فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ
Maka biarlah dia memanggil golongannya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَلْيَدْعُ نَادِيَهُfa-l-yad'u naadiyahumaka biarlah dia memanggil golongannya
Terjemahan per kata (2 kata)
- فَلْيَدْعُfa-l-yad'umaka hendaklah ia memanggil
- نَادِيَهُnaadiyahukelompoknya
Inti bacaan
Tantangan terhadap sumber dukungan sang penindas: 'maka biarlah dia memanggil golongannya', undangan untuk menguji kekuatan sekutu duniawi yang diandalkan, prediksi bahwa dukungan tersebut akan terbukti tidak berdaya.
Penjelasan pilihan kata
Kata (نَادِيَهُ, naadiyahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti tempat orang berhimpun. Ia dipakai di 50 ayat, antara lain 7:44, 19:3, 28:62, 41:44, dan 62:9, dan di sebagian besar pemakaiannya ia memberi kata kerja yang berarti memanggil atau menyeru.
Jadi akar yang di puluhan ayat menyebut perbuatan memanggil, di sini memberi kata benda yang menyebut kumpulan orang yang dipanggil. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (نَادِيَهُ, naadiyahu) di sini memakai kata ganti kepemilikan pada ujungnya.
Kata kerja (فَلْيَدْعُ, fa-l-yad'u) berasal dari akar yang berarti memanggil dan berdoa. Akar itu muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 96:18. Jadi satu akar dipakai untuk perbuatan orang itu dan untuk perbuatan Yang berfirman, dan keduanya berdiri di dua ayat berturut-turut.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Yang dipersilakan memanggil dan Yang akan memanggil dinamai dengan akar yang sama, sehingga dua tantangan itu diucapkan dengan kata yang sejenis. Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan bobotnya dengan satu kalimat pun.
Bentuk (فَلْيَدْعُ, fa-l-yad'u) berbentuk perintah lewat huruf lam, bukan perintah langsung. Bentuk itu dipakai untuk menyuruh pihak ketiga, sehingga yang disuruh bukan orang yang sedang disapa melainkan orang yang dibicarakan.
Bentuk semacam itu dipakai juga di 86:5 pada surah lain di juz ini. Di sana ia menyuruh manusia memperhatikan asal-usulnya, dan di sini ia mempersilakan seseorang memanggil golongannya. Jadi satu bentuk dipakai untuk perintah yang tulus dan untuk persilaan yang menantang. Kata (فَلْيَدْعُ, fa-l-yad'u) membuka ayatnya, dan hurufnya huruf perintah.
Kata ganti pada ujung (نَادِيَهُ, naadiyahu) menunjuk orang yang disebut sejak 96:9, sehingga sembilan ayat dari 96:9 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak. Jadi seluruh bagian itu bergantung pada satu penyebutan yang tidak pernah dinamai.
Huruf fa di awal ayat menyambungkannya kepada ancaman di 96:15, sehingga persilaan ini datang sebagai akibat dari ancaman itu. Jadi Al-Qur'an mengancam lebih dulu dan mempersilakan memanggil bantuan belakangan, dan urutan itu tidak diterangkan.
Kata (نَادِيَهُ, naadiyahu) memakai kata ganti kepemilikan, sehingga kumpulan itu disebut sebagai miliknya. Jadi yang dipanggil bukan sembarang orang melainkan golongan yang memang berpihak kepadanya, dan kepemilikan itu terbawa di dalam ujung katanya.
Bentuk (فَلْيَدْعُ, fa-l-yad'u) berbaris sukun pada huruf terakhirnya karena dikenai huruf perintah. Jadi bentuknya berubah dari bentuk sekarang menjadi bentuk perintah lewat satu huruf saja, dan perubahan itu tidak dinyatakan dengan kata tambahan.
Tafsiran
Ayat ini menantang orang tersebut memanggil bala bantuannya jika mampu, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 50 ayat, antara lain 7:44, 19:3, 28:62, 41:44, dan 62:9.
Di sebagian besar pemakaiannya akar itu memberi kata kerja yang berarti memanggil atau menyeru. Jadi akar yang di puluhan ayat menyebut perbuatan memanggil, di sini memberi kata benda yang menyebut kumpulan orang yang dipanggil.
Kata kerjanya berasal dari akar yang muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 96:18. Jadi satu akar dipakai untuk perbuatan orang itu dan untuk perbuatan Yang berfirman, dan keduanya berdiri di dua ayat berturut-turut.
Bentuk kata kerjanya berbentuk perintah lewat huruf lam, bukan perintah langsung. Bentuk itu dipakai untuk menyuruh pihak ketiga, sehingga yang disuruh bukan orang yang sedang disapa melainkan orang yang dibicarakan.
Bentuk semacam itu dipakai juga di 86:5 pada surah lain di juz ini. Di sana ia menyuruh manusia memperhatikan asal-usulnya, dan di sini ia mempersilakan seseorang memanggil golongannya. Kata terakhirnya memakai kata ganti kepemilikan, sehingga kumpulan itu disebut sebagai miliknya. Jadi yang dipanggil bukan sembarang orang melainkan golongan yang memang berpihak kepadanya, dan kepemilikan itu terbawa di dalam ujung katanya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerjanya berasal dari akar yang muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 96:17 dan 96:18. Jadi satu akar dipakai untuk perbuatan orang itu dan untuk perbuatan Allah, dan keduanya berdiri di dua ayat berturut-turut. Dua tantangan itu diucapkan dengan kata yang sejenis, dan Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan bobotnya. Kepemilikan itu terbawa di dalam ujung katanya saja, dan terjemahan yang melepaskannya akan kehilangan hubungan antara orang dan golongannya.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 50 ayat, antara lain 7:44, 19:3, 28:62, 41:44, dan 62:9. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu memberi kata kerja yang berarti memanggil, sedangkan di sini ia memberi kata benda yang menyebut kumpulan orang yang dipanggil. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik pemakaian yang jarang itu.
- Bentuk kata kerjanya berbentuk perintah lewat huruf lam, bukan perintah langsung. Bentuk itu dipakai Allah untuk menyuruh pihak ketiga, sehingga yang disuruh bukan orang yang sedang disapa melainkan orang yang dibicarakan. Bentuk semacam itu dipakai juga di 86:5, dan di sana ia menyuruh manusia memperhatikan asal-usulnya. Jadi yang disuruh bukan orang yang sedang disapa melainkan orang yang dibicarakan, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja.
- Bentuk perintah lewat huruf lam dipakai di 86:5 untuk menyuruh dengan tulus, dan di sini untuk mempersilakan dengan menantang. Jadi satu bentuk dipakai Allah untuk dua maksud yang berlawanan. Apa yang menentukan apakah sebuah persilaan terbaca sebagai izin atau sebagai tantangan yang mengejek? Yang tersedia bagi pembacanya cuma dua kata itu, dan menambahkan keterangan tentang siapa golongannya berarti menaruh apa yang tidak tertulis. Persilaan memanggil bantuan menaruh kekuatan orang itu di hadapan kekuatan yang lain.
- Kata ganti pada ujung kata terakhirnya menunjuk orang yang disebut sejak 96:9, sehingga sembilan ayat dari 96:9 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak. Jadi seluruh bagian itu bergantung pada satu penyebutan yang tidak pernah dinamai Allah di sepanjang surahnya. Susunan itu menyambung ayat ini kepada ancaman sebelumnya, dan urutan antara ancaman dan persilaan tidak diterangkan satu kalimat pun. Persilaan memanggil bantuan menaruh kekuatan orang itu di hadapan kekuatan yang lain.
- Huruf di awal ayat menyambungkannya kepada ancaman di 96:15, sehingga persilaan ini datang sebagai akibat dari ancaman itu. Jadi Allah mengancam lebih dulu dan mempersilakan memanggil bantuan belakangan, dan urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun di dalam surahnya. Perbedaan maksud itu tidak ditandai kata apa pun, dan pembacanya sendiri yang harus menimbang apakah yang dibaca izin atau tantangan. Golongan yang disebut sebagai miliknya membuat pertolongannya terbaca sebagai hak yang diklaim.