بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Malam Ketetapan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِinnaa anzalnaahu fii laylati l-qadrisesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Malam Ketetapan
Terjemahan per kata (5 kata)
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- أَنْزَلْنَاهُanzalnaahuKami menurunkannya
- فِيfiipada
- لَيْلَةِlaylatimalam
- الْقَدْرِl-qadrikemuliaan
Inti bacaan
Pembukaan Al-Qadr dengan momen penurunan wahyu: 'sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatulqadar', penegasan waktu spesifik yang menandai peristiwa paling penting dalam sejarah wahyu.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Tambahan kurung "(Al-Qur'an)" tidak dipakai: akhiran "-hu" pada (أَنْزَلْنَاهُ, anzalnaahu) tidak diberi rujukan yang tidak tertulis di dalam Arabnya, konsisten dengan disiplin anti-penyisipan yang berlaku di seluruh korpus ini.
Susunan pembukanya muncul sekali lagi di tempat lain dengan bunyi yang sama persis. Di 44:3 tertulis (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ, innaa anzalnaahu fii laylatin mubaarakatin), Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi. Empat kata pertamanya sama huruf per huruf dengan ayat ini, dan yang berbeda hanya sifat malamnya. Di sana malam itu disebut diberkahi dan tak bertakrif; di sini ia disebut dengan sebutan tertentu dan bertakrif. Dua ayat itu menyebut peristiwa yang sama dari dua sisi penamaan.
Rangkaian (لَيْلَةِ الْقَدْرِ, laylati l-qadri) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ketiganya di surah ini, yaitu di ayat ini serta di 97:2 dan 97:3. Tidak ada satu tempat lain pun yang memakainya. Akar yang berarti mengukur dan menentukan itu sendiri sangat luas, hadir di 121 ayat, dan menyebut ukuran, ketetapan, dan kemampuan menetapkan. "Laylat al-qadr" yang menjadi nama surah ini sendiri diterjemahkan menjadi "Malam Ketetapan", bukan ditransliterasi "Lailatulqadar", mengikuti acuan penerjemahan nama-julukan deskriptif yang sudah baku dalam korpus ini: yawm al-fasl menjadi hari Keputusan, yawm ad-diin menjadi Hari Pertanggungjawaban, as-saa'ah menjadi Saat itu, dan al-Haaqqah menjadi Kepastian itu. Ia berbeda dari nama diri murni seperti Saqar, Sijjin, dan Illiyyin yang tetap ditransliterasi. Akar q-d-r berkaitan erat dengan taqdir, yaitu ketetapan dan penentuan, konsisten dengan pemaknaan malam penentuan itu. Padanan "Malam Ketetapan" karena itu menahan sisi penetapannya, sebab yang menamai malam tersebut bukan cahayanya dan bukan bulannya, melainkan apa yang diputuskan di dalamnya.
Kata depan (فِي, fii) sebelum nama malamnya berarti di dalam, bukan pada permukaan waktunya. Yang dinyatakan bahwa penurunan itu berlangsung di dalam malam tersebut, sehingga malamnya menjadi wadah, bukan sekadar penanda tanggal. Perbedaan itu terasa ketika dibandingkan dengan 2:185 yang menyebut bulan Ramadan sebagai bulan yang di dalamnya Al-Qur'an diturunkan, memakai susunan yang sama: yang disebut wadahnya, dan wadah itu punya isi.
Kata kerjanya (أَنْزَلْنَاهُ, anzalnaahu) berbentuk keempat dari akar yang berarti turun. Akar itu hadir di 257 ayat, dan bentuk keempat itu menyatakan menurunkan sesuatu sekaligus, bukan sedikit demi sedikit. Perbandingannya ada di dalam surah ini sendiri: di 97:4 dipakai bentuk kelima dari akar yang sama, (تَنَزَّلُ, tanazzalu), yang justru menyatakan turun berulang dan bertahap. Jadi satu akar dipakai dua kali dengan dua bentuk berlawanan di dalam lima ayat: yang diturunkan sekali di pembuka, dan yang turun berulang di ayat keempat. Kata ganti "Kami" yang menempel juga menyebut pelakunya lebih dulu, sehingga yang dinyatakan bukan bahwa sesuatu turun, melainkan bahwa Ada yang menurunkannya.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan penegasan bahwa yang diturunkan itu turun pada malam yang penuh ketetapan. Yang disebut lebih dulu pelakunya, bukan peristiwanya, dan bukan pula apa yang diturunkan.
Perhatikan apa yang tidak disebut. Ayat ini tidak menyebutkan nama apa yang diturunkan, tidak menyebutkan tanggal malamnya, dan tidak menyebutkan tempatnya. Yang disebut hanya bahwa Kami menurunkannya, dan bahwa itu terjadi pada malam yang dinamai dari ketetapan. Tiga keterangan yang biasanya paling ditunggu justru tidak diberikan, sedangkan yang diberikan adalah pelakunya dan sifat malamnya.
Letaknya sebagai pembuka menyiapkan pertanyaan di 97:2. Sebuah kalimat yang menyebut nama tanpa menerangkannya menimbulkan pertanyaan dengan sendirinya, dan ayat berikutnya justru mengambil alih pertanyaan itu alih-alih membiarkan pembacanya bertanya sendiri. Bandingkan dengan 44:3 yang memakai susunan yang sama persis lalu berlanjut ke keterangan tentang peringatan, bukan ke pertanyaan. Dua ayat dengan pembuka identik bergerak ke arah yang berbeda, dan perbedaan arah itu yang menentukan bentuk masing-masing surah. Bandingkan pula dengan 2:185 yang menyebut bulan Ramadan sebagai bulan yang di dalamnya Al-Qur'an diturunkan: di sana yang disebut rentang sebulan, di sini satu malam di dalamnya.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini berbunyi 'Kami telah menurunkannya', tanpa menyebut apa. Terjemahan ini tidak menambahkan nama yang tidak tertulis di Arabnya. Yang tersisa bagi pembaca hanya akhiran satu huruf yang menunjuk sesuatu, dan penunjukan tanpa nama itu mengandaikan yang mendengar sudah tahu. Susunan yang sama dipakai di 44:3, dan di sana pun namanya tidak disebut, sehingga ketiadaan nama itu bukan kelalaian melainkan cara. Yang tidak disebut namanya tidak bisa diperdebatkan namanya, dan perhatian tinggal pada peristiwanya serta pada Allah yang menurunkannya.
- Malam itu tidak dinamai dari terangnya atau dari bintangnya, melainkan dari ketetapan. Yang menjadikannya bernilai bukan apa yang tampak di langitnya, melainkan apa yang diputuskan di dalamnya, dan keputusan tidak bisa dilihat siapa pun. Akar kata yang dipakai untuk menamainya hadir di ratusan ayat dan menyebut ukuran serta penetapan, jadi nama itu memang menunjuk perbuatan menetapkan, bukan keadaan malamnya. Malam yang dinamai dari apa yang tak terlihat tidak bisa dikenali dari tandanya di langit.
- Kalimatnya menyebut pelakunya lebih dulu: 'Kami telah menurunkannya'. Bukan 'ia turun'. Perbedaan itu memindahkan seluruh peristiwa dari kejadian yang berlangsung sendiri menjadi perbuatan yang ada pelakunya. Sesuatu yang turun sendiri bisa dijelaskan tanpa menyebut siapa pun; sesuatu yang diturunkan menuntut penyebutan Yang menurunkannya, dan penyebutan itu diletakkan Allah sebelum apa pun yang lain. Kata pertama surah ini menyebut Yang berbuat, bukan yang diperbuat.
- Kata kerja di ayat ini berbentuk keempat, yang menyatakan menurunkan sesuatu sekaligus. Di ayat keempat surah ini dipakai bentuk kelima dari akar yang sama, yang justru menyatakan turun berulang dan bertahap. Satu akar dipakai dua kali dengan dua bentuk berlawanan dalam lima ayat: yang satu turun sekali, yang lain turun terus. Apa yang membedakan sesuatu yang datang sekali seumur hidup dari sesuatu yang datang setiap tahun? Yang sekali turun tidak terulang, sedangkan yang berulang selalu menyediakan kesempatan berikutnya. Allah memakai dua bentuk itu berdampingan dalam satu surah pendek.
- Tiga keterangan yang biasanya paling ditunggu justru tidak diberikan Allah di ayat ini: nama apa yang diturunkan, tanggal malamnya, dan tempatnya. Yang diberikan hanya pelakunya dan sifat malamnya. Sebuah kabar yang menghilangkan tanggal dan nama tidak bisa dijadikan bahan perdebatan tentang keduanya, dan yang tersisa untuk dipikirkan cuma bagian yang memang ingin disampaikan, yaitu bahwa Ada yang menurunkan, dan bahwa malamnya dinamai dari ketetapan.
- Empat kata pertama ayat ini sama huruf per huruf dengan pembuka 44:3, dan yang membedakan hanya sifat malamnya. Di sana ia disebut malam yang diberkahi dan tak bertakrif; di sini ia diberi sebutan tertentu. Dua ayat itu menyebut peristiwa yang sama dari dua sisi penamaan, lalu bergerak ke arah yang berbeda: yang satu ke keterangan tentang peringatan, yang ini ke sebuah pertanyaan. Pembuka yang identik tidak menjamin lanjutan yang sama, dan justru perbedaan lanjutannya yang menentukan bentuk kedua surah.