أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَىٰ
Bagaimana pendapatmu jika dia berada di atas petunjuk,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَىٰa-ra'ayta in kaana 'alaa l-hudaabagaimana pendapatmu jika dia berada di atas petunjuk
Terjemahan per kata (5 kata)
- أَرَأَيْتَa-ra'aytabagaimana pendapatmu
- إِنْinjika
- كَانَkaanaia berada
- عَلَى'alaaatas
- الْهُدَىٰl-hudaapetunjuk
Inti bacaan
Pertanyaan retoris yang menguji logika penindas: 'bagaimana pendapatmu jika dia berada di atas petunjuk', tantangan yang mengundang refleksi tentang kemungkinan bahwa yang dilarang justru berada di jalan yang benar.
Penjelasan pilihan kata
Kata (أَرَأَيْتَ, ara-ayta) diulang persis dari 96:9, dan ia muncul sekali lagi di 96:13. Jadi tiga dari sembilan kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini, dan ketiganya berdiri di ayat yang berselang satu.
Kata (الْهُدَىٰ, al-hudaa) berasal dari akar yang berarti menunjukkan jalan. Akar itu dipakai di 268 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Kesejajaran dengan 92:12 patut dicatat, sebab di sana kata yang seakar dipakai untuk petunjuk yang menjadi tanggungan Yang berfirman.
Jadi akar yang di surah tetangga menamai apa yang ditanggung-Nya, di sini menamai keadaan orang yang dilarang bersalat. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya yang berulang di dua surah berdekatan. Kata (الْهُدَىٰ, al-hudaa) di sini bertakrif, sehingga yang disebut petunjuk sebagai jenis.
Kata (إِنْ, in) huruf syarat, sehingga yang dinyatakan kemungkinan, bukan kenyataan. Huruf yang sama dipakai lagi di awal bagian kedua 96:13, sehingga dua ayat di surah ini memakai huruf syarat yang sama untuk dua kemungkinan yang berlawanan.
Susunan ayat ini tidak memuat jawaban bagi syaratnya, dan jawabannya tidak pernah disebutkan sampai ujung surah. Jadi Al-Qur'an membuka syarat tanpa menutupnya, dan susunan menggantung seperti itu dipakai lagi di 96:13.
Kata (عَلَى, 'alaa) menyatakan berada di atas sesuatu, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar mengikuti petunjuk melainkan berdiri di atasnya. Jadi gambarannya kedudukan yang mantap, bukan perjalanan yang masih berlangsung.
Kata ganti pada kata kerja di ayat ini menunjuk hamba yang disebut di 96:10, bukan orang yang melarang. Jadi dua ayat ini masih berbicara tentang pihak yang sama, dan pergantian pihaknya baru terjadi di 96:13. Kata (كَانَ, kaana) menjadi kata kerjanya, dan pelakunya tidak disebut dengan nama.
Ayat ini dan 96:12 satu kalimat yang dipisah menjadi dua, sebab huruf pilihan di awal 96:12 menyambungkannya. Jadi dua kemungkinan tentang hamba itu disebut di dalam satu tarikan, dan keduanya sama-sama tidak dijawab.
Kata (كَانَ, kaana) kata kerja yang menyatakan keberadaan, dan ia menuntut pokok serta keterangan. Jadi susunan ayat ini menyatakan keadaan seseorang, bukan perbuatannya, dan perbedaan itu memisahkannya dari susunan di 96:12.
Kata (أَرَأَيْتَ, ara-ayta) tersusun dari huruf tanya dan kata kerja melihat, sehingga bentuknya bertanya tentang penglihatan. Jadi yang diminta bukan pendapat melainkan perhatian, dan perbedaan itu terbawa di dalam susunan katanya.
Tafsiran
Ayat ini mempertanyakan logika pelarangan tersebut jika yang dilarang justru berada di jalan petunjuk, dan kata pertamanya diulang persis dari 96:9 serta muncul sekali lagi di 96:13.
Jadi tiga dari sembilan kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini, dan ketiganya berdiri di ayat yang berselang satu. Kata terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 268 ayat.
Kesejajaran dengan 92:12 patut dicatat, sebab di sana kata yang seakar dipakai untuk petunjuk yang menjadi tanggungan Yang berfirman. Jadi akar yang di surah tetangga menamai apa yang ditanggung-Nya, di sini menamai keadaan orang yang dilarang bersalat.
Kata keduanya huruf syarat, sehingga yang dinyatakan kemungkinan, bukan kenyataan. Huruf yang sama dipakai lagi di 96:13, sehingga dua ayat di surah ini memakai huruf syarat yang sama untuk dua kemungkinan yang berlawanan.
Susunan ayat ini tidak memuat jawaban bagi syaratnya, dan jawabannya tidak pernah disebutkan sampai ujung surah. Jadi Al-Qur'an membuka syarat tanpa menutupnya. Kata ketiganya kata kerja yang menyatakan keberadaan, dan ia menuntut pokok serta keterangan. Jadi susunan ayat ini menyatakan keadaan seseorang, bukan perbuatannya, dan perbedaan itu memisahkannya dari susunan di 96:12 yang menyebut perbuatan.
Renungan dan Hikmah
- Susunan ayat ini tidak memuat jawaban bagi syaratnya, dan jawabannya tidak pernah disebutkan Allah sampai ujung surah. Jadi Al-Qur'an membuka syarat tanpa menutupnya, dan susunan menggantung seperti itu dipakai lagi di 96:13. Apa yang dikerjakan sebuah pertanyaan bersyarat pada pembacanya ketika jawabannya tidak pernah diberikan? Yang menggantung itu tidak pernah ditutup sampai ujung surahnya, dan pembacanya dibiarkan menimbang sendiri apa yang seharusnya menyusul.
- Kata terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 268 ayat, dan kesejajaran dengan 92:12 patut dicatat sebab di sana kata yang seakar dipakai untuk petunjuk yang menjadi tanggungan Allah. Jadi akar yang di surah tetangga menamai apa yang ditanggung-Nya, di sini menamai keadaan orang yang dilarang bersalat. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik jarak yang teratur itu.
- Kata pertamanya diulang persis dari 96:9 dan muncul sekali lagi di 96:13. Jadi tiga dari sembilan kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini, dan ketiganya berdiri di ayat yang berselang satu. Allah menyusun tiga pertanyaan dengan jarak yang teratur tanpa satu kata penanda pun. Jadi keadaan yang disebut kedudukan yang mantap, bukan perjalanan yang masih berlangsung, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf. Kemungkinan yang baik disebut lebih dulu sebelum kemungkinan yang buruk tentang pihak lain.
- Kata keempatnya menyatakan berada di atas sesuatu, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar mengikuti petunjuk melainkan berdiri di atasnya. Jadi gambarannya kedudukan yang mantap, bukan perjalanan yang masih berlangsung. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf, dan menggantinya mengubah seluruh gambarannya. Yang tersedia bagi pembacanya cuma susunan katanya, dan menambahkan jawaban bagi syaratnya berarti menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka.
- Kata keduanya huruf syarat, sehingga yang dinyatakan kemungkinan, bukan kenyataan. Huruf yang sama dipakai Allah lagi di 96:13 untuk kemungkinan yang berlawanan. Jadi dua kemungkinan disebut tanpa satu pun dinyatakan sebagai yang benar-benar terjadi, dan pembacanya sendiri yang menimbang. Susunan itu menaruh kemungkinan yang baik lebih dulu, dan kemungkinan yang buruk baru disebut dua ayat sesudahnya tentang pihak yang lain. Berdiri di atas petunjuk menyatakan kedudukan yang mantap, bukan perjalanan yang belum selesai.
- Kata ganti pada kata kerja di ayat ini menunjuk hamba yang disebut di 96:10, bukan orang yang melarang. Jadi dua ayat ini masih berbicara tentang pihak yang sama, dan pergantian pihaknya baru terjadi di 96:13. Allah tidak menandai pergantian itu dengan satu kata pun. Perbedaan pihak itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat kepada siapa kata gantinya kembali. Kemungkinan yang baik disebut lebih dulu sebelum kemungkinan yang buruk tentang pihak lain.