سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ

Kami akan memanggil Zabaniyah.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَsa-nad'u z-zabaaniyataKami akan memanggil Zabaniyah

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. سَنَدْعُsa-nad'uKami akan memanggil
  2. الزَّبَانِيَةَz-zabaaniyatamalaikat penjaga neraka

Inti bacaan

Jaminan kekuatan yang jauh lebih besar: 'Kami akan memanggil Zabaniyah', kontras tegas antara kekuatan manusia yang terbatas dan otoritas penegak keadilan yang tidak terkalahkan, penutup yang menegaskan ketakberdayaan penindas di hadapan kekuatan sejati.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الزَّبَانِيَةَ, az-zabaaniyata) dipertahankan sebagai nama diri dan tidak diterjemahkan, konsisten dengan penanganan nama khusus lain seperti Sijjin, Illiyyin, dan Tasnim. Kata itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti mendorong menjauh. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini.

Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar kedua di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat sesudah akar di 96:15. Keduanya berjarak tiga ayat, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkan keduanya. Kata (الزَّبَانِيَةَ, az-zabaaniyata) di sini bertakrif, sehingga pihaknya sudah tertentu.

Kata kerja (سَنَدْعُ, sanad'u) berasal dari akar yang berarti memanggil dan berdoa. Akar itu sudah dipakai di 96:17. Jadi dua ayat berturut-turut memakai akar yang sama, dan yang di sana perintah kepada pihak ketiga sedangkan yang di sini berita tentang apa yang akan dikerjakan Yang berfirman.

Huruf sin di dalam (سَنَدْعُ, sanad'u) menandai waktu yang akan datang, sedangkan kata kerja di 96:17 berbentuk perintah. Jadi dua panggilan itu tidak sejajar waktunya: yang satu dipersilakan sekarang, dan yang lain dijanjikan kemudian.

Bentuk (سَنَدْعُ, sanad'u) berorang pertama jamak, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang memakai bentuk itu. Delapan belas ayat lainnya menyebut Yang berfirman sebagai pihak ketiga, sebagai Tuhanmu, atau lewat nama-Nya sekali di 96:14.

Jadi Dia hadir di dalam kalimatnya dengan tiga cara yang berbeda di sepanjang surah ini, dan bentuk berorang pertama cuma dipakai sekali. Al-Qur'an tidak menerangkan pergantian cara itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma di mana masing-masing dipakai.

Kata (الزَّبَانِيَةَ, az-zabaaniyata) bertakrif, sehingga yang disebut pihak yang sudah tertentu, bukan sembarang kumpulan. Bandingkan dengan kata terakhir di 96:17 yang memakai kata ganti kepemilikan. Jadi dua kumpulan yang dipanggil disebut dengan dua cara penakrifan yang berbeda.

Susunan ayat ini sejajar dengan susunan 96:17: kata kerja dari satu akar lalu kumpulan yang dipanggil. Jadi dua ayat berturut-turut dibangun dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma siapa yang memanggil dan siapa yang dipanggil. Kata (سَنَدْعُ, sanad'u) mendahuluinya, dan hurufnya menandai waktu yang akan datang.

Bentuk (سَنَدْعُ, sanad'u) ditulis tanpa huruf waw di ujungnya, berbeda dari tulisan yang lazim bagi bentuk semacam itu. Jadi ejaannya sendiri menyimpang dari kebiasaan, dan penyimpangan itu dipertahankan di dalam mushaf tanpa satu keterangan pun.

Kata (الزَّبَانِيَةَ, az-zabaaniyata) berbaris fathah karena menjadi objek kata kerja di depannya. Jadi ia yang dipanggil, bukan yang memanggil, dan kedudukan itu ditentukan barisnya sendiri tanpa kata penunjuk apa pun.

Tafsiran

Ayat ini menjawab tantangan tersebut dengan penegasan bahwa Allah memiliki kekuatan yang jauh lebih besar, dan kata terakhirnya dipertahankan sebagai nama diri dan tidak diterjemahkan, konsisten dengan penanganan nama khusus lain seperti Sijjin, Illiyyin, dan Tasnim.

Kata itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar kedua di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat sesudah akar di 96:15.

Kata kerjanya berasal dari akar yang sudah dipakai di 96:17. Jadi dua ayat berturut-turut memakai akar yang sama, dan yang di sana perintah kepada pihak ketiga sedangkan yang di sini berita tentang apa yang akan dikerjakan Yang berfirman.

Bentuk kata kerjanya berorang pertama jamak, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang memakai bentuk itu. Delapan belas ayat lainnya menyebut Yang berfirman sebagai pihak ketiga, sebagai Tuhanmu, atau lewat nama-Nya sekali di 96:14.

Susunan ayat ini sejajar dengan susunan 96:17: kata kerja dari satu akar lalu kumpulan yang dipanggil. Bentuk kata kerjanya ditulis tanpa huruf waw di ujungnya, berbeda dari tulisan yang lazim bagi bentuk semacam itu. Jadi ejaannya sendiri menyimpang dari kebiasaan, dan penyimpangan itu dipertahankan di dalam mushaf tanpa satu keterangan pun.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar kedua di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat sesudah akar di 96:15, dan keduanya berjarak tiga ayat. Jadi tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkan keduanya. Dua panggilan yang berhadapan itu dinamai dengan akar yang sama, dan Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan bobotnya dengan satu kalimat pun. Jawaban yang memakai kata kerja sejenis membuat perbandingannya terbaca tanpa kata pembanding.
  • Huruf di dalam kata kerjanya menandai waktu yang akan datang, sedangkan kata kerja di 96:17 berbentuk perintah. Jadi dua panggilan itu tidak sejajar waktunya: yang satu dipersilakan sekarang, dan yang lain dijanjikan Allah kemudian. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri tanpa kata tambahan. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian kata yang tidak berulang.
  • Bentuk kata kerjanya berorang pertama jamak, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang memakai bentuk itu. Delapan belas ayat lainnya menyebut Allah sebagai pihak ketiga, sebagai Tuhanmu, atau lewat nama-Nya sekali di 96:14. Jadi Dia hadir dengan tiga cara berbeda di sepanjang surahnya. Jadi ejaannya sendiri menyimpang dari kebiasaan, dan penyimpangan itu dipertahankan di dalam mushaf tanpa satu keterangan pun di sekitarnya. Bentuk berorang pertama yang cuma sekali dipakai menaruh beratnya pada ayat penutup bagian ini.
  • Kata terakhirnya dipertahankan sebagai nama diri dan tidak diterjemahkan, konsisten dengan penanganan nama khusus lain seperti Sijjin, Illiyyin, dan Tasnim. Apa yang dijaga sebuah terjemahan ketika ia membiarkan sebuah nama tetap asing, alih-alih menggantinya dengan kata yang sudah dikenal pembacanya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat ini sendiri, sebab tidak ada satu tempat lain pun yang memakai kata itu untuk dibandingkan dengannya. Jawaban yang memakai kata kerja sejenis membuat perbandingannya terbaca tanpa kata pembanding.
  • Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang disebut pihak yang sudah tertentu, bukan sembarang kumpulan. Bandingkan dengan kata terakhir di 96:17 yang memakai kata ganti kepemilikan. Jadi dua kumpulan yang dipanggil disebut Allah dengan dua cara penakrifan yang berbeda, dan yang satu milik orangnya sedangkan yang lain tidak. Susunan itu sejajar dengan susunan ayat sebelumnya, dan kesejajarannya membuat perbandingan dua pihak terbaca tanpa satu kata pembanding.
  • Susunan ayat ini sejajar dengan susunan 96:17: kata kerja dari satu akar lalu kumpulan yang dipanggil. Jadi dua ayat berturut-turut dibangun Allah dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma siapa yang memanggil dan siapa yang dipanggil. Kesejajaran itu membuat perbandingannya terbaca tanpa satu kata pun. Perbedaan waktu itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang meratakannya akan menyamakan dua panggilan yang tidak sejajar.