskan bukan bahwa ada tempat kembali melainkan kepada siapa kembalinya.

Kesejajaran dengan 88:25 patut dicatat, sebab di sana susunan yang sama dipakai dengan huruf yang sama untuk menyatakan tempat kembali. Jadi dua surah di juz ini memakai susunan yang berdekatan, dan yang di sana memakai kata ganti orang pertama sedangkan yang di sini menyebut Tuhanmu.

Huruf inna di awal ayat huruf penegas, dan bersama pendahuluan keterangannya susunan ini memikul dua penegasan sekaligus. Jadi ayat ini memakai cara menegaskan yang sama dengan 96:6, dan keduanya berdiri di dalam satu bagian yang sama.

Kata (رَبِّكَ, rabbika) memakai kata ganti orang kedua tunggal, sehingga yang disapa satu orang. Bentuk yang sama dipakai di 96:1 dan 96:3, sehingga tiga ayat di surah ini menyebut Tuhanmu, dan ketiganya berada di bagian yang berbeda.

Ayat ini menutup bagian kedua surah, dan sesudahnya 96:9 berpindah kepada satu orang tertentu yang tidak dinamai. Jadi tiga ayat tentang manusia secara umum ditutup dengan pernyataan tentang tempat kembali, dan Al-Qur'an tidak menandai peralihan itu.

Kata (الرُّجْعَىٰ, ar-ruj'aa) bertakrif dan berbentuk kata benda, bukan kata kerja, sehingga yang dinyatakan kepulangan sebagai perkara yang sudah tetap. Jadi susunannya tidak menyebut siapa yang pulang maupun kapan, dan cakupannya dibiarkan seluas mungkin.

Kata (إِلَىٰ, ilaa) didahulukan dari pokok kalimatnya, dan pendahuluan semacam itu menyatakan pembatasan. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar kepulangan kepada Tuhanmu melainkan kepulangan yang tidak punya arah lain, dan pembatasan itu terbawa di dalam urutan katanya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa kesombongan manusia tidak mengubah kepastian kembalinya kepada Tuhan, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 103 ayat, antara lain 2:156, 21:35, 86:8, 86:11, dan 89:28.

Kesejajaran dengan 86:8, 86:11, dan 89:28 patut dicatat, sebab tiga surah di juz ini memakai akar yang sama. Di 86:8 akar itu menyebut kuasa mengembalikan manusia, di 86:11 sesuatu yang dimiliki langit, dan di 89:28 perintah kepada jiwa supaya kembali.

Bentuk kata terakhirnya kata benda bertakrif, bukan kata kerja, sehingga yang dinyatakan perkaranya, bukan peristiwa yang sedang berlangsung. Jadi Al-Qur'an tidak berkata bahwa mereka akan kembali melainkan bahwa tempat kembalinya kepada Tuhanmu.

Keterangan arahnya didahulukan sebelum pokok kalimatnya, dan susunan yang mendahulukan keterangan dipakai untuk menegaskan. Jadi yang ditegaskan bukan bahwa ada tempat kembali melainkan kepada siapa kembalinya.

Kesejajaran dengan 88:25 patut dicatat, sebab di sana susunan yang sama dipakai dengan huruf yang sama untuk menyatakan tempat kembali. Kata terakhirnya bertakrif dan berbentuk kata benda, bukan kata kerja, sehingga yang dinyatakan kepulangan sebagai perkara yang sudah tetap. Jadi susunannya tidak menyebut siapa yang pulang maupun kapan, dan cakupannya dibiarkan seluas mungkin. Ayat ini menutup bagian kedua surahnya dengan satu kalimat pendek, dan 96:9 sesudahnya berpindah kepada pihak yang sama sekali baru tanpa satu kata penghubung.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 103 ayat termasuk 86:8, 86:11, dan 89:28. Di 86:8 akar itu menyebut kuasa Allah mengembalikan manusia, di 86:11 sesuatu yang dimiliki langit, dan di 89:28 perintah kepada jiwa supaya kembali. Jadi empat tempat di juz ini memakai satu akar untuk empat kedudukan yang berbeda. Pembatasan itu terbawa di dalam urutan katanya saja, dan terjemahan yang mengembalikan urutan biasa akan kehilangan pembatasannya.
  • Bentuk kata terakhirnya kata benda bertakrif, bukan kata kerja, sehingga yang dinyatakan perkaranya, bukan peristiwa yang sedang berlangsung. Jadi Allah tidak berkata bahwa mereka akan kembali melainkan bahwa tempat kembalinya kepada-Nya. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab yang pertama menyebut waktu dan yang kedua menyebut arah. Jadi kepulangan disebut sebagai perkara yang sudah tetap, bukan sebagai perbuatan yang sedang berlangsung, dan bentuk katanya yang menyatakannya.
  • Kesejajaran dengan 88:25 patut dicatat, sebab di sana susunan yang sama dipakai dengan huruf yang sama untuk menyatakan tempat kembali. Jadi dua surah di juz ini memakai susunan yang berdekatan, dan yang di sana memakai kata ganti orang pertama sedangkan yang di sini menyebut Tuhanmu. Angka itu bisa diperiksa siapa pun, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan mengapa justru bentuk itu yang dipilih di ayat ini. Kepulangan yang disebut tanpa waktu tidak bisa ditunda dengan alasan apa pun.
  • Keterangan arahnya didahulukan sebelum pokok kalimatnya, dan susunan yang mendahulukan keterangan dipakai Allah untuk menegaskan. Jadi yang ditegaskan bukan bahwa ada tempat kembali melainkan kepada siapa kembalinya, dan urutan katanya sendiri yang mengerjakan penegasan itu. Yang bisa dicatat cuma apa yang tertulis, dan menambahkan keterangan tentang siapa yang pulang berarti mempersempit cakupannya. Arah yang tunggal membuat seluruh kemungkinan arah lain tertutup tanpa disebut satu per satu.
  • Kata keduanya memakai kata ganti orang kedua tunggal, sehingga yang disapa satu orang. Bentuk yang sama dipakai di 96:1 dan 96:3, sehingga tiga ayat di surah ini menyebut Tuhanmu, dan ketiganya berada di bagian yang berbeda dari surahnya. Susunan itu menutup bagian ini dengan satu kalimat pendek, dan yang datang sesudahnya berpindah kepada pihak yang sama sekali baru. Kepulangan yang disebut tanpa waktu tidak bisa ditunda dengan alasan apa pun.
  • Ayat ini datang tepat sesudah pernyataan bahwa manusia melampaui batas ketika melihat dirinya serba cukup. Jadi Allah menaruh kepastian kembali tepat di belakang perasaan cukup diri. Apa yang tersisa dari perasaan tidak membutuhkan siapa pun ketika arah kembalinya sudah ditetapkan tanpa ia diminta setuju? Perbedaan itu tidak dinyatakan dengan kata tambahan mana pun, dan pembacanya harus melihat bentuk serta letaknya untuk menemukannya. Arah yang tunggal membuat seluruh kemungkinan arah lain tertutup tanpa disebut satu per satu.