عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ

Seorang hamba ketika dia bersalat?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ'abdan idzaa shallaaseorang hamba ketika dia bersalat

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. عَبْدًا'abdanseorang hamba
  2. إِذَاidzaaapabila
  3. صَلَّىٰshallaamengerjakan salat

Inti bacaan

Identifikasi korban dari larangan tersebut: 'seorang hamba ketika dia bersalat?', pengungkapan bahwa tindakan yang dilarang adalah ibadah murni, penindasan terhadap praktik spiritual yang sah.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (صَلَّىٰ, shallaa) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 75:31, 87:15, dan 96:10. Kesejajaran dengan 87:15 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama dipakai untuk orang yang mengingat nama Tuhannya lalu bersalat.

Jadi dua surah di juz ini memakai kata yang sama, dan yang di 87:15 menyebut orang yang bersalat sebagai ciri keberuntungan sedangkan yang di sini menyebut hamba yang dilarang bersalat. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (صَلَّىٰ, shallaa) di sini berpola kedua, dan bentuknya menyatakan yang selesai.

Di 75:31 kata yang sama berada di dalam pengingkaran, yaitu tentang orang yang tidak membenarkan dan tidak bersalat. Jadi tiga tempat memakai kata yang sama untuk tiga kedudukan: yang bersalat sebagai ciri keberuntungan, yang tidak bersalat, dan yang dilarang bersalat. Kata (عَبْدًا, 'abdan) membuka ayatnya, dan ia tidak bertakrif sama sekali.

Akar (صَلَّىٰ, shallaa) berarti menghadap dalam doa. Akar itu dipakai di 90 ayat, dan akar itu berbeda dari akar yang berarti terpanggang api. Akar itu memberi kata untuk masuk ke dalam api, meskipun kedua kata terlihat serupa. Perbedaan itu sudah dicatat pada 87:12 dan 87:15 di surah yang berdekatan.

Kata (عَبْدًا, 'abdan) tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang hamba, bukan hamba tertentu. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai yang tertentu akan mempersempit ayatnya menjadi satu peristiwa, padahal yang tertulis menyebut jenis.

Akar (عَبْدًا, 'abdan) berarti mengabdi. Akar itu dipakai di 251 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk menyembah dan untuk hamba. Jadi yang dilarang bersalat dinamai dengan kata yang akarnya sendiri berarti mengabdi.

Kata (إِذَا, idzaa) menandai waktu, sehingga yang dilarang bukan hamba itu secara umum melainkan hamba itu pada saat ia bersalat. Jadi larangannya jatuh tepat pada saat perbuatan itu berlangsung, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu.

Ayat ini melengkapi kalimat yang dimulai di 96:9, sehingga dua ayat itu satu pertanyaan yang dipisah menjadi dua. Jadi jeda bacaannya jatuh di tengah kalimat, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pokok pertanyaannya.

Kata (عَبْدًا, 'abdan) tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang hamba, bukan hamba tertentu yang sudah dikenal. Jadi Al-Qur'an tidak menamai siapa yang dilarang, sama seperti ia tidak menamai siapa yang melarang di 96:9.

Kata (إِذَا, idzaa) menandai waktu yang pasti terjadi, berbeda dari huruf syarat yang dipakai di 96:11. Jadi salatnya dinyatakan sebagai perbuatan yang memang berlangsung, bukan sebagai kemungkinan yang masih ditimbang.

Tafsiran

Ayat ini merinci objek larangan tersebut: seorang hamba yang sedang bersalat, dan kata kerja terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 75:31, 87:15, dan 96:10.

Kesejajaran dengan 87:15 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama dipakai untuk orang yang mengingat nama Tuhannya lalu bersalat. Jadi dua surah di juz ini memakai kata yang sama, dan yang di sana menyebut orang yang bersalat sebagai ciri keberuntungan sedangkan yang di sini menyebut hamba yang dilarang.

Di 75:31 kata yang sama berada di dalam pengingkaran, yaitu tentang orang yang tidak membenarkan dan tidak bersalat. Jadi tiga tempat memakai kata yang sama untuk tiga kedudukan yang berbeda.

Akarnya dipakai di 90 ayat, dan akar itu berbeda dari akar yang memberi kata untuk masuk ke dalam api, meskipun kedua kata terlihat serupa. Perbedaan itu sudah dicatat pada 87:12 dan 87:15 di surah yang berdekatan.

Kata pertamanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang hamba, bukan hamba tertentu. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai yang tertentu akan mempersempit ayatnya menjadi satu peristiwa. Kata pertamanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang hamba, bukan hamba tertentu yang sudah dikenal. Jadi Al-Qur'an tidak menamai siapa yang dilarang, sama seperti ia tidak menamai siapa yang melarang di 96:9 pada ayat sebelumnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 75:31, 87:15, dan 96:10. Di 87:15 kata yang sama dipakai untuk orang yang mengingat nama Allah lalu bersalat, dan di 75:31 ia berada di dalam pengingkaran. Jadi tiga tempat memakai kata yang sama untuk tiga kedudukan: yang bersalat, yang tidak bersalat, dan yang dilarang bersalat. Dua pihak yang sama-sama tidak dinamai itu berdiri di dua ayat berturut-turut, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu nama pun di antara keduanya.
  • Akar kata kerja terakhirnya dipakai di 90 ayat, dan akar itu berbeda dari akar yang memberi kata untuk masuk ke dalam api meskipun kedua kata terlihat serupa. Perbedaan itu sudah dicatat pada 87:12 dan 87:15 di surah yang berdekatan, dan pembacanya harus memeriksa akarnya, bukan bunyinya. Angka itu bisa diperiksa siapa pun, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan mengapa kata itu dipakai di tempat-tempat yang berjauhan. Hamba yang tidak dinamai membuat pembacanya tidak bisa membatasi kejadiannya pada satu orang.
  • Kata pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 251 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk menyembah dan untuk hamba. Jadi yang dilarang bersalat dinamai Allah dengan kata yang akarnya sendiri berarti mengabdi, sehingga larangan itu menentang apa yang sudah tertulis di dalam nama orangnya. Jadi salatnya dinyatakan sebagai perbuatan yang memang berlangsung, dan perbedaan itu memisahkannya dari kemungkinan yang disebut di ayat sesudahnya.
  • Kata pertamanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang hamba, bukan hamba tertentu. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai yang tertentu akan mempersempit ayatnya menjadi satu peristiwa, padahal Allah menyebut jenis perbuatannya yang berlaku bagi siapa pun. Yang bisa dicatat cuma apa yang tertulis, dan menambahkan keterangan tentang siapa hamba itu berarti mempersempit apa yang dibiarkan luas. Waktu yang pasti terjadi membedakan salatnya dari kemungkinan yang masih ditimbang di ayat lain.
  • Kata keduanya menandai waktu, sehingga yang dilarang bukan hamba itu secara umum melainkan hamba itu pada saat ia bersalat. Jadi larangannya jatuh tepat pada saat perbuatan itu berlangsung. Apa yang membedakan melarang seseorang sebelum ia mengerjakan sesuatu dan menghentikannya di tengah pekerjaannya? Susunan itu menaruh hamba lebih dulu dan perbuatannya belakangan, sehingga pihaknya terbaca sebelum pembacanya tahu apa yang dikerjakannya.
  • Ayat ini melengkapi kalimat yang dimulai di 96:9, sehingga dua ayat itu satu pertanyaan yang dipisah menjadi dua. Jadi jeda bacaannya jatuh di tengah kalimat, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pokok pertanyaan yang diajukan Allah. Perbedaan itu tidak dinyatakan dengan kata tambahan, dan pembacanya harus membandingkan dua ayat untuk menemukan pertentangannya. Hamba yang tidak dinamai membuat pembacanya tidak bisa membatasi kejadiannya pada satu orang.