Ayat 96:9

أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰa-ra'ayta lladzii yanhaabagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. أَرَأَيْتَa-ra'aytabagaimana pendapatmu
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. يَنْهَىٰyanhaamelarang

Inti bacaan

Transisi menuju kisah konkret penindasan: 'bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang', pengalihan dari prinsip umum menuju contoh spesifik perilaku bermasalah yang akan dijelaskan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (أَرَأَيْتَ, ara-ayta) muncul 9 kali di 6 surah, yaitu di 6:40, 6:47, 17:62, 18:63, 25:43, 96:9, 96:11, 96:13, dan 107:1. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa tiga dari sembilan kemunculannya berada di surah ini, dan ketiganya berdiri di ayat-ayat yang berselang satu.

Jadi satu kata dipakai tiga kali di dalam satu surah untuk membuka tiga pertanyaan berturut-turut. Pemusatan sepadat itu tidak terjadi di surah mana pun yang lain, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun. Kata (أَرَأَيْتَ, ara-ayta) di sini membuka ayatnya, dan bentuknya bertanya.

Kesejajaran dengan 107:1 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama membuka surahnya dan disusul pertanyaan tentang orang yang mendustakan hari perhitungan. Jadi dua surah memakai kata yang sama untuk membuka pertanyaan tentang satu orang yang tidak dinamai. Kata (يَنْهَىٰ, yanhaa) menutup ayatnya, dan bentuknya menyatakan yang berlangsung.

Kata kerja (يَنْهَىٰ, yanhaa) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 16:90 dan 96:9. Di 16:90 kata yang sama dipakai untuk Allah yang melarang perbuatan keji dan kemungkaran, sedangkan di sini ia dipakai untuk manusia yang melarang seorang hamba bersalat.

Jadi satu kata yang cuma muncul di dua tempat memikul larangan Allah atas kejahatan dan larangan manusia atas ibadah. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk yang berulang tanpa diubah. Kata (الَّذِي, alladzii) berdiri di antara keduanya, dan ia menunjuk tanpa menamai.

Akar (يَنْهَىٰ, yanhaa) berarti melarang. Akar itu dipakai di 54 ayat, dan akar yang sama muncul lagi di 96:15 lewat kata kerja yang menyebut orang yang tidak berhenti. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini, dan kedua pemakaiannya menyangkut orang yang sama.

Kesejajaran itu patut dicatat. Yang melarang di ayat ini justru yang diperingatkan supaya berhenti di 96:15, dan keduanya dinamai dengan akar yang sama. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan jaraknya enam ayat.

Kata sambung (الَّذِي, alladzii) berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan pihak yang tidak dinamai. Bentuk yang sama sudah dipakai di 96:1 dan 96:4 untuk menerangkan Tuhan, sehingga satu bentuk dipakai untuk dua pihak yang berlawanan di dalam satu surah.

Ayat ini membuka bagian ketiga surah yang berlangsung sampai 96:14, yaitu enam ayat tentang satu orang yang tidak dinamai. Jadi bagian ini paling panjang di antara empat bagian surahnya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pembagian itu.

Bentuk (يَنْهَىٰ, yanhaa) berbentuk sekarang, sehingga perbuatan melarang dinyatakan sebagai yang masih berlangsung. Jadi ia tidak disebut sebagai satu peristiwa yang sudah selesai, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri.

Kata (الَّذِي, alladzii) dipakai untuk menunjuk orang tanpa menamainya, dan kata yang sama dipakai di 96:1 serta 96:4 untuk menunjuk Tuhan. Jadi satu kata dipakai untuk dua pihak yang paling berjauhan di dalam satu surah pendek.

Tafsiran

Ayat ini beralih ke kecaman terhadap orang yang menghalangi ibadah, dan kata pertamanya muncul 9 kali di 6 surah, yaitu di 6:40, 6:47, 17:62, 18:63, 25:43, 96:9, 96:11, 96:13, dan 107:1.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa tiga dari sembilan kemunculannya berada di surah ini, dan ketiganya berdiri di ayat-ayat yang berselang satu. Jadi satu kata dipakai tiga kali di dalam satu surah untuk membuka tiga pertanyaan berturut-turut.

Kesejajaran dengan 107:1 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama membuka surahnya dan disusul pertanyaan tentang orang yang mendustakan hari perhitungan. Jadi dua surah memakai kata yang sama untuk membuka pertanyaan tentang satu orang yang tidak dinamai.

Kata kerja terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 16:90 dan 96:9. Di 16:90 kata yang sama dipakai untuk Allah yang melarang perbuatan keji dan kemungkaran, sedangkan di sini ia dipakai untuk manusia yang melarang seorang hamba bersalat.

Akarnya dipakai di 54 ayat, dan akar yang sama muncul lagi di 96:15 lewat kata kerja yang menyebut orang yang tidak berhenti. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini, dan kedua pemakaiannya menyangkut orang yang sama. Bentuk kata terakhirnya berbentuk sekarang, sehingga perbuatan melarang dinyatakan sebagai yang masih berlangsung. Jadi ia tidak disebut sebagai satu peristiwa yang sudah selesai, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 9 kali di 6 surah, yaitu di 6:40, 6:47, 17:62, 18:63, 25:43, 96:9, 96:11, 96:13, dan 107:1, dan tiga di antaranya berada di surah ini. Jadi Allah memakai satu kata tiga kali di dalam satu surah untuk membuka tiga pertanyaan berturut-turut, dan pemusatan sepadat itu tidak terjadi di surah mana pun yang lain. Yang tidak dinamai tidak bisa dikurung ke satu orang di satu masa, dan itu yang membuat pertanyaannya berlaku bagi setiap pembacanya.
  • Kata kerja terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 16:90 dan 96:9. Di 16:90 kata yang sama dipakai untuk Allah yang melarang perbuatan keji dan kemungkaran, sedangkan di sini ia dipakai untuk manusia yang melarang seorang hamba bersalat. Jadi satu kata memikul larangan-Nya atas kejahatan dan larangan manusia atas ibadah. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik pemusatannya.
  • Akar kata kerja terakhirnya dipakai di 54 ayat, dan akar yang sama muncul lagi di 96:15 lewat kata kerja yang menyebut orang yang tidak berhenti. Jadi yang melarang di ayat ini justru yang diperingatkan Allah supaya berhenti enam ayat kemudian, dan keduanya dinamai dengan akar yang sama. Jadi bentuk yang menyatakan perbuatan berlangsung dipakai untuk melarang, dan bentuk lampau baru dipakai untuk perbuatan yang lain di ayat sesudahnya. Pertanyaan yang menunjuk tanpa menamai membuat sasarannya bisa berganti di setiap masa.
  • Kesejajaran dengan 107:1 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama membuka surahnya dan disusul pertanyaan tentang orang yang mendustakan hari perhitungan. Jadi dua surah memakai kata yang sama untuk membuka pertanyaan tentang satu orang yang tidak dinamai Allah di dalam keduanya. Yang tersedia bagi pembacanya cuma susunan katanya, dan menambahkan nama atau tempat berarti menaruh keterangan yang tidak tertulis. Melarang disebut sebagai perbuatan yang berlangsung, bukan sebagai satu kejadian tunggal.
  • Kata sambung di ayat ini berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan pihak yang tidak dinamai. Bentuk yang sama sudah dipakai Allah di 96:1 dan 96:4 untuk menerangkan diri-Nya, sehingga satu bentuk dipakai untuk dua pihak yang berlawanan di dalam satu surah tanpa satu tanda pembeda pun. Susunan itu membuka bagian ketiga surah ini, dan perpindahannya tidak ditandai satu kata penghubung pun di antara dua ayatnya. Pertanyaan yang menunjuk tanpa menamai membuat sasarannya bisa berganti di setiap masa.
  • Ayat ini membuka bagian ketiga surah yang berlangsung sampai 96:14, yaitu enam ayat tentang satu orang yang tidak dinamai. Jadi bagian ini paling panjang di antara empat bagian surahnya. Apa yang dinyatakan sebuah susunan ketika bagian terluasnya diberikan kepada satu orang yang namanya tidak pernah disebut? Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan pertentangan antara dua waktu itu.

Ayat 96:10

عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ

Seorang hamba ketika dia bersalat?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ'abdan idzaa shallaaseorang hamba ketika dia bersalat

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. عَبْدًا'abdanseorang hamba
  2. إِذَاidzaaapabila
  3. صَلَّىٰshallaamengerjakan salat

Inti bacaan

Identifikasi korban dari larangan tersebut: 'seorang hamba ketika dia bersalat?', pengungkapan bahwa tindakan yang dilarang adalah ibadah murni, penindasan terhadap praktik spiritual yang sah.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (صَلَّىٰ, shallaa) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 75:31, 87:15, dan 96:10. Kesejajaran dengan 87:15 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama dipakai untuk orang yang mengingat nama Tuhannya lalu bersalat.

Jadi dua surah di juz ini memakai kata yang sama, dan yang di 87:15 menyebut orang yang bersalat sebagai ciri keberuntungan sedangkan yang di sini menyebut hamba yang dilarang bersalat. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (صَلَّىٰ, shallaa) di sini berpola kedua, dan bentuknya menyatakan yang selesai.

Di 75:31 kata yang sama berada di dalam pengingkaran, yaitu tentang orang yang tidak membenarkan dan tidak bersalat. Jadi tiga tempat memakai kata yang sama untuk tiga kedudukan: yang bersalat sebagai ciri keberuntungan, yang tidak bersalat, dan yang dilarang bersalat. Kata (عَبْدًا, 'abdan) membuka ayatnya, dan ia tidak bertakrif sama sekali.

Akar (صَلَّىٰ, shallaa) berarti menghadap dalam doa. Akar itu dipakai di 90 ayat, dan akar itu berbeda dari akar yang berarti terpanggang api. Akar itu memberi kata untuk masuk ke dalam api, meskipun kedua kata terlihat serupa. Perbedaan itu sudah dicatat pada 87:12 dan 87:15 di surah yang berdekatan.

Kata (عَبْدًا, 'abdan) tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang hamba, bukan hamba tertentu. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai yang tertentu akan mempersempit ayatnya menjadi satu peristiwa, padahal yang tertulis menyebut jenis.

Akar (عَبْدًا, 'abdan) berarti mengabdi. Akar itu dipakai di 251 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk menyembah dan untuk hamba. Jadi yang dilarang bersalat dinamai dengan kata yang akarnya sendiri berarti mengabdi.

Kata (إِذَا, idzaa) menandai waktu, sehingga yang dilarang bukan hamba itu secara umum melainkan hamba itu pada saat ia bersalat. Jadi larangannya jatuh tepat pada saat perbuatan itu berlangsung, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu.

Ayat ini melengkapi kalimat yang dimulai di 96:9, sehingga dua ayat itu satu pertanyaan yang dipisah menjadi dua. Jadi jeda bacaannya jatuh di tengah kalimat, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pokok pertanyaannya.

Kata (عَبْدًا, 'abdan) tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang hamba, bukan hamba tertentu yang sudah dikenal. Jadi Al-Qur'an tidak menamai siapa yang dilarang, sama seperti ia tidak menamai siapa yang melarang di 96:9.

Kata (إِذَا, idzaa) menandai waktu yang pasti terjadi, berbeda dari huruf syarat yang dipakai di 96:11. Jadi salatnya dinyatakan sebagai perbuatan yang memang berlangsung, bukan sebagai kemungkinan yang masih ditimbang.

Tafsiran

Ayat ini merinci objek larangan tersebut: seorang hamba yang sedang bersalat, dan kata kerja terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 75:31, 87:15, dan 96:10.

Kesejajaran dengan 87:15 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama dipakai untuk orang yang mengingat nama Tuhannya lalu bersalat. Jadi dua surah di juz ini memakai kata yang sama, dan yang di sana menyebut orang yang bersalat sebagai ciri keberuntungan sedangkan yang di sini menyebut hamba yang dilarang.

Di 75:31 kata yang sama berada di dalam pengingkaran, yaitu tentang orang yang tidak membenarkan dan tidak bersalat. Jadi tiga tempat memakai kata yang sama untuk tiga kedudukan yang berbeda.

Akarnya dipakai di 90 ayat, dan akar itu berbeda dari akar yang memberi kata untuk masuk ke dalam api, meskipun kedua kata terlihat serupa. Perbedaan itu sudah dicatat pada 87:12 dan 87:15 di surah yang berdekatan.

Kata pertamanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang hamba, bukan hamba tertentu. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai yang tertentu akan mempersempit ayatnya menjadi satu peristiwa. Kata pertamanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang hamba, bukan hamba tertentu yang sudah dikenal. Jadi Al-Qur'an tidak menamai siapa yang dilarang, sama seperti ia tidak menamai siapa yang melarang di 96:9 pada ayat sebelumnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 75:31, 87:15, dan 96:10. Di 87:15 kata yang sama dipakai untuk orang yang mengingat nama Allah lalu bersalat, dan di 75:31 ia berada di dalam pengingkaran. Jadi tiga tempat memakai kata yang sama untuk tiga kedudukan: yang bersalat, yang tidak bersalat, dan yang dilarang bersalat. Dua pihak yang sama-sama tidak dinamai itu berdiri di dua ayat berturut-turut, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu nama pun di antara keduanya.
  • Akar kata kerja terakhirnya dipakai di 90 ayat, dan akar itu berbeda dari akar yang memberi kata untuk masuk ke dalam api meskipun kedua kata terlihat serupa. Perbedaan itu sudah dicatat pada 87:12 dan 87:15 di surah yang berdekatan, dan pembacanya harus memeriksa akarnya, bukan bunyinya. Angka itu bisa diperiksa siapa pun, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan mengapa kata itu dipakai di tempat-tempat yang berjauhan. Hamba yang tidak dinamai membuat pembacanya tidak bisa membatasi kejadiannya pada satu orang.
  • Kata pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 251 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk menyembah dan untuk hamba. Jadi yang dilarang bersalat dinamai Allah dengan kata yang akarnya sendiri berarti mengabdi, sehingga larangan itu menentang apa yang sudah tertulis di dalam nama orangnya. Jadi salatnya dinyatakan sebagai perbuatan yang memang berlangsung, dan perbedaan itu memisahkannya dari kemungkinan yang disebut di ayat sesudahnya.
  • Kata pertamanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang hamba, bukan hamba tertentu. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai yang tertentu akan mempersempit ayatnya menjadi satu peristiwa, padahal Allah menyebut jenis perbuatannya yang berlaku bagi siapa pun. Yang bisa dicatat cuma apa yang tertulis, dan menambahkan keterangan tentang siapa hamba itu berarti mempersempit apa yang dibiarkan luas. Waktu yang pasti terjadi membedakan salatnya dari kemungkinan yang masih ditimbang di ayat lain.
  • Kata keduanya menandai waktu, sehingga yang dilarang bukan hamba itu secara umum melainkan hamba itu pada saat ia bersalat. Jadi larangannya jatuh tepat pada saat perbuatan itu berlangsung. Apa yang membedakan melarang seseorang sebelum ia mengerjakan sesuatu dan menghentikannya di tengah pekerjaannya? Susunan itu menaruh hamba lebih dulu dan perbuatannya belakangan, sehingga pihaknya terbaca sebelum pembacanya tahu apa yang dikerjakannya.
  • Ayat ini melengkapi kalimat yang dimulai di 96:9, sehingga dua ayat itu satu pertanyaan yang dipisah menjadi dua. Jadi jeda bacaannya jatuh di tengah kalimat, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pokok pertanyaan yang diajukan Allah. Perbedaan itu tidak dinyatakan dengan kata tambahan, dan pembacanya harus membandingkan dua ayat untuk menemukan pertentangannya. Hamba yang tidak dinamai membuat pembacanya tidak bisa membatasi kejadiannya pada satu orang.

Ayat 96:11

أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَىٰ

Bagaimana pendapatmu jika dia berada di atas petunjuk,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَىٰa-ra'ayta in kaana 'alaa l-hudaabagaimana pendapatmu jika dia berada di atas petunjuk

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. أَرَأَيْتَa-ra'aytabagaimana pendapatmu
  2. إِنْinjika
  3. كَانَkaanaia berada
  4. عَلَى'alaaatas
  5. الْهُدَىٰl-hudaapetunjuk

Inti bacaan

Pertanyaan retoris yang menguji logika penindas: 'bagaimana pendapatmu jika dia berada di atas petunjuk', tantangan yang mengundang refleksi tentang kemungkinan bahwa yang dilarang justru berada di jalan yang benar.

Penjelasan pilihan kata

Kata (أَرَأَيْتَ, ara-ayta) diulang persis dari 96:9, dan ia muncul sekali lagi di 96:13. Jadi tiga dari sembilan kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini, dan ketiganya berdiri di ayat yang berselang satu.

Kata (الْهُدَىٰ, al-hudaa) berasal dari akar yang berarti menunjukkan jalan. Akar itu dipakai di 268 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Kesejajaran dengan 92:12 patut dicatat, sebab di sana kata yang seakar dipakai untuk petunjuk yang menjadi tanggungan Yang berfirman.

Jadi akar yang di surah tetangga menamai apa yang ditanggung-Nya, di sini menamai keadaan orang yang dilarang bersalat. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya yang berulang di dua surah berdekatan. Kata (الْهُدَىٰ, al-hudaa) di sini bertakrif, sehingga yang disebut petunjuk sebagai jenis.

Kata (إِنْ, in) huruf syarat, sehingga yang dinyatakan kemungkinan, bukan kenyataan. Huruf yang sama dipakai lagi di awal bagian kedua 96:13, sehingga dua ayat di surah ini memakai huruf syarat yang sama untuk dua kemungkinan yang berlawanan.

Susunan ayat ini tidak memuat jawaban bagi syaratnya, dan jawabannya tidak pernah disebutkan sampai ujung surah. Jadi Al-Qur'an membuka syarat tanpa menutupnya, dan susunan menggantung seperti itu dipakai lagi di 96:13.

Kata (عَلَى, 'alaa) menyatakan berada di atas sesuatu, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar mengikuti petunjuk melainkan berdiri di atasnya. Jadi gambarannya kedudukan yang mantap, bukan perjalanan yang masih berlangsung.

Kata ganti pada kata kerja di ayat ini menunjuk hamba yang disebut di 96:10, bukan orang yang melarang. Jadi dua ayat ini masih berbicara tentang pihak yang sama, dan pergantian pihaknya baru terjadi di 96:13. Kata (كَانَ, kaana) menjadi kata kerjanya, dan pelakunya tidak disebut dengan nama.

Ayat ini dan 96:12 satu kalimat yang dipisah menjadi dua, sebab huruf pilihan di awal 96:12 menyambungkannya. Jadi dua kemungkinan tentang hamba itu disebut di dalam satu tarikan, dan keduanya sama-sama tidak dijawab.

Kata (كَانَ, kaana) kata kerja yang menyatakan keberadaan, dan ia menuntut pokok serta keterangan. Jadi susunan ayat ini menyatakan keadaan seseorang, bukan perbuatannya, dan perbedaan itu memisahkannya dari susunan di 96:12.

Kata (أَرَأَيْتَ, ara-ayta) tersusun dari huruf tanya dan kata kerja melihat, sehingga bentuknya bertanya tentang penglihatan. Jadi yang diminta bukan pendapat melainkan perhatian, dan perbedaan itu terbawa di dalam susunan katanya.

Tafsiran

Ayat ini mempertanyakan logika pelarangan tersebut jika yang dilarang justru berada di jalan petunjuk, dan kata pertamanya diulang persis dari 96:9 serta muncul sekali lagi di 96:13.

Jadi tiga dari sembilan kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini, dan ketiganya berdiri di ayat yang berselang satu. Kata terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 268 ayat.

Kesejajaran dengan 92:12 patut dicatat, sebab di sana kata yang seakar dipakai untuk petunjuk yang menjadi tanggungan Yang berfirman. Jadi akar yang di surah tetangga menamai apa yang ditanggung-Nya, di sini menamai keadaan orang yang dilarang bersalat.

Kata keduanya huruf syarat, sehingga yang dinyatakan kemungkinan, bukan kenyataan. Huruf yang sama dipakai lagi di 96:13, sehingga dua ayat di surah ini memakai huruf syarat yang sama untuk dua kemungkinan yang berlawanan.

Susunan ayat ini tidak memuat jawaban bagi syaratnya, dan jawabannya tidak pernah disebutkan sampai ujung surah. Jadi Al-Qur'an membuka syarat tanpa menutupnya. Kata ketiganya kata kerja yang menyatakan keberadaan, dan ia menuntut pokok serta keterangan. Jadi susunan ayat ini menyatakan keadaan seseorang, bukan perbuatannya, dan perbedaan itu memisahkannya dari susunan di 96:12 yang menyebut perbuatan.

Renungan dan Hikmah

  • Susunan ayat ini tidak memuat jawaban bagi syaratnya, dan jawabannya tidak pernah disebutkan Allah sampai ujung surah. Jadi Al-Qur'an membuka syarat tanpa menutupnya, dan susunan menggantung seperti itu dipakai lagi di 96:13. Apa yang dikerjakan sebuah pertanyaan bersyarat pada pembacanya ketika jawabannya tidak pernah diberikan? Yang menggantung itu tidak pernah ditutup sampai ujung surahnya, dan pembacanya dibiarkan menimbang sendiri apa yang seharusnya menyusul.
  • Kata terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 268 ayat, dan kesejajaran dengan 92:12 patut dicatat sebab di sana kata yang seakar dipakai untuk petunjuk yang menjadi tanggungan Allah. Jadi akar yang di surah tetangga menamai apa yang ditanggung-Nya, di sini menamai keadaan orang yang dilarang bersalat. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik jarak yang teratur itu.
  • Kata pertamanya diulang persis dari 96:9 dan muncul sekali lagi di 96:13. Jadi tiga dari sembilan kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini, dan ketiganya berdiri di ayat yang berselang satu. Allah menyusun tiga pertanyaan dengan jarak yang teratur tanpa satu kata penanda pun. Jadi keadaan yang disebut kedudukan yang mantap, bukan perjalanan yang masih berlangsung, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf. Kemungkinan yang baik disebut lebih dulu sebelum kemungkinan yang buruk tentang pihak lain.
  • Kata keempatnya menyatakan berada di atas sesuatu, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar mengikuti petunjuk melainkan berdiri di atasnya. Jadi gambarannya kedudukan yang mantap, bukan perjalanan yang masih berlangsung. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf, dan menggantinya mengubah seluruh gambarannya. Yang tersedia bagi pembacanya cuma susunan katanya, dan menambahkan jawaban bagi syaratnya berarti menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka.
  • Kata keduanya huruf syarat, sehingga yang dinyatakan kemungkinan, bukan kenyataan. Huruf yang sama dipakai Allah lagi di 96:13 untuk kemungkinan yang berlawanan. Jadi dua kemungkinan disebut tanpa satu pun dinyatakan sebagai yang benar-benar terjadi, dan pembacanya sendiri yang menimbang. Susunan itu menaruh kemungkinan yang baik lebih dulu, dan kemungkinan yang buruk baru disebut dua ayat sesudahnya tentang pihak yang lain. Berdiri di atas petunjuk menyatakan kedudukan yang mantap, bukan perjalanan yang belum selesai.
  • Kata ganti pada kata kerja di ayat ini menunjuk hamba yang disebut di 96:10, bukan orang yang melarang. Jadi dua ayat ini masih berbicara tentang pihak yang sama, dan pergantian pihaknya baru terjadi di 96:13. Allah tidak menandai pergantian itu dengan satu kata pun. Perbedaan pihak itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat kepada siapa kata gantinya kembali. Kemungkinan yang baik disebut lebih dulu sebelum kemungkinan yang buruk tentang pihak lain.

Ayat 96:12

أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَىٰ

Atau menyuruh bertakwa?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَىٰaw amara bi-t-taqwaaatau menyuruh bertakwa

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. أَوْawatau
  2. أَمَرَamaramemerintahkan
  3. بِالتَّقْوَىٰbi-t-taqwaadengan takwa

Inti bacaan

Perluasan pertanyaan tentang kebaikan yang dihalangi: 'atau menyuruh bertakwa?', penambahan skenario bahwa yang dihalangi bukan hanya benar secara pribadi, tetapi juga mengajak kepada kebaikan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (بِالتَّقْوَىٰ, bi-t-taqwaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menjaga dari bahaya. Ia dipakai di 237 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Kesejajaran dengan 92:5 dan 92:17 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu akar yang sama dipakai untuk sikap bertakwa.

Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat memberi satu bentuk yang cuma dipakai sekali, dan bentuk itu berdiri di ayat ini. Kelangkaan bentuk dan keseringan akar bertemu di dalam satu kata, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu. Kata (بِالتَّقْوَىٰ, bi-t-taqwaa) di sini didahului huruf ba yang menyatakan sasaran.

Kata kerja (أَمَرَ, amara) berasal dari akar yang berarti menyuruh. Akar itu dipakai di 189 ayat, antara lain 7:28, 16:90, 24:21, dan 65:6. Kesejajaran dengan 16:90 patut dicatat, sebab di sana akar ini dan akar yang dipakai di 96:9 berdiri berdampingan di dalam satu ayat.

Jadi 16:90 memuat pasangan akar yang sama dengan pasangan 96:9 dan ayat ini, yaitu memerintahkan dan melarang. Di sana keduanya disandarkan kepada Allah, dan di sini yang melarang manusia sedangkan yang menyuruh hamba yang dilarang. Kata (أَمَرَ, amara) menjadi kata kerjanya, dan sasarannya menyusul di belakang.

Kata (أَوْ, aw) huruf pilihan, sehingga ayat ini menyebut kemungkinan kedua tentang hamba itu, bukan keadaan yang menyertai kemungkinan pertama. Jadi dua kemungkinan disebut sebagai pilihan, dan salah satunya sudah cukup untuk menjadi pokok pertanyaannya.

Susunan ayat ini melanjutkan syarat yang dibuka di 96:11, dan jawabannya tidak pernah disebutkan. Jadi dua ayat itu satu kalimat bersyarat yang menggantung, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa syarat yang mendahuluinya.

Huruf ba di depan (بِالتَّقْوَىٰ, bi-t-taqwaa) menyatakan sasaran perintah, sehingga yang dinyatakan menyuruh kepada takwa, bukan menyuruh dengan takwa. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab keduanya menyatakan hubungan yang berlainan.

Kata (بِالتَّقْوَىٰ, bi-t-taqwaa) bertakrif, sehingga yang disebut takwa sebagai jenis, bukan satu perbuatan tertentu. Jadi cakupannya seluas mungkin, dan mempersempitnya kepada satu bentuk akan mengurangi apa yang dinyatakan di dalam ayatnya.

Kata (أَمَرَ, amara) berbentuk lampau dan berpola pertama, dan itu bentuk yang paling sederhana yang tersedia bagi akarnya. Jadi tidak ada tambahan huruf yang menyatakan kesungguhan, dan yang dinyatakan perbuatannya sendiri tanpa keterangan tentang kadarnya.

Kata (أَوْ, aw) menyambungkan ayat ini kepada keterangan di 96:11, bukan kepada pertanyaannya. Jadi yang berpasangan dua keadaan hamba itu, dan pertanyaannya sendiri tidak diulang, sehingga satu pertanyaan menaungi dua ayat sekaligus.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan pertanyaan retoris tentang absurditas melarang seruan takwa, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 237 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul.

Kesejajaran dengan 92:5 dan 92:17 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu akar yang sama dipakai untuk sikap bertakwa. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat memberi satu bentuk yang cuma dipakai sekali, dan bentuk itu berdiri di ayat ini.

Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 189 ayat, antara lain 7:28, 16:90, 24:21, dan 65:6. Kesejajaran dengan 16:90 patut dicatat, sebab di sana akar ini dan akar yang dipakai di 96:9 berdiri berdampingan di dalam satu ayat.

Jadi 16:90 memuat pasangan akar yang sama dengan pasangan 96:9 dan ayat ini, yaitu memerintahkan dan melarang. Di sana keduanya disandarkan kepada Allah, dan di sini yang melarang manusia sedangkan yang menyuruh hamba yang dilarang.

Kata pertamanya huruf pilihan, sehingga ayat ini menyebut kemungkinan kedua tentang hamba itu, bukan keadaan yang menyertai kemungkinan pertama. Kata keduanya berbentuk lampau dan berpola pertama, dan itu bentuk yang paling sederhana yang tersedia bagi akarnya. Jadi tidak ada tambahan huruf yang menyatakan kesungguhan, dan yang dinyatakan perbuatannya sendiri tanpa keterangan tentang kadarnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 189 ayat, dan kesejajaran dengan 16:90 patut dicatat sebab di sana akar ini dan akar yang dipakai di 96:9 berdiri berdampingan di dalam satu ayat. Di 16:90 keduanya disandarkan kepada Allah, dan di sini yang melarang manusia sedangkan yang menyuruh hamba yang dilarang. Dua kemungkinan itu disebut sebagai pilihan, dan salah satunya sudah cukup untuk membuat larangan di ayat sebelumnya terbaca sebagai keganjilan.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 237 ayat dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat memberi satu bentuk yang cuma dipakai Allah sekali, dan kelangkaan bentuk serta keseringan akar bertemu di dalam satu kata. Angka itu bisa diperiksa siapa pun, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan mengapa bentuk yang cuma sekali dipakai justru ditaruh di sini.
  • Huruf di depan kata terakhirnya menyatakan sasaran perintah, sehingga yang dinyatakan menyuruh kepada takwa, bukan menyuruh dengan takwa. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab yang pertama menyebut isi perintahnya dan yang kedua menyebut sikap orang yang memerintah. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan mempersempitnya kepada satu perbuatan akan mengurangi apa yang dinyatakan susunan katanya. Menyuruh kepada takwa disebut berdampingan dengan berada di atas petunjuk sebagai pilihan.
  • Kata pertamanya huruf pilihan, sehingga ayat ini menyebut kemungkinan kedua tentang hamba itu, bukan keadaan yang menyertai kemungkinan pertama. Jadi dua kemungkinan disebut Allah sebagai pilihan, dan salah satunya sudah cukup untuk menjadi pokok pertanyaannya. Yang bisa dicatat cuma di mana kata itu dipakai, dan menyimpulkan lebih jauh berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan ayatnya. Menyuruh kepada takwa disebut berdampingan dengan berada di atas petunjuk sebagai pilihan.
  • Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang disebut takwa sebagai jenis, bukan satu perbuatan tertentu. Jadi cakupannya seluas mungkin, dan mempersempitnya kepada satu bentuk akan mengurangi apa yang dinyatakan Allah. Yang dilarang karena itu bukan satu perbuatan melainkan seluruh seruan kepadanya. Susunan itu menyambung ayat sebelumnya tanpa mengulang pertanyaannya, sehingga satu pertanyaan menaungi dua ayat sekaligus tanpa penanda. Takwa sebagai jenis mencakup seluruh bentuknya tanpa satu pun disebut secara khusus.
  • Susunan ayat ini melanjutkan syarat yang dibuka di 96:11, dan jawabannya tidak pernah disebutkan Allah. Jadi dua ayat itu satu kalimat bersyarat yang menggantung. Apa yang tersisa pada pembacanya ketika dua kemungkinan yang baik disebutkan lalu ditinggalkan tanpa satu kesimpulan pun? Perbedaan hubungan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menggantinya akan menyatakan hubungan yang berlainan. Takwa sebagai jenis mencakup seluruh bentuknya tanpa satu pun disebut secara khusus.

Ayat 96:13

أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

Bagaimana pendapatmu jika dia mendustakan dan berpaling?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰa-ra'ayta in kadzdzaba wa-tawallaabagaimana pendapatmu jika dia mendustakan dan berpaling

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَرَأَيْتَa-ra'aytabagaimana pendapatmu
  2. إِنْinjika
  3. كَذَّبَkadzdzabamendustakan
  4. وَتَوَلَّىٰwa-tawallaadan berpaling

Inti bacaan

Pembalikan fokus menuju karakter penindas sendiri: 'bagaimana pendapatmu jika dia mendustakan dan berpaling?', pengalihan pertanyaan dari korban menuju pelaku, mengungkap dua ciri utama karakter yang melarang kebaikan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (أَرَأَيْتَ, ara-ayta) muncul untuk ketiga kalinya di dalam surah ini sesudah 96:9 dan 96:11. Jadi tiga dari sembilan kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berkumpul di dalam satu surah, dan ketiganya berjarak dua ayat.

Rangkaian (كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ, kadzdzaba wa tawallaa) muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:48, 75:32, 92:16, dan 96:13. Kesejajaran dengan 92:16 patut dicatat, sebab di sana rangkaian yang sama persis dipakai untuk merinci ciri orang yang paling celaka.

Jadi dua surah yang berdekatan memakai rangkaian yang sama persis, dan yang di 92:16 menerangkan orang yang paling celaka sedangkan yang di sini menerangkan orang yang melarang. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Kesejajaran dengan 88:23 patut dicatat pula, sebab di sana dua kata kerja yang seakar berdiri berdampingan dengan urutan yang terbalik. Jadi lima tempat memakai pasangan akar yang sama, dan urutannya tidak seragam di seluruhnya. Kata (وَتَوَلَّىٰ, wa tawallaa) di sini berpola kelima, sehingga perbuatannya pilihannya.

Kata (إِنْ, in) huruf syarat, sama seperti huruf di 96:11. Jadi dua ayat memakai huruf yang sama untuk dua kemungkinan yang berlawanan: yang di sana tentang hamba yang berada di atas petunjuk, dan yang di sini tentang orang yang mendustakan.

Perbedaan pihaknya patut dicatat. Dua pertanyaan pertama tentang hamba yang dilarang, dan pertanyaan ketiga ini tentang orang yang melarang. Jadi arah pertanyaannya berbalik tepat di ayat ini, dan Al-Qur'an tidak menandai pembalikan itu dengan satu kata pun.

Susunan ayat ini tidak memuat jawaban bagi syaratnya, sama seperti susunan di 96:11 dan 96:12. Jadi tiga pertanyaan berturut-turut dibiarkan tanpa jawaban, dan yang datang sesudahnya di 96:14 justru pertanyaan lain yang berbeda bentuknya.

Kedua kata kerja di ayat ini berbentuk lampau, sedangkan kata kerja di 96:9 berbentuk sekarang. Jadi perbuatan melarang disebut sebagai yang berlangsung, dan perbuatan mendustakan serta berpaling sebagai yang sudah selesai. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Kata (كَذَّبَ, kadzdzaba) mendahuluinya, dan keduanya sama-sama berbentuk lampau.

Kata (كَذَّبَ, kadzdzaba) berpola kedua, sehingga artinya menyatakan sesuatu dusta, bukan berdusta sendiri. Jadi perbuatannya tertuju kepada sesuatu di luar dirinya, dan Al-Qur'an tidak menyebut apa yang didustakan di dalam ayat ini.

Bentuk (وَتَوَلَّىٰ, wa tawallaa) berpola kelima, sehingga perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri. Jadi berpaling itu pilihannya, bukan sesuatu yang menimpanya, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya.

Tafsiran

Ayat ini membalikkan sudut pandang ke pihak yang melarang: bagaimana jika justru dia yang mendustakan, dan kata pertamanya muncul untuk ketiga kalinya di dalam surah ini sesudah 96:9 dan 96:11.

Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:48, 75:32, 92:16, dan 96:13. Kesejajaran dengan 92:16 patut dicatat, sebab di sana rangkaian yang sama persis dipakai untuk merinci ciri orang yang paling celaka.

Jadi dua surah yang berdekatan memakai rangkaian yang sama persis, dan yang di 92:16 menerangkan orang yang paling celaka sedangkan yang di sini menerangkan orang yang melarang.

Kesejajaran dengan 88:23 patut dicatat pula, sebab di sana dua kata kerja yang seakar berdiri berdampingan dengan urutan yang terbalik. Jadi lima tempat memakai pasangan akar yang sama, dan urutannya tidak seragam di seluruhnya.

Perbedaan pihaknya patut dicatat. Dua pertanyaan pertama tentang hamba yang dilarang, dan pertanyaan ketiga ini tentang orang yang melarang. Jadi arah pertanyaannya berbalik tepat di ayat ini. Kata ketiganya berpola kedua, sehingga artinya menyatakan sesuatu dusta, bukan berdusta sendiri. Jadi perbuatannya tertuju kepada sesuatu di luar dirinya, dan Al-Qur'an tidak menyebut apa yang didustakan di dalam ayat ini maupun di 96:14.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:48, 75:32, 92:16, dan 96:13. Kesejajaran dengan 92:16 patut dicatat, sebab di sana rangkaian yang sama persis dipakai Allah untuk merinci ciri orang yang paling celaka. Jadi dua surah berdekatan memakai rangkaian yang sama untuk dua pihak yang berbeda sebutannya. Pembalikan arah itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa pihak yang ditanyakan sudah berganti.
  • Kesejajaran dengan 88:23 patut dicatat pula, sebab di sana dua kata kerja yang seakar berdiri berdampingan dengan urutan yang terbalik. Jadi lima tempat memakai pasangan akar yang sama, dan urutannya tidak seragam di seluruhnya. Allah tidak menerangkan perbedaan urutan itu dengan satu kalimat pun. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik pemakaian yang berulang.
  • Dua pertanyaan pertama tentang hamba yang dilarang, dan pertanyaan ketiga ini tentang orang yang melarang. Jadi arah pertanyaan Allah berbalik tepat di ayat ini, dan Al-Qur'an tidak menandai pembalikan itu dengan satu kata pun. Pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa pihaknya sudah berganti. Jadi perbuatannya tertuju kepada sesuatu di luar dirinya, dan Al-Qur'an tidak menyebut apa yang didustakan di dalam ayat ini sama sekali. Mendustakan dan berpaling disebut sebagai dua perbuatan yang sudah selesai, bukan yang berlangsung.
  • Susunan ayat ini tidak memuat jawaban bagi syaratnya, sama seperti susunan di 96:11 dan 96:12. Jadi tiga pertanyaan berturut-turut dibiarkan Allah tanpa jawaban, dan yang datang sesudahnya di 96:14 justru pertanyaan lain yang berbeda bentuknya. Tidak satu pun ditutup dengan kesimpulan. Yang tersedia bagi pembacanya cuma pasangan katanya, dan menambahkan keterangan tentang sasarannya berarti menaruh apa yang tidak tertulis. Pertanyaan ketiga membalik arahnya tanpa satu kata penanda pun di antara dua ayatnya.
  • Kedua kata kerja di ayat ini berbentuk lampau, sedangkan kata kerja di 96:9 berbentuk sekarang. Jadi perbuatan melarang disebut Allah sebagai yang berlangsung, dan perbuatan mendustakan serta berpaling sebagai yang sudah selesai. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan waktu itu dengan satu kalimat pun. Susunan itu menutup rangkaian tiga pertanyaan, dan yang datang sesudahnya berbentuk pertanyaan lain yang jenisnya sama sekali berbeda. Pertanyaan ketiga membalik arahnya tanpa satu kata penanda pun di antara dua ayatnya.
  • Kata keduanya huruf syarat, sama seperti huruf di 96:11, dan dua ayat memakai huruf yang sama untuk dua kemungkinan yang berlawanan. Apa yang dikerjakan sebuah susunan pada pembacanya ketika ia diminta membayangkan kebaikan pihak yang satu dan keburukan pihak yang lain dengan huruf yang sama? Perbedaan pola itu terbawa di dalam huruf tambahannya, dan menggantinya akan mengubah apakah perbuatannya pilihan atau sesuatu yang menimpanya.

Ayat 96:14

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰa-lam ya'lam bi-anna llaaha yaraatidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. أَلَمْa-lamtidakkah
  2. يَعْلَمْya'lamdiketahuinya
  3. بِأَنَّbi-annakarena
  4. اللَّهَllaahaAllah
  5. يَرَىٰyaraaia lihat

Inti bacaan

Pengingat pengawasan yang diabaikan: 'tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?', kritik terhadap kelalaian penindas dalam menyadari bahwa tindakannya tidak luput dari pengawasan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(segala perbuatannya)" tidak dipakai. Kata kerja (يَرَىٰ, yaraa) berdiri tanpa objek, dan menyisipkan apa yang dilihat akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis saja, padahal yang tertulis membiarkannya seluas mungkin.

Nama (اللَّهَ, Allaaha) disebut di ayat ini, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyebut nama-Nya. Delapan belas ayat lainnya menyebut Dia sebagai Tuhanmu, lewat kata ganti, atau lewat bentuk kata kerja, dan nama-Nya cuma muncul sekali.

Kesejajaran dengan 87:7 dan 88:24 patut dicatat, sebab di kedua surah itu nama-Nya juga cuma disebut sekali. Jadi tiga surah di juz ini sama-sama menahan penyebutan nama-Nya sampai satu tempat saja, dan Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu.

Kata kerja (يَرَىٰ, yaraa) berasal dari akar yang berarti melihat dan menimbang. Akar itu muncul lima kali di dalam surah ini, yaitu di 96:7, 96:9, 96:11, 96:13, dan ayat ini. Jadi akar itu yang paling sering muncul di surah ini, dan ayat ini pemakaiannya yang terakhir.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Manusia melihat dirinya cukup di 96:7, yang disapa diminta melihat tiga kali di 96:9 sampai 96:13, dan Allah melihat di ayat ini. Jadi satu akar berpindah dari pandangan manusia atas dirinya kepada pandangan-Nya atas segala sesuatu.

Kata kerja (يَعْلَمْ, ya'lam) berasal dari akar yang berarti mengetahui. Akar itu dipakai di 728 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Di dalam surah ini akar itu berdiri di tiga ayat, yaitu 96:4, 96:5, dan ayat ini.

Kesejajaran itu patut dicatat. Yang diajar Tuhan apa yang tidak diketahuinya di 96:5, dan di sini ia ditanya apakah ia tidak mengetahui bahwa Allah melihat. Jadi satu akar mengikat pemberian pengetahuan dan kelalaian atas pengetahuan yang paling pokok.

Susunan (أَلَمْ يَعْلَمْ, alam ya'lam) berbentuk pertanyaan yang mengandung penegasan, sehingga yang dinyatakan bukan keraguan melainkan kepastian. Bentuk semacam itu dipakai juga di 89:6 dan 90:8, dan di ketiga tempat itu pertanyaannya tidak menunggu jawaban.

Kata (بِأَنَّ, bi-anna) tersusun dari huruf ba dan huruf penegas, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar isi pengetahuan melainkan isi yang ditegaskan. Jadi susunannya menaruh penegasan di dalam anak kalimatnya, dan bukan di dalam kalimat pokoknya.

Bentuk (يَرَىٰ, yaraa) berbentuk sekarang, sehingga penglihatan-Nya dinyatakan sebagai yang berlangsung terus. Jadi ia tidak disebut sebagai satu peristiwa, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya tanpa satu kata keterangan pun.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa pengawasan Allah meliputi seluruh perbuatan manusia, dan nama-Nya disebut di ayat ini sebagai satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyebutnya.

Delapan belas ayat lainnya menyebut Dia sebagai Tuhanmu, lewat kata ganti, atau lewat bentuk kata kerja. Kesejajaran dengan 87:7 dan 88:24 patut dicatat, sebab di kedua surah itu nama-Nya juga cuma disebut sekali.

Kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang muncul lima kali di dalam surah ini, yaitu di 96:7, 96:9, 96:11, 96:13, dan ayat ini. Jadi akar itu yang paling sering muncul di surah ini, dan ayat ini pemakaiannya yang terakhir.

Manusia melihat dirinya cukup di 96:7, yang disapa diminta melihat tiga kali di 96:9 sampai 96:13, dan Allah melihat di ayat ini. Jadi satu akar berpindah dari pandangan manusia atas dirinya kepada pandangan-Nya atas segala sesuatu.

Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 728 ayat, dan di dalam surah ini akar itu berdiri di tiga ayat, yaitu 96:4, 96:5, dan ayat ini. Yang diajar Tuhan apa yang tidak diketahuinya di 96:5, dan di sini ia ditanya apakah ia tidak mengetahui bahwa Allah melihat. Kata ketiganya tersusun dari huruf ba dan huruf penegas, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar isi pengetahuan melainkan isi yang ditegaskan. Jadi susunannya menaruh penegasan di dalam anak kalimatnya, dan bukan di dalam kalimat pokoknya.

Renungan dan Hikmah

  • Nama Allah disebut di ayat ini, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyebut nama-Nya. Delapan belas ayat lainnya menyebut Dia sebagai Tuhanmu, lewat kata ganti, atau lewat bentuk kata kerja. Kesejajaran dengan 87:7 dan 88:24 patut dicatat, sebab di kedua surah itu nama-Nya juga cuma disebut sekali. Tiga cara penyebutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma di mana masing-masing dipakai di sepanjang surahnya. Penglihatan yang tidak disebut objeknya mencakup seluruhnya tanpa satu pengecualian.
  • Kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang muncul lima kali di dalam surah ini, yaitu di 96:7, 96:9, 96:11, 96:13, dan 96:14. Manusia melihat dirinya cukup di 96:7, yang disapa diminta melihat tiga kali, dan Allah melihat di ayat ini. Jadi satu akar berpindah dari pandangan manusia atas dirinya kepada pandangan-Nya atas segala sesuatu. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penahanan nama-Nya sampai ayat ini.
  • Kata kerja keduanya berasal dari akar yang berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 96:4, 96:5, dan 96:14. Yang diajar Allah apa yang tidak diketahuinya di 96:5, dan di sini ia ditanya apakah ia tidak mengetahui bahwa Dia melihat. Jadi satu akar mengikat pemberian pengetahuan dan kelalaian atas pengetahuan yang paling pokok. Jadi cakupan penglihatan-Nya dibiarkan seluas mungkin, dan menyebut apa yang dilihat akan mempersempit apa yang sengaja tidak disebut.
  • Kata kerja terakhirnya berdiri tanpa objek, dan menyisipkan apa yang dilihat akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis saja. Jadi Allah tidak menyebut apa yang dilihat-Nya, dan cakupannya dibiarkan seluas mungkin. Apa yang berubah pada perbuatan seseorang ketika yang diketahuinya cuma bahwa Dia melihat, tanpa disebut apa? Yang tersedia bagi pembacanya cuma susunan katanya, dan menambahkan objek bagi kata kerjanya berarti menutup apa yang dibiarkan terbuka.
  • Susunan dua kata pertamanya berbentuk pertanyaan yang mengandung penegasan, sehingga yang dinyatakan bukan keraguan melainkan kepastian. Bentuk semacam itu dipakai Allah juga di 89:6 dan 90:8, dan di ketiga tempat itu pertanyaannya tidak menunggu jawaban dari siapa pun. Susunan itu berbentuk pertanyaan yang tidak menunggu jawaban, dan bentuk semacam itu dipakai juga di dua surah lain di juz yang sama. Penglihatan yang tidak disebut objeknya mencakup seluruhnya tanpa satu pengecualian.
  • Kesejajaran dengan 87:7 dan 88:24 patut dicatat, sebab di kedua surah itu nama Allah juga cuma disebut sekali. Jadi tiga surah di juz ini sama-sama menahan penyebutan nama-Nya sampai satu tempat saja, dan Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Perbedaan bentuk itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan penegasan yang dibawa pertanyaannya. Nama yang ditahan sampai satu tempat membuat penyebutannya terasa berat di tempat itu.