كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ
Sekali-kali tidak! Sungguh jika dia tidak berhenti, benar-benar Kami akan menyeret ubun-ubunnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِkallaa la-in lam yantahi la-nasfa'an bi-n-naashiyatisekali-kali tidak, sungguh jika dia tidak berhenti, benar-benar Kami akan menyeret ubun-ubunnya
Terjemahan per kata (6 kata)
- كَلَّاkallaasekali-kali tidak
- لَئِنْla-insungguh jika
- لَمْlamtidak
- يَنْتَهِyantahiberhenti
- لَنَسْفَعًاla-nasfa'ansungguh Kami akan menarik
- بِالنَّاصِيَةِbi-n-naashiyatipada ubun-ubun
Inti bacaan
Peringatan konsekuensi fisik yang konkret: 'sekali-kali tidak! Sungguh jika dia tidak berhenti, benar-benar Kami akan menyeret ubun-ubunnya', ancaman tegas yang menegaskan bahwa penindasan terhadap ibadah tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi.
Penjelasan pilihan kata
Kata (كَلَّا, kallaa) distandarkan menjadi "Sekali-kali tidak!", konsisten di seluruh terjemahan ini. Kata itu muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 96:6, dan ia muncul sekali lagi di 96:19.
Kata kerja (لَنَسْفَعًا, la-nasfa'an) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti menyeret dengan kasar. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Ini salah satu dari dua akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan yang lain berada di 96:18. Jadi surah sembilan belas ayat ini memuat dua hapax akar sekaligus, dan keduanya berjarak tiga ayat. Kata (لَنَسْفَعًا, la-nasfa'an) di sini berorang pertama jamak, bukan pihak ketiga.
Kata (بِالنَّاصِيَةِ, bi-n-naashiyati) berasal dari akar yang berarti ubun-ubun. Akar itu cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 11:56, 55:41, 96:15, dan 96:16. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa dua dari empat ayat itu berada di surah ini, dan keduanya berturut-turut.
Di 11:56 akar itu dipakai untuk pernyataan bahwa tidak ada satu makhluk melata pun kecuali Dia memegang ubun-ubunnya. Jadi akar yang sama menyebut kuasa-Nya atas seluruh makhluk dan seretan atas satu orang yang tidak berhenti. Kata (بِالنَّاصِيَةِ, bi-n-naashiyati) menyusulnya, dan hurufnya menyatakan yang dipegang.
Di 55:41 akar itu dipakai untuk orang berdosa yang dikenali dari tandanya lalu diambil ubun-ubun dan kakinya. Jadi tiga tempat memakai akar yang sama untuk kuasa yang dijalankan lewat bagian tubuh yang sama. Kata (يَنْتَهِ, yantahi) berdiri di dalam syaratnya, dan bentuknya berbaris sukun.
Kata kerja (يَنْتَهِ, yantahi) berasal dari akar yang berarti melarang. Akar itu sudah dipakai di 96:9. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini, dan yang di sana menyebut orang yang melarang sedangkan yang di sini menyebut orang yang tidak berhenti dilarang.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Satu akar dipakai untuk perbuatan orang itu atas orang lain dan untuk apa yang dituntut darinya sendiri. Jadi yang melarang justru yang diminta berhenti, dan keduanya dinamai dengan akar yang sama. Kata (لَئِنْ, la-in) membuka syaratnya, dan ia gabungan penegas serta huruf syarat.
Kata (لَئِنْ, la-in) tersusun dari huruf penegas dan huruf syarat, sehingga syaratnya dinyatakan dengan penegasan. Jadi ancamannya tidak dibiarkan sebagai kemungkinan yang longgar, dan perbedaan itu memisahkannya dari huruf syarat telanjang di 96:11.
Huruf nun di ujung (لَنَسْفَعًا, la-nasfa'an) nun penegas, dan bentuknya berorang pertama jamak. Jadi ancaman ini diucapkan dengan penegasan ganda, sekali di awal kata dan sekali di ujungnya, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surahnya.
Tafsiran
Ayat ini mengancam orang yang melarang tersebut dengan hukuman keras jika tidak berhenti, dan kata kerja keempatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat.
Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini salah satu dari dua akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Yang lain berada di 96:18, sehingga keduanya berjarak tiga ayat.
Kata terakhirnya berasal dari akar yang cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 11:56, 55:41, 96:15, dan 96:16. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa dua dari empat ayat itu berada di surah ini, dan keduanya berturut-turut.
Di 11:56 akar itu dipakai untuk pernyataan bahwa tidak ada satu makhluk melata pun kecuali Dia memegang ubun-ubunnya, dan di 55:41 untuk orang berdosa yang diambil ubun-ubun dan kakinya. Jadi tiga tempat memakai akar yang sama untuk kuasa yang dijalankan lewat bagian tubuh yang sama.
Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang sudah dipakai di 96:9, sehingga yang melarang justru yang diminta berhenti, dan keduanya dinamai dengan akar yang sama. Kata keduanya tersusun dari huruf penegas dan huruf syarat, sehingga syaratnya dinyatakan dengan penegasan. Jadi ancamannya tidak dibiarkan sebagai kemungkinan yang longgar, dan perbedaan itu memisahkannya dari huruf syarat telanjang di 96:11.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja keempatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini salah satu dari dua akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan yang lain berada di 96:18. Jadi surah sembilan belas ayat ini memuat dua hapax akar yang dipakai Allah sekaligus, dan keduanya berjarak tiga ayat. Dua akar yang cuma hidup di satu ayat itu berdiri di surah yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai kelangkaan keduanya dengan satu kata pun.
- Kata terakhirnya berasal dari akar yang cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 11:56, 55:41, 96:15, dan 96:16. Di 11:56 akar itu dipakai untuk pernyataan bahwa tidak ada satu makhluk melata pun kecuali Allah memegang ubun-ubunnya. Jadi akar yang sama menyebut kuasa-Nya atas seluruh makhluk dan seretan atas satu orang yang tidak berhenti. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik pemusatan yang rapat itu.
- Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang sudah dipakai di 96:9, sehingga akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini. Yang di 96:9 menyebut orang yang melarang, dan yang di sini menyebut orang yang tidak berhenti. Jadi satu akar dipakai Allah untuk perbuatan orang itu atas orang lain dan untuk apa yang dituntut darinya sendiri. Jadi yang melarang justru yang diminta berhenti, dan satu akar yang sama dipakai untuk kedua perbuatan yang berlawanan arah itu.
- Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 4 ayat, dan dua di antaranya berada di surah ini pada dua ayat berturut-turut. Jadi separuh pemakaian sebuah akar yang jarang dipakai Allah memusat di dalam dua ayat yang bersambungan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pemusatan itu dengan satu kalimat pun. Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat ini sendiri, sebab tidak ada satu tempat lain pun yang memakai kata itu untuk dibandingkan. Ancaman yang memakai kata tanpa pembanding membuat pembacanya tidak punya rujukan lain.
- Kata pertamanya muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 96:6, dan ia muncul sekali lagi di 96:19. Jadi tiga kali Allah membalikkan arah pembicaraan di dalam satu surah pendek, dan ketiga pembalikan itu membuka tiga bagian yang berbeda tanpa satu kata penanda lain. Susunan itu menaruh penegasan di awal dan di ujung katanya, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini di mana pun. Yang melarang justru yang diminta berhenti, dan keduanya dinamai dengan akar yang sama.
- Ayat ini memuat syarat yang disusul jawabannya, berbeda dari tiga syarat di 96:11 sampai 96:13 yang dibiarkan menggantung. Apa yang berubah pada pembacanya ketika tiga pertanyaan dibiarkan terbuka lalu satu ancaman justru diberi jawaban yang lengkap? Perbedaan itu terbawa di dalam huruf syaratnya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan penegasan yang membedakan keduanya. Ancaman yang memakai kata tanpa pembanding membuat pembacanya tidak punya rujukan lain.