وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

Tahukah engkau apakah Malam Ketetapan itu?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِwa-maa adraaka maa laylatu l-qadritahukah engkau apakah Malam Ketetapan itu

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tahukah
  2. أَدْرَاكَadraakamemberitahumu
  3. مَاmaaapakah
  4. لَيْلَةُlaylatumalam
  5. الْقَدْرِl-qadrikemuliaan

Inti bacaan

Pertanyaan yang mengagungkan momen tersebut: 'tahukah engkau apakah Lailatulqadar itu?', teknik retoris yang membangun kesadaran akan signifikansi mendalam malam tersebut sebelum penjelasan lebih lanjut.

Penjelasan pilihan kata

"Itu" mengikuti pola formula baku "wa-maa adraaka maa X" (bandingkan 74:27, 77:14, 82:17, 83:8, 83:19, 86:2, 90:12).

Susunan (وَمَا أَدْرَاكَ مَا, wa-maa adraaka maa) muncul 12 kali di 10 surah, dan bentuknya selalu sama: huruf sambung, kata tanya, kata kerja bentuk keempat berkata ganti orang kedua tunggal, lalu kata tanya lagi. Yang berubah cuma apa yang ditanyakan sesudahnya. Di 74:27 yang ditanyakan Saqar, di 90:12 jalan mendaki, dan di sini Malam Ketetapan. Jadi ayat ini memakai bentuk yang sudah dikenal pembaca Al-Qur'an, dan pengenalan itu sendiri sudah memberi isyarat tentang jenis jawabannya.

Kata kerjanya (أَدْرَاكَ, adraaka) berbentuk keempat, yang menyatakan menjadikan seseorang tahu. Jadi yang ditanyakan bukan "apakah engkau tahu" melainkan "apa yang membuatmu tahu", dan pertanyaan semacam itu mengandaikan jawabannya tidak bisa dicapai lewat jalan biasa. Padanan "tahukah engkau" menahan bentuk pertanyaannya, sekalipun ia tidak sanggup menahan sisi menjadikan-tahu yang ada di Arabnya.

Yang ditanyakan dengan susunan itu di tempat lain selalu satu golongan: sesuatu yang tidak bisa diukur dengan pengalaman sehari-hari. Di 74:27 yang ditanyakan Saqar, di 77:14 hari pemisahan, di 82:17 dan 83:8 serta 83:19 masing-masing hari pembalasan, sijjiin, dan 'illiyyuun, di 86:2 yang mengetuk malam, dan di 90:12 jalan mendaki. Tidak satu pun di antaranya perkara biasa. Pembaca yang sudah mengenal susunan ini tahu sejak kata pertamanya bahwa yang akan disebut bukan sesuatu yang bisa ia bayangkan dari pengalamannya sendiri.

Yang ditanyakan diulang dengan bunyi yang sama persis dari 97:1, yaitu (لَيْلَةُ الْقَدْرِ, laylatu l-qadri), kali ini dalam kedudukan yang berbeda menurut i'rabnya. Pengulangan penuh itu perlu diperhatikan: ayat ini tidak memakai kata ganti untuk merujuk kembali, padahal bisa. Nama itu disebut utuh lagi, dan akan disebut utuh sekali lagi di 97:3. Tiga penyebutan penuh dalam tiga ayat berturut-turut, dan ketiganya satu-satunya tempat rangkaian itu muncul di seluruh Al-Qur'an.

Perlu dicatat pula bahwa pertanyaan ini diajukan oleh Yang menetapkan malam itu sendiri. Ia bukan permintaan keterangan, sebab yang bertanya sudah mengetahui jawabannya lebih dari siapa pun. Fungsinya memindahkan kedudukan yang ditanya: dari pendengar yang sedang menerima kabar menjadi orang yang baru saja mengakui tidak tahu. Jawaban di 97:3 karena itu jatuh kepada orang dalam keadaan yang berbeda dari sebelum ia ditanya, dan perbedaan keadaan itu bagian dari apa yang hendak dikerjakan ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan keagungan malam tersebut dengan cara yang tidak biasa, yaitu dengan bertanya alih-alih menerangkan. Yang baru saja disebut namanya langsung ditanyakan kembali, seolah penyebutan pertamanya belum menyampaikan apa-apa.

Bentuk itu bekerja karena ia memindahkan kedudukan pembaca. Sebuah keterangan menempatkan pembaca sebagai penerima yang boleh menerima atau menolak. Sebuah pertanyaan menempatkannya sebagai pihak yang diminta menjawab, dan ketika ia menyadari tidak punya jawabannya, ketidaktahuan itu sendiri menjadi bagian dari yang disampaikan. Jawaban di 97:3 karena itu jatuh pada orang yang sudah lebih dulu mengakui tidak tahu.

Bahwa bentuk ini dipakai 12 kali di 10 surah juga menerangkan sesuatu. Yang ditanyakan dengan susunan tersebut selalu hal yang tidak bisa diukur dengan pengalaman sehari-hari: Saqar di 74:27, jalan mendaki di 90:12, dan malam ini. Jadi susunan itu berfungsi sebagai penanda golongan, dan pembaca yang sudah mengenalnya tahu sejak mendengar kata pertamanya bahwa yang akan disebut bukan sesuatu yang bisa ia bayangkan dari pengalamannya sendiri. Dan nama malam itu diulang utuh di ayat ini, tidak diringkas menjadi kata ganti, padahal baru saja disebut satu ayat sebelumnya. Pengulangan penuh itu berlanjut sekali lagi di 97:3, lalu berhenti: dua ayat terakhir surah ini cukup menunjuknya dengan kata ganti.

Renungan dan Hikmah

  • Malam itu baru disebut Allah, langsung ditanyakan. Bukan diterangkan. Ditanyakan dulu. Sebuah keterangan menempatkan pembaca sebagai penerima yang boleh menerima atau menolak, sedangkan pertanyaan menempatkannya sebagai pihak yang diminta menjawab. Ketika ia menyadari tidak punya jawabannya, ketidaktahuan itu sendiri sudah menjadi bagian dari apa yang disampaikan kepadanya. Allah bertanya bukan untuk mendapat jawaban, melainkan untuk memindahkan kedudukan yang ditanya.
  • Bentuk pertanyaan ini muncul lagi di surah-surah lain. Susunannya sama persis. Yang ditanyakan berbeda-beda, tetapi jenisnya selalu sama: hal yang tak bisa diukur dengan pengalaman sehari-hari, seperti Saqar di 74:27 dan jalan mendaki di 90:12. Susunan itu berfungsi sebagai penanda golongan, dan yang sudah mengenalnya tahu sejak kata pertama bahwa yang akan disebut di luar jangkauan bayangannya. Susunan itu dipakai belasan kali, dan tak satu pun untuk perkara biasa.
  • Jawabannya menyusul di ayat berikutnya. Allah menahannya sebentar. Jeda itu bagian dari cara menyampaikan. Sesuatu yang langsung dijawab diterima sebagai keterangan biasa; sesuatu yang ditahan sebentar meninggalkan ruang kosong yang harus ditanggung sendiri oleh yang mendengar, dan ruang kosong itu yang menyiapkannya menerima jawaban. Yang langsung dijawab lewat begitu saja; yang ditahan sebentar meninggalkan bekas pada yang menunggunya.
  • Ayat ini tidak memakai kata ganti untuk merujuk kembali ke malam yang baru disebut, padahal bisa. Namanya disebut utuh lagi, dan akan disebut utuh sekali lagi di ayat berikutnya. Tiga penyebutan penuh dalam tiga ayat berturut-turut, dan ketiganya satu-satunya tempat rangkaian itu muncul di seluruh Al-Qur'an. Pengulangan yang tak diringkas itu menahan perhatian pada namanya sendiri. Sesudah jawabannya diberikan, barulah dua ayat terakhir cukup memakai kata ganti untuk menunjuknya.
  • Kata kerja yang dipakai berbentuk keempat, yang menyatakan menjadikan seseorang tahu. Jadi yang ditanyakan bukan apakah engkau tahu, melainkan apa yang membuatmu tahu. Pertanyaan semacam itu mengandaikan jawabannya tidak bisa dicapai lewat jalan biasa, dan Allah menanyakannya kepada orang yang memang tidak punya jalan ke sana. Dari mana seseorang bisa mengetahui sesuatu yang tak pernah ia alami? Pertanyaan itu tidak menuntut jawaban, ia cuma menegaskan bahwa jalannya memang tidak tersedia.
  • Kata ganti pada kata kerjanya berbentuk tunggal, jadi yang ditanya satu orang, bukan kerumunan. Sebuah pertanyaan yang dilemparkan kepada banyak orang mudah dibiarkan dijawab orang lain; yang dialamatkan kepada satu orang tidak menyediakan siapa pun untuk mewakili. Susunan itu membuat kalimatnya sampai kepada setiap pembaca sebagai kalimat yang ditujukan kepadanya sendiri, betapa pun banyak orang yang membacanya bersamaan. Sapaan tunggal itu tetap terasa langsung bagi siapa pun yang membacanya sesudahnya, sebab pertanyaannya tidak pernah ditutup dengan nama.