أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰa-lam ya'lam bi-anna llaaha yaraatidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. أَلَمْa-lamtidakkah
  2. يَعْلَمْya'lamdiketahuinya
  3. بِأَنَّbi-annakarena
  4. اللَّهَllaahaAllah
  5. يَرَىٰyaraaia lihat

Inti bacaan

Pengingat pengawasan yang diabaikan: 'tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?', kritik terhadap kelalaian penindas dalam menyadari bahwa tindakannya tidak luput dari pengawasan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(segala perbuatannya)" tidak dipakai. Kata kerja (يَرَىٰ, yaraa) berdiri tanpa objek, dan menyisipkan apa yang dilihat akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis saja, padahal yang tertulis membiarkannya seluas mungkin.

Nama (اللَّهَ, Allaaha) disebut di ayat ini, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyebut nama-Nya. Delapan belas ayat lainnya menyebut Dia sebagai Tuhanmu, lewat kata ganti, atau lewat bentuk kata kerja, dan nama-Nya cuma muncul sekali.

Kesejajaran dengan 87:7 dan 88:24 patut dicatat, sebab di kedua surah itu nama-Nya juga cuma disebut sekali. Jadi tiga surah di juz ini sama-sama menahan penyebutan nama-Nya sampai satu tempat saja, dan Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu.

Kata kerja (يَرَىٰ, yaraa) berasal dari akar yang berarti melihat dan menimbang. Akar itu muncul lima kali di dalam surah ini, yaitu di 96:7, 96:9, 96:11, 96:13, dan ayat ini. Jadi akar itu yang paling sering muncul di surah ini, dan ayat ini pemakaiannya yang terakhir.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Manusia melihat dirinya cukup di 96:7, yang disapa diminta melihat tiga kali di 96:9 sampai 96:13, dan Allah melihat di ayat ini. Jadi satu akar berpindah dari pandangan manusia atas dirinya kepada pandangan-Nya atas segala sesuatu.

Kata kerja (يَعْلَمْ, ya'lam) berasal dari akar yang berarti mengetahui. Akar itu dipakai di 728 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Di dalam surah ini akar itu berdiri di tiga ayat, yaitu 96:4, 96:5, dan ayat ini.

Kesejajaran itu patut dicatat. Yang diajar Tuhan apa yang tidak diketahuinya di 96:5, dan di sini ia ditanya apakah ia tidak mengetahui bahwa Allah melihat. Jadi satu akar mengikat pemberian pengetahuan dan kelalaian atas pengetahuan yang paling pokok.

Susunan (أَلَمْ يَعْلَمْ, alam ya'lam) berbentuk pertanyaan yang mengandung penegasan, sehingga yang dinyatakan bukan keraguan melainkan kepastian. Bentuk semacam itu dipakai juga di 89:6 dan 90:8, dan di ketiga tempat itu pertanyaannya tidak menunggu jawaban.

Kata (بِأَنَّ, bi-anna) tersusun dari huruf ba dan huruf penegas, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar isi pengetahuan melainkan isi yang ditegaskan. Jadi susunannya menaruh penegasan di dalam anak kalimatnya, dan bukan di dalam kalimat pokoknya.

Bentuk (يَرَىٰ, yaraa) berbentuk sekarang, sehingga penglihatan-Nya dinyatakan sebagai yang berlangsung terus. Jadi ia tidak disebut sebagai satu peristiwa, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya tanpa satu kata keterangan pun.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa pengawasan Allah meliputi seluruh perbuatan manusia, dan nama-Nya disebut di ayat ini sebagai satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyebutnya.

Delapan belas ayat lainnya menyebut Dia sebagai Tuhanmu, lewat kata ganti, atau lewat bentuk kata kerja. Kesejajaran dengan 87:7 dan 88:24 patut dicatat, sebab di kedua surah itu nama-Nya juga cuma disebut sekali.

Kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang muncul lima kali di dalam surah ini, yaitu di 96:7, 96:9, 96:11, 96:13, dan ayat ini. Jadi akar itu yang paling sering muncul di surah ini, dan ayat ini pemakaiannya yang terakhir.

Manusia melihat dirinya cukup di 96:7, yang disapa diminta melihat tiga kali di 96:9 sampai 96:13, dan Allah melihat di ayat ini. Jadi satu akar berpindah dari pandangan manusia atas dirinya kepada pandangan-Nya atas segala sesuatu.

Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 728 ayat, dan di dalam surah ini akar itu berdiri di tiga ayat, yaitu 96:4, 96:5, dan ayat ini. Yang diajar Tuhan apa yang tidak diketahuinya di 96:5, dan di sini ia ditanya apakah ia tidak mengetahui bahwa Allah melihat. Kata ketiganya tersusun dari huruf ba dan huruf penegas, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar isi pengetahuan melainkan isi yang ditegaskan. Jadi susunannya menaruh penegasan di dalam anak kalimatnya, dan bukan di dalam kalimat pokoknya.

Renungan dan Hikmah

  • Nama Allah disebut di ayat ini, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyebut nama-Nya. Delapan belas ayat lainnya menyebut Dia sebagai Tuhanmu, lewat kata ganti, atau lewat bentuk kata kerja. Kesejajaran dengan 87:7 dan 88:24 patut dicatat, sebab di kedua surah itu nama-Nya juga cuma disebut sekali. Tiga cara penyebutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma di mana masing-masing dipakai di sepanjang surahnya. Penglihatan yang tidak disebut objeknya mencakup seluruhnya tanpa satu pengecualian.
  • Kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang muncul lima kali di dalam surah ini, yaitu di 96:7, 96:9, 96:11, 96:13, dan 96:14. Manusia melihat dirinya cukup di 96:7, yang disapa diminta melihat tiga kali, dan Allah melihat di ayat ini. Jadi satu akar berpindah dari pandangan manusia atas dirinya kepada pandangan-Nya atas segala sesuatu. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penahanan nama-Nya sampai ayat ini.
  • Kata kerja keduanya berasal dari akar yang berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 96:4, 96:5, dan 96:14. Yang diajar Allah apa yang tidak diketahuinya di 96:5, dan di sini ia ditanya apakah ia tidak mengetahui bahwa Dia melihat. Jadi satu akar mengikat pemberian pengetahuan dan kelalaian atas pengetahuan yang paling pokok. Jadi cakupan penglihatan-Nya dibiarkan seluas mungkin, dan menyebut apa yang dilihat akan mempersempit apa yang sengaja tidak disebut.
  • Kata kerja terakhirnya berdiri tanpa objek, dan menyisipkan apa yang dilihat akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis saja. Jadi Allah tidak menyebut apa yang dilihat-Nya, dan cakupannya dibiarkan seluas mungkin. Apa yang berubah pada perbuatan seseorang ketika yang diketahuinya cuma bahwa Dia melihat, tanpa disebut apa? Yang tersedia bagi pembacanya cuma susunan katanya, dan menambahkan objek bagi kata kerjanya berarti menutup apa yang dibiarkan terbuka.
  • Susunan dua kata pertamanya berbentuk pertanyaan yang mengandung penegasan, sehingga yang dinyatakan bukan keraguan melainkan kepastian. Bentuk semacam itu dipakai Allah juga di 89:6 dan 90:8, dan di ketiga tempat itu pertanyaannya tidak menunggu jawaban dari siapa pun. Susunan itu berbentuk pertanyaan yang tidak menunggu jawaban, dan bentuk semacam itu dipakai juga di dua surah lain di juz yang sama. Penglihatan yang tidak disebut objeknya mencakup seluruhnya tanpa satu pengecualian.
  • Kesejajaran dengan 87:7 dan 88:24 patut dicatat, sebab di kedua surah itu nama Allah juga cuma disebut sekali. Jadi tiga surah di juz ini sama-sama menahan penyebutan nama-Nya sampai satu tempat saja, dan Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Perbedaan bentuk itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan penegasan yang dibawa pertanyaannya. Nama yang ditahan sampai satu tempat membuat penyebutannya terasa berat di tempat itu.