نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ

Ubun-ubun yang dusta lagi bersalah.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍnaashiyatin kaadzibatin khaathi'atinubun-ubun yang dusta lagi bersalah

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. نَاصِيَةٍnaashiyatinubun-ubun
  2. كَاذِبَةٍkaadzibatinyang dusta
  3. خَاطِئَةٍkhaathi'atinyang bersalah

Inti bacaan

Karakterisasi tajam terhadap pelaku: 'ubun-ubun yang dusta lagi bersalah', pelabelan yang menyasar pusat niat dan tindakan, penegasan bahwa kejahatan ini bukan kesalahan sepele melainkan pola karakter yang mendalam.

Penjelasan pilihan kata

Kata (نَاصِيَةٍ, naashiyatin) diulang dari 96:15 dengan bentuk yang tidak bertakrif, sedangkan yang di sana bertakrif. Jadi satu kata muncul dua kali di dua ayat berturut-turut dengan dua cara penakrifan yang berbeda, dan sebagai bentuk keduanya dihitung terpisah.

Akar (نَاصِيَةٍ, naashiyatin) berarti ubun-ubun. Akar itu cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 11:56, 55:41, 96:15, dan ayat ini. Jadi separuh pemakaian akar itu berada di dalam surah ini, dan keduanya di dua ayat yang bersambungan.

Kata (كَاذِبَةٍ, kaadzibatin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti berdusta. Ia dipakai di 271 ayat, dan akar yang sama sudah dipakai di 96:13 lewat kata kerja yang menyebut orang yang mendustakan. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini.

Kata (خَاطِئَةٍ, khaathi-atin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti keliru dan berdosa. Ia cuma dipakai di 20 ayat, antara lain 2:58, 4:112, 17:31, 69:9, dan 71:25. Di 69:9 akar itu dipakai untuk kaum-kaum terdahulu yang datang membawa kesalahan.

Kedua kata sifat di ayat ini berbentuk pelaku perempuan dan tidak bertakrif, mengikuti kata bendanya. Jadi ketiganya terikat sebagai satu satuan, dan sifatnya tidak berdiri sendiri melainkan menempel pada bendanya. Kata (كَاذِبَةٍ, kaadzibatin) di sini berbentuk pelaku, bukan bentuk penderita.

Yang disifati di ayat ini ubun-ubun, bukan orangnya. Jadi kedustaan dan kesalahan dilekatkan kepada bagian tubuh, bukan kepada pemiliknya. Al-Qur'an tidak menerangkan pemindahan itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa yang disifati bagiannya.

Susunan ayat ini seluruhnya berupa kata benda dan dua kata sifat, tanpa satu kata kerja pun. Jadi ayat ini keterangan bagi kata terakhir di 96:15, bukan kalimat baru, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa kata kerja. Kata (خَاطِئَةٍ, khaathi-atin) menutup ayatnya, dan bentuknya sejajar dengan sebelumnya.

Ayat ini yang paling padat kata sifatnya di dalam surah ini, sebab dua dari tiga katanya kata sifat. Jadi Al-Qur'an memusatkan penyifatan di dalam satu ayat pendek, dan pemusatan itu tidak terjadi lagi di ayat mana pun di surah ini. Kata (نَاصِيَةٍ, naashiyatin) membuka ayatnya, dan ia tidak bertakrif sama sekali.

Kata (نَاصِيَةٍ, naashiyatin) berbaris kasrah karena menjadi keterangan bagi kata terakhir di 96:15. Jadi kedudukannya bergantung pada ayat sebelumnya, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang diterangkannya.

Kata (كَاذِبَةٍ, kaadzibatin) berbentuk pelaku, bukan penderita, sehingga yang dinyatakan ubun-ubun yang berdusta, bukan yang didustakan. Jadi arah perbuatannya ditentukan bentuk katanya, dan menggantinya akan membalikkan seluruh maksudnya.

Tafsiran

Ayat ini merinci sifat ubun-ubun tersebut sebagai lambang kedustaan dan kesalahannya, dan kata pertamanya diulang dari 96:15 dengan bentuk yang tidak bertakrif sedangkan yang di sana bertakrif.

Jadi satu kata muncul dua kali di dua ayat berturut-turut dengan dua cara penakrifan yang berbeda, dan sebagai bentuk keduanya dihitung terpisah. Akarnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 11:56, 55:41, 96:15, dan ayat ini.

Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 271 ayat serta sudah dipakai di 96:13 lewat kata kerja yang menyebut orang yang mendustakan. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini.

Kata terakhirnya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 20 ayat, antara lain 2:58, 4:112, 17:31, 69:9, dan 71:25. Di 69:9 akar itu dipakai untuk kaum-kaum terdahulu yang datang membawa kesalahan.

Yang disifati di ayat ini ubun-ubun, bukan orangnya. Jadi kedustaan dan kesalahan dilekatkan kepada bagian tubuh, bukan kepada pemiliknya. Kata pertamanya berbaris kasrah karena menjadi keterangan bagi kata terakhir di 96:15. Jadi kedudukannya bergantung pada ayat sebelumnya, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang diterangkannya. Susunan ayat ini bergantung penuh pada 96:15, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa kata kerja.

Renungan dan Hikmah

  • Yang disifati di ayat ini ubun-ubun, bukan orangnya. Jadi kedustaan dan kesalahan dilekatkan Allah kepada bagian tubuh, bukan kepada pemiliknya. Al-Qur'an tidak menerangkan pemindahan itu dengan satu kalimat pun. Apa yang dinyatakan sebuah tuduhan ketika yang disebut berdusta bukan orangnya melainkan sebagian dari tubuhnya? Pemindahan sifat kepada bagian tubuh itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa yang disifati bukan orangnya.
  • Kata pertamanya diulang dari 96:15 dengan bentuk yang tidak bertakrif, sedangkan yang di sana bertakrif. Jadi satu kata muncul dua kali di dua ayat berturut-turut dengan dua cara penakrifan yang berbeda, dan sebagai bentuk keduanya dihitung terpisah oleh alat hitung yang dipakai. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan bentuk yang jarang itu. Sifat yang dilekatkan pada bagian tubuh membuat tuduhannya terbaca lebih dekat kepada orangnya.
  • Kata kedua dan kata terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi dua dari tiga kata di ayat ini tidak punya pembanding di tempat lain mana pun, dan pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang apa yang dimaksud Allah dengan keduanya. Jadi ayat ini keterangan bagi ayat sebelumnya, bukan kalimat baru, dan memisahkannya berarti kehilangan benda yang sedang diterangkannya. Sifat yang dilekatkan pada bagian tubuh membuat tuduhannya terbaca lebih dekat kepada orangnya.
  • Akar kata keduanya dipakai di 271 ayat, dan akar yang sama sudah dipakai di 96:13 lewat kata kerja yang menyebut orang yang mendustakan. Jadi akar itu dipakai dua kali di dalam surah ini: sekali sebagai perbuatan orangnya, dan sekali sebagai sifat ubun-ubunnya. Yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata itu sendiri, dan menerangkannya lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis. Sifat yang dilekatkan pada bagian tubuh membuat tuduhannya terbaca lebih dekat kepada orangnya.
  • Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 20 ayat, antara lain 2:58, 4:112, 17:31, 69:9, dan 71:25. Di 69:9 akar itu dipakai Allah untuk kaum-kaum terdahulu yang datang membawa kesalahan. Jadi akar yang menamai kesalahan kaum yang binasa, di sini menamai sifat ubun-ubun satu orang. Susunan itu memusatkan penyifatan di dalam satu ayat pendek, dan pemusatan sepadat itu tidak terjadi lagi di ayat mana pun di surah ini. Ayat tanpa kata kerja berdiri sebagai keterangan, bukan sebagai kalimat yang berdiri sendiri.
  • Susunan ayat ini seluruhnya berupa kata benda dan dua kata sifat, tanpa satu kata kerja pun. Jadi ayat ini keterangan bagi kata terakhir di 96:15, bukan kalimat baru, dan ia yang paling padat kata sifatnya di dalam surah ini sebab dua dari tiga katanya kata sifat. Perbedaan bentuk itu menentukan arah perbuatannya, dan menggantinya dengan bentuk penderita akan membalikkan seluruh maksud kalimatnya. Ayat tanpa kata kerja berdiri sebagai keterangan, bukan sebagai kalimat yang berdiri sendiri.