أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰa-ra'ayta lladzii yanhaabagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. أَرَأَيْتَa-ra'aytabagaimana pendapatmu
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. يَنْهَىٰyanhaamelarang

Inti bacaan

Transisi menuju kisah konkret penindasan: 'bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang', pengalihan dari prinsip umum menuju contoh spesifik perilaku bermasalah yang akan dijelaskan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (أَرَأَيْتَ, ara-ayta) muncul 9 kali di 6 surah, yaitu di 6:40, 6:47, 17:62, 18:63, 25:43, 96:9, 96:11, 96:13, dan 107:1. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa tiga dari sembilan kemunculannya berada di surah ini, dan ketiganya berdiri di ayat-ayat yang berselang satu.

Jadi satu kata dipakai tiga kali di dalam satu surah untuk membuka tiga pertanyaan berturut-turut. Pemusatan sepadat itu tidak terjadi di surah mana pun yang lain, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun. Kata (أَرَأَيْتَ, ara-ayta) di sini membuka ayatnya, dan bentuknya bertanya.

Kesejajaran dengan 107:1 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama membuka surahnya dan disusul pertanyaan tentang orang yang mendustakan hari perhitungan. Jadi dua surah memakai kata yang sama untuk membuka pertanyaan tentang satu orang yang tidak dinamai. Kata (يَنْهَىٰ, yanhaa) menutup ayatnya, dan bentuknya menyatakan yang berlangsung.

Kata kerja (يَنْهَىٰ, yanhaa) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 16:90 dan 96:9. Di 16:90 kata yang sama dipakai untuk Allah yang melarang perbuatan keji dan kemungkaran, sedangkan di sini ia dipakai untuk manusia yang melarang seorang hamba bersalat.

Jadi satu kata yang cuma muncul di dua tempat memikul larangan Allah atas kejahatan dan larangan manusia atas ibadah. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk yang berulang tanpa diubah. Kata (الَّذِي, alladzii) berdiri di antara keduanya, dan ia menunjuk tanpa menamai.

Akar (يَنْهَىٰ, yanhaa) berarti melarang. Akar itu dipakai di 54 ayat, dan akar yang sama muncul lagi di 96:15 lewat kata kerja yang menyebut orang yang tidak berhenti. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini, dan kedua pemakaiannya menyangkut orang yang sama.

Kesejajaran itu patut dicatat. Yang melarang di ayat ini justru yang diperingatkan supaya berhenti di 96:15, dan keduanya dinamai dengan akar yang sama. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan jaraknya enam ayat.

Kata sambung (الَّذِي, alladzii) berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan pihak yang tidak dinamai. Bentuk yang sama sudah dipakai di 96:1 dan 96:4 untuk menerangkan Tuhan, sehingga satu bentuk dipakai untuk dua pihak yang berlawanan di dalam satu surah.

Ayat ini membuka bagian ketiga surah yang berlangsung sampai 96:14, yaitu enam ayat tentang satu orang yang tidak dinamai. Jadi bagian ini paling panjang di antara empat bagian surahnya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pembagian itu.

Bentuk (يَنْهَىٰ, yanhaa) berbentuk sekarang, sehingga perbuatan melarang dinyatakan sebagai yang masih berlangsung. Jadi ia tidak disebut sebagai satu peristiwa yang sudah selesai, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri.

Kata (الَّذِي, alladzii) dipakai untuk menunjuk orang tanpa menamainya, dan kata yang sama dipakai di 96:1 serta 96:4 untuk menunjuk Tuhan. Jadi satu kata dipakai untuk dua pihak yang paling berjauhan di dalam satu surah pendek.

Tafsiran

Ayat ini beralih ke kecaman terhadap orang yang menghalangi ibadah, dan kata pertamanya muncul 9 kali di 6 surah, yaitu di 6:40, 6:47, 17:62, 18:63, 25:43, 96:9, 96:11, 96:13, dan 107:1.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa tiga dari sembilan kemunculannya berada di surah ini, dan ketiganya berdiri di ayat-ayat yang berselang satu. Jadi satu kata dipakai tiga kali di dalam satu surah untuk membuka tiga pertanyaan berturut-turut.

Kesejajaran dengan 107:1 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama membuka surahnya dan disusul pertanyaan tentang orang yang mendustakan hari perhitungan. Jadi dua surah memakai kata yang sama untuk membuka pertanyaan tentang satu orang yang tidak dinamai.

Kata kerja terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 16:90 dan 96:9. Di 16:90 kata yang sama dipakai untuk Allah yang melarang perbuatan keji dan kemungkaran, sedangkan di sini ia dipakai untuk manusia yang melarang seorang hamba bersalat.

Akarnya dipakai di 54 ayat, dan akar yang sama muncul lagi di 96:15 lewat kata kerja yang menyebut orang yang tidak berhenti. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini, dan kedua pemakaiannya menyangkut orang yang sama. Bentuk kata terakhirnya berbentuk sekarang, sehingga perbuatan melarang dinyatakan sebagai yang masih berlangsung. Jadi ia tidak disebut sebagai satu peristiwa yang sudah selesai, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 9 kali di 6 surah, yaitu di 6:40, 6:47, 17:62, 18:63, 25:43, 96:9, 96:11, 96:13, dan 107:1, dan tiga di antaranya berada di surah ini. Jadi Allah memakai satu kata tiga kali di dalam satu surah untuk membuka tiga pertanyaan berturut-turut, dan pemusatan sepadat itu tidak terjadi di surah mana pun yang lain. Yang tidak dinamai tidak bisa dikurung ke satu orang di satu masa, dan itu yang membuat pertanyaannya berlaku bagi setiap pembacanya.
  • Kata kerja terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 16:90 dan 96:9. Di 16:90 kata yang sama dipakai untuk Allah yang melarang perbuatan keji dan kemungkaran, sedangkan di sini ia dipakai untuk manusia yang melarang seorang hamba bersalat. Jadi satu kata memikul larangan-Nya atas kejahatan dan larangan manusia atas ibadah. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik pemusatannya.
  • Akar kata kerja terakhirnya dipakai di 54 ayat, dan akar yang sama muncul lagi di 96:15 lewat kata kerja yang menyebut orang yang tidak berhenti. Jadi yang melarang di ayat ini justru yang diperingatkan Allah supaya berhenti enam ayat kemudian, dan keduanya dinamai dengan akar yang sama. Jadi bentuk yang menyatakan perbuatan berlangsung dipakai untuk melarang, dan bentuk lampau baru dipakai untuk perbuatan yang lain di ayat sesudahnya. Pertanyaan yang menunjuk tanpa menamai membuat sasarannya bisa berganti di setiap masa.
  • Kesejajaran dengan 107:1 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama membuka surahnya dan disusul pertanyaan tentang orang yang mendustakan hari perhitungan. Jadi dua surah memakai kata yang sama untuk membuka pertanyaan tentang satu orang yang tidak dinamai Allah di dalam keduanya. Yang tersedia bagi pembacanya cuma susunan katanya, dan menambahkan nama atau tempat berarti menaruh keterangan yang tidak tertulis. Melarang disebut sebagai perbuatan yang berlangsung, bukan sebagai satu kejadian tunggal.
  • Kata sambung di ayat ini berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan pihak yang tidak dinamai. Bentuk yang sama sudah dipakai Allah di 96:1 dan 96:4 untuk menerangkan diri-Nya, sehingga satu bentuk dipakai untuk dua pihak yang berlawanan di dalam satu surah tanpa satu tanda pembeda pun. Susunan itu membuka bagian ketiga surah ini, dan perpindahannya tidak ditandai satu kata penghubung pun di antara dua ayatnya. Pertanyaan yang menunjuk tanpa menamai membuat sasarannya bisa berganti di setiap masa.
  • Ayat ini membuka bagian ketiga surah yang berlangsung sampai 96:14, yaitu enam ayat tentang satu orang yang tidak dinamai. Jadi bagian ini paling panjang di antara empat bagian surahnya. Apa yang dinyatakan sebuah susunan ketika bagian terluasnya diberikan kepada satu orang yang namanya tidak pernah disebut? Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan pertentangan antara dua waktu itu.