أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَىٰ
Atau menyuruh bertakwa?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَىٰaw amara bi-t-taqwaaatau menyuruh bertakwa
Terjemahan per kata (3 kata)
- أَوْawatau
- أَمَرَamaramemerintahkan
- بِالتَّقْوَىٰbi-t-taqwaadengan takwa
Inti bacaan
Perluasan pertanyaan tentang kebaikan yang dihalangi: 'atau menyuruh bertakwa?', penambahan skenario bahwa yang dihalangi bukan hanya benar secara pribadi, tetapi juga mengajak kepada kebaikan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (بِالتَّقْوَىٰ, bi-t-taqwaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menjaga dari bahaya. Ia dipakai di 237 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Kesejajaran dengan 92:5 dan 92:17 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu akar yang sama dipakai untuk sikap bertakwa.
Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat memberi satu bentuk yang cuma dipakai sekali, dan bentuk itu berdiri di ayat ini. Kelangkaan bentuk dan keseringan akar bertemu di dalam satu kata, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu. Kata (بِالتَّقْوَىٰ, bi-t-taqwaa) di sini didahului huruf ba yang menyatakan sasaran.
Kata kerja (أَمَرَ, amara) berasal dari akar yang berarti menyuruh. Akar itu dipakai di 189 ayat, antara lain 7:28, 16:90, 24:21, dan 65:6. Kesejajaran dengan 16:90 patut dicatat, sebab di sana akar ini dan akar yang dipakai di 96:9 berdiri berdampingan di dalam satu ayat.
Jadi 16:90 memuat pasangan akar yang sama dengan pasangan 96:9 dan ayat ini, yaitu memerintahkan dan melarang. Di sana keduanya disandarkan kepada Allah, dan di sini yang melarang manusia sedangkan yang menyuruh hamba yang dilarang. Kata (أَمَرَ, amara) menjadi kata kerjanya, dan sasarannya menyusul di belakang.
Kata (أَوْ, aw) huruf pilihan, sehingga ayat ini menyebut kemungkinan kedua tentang hamba itu, bukan keadaan yang menyertai kemungkinan pertama. Jadi dua kemungkinan disebut sebagai pilihan, dan salah satunya sudah cukup untuk menjadi pokok pertanyaannya.
Susunan ayat ini melanjutkan syarat yang dibuka di 96:11, dan jawabannya tidak pernah disebutkan. Jadi dua ayat itu satu kalimat bersyarat yang menggantung, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa syarat yang mendahuluinya.
Huruf ba di depan (بِالتَّقْوَىٰ, bi-t-taqwaa) menyatakan sasaran perintah, sehingga yang dinyatakan menyuruh kepada takwa, bukan menyuruh dengan takwa. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab keduanya menyatakan hubungan yang berlainan.
Kata (بِالتَّقْوَىٰ, bi-t-taqwaa) bertakrif, sehingga yang disebut takwa sebagai jenis, bukan satu perbuatan tertentu. Jadi cakupannya seluas mungkin, dan mempersempitnya kepada satu bentuk akan mengurangi apa yang dinyatakan di dalam ayatnya.
Kata (أَمَرَ, amara) berbentuk lampau dan berpola pertama, dan itu bentuk yang paling sederhana yang tersedia bagi akarnya. Jadi tidak ada tambahan huruf yang menyatakan kesungguhan, dan yang dinyatakan perbuatannya sendiri tanpa keterangan tentang kadarnya.
Kata (أَوْ, aw) menyambungkan ayat ini kepada keterangan di 96:11, bukan kepada pertanyaannya. Jadi yang berpasangan dua keadaan hamba itu, dan pertanyaannya sendiri tidak diulang, sehingga satu pertanyaan menaungi dua ayat sekaligus.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan pertanyaan retoris tentang absurditas melarang seruan takwa, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 237 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul.
Kesejajaran dengan 92:5 dan 92:17 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu akar yang sama dipakai untuk sikap bertakwa. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat memberi satu bentuk yang cuma dipakai sekali, dan bentuk itu berdiri di ayat ini.
Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 189 ayat, antara lain 7:28, 16:90, 24:21, dan 65:6. Kesejajaran dengan 16:90 patut dicatat, sebab di sana akar ini dan akar yang dipakai di 96:9 berdiri berdampingan di dalam satu ayat.
Jadi 16:90 memuat pasangan akar yang sama dengan pasangan 96:9 dan ayat ini, yaitu memerintahkan dan melarang. Di sana keduanya disandarkan kepada Allah, dan di sini yang melarang manusia sedangkan yang menyuruh hamba yang dilarang.
Kata pertamanya huruf pilihan, sehingga ayat ini menyebut kemungkinan kedua tentang hamba itu, bukan keadaan yang menyertai kemungkinan pertama. Kata keduanya berbentuk lampau dan berpola pertama, dan itu bentuk yang paling sederhana yang tersedia bagi akarnya. Jadi tidak ada tambahan huruf yang menyatakan kesungguhan, dan yang dinyatakan perbuatannya sendiri tanpa keterangan tentang kadarnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 189 ayat, dan kesejajaran dengan 16:90 patut dicatat sebab di sana akar ini dan akar yang dipakai di 96:9 berdiri berdampingan di dalam satu ayat. Di 16:90 keduanya disandarkan kepada Allah, dan di sini yang melarang manusia sedangkan yang menyuruh hamba yang dilarang. Dua kemungkinan itu disebut sebagai pilihan, dan salah satunya sudah cukup untuk membuat larangan di ayat sebelumnya terbaca sebagai keganjilan.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 237 ayat dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat memberi satu bentuk yang cuma dipakai Allah sekali, dan kelangkaan bentuk serta keseringan akar bertemu di dalam satu kata. Angka itu bisa diperiksa siapa pun, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan mengapa bentuk yang cuma sekali dipakai justru ditaruh di sini.
- Huruf di depan kata terakhirnya menyatakan sasaran perintah, sehingga yang dinyatakan menyuruh kepada takwa, bukan menyuruh dengan takwa. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab yang pertama menyebut isi perintahnya dan yang kedua menyebut sikap orang yang memerintah. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan mempersempitnya kepada satu perbuatan akan mengurangi apa yang dinyatakan susunan katanya. Menyuruh kepada takwa disebut berdampingan dengan berada di atas petunjuk sebagai pilihan.
- Kata pertamanya huruf pilihan, sehingga ayat ini menyebut kemungkinan kedua tentang hamba itu, bukan keadaan yang menyertai kemungkinan pertama. Jadi dua kemungkinan disebut Allah sebagai pilihan, dan salah satunya sudah cukup untuk menjadi pokok pertanyaannya. Yang bisa dicatat cuma di mana kata itu dipakai, dan menyimpulkan lebih jauh berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan ayatnya. Menyuruh kepada takwa disebut berdampingan dengan berada di atas petunjuk sebagai pilihan.
- Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang disebut takwa sebagai jenis, bukan satu perbuatan tertentu. Jadi cakupannya seluas mungkin, dan mempersempitnya kepada satu bentuk akan mengurangi apa yang dinyatakan Allah. Yang dilarang karena itu bukan satu perbuatan melainkan seluruh seruan kepadanya. Susunan itu menyambung ayat sebelumnya tanpa mengulang pertanyaannya, sehingga satu pertanyaan menaungi dua ayat sekaligus tanpa penanda. Takwa sebagai jenis mencakup seluruh bentuknya tanpa satu pun disebut secara khusus.
- Susunan ayat ini melanjutkan syarat yang dibuka di 96:11, dan jawabannya tidak pernah disebutkan Allah. Jadi dua ayat itu satu kalimat bersyarat yang menggantung. Apa yang tersisa pada pembacanya ketika dua kemungkinan yang baik disebutkan lalu ditinggalkan tanpa satu kesimpulan pun? Perbedaan hubungan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menggantinya akan menyatakan hubungan yang berlainan. Takwa sebagai jenis mencakup seluruh bentuknya tanpa satu pun disebut secara khusus.