كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ ۩
Sekali-kali tidak! Janganlah engkau menaatinya; dan sujudlah serta mendekatlah.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْkallaa laa tuthi'hu wa-sjud wa-qtaribsekali-kali tidak, janganlah engkau menaatinya, dan sujudlah serta mendekatlah
Terjemahan per kata (5 kata)
- كَلَّاkallaasekali-kali tidak
- لَاlaajanganlah
- تُطِعْهُtuthi'huengkau menaatinya
- وَاسْجُدْwa-sjuddan bersujudlah
- وَاقْتَرِبْwa-qtaribdan mendekatlah
Inti bacaan
Penutup Al-'Alaq dengan instruksi ganda: 'sekali-kali tidak! Janganlah engkau menaatinya; dan sujudlah serta mendekatlah', penolakan tegas terhadap tekanan penindas, digantikan dengan respons konkret berupa ibadah (sujud) sebagai bentuk kedekatan spiritual, penegasan bahwa tekanan eksternal harus dijawab dengan penguatan hubungan personal dengan Allah, bukan kompromi.
Penjelasan pilihan kata
Kata (كَلَّا, kallaa) distandarkan menjadi "Sekali-kali tidak!", konsisten di seluruh terjemahan ini. Kata itu muncul untuk ketiga kalinya di dalam surah ini sesudah 96:6 dan 96:15, sehingga surah ini memakainya tiga kali dan ketiganya membuka bagian yang berbeda.
Kata kerja (وَاسْجُدْ, wa-sjud) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya berarti bersujud. Ia dipakai di 81 ayat, antara lain 2:34, 7:206, 15:98, 53:62, dan 84:21. Di 7:206 dan 53:62 akar itu dipakai untuk perintah bersujud kepada Allah.
Kata kerja (وَاقْتَرِبْ, wa-qtarib) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti dekat. Ia dipakai di 91 ayat, antara lain 2:35, 17:32, 56:11, 83:21, dan 90:15. Kesejajaran dengan 90:15 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut kekerabatan anak yatim.
Jadi akar yang di surah lain di juz ini menyebut kedekatan hubungan darah, di sini menyebut perintah mendekat kepada Allah. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (وَاقْتَرِبْ, wa-qtarib) di sini berpola kedelapan, bukan pola pertama.
Bentuk (وَاقْتَرِبْ, wa-qtarib) berpola kedelapan, sehingga artinya mendekatkan diri sendiri. Jadi perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri, dan tidak ada pihak lain yang disebut sebagai yang mendekatkannya di dalam ayat ini.
Kata kerja (لَا تُطِعْهُ, laa tuthi'hu) berasal dari akar yang berarti menurut dengan sukarela. Akar itu dipakai di 129 ayat, dan bentuknya berbentuk larangan. Jadi ayat ini memuat satu larangan dan dua perintah, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.
Susunan ayat ini menaruh larangan lebih dulu dan dua perintah belakangan. Jadi yang diminta bukan cuma berhenti menuruti melainkan mengerjakan dua hal yang berlawanan dengan apa yang dilarang orang itu, dan Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu.
Ayat ini memuat tanda sujud tilawah pada ujungnya, dan surah ini ditutup dengan perintah bersujud. Jadi surah yang dibuka dengan perintah membaca ditutup dengan perintah bersujud dan mendekat, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Bentuk (تُطِعْهُ, tuthi'hu) berpola keempat dan memakai kata ganti objek yang menunjuk orang di 96:9. Jadi sepuluh ayat dari 96:9 sampai ayat penutup ini terikat kepada satu pihak yang tidak pernah dinamai sekali pun.
Kata (وَاسْجُدْ, wa-sjud) dan kata sesudahnya sama-sama berbentuk perintah dan berorang kedua tunggal, sama seperti kata pertama di 96:1. Jadi surah ini dibuka dan ditutup dengan bentuk yang sama, dan yang berbeda cuma perbuatan yang diperintahkan.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini memerintahkan Nabi untuk tidak tunduk pada larangan tersebut, melainkan justru semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui sujud, dan kata pertamanya muncul untuk ketiga kalinya di dalam surah ini sesudah 96:6 dan 96:15.
Kata kerja ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya dipakai di 81 ayat, antara lain 2:34, 7:206, 15:98, 53:62, dan 84:21. Di 7:206 dan 53:62 akar itu dipakai untuk perintah bersujud kepada Allah.
Kata kerja terakhirnya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 91 ayat, antara lain 2:35, 17:32, 56:11, 83:21, dan 90:15. Kesejajaran dengan 90:15 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut kekerabatan anak yatim.
Susunan ayat ini menaruh larangan lebih dulu dan dua perintah belakangan. Jadi yang diminta bukan cuma berhenti menuruti melainkan mengerjakan dua hal yang berlawanan dengan apa yang dilarang orang itu.
Ayat ini memuat tanda sujud tilawah pada ujungnya, dan surah yang dibuka dengan perintah membaca ditutup dengan perintah bersujud dan mendekat. Bentuk kata ketiganya berpola keempat dan memakai kata ganti objek yang menunjuk orang di 96:9. Jadi sepuluh ayat dari 96:9 sampai ayat penutup ini terikat kepada satu pihak yang tidak pernah dinamai sekali pun di dalam surahnya. Ayat ini menutup surahnya dengan tiga perintah beruntun, dan tanda sujud tilawah pada ujungnya menandai bahwa perintah terakhirnya dikerjakan pembacanya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Surah ini dibuka Allah dengan perintah membaca dan ditutup dengan perintah bersujud dan mendekat. Jadi ia bergerak dari perbuatan yang memakai lidah kepada perbuatan yang memakai seluruh tubuh, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun di sepanjang sembilan belas ayatnya. Kesejajaran antara pembuka dan penutup itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihatnya dari bentuk katanya. Larangan dijawab dengan menambah perbuatan yang dilarang, bukan dengan membantahnya.
- Kata pertamanya muncul untuk ketiga kalinya di dalam surah ini sesudah 96:6 dan 96:15. Jadi surah ini memakainya tiga kali dan ketiganya membuka bagian yang berbeda. Allah membalikkan arah pembicaraan tiga kali di dalam satu surah pendek tanpa satu kata penanda lain di antaranya. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik pemakaian yang tidak berulang. Surah yang dibuka dengan membaca ditutup dengan sujud, dan keduanya sama-sama perintah.
- Kata kerja terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 91 ayat termasuk 90:15. Kesejajaran dengan 90:15 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menyebut kekerabatan anak yatim. Jadi akar yang menyebut kedekatan hubungan darah, di sini menyebut perintah mendekat kepada Allah. Jadi perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri, dan tidak ada satu pihak pun yang disebut sebagai yang mendekatkannya di ayat ini.
- Bentuk kata kerja terakhirnya berpola kedelapan, sehingga artinya mendekatkan diri sendiri. Jadi perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri, dan Allah tidak menyebut satu pihak pun sebagai yang mendekatkannya. Perbuatan itu karena itu tidak bisa ditunggu melainkan harus dikerjakan orangnya. Yang tersedia bagi pembacanya cuma susunan katanya, dan menambahkan keterangan tentang cara mendekatnya berarti menaruh apa yang tidak tertulis.
- Susunan ayat ini menaruh larangan lebih dulu dan dua perintah belakangan, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini. Jadi yang diminta Allah bukan cuma berhenti menuruti melainkan mengerjakan dua hal yang berlawanan dengan apa yang dilarang orang itu di 96:9. Susunan itu menaruh larangan lebih dulu dan dua perintah belakangan, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini di mana pun. Larangan dijawab dengan menambah perbuatan yang dilarang, bukan dengan membantahnya.
- Orang itu melarang seorang hamba bersalat di 96:9, dan ayat ini justru memerintahkan bersujud dan mendekat. Jadi larangan dijawab bukan dengan bantahan melainkan dengan menambah perbuatan yang dilarang. Apa yang lebih menjawab sebuah larangan: membantahnya dengan kata, atau mengerjakan lebih banyak dari yang dilarang? Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk perintahnya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan ketegasan yang dibawa susunannya.