لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Malam Ketetapan itu lebih baik daripada seribu bulan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍlaylatu l-qadri khayrun min alfi syahrinMalam Ketetapan itu lebih baik daripada seribu bulan
Terjemahan per kata (6 kata)
- لَيْلَةُlaylatumalam
- الْقَدْرِl-qadrikemuliaan
- خَيْرٌkhayrunlebih baik
- مِنْmindari
- أَلْفِalfiseribu
- شَهْرٍsyahrinbulan
Inti bacaan
Keutamaan di sini disampaikan lewat perbandingan, bukan lewat penjelasan isinya. Konkretnya: pembacanya keluar dari ayat ini mengetahui betapa besar sesuatu itu, dan tetap tidak mengetahui apa yang membuatnya begitu. Praktis: keterangan yang tidak tuntas menahan perhatian jauh lebih lama daripada keterangan yang selesai, sebab bagian yang menggantung terus meminta dipikirkan. Ada pula sisi yang jarang disebut orang: hal seberharga ini ternyata tidak dipasangi penanda apa pun, sehingga ia bisa datang dan berlalu di sela hari-hari biasa tanpa seorang pun menyadarinya sedang terjadi.
Penjelasan pilihan kata
"Itu" bersifat anaforis idiomatik, bukan kata tunjuk yang muncul di morfologi, merujuk kembali ke (لَيْلَةُ الْقَدْرِ, laylatu l-qadri) yang sudah disebut, konsisten dengan pola penyebutan berulang yang dipakai korpus ini.
Rangkaian (لَيْلَةُ الْقَدْرِ, laylatu l-qadri) disebut utuh untuk ketiga kalinya di ayat ini, dan inilah penyebutan terakhirnya. Sesudah ini nama itu tidak muncul lagi, baik di 97:4 maupun 97:5, yang keduanya memakai kata ganti perempuan tunggal untuk merujuknya. Jadi tiga ayat pertama menyebut namanya penuh, dan dua ayat terakhir cukup menunjuknya. Perpindahan itu terjadi tepat sesudah jawabannya diberikan.
Kata (خَيْرٌ, khayrun) berbentuk pembanding dan berarti lebih baik, bukan lebih panjang atau lebih banyak. Akarnya berarti baik dan terpilih. Pembedaan itu menentukan: yang dibandingkan mutunya, bukan lamanya. Sebuah malam tidak mungkin lebih panjang daripada seribu bulan, sehingga pembacaan yang mengukur dengan waktu akan menghasilkan kalimat yang mustahil. Padanan "lebih baik" menahan pembandingan mutu itu.
Susunan kalimatnya juga perlu diperhatikan. Ia tidak memakai kata kerja sama sekali: pokoknya nama malam itu, sebutannya (خَيْرٌ, khayrun), dan di antaranya tidak ada apa-apa. Kalimat tanpa kata kerja dalam bahasa Arab menyatakan keadaan yang tetap, bukan peristiwa yang berlangsung. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa malam itu menjadi lebih baik pada suatu ketika, melainkan bahwa begitulah keadaannya. Susunan yang sama dipakai di 112:2 untuk menyatakan kedudukan yang tidak pernah bermula.
Rangkaian (أَلْفِ شَهْرٍ, alfi syahrin) muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata (أَلْفِ, alfi) berasal dari akar yang berarti terbiasa sampai menyatu. Akar itu hadir di 19 ayat dan juga melahirkan kata untuk kebiasaan serta penyatuan, sebagaimana dipakai di 106:1. Bilangan seribu di sini perlu dibaca sebagai ukuran, bukan sebagai hitungan yang harus dicocokkan. Yang dinyatakan bahwa satu malam melampaui rentang yang jauh melebihi umur kebanyakan orang, dan ukuran itu diberikan justru supaya yang tak terukur bisa dibayangkan sedikit.
Kata (شَهْرٍ, syahrin) yang dipakai sebagai satuan juga tak bertakrif, jadi yang dimaksud bulan mana pun, bukan bulan tertentu. Pilihan satuan itu masuk akal bagi sebuah perbandingan: yang dipakai satuan yang dikenal semua orang dan berulang tanpa henti sepanjang hidup siapa pun. Dengan satuan semacam itu, pembacanya bisa menghitung sendiri berapa banyak yang sudah ia lewati dan berapa yang mungkin masih tersisa, dan perhitungan itulah yang membuat perbandingannya terasa.
Tafsiran
Ayat ini menjawab pertanyaan di 97:2 dengan sebuah perbandingan, bukan dengan uraian. Yang diberikan bukan keterangan tentang apa yang terjadi di malam itu, melainkan ukuran tentang nilainya.
Cara menjawab semacam itu menjaga jarak yang sudah dibangun ayat sebelumnya. Sebuah uraian akan menghapus ketidaktahuan yang baru saja diakui; sebuah perbandingan justru mempertahankannya, sebab ia menyatakan besarnya tanpa menerangkan isinya. Pembaca keluar dari ayat ini mengetahui bahwa malam itu bernilai luar biasa, dan tetap tidak mengetahui apa yang membuatnya begitu.
Bilangan yang dipakai juga patut diperhatikan. Seribu bulan melampaui delapan puluh tahun, yang berarti melampaui umur kebanyakan orang. Jadi yang dibandingkan bukan satu malam dengan satu rentang waktu tertentu, melainkan satu malam dengan sesuatu yang lebih panjang daripada seluruh hidup yang dimiliki seseorang untuk beramal. Bandingkan dengan 2:185 yang menyebut bulan Ramadan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur'an: yang di sana disebut satu bulan penuh, dan yang di sini satu malam di dalamnya, dan malam itu dinyatakan melampaui seribu bulan.
Susunan kalimatnya pun tanpa kata kerja sama sekali, sehingga yang dinyatakan keadaan yang tetap, bukan peristiwa yang berlangsung pada suatu ketika. Malam itu tidak dikatakan menjadi lebih baik; ia dikatakan begitulah adanya. Perbedaan itu menutup satu bacaan yang mungkin muncul, yaitu bahwa nilainya bergantung pada apa yang dikerjakan orang di dalamnya.
Renungan dan Hikmah
- Allah membandingkannya dengan seribu bulan. Diberi angka. Yang tak terukur diterangkan lewat bilangan yang bisa dibayangkan. Seribu bulan melampaui delapan puluh tahun, yang berarti melampaui umur kebanyakan orang, sehingga yang dibandingkan bukan satu malam dengan satu rentang tertentu melainkan dengan sesuatu yang lebih panjang daripada seluruh hidup yang dimiliki seseorang untuk beramal. Satuan yang dipakai pun bulan, yaitu satuan yang dikenal semua orang dan berulang tanpa henti sepanjang hidup siapa pun.
- Kata yang dipakai lebih baik. Bukan lebih panjang. Yang dibandingkan mutunya, bukan lamanya. Sebuah malam tidak mungkin lebih panjang daripada seribu bulan, sehingga pembacaan yang mengukur dengan waktu akan menghasilkan kalimat yang mustahil. Satu kata menjaga seluruh ayat tetap masuk akal, dan salah menerjemahkannya akan merusak kalimatnya sendiri. Yang dibandingkan bukan dua rentang waktu, melainkan dua nilai yang kebetulan diukur dengan satuan waktu.
- Allah menyebut malamnya tanpa memberi tanggal. Dibiarkan dicari. Yang paling bernilai disembunyikan letaknya. Jawaban di ayat ini pun cuma menyatakan besarnya nilai, bukan menerangkan isinya, sehingga pembaca keluar dengan mengetahui bahwa malam itu luar biasa dan tetap tidak mengetahui apa yang membuatnya begitu. Yang disembunyikan letaknya harus dicari, dan pencarian itu sendiri sudah mengubah orang yang mencarinya. Ketiadaan tanggal itu memaksa orang menjaga banyak malam sekaligus, dan penjagaan yang tersebar biasanya mengubah lebih banyak hal daripada satu malam yang ditandai.
- Sebuah uraian akan menghapus ketidaktahuan yang baru saja diakui di ayat sebelumnya; perbandingan justru mempertahankannya. Yang diberikan Allah ukuran nilainya, bukan keterangan isinya. Jawaban semacam itu memuaskan tanpa menyelesaikan, dan yang tidak selesai tetap menahan perhatian orangnya lebih lama daripada yang sudah tuntas dijelaskan. Allah memberi ukuran nilainya dan menahan keterangan isinya, dan keduanya sengaja.
- Nama malam itu disebut utuh untuk ketiga dan terakhir kalinya di ayat ini. Dua ayat sesudahnya cukup memakai kata ganti untuk merujuknya. Perpindahan dari nama ke kata ganti terjadi tepat sesudah jawabannya diberikan, seakan sesudah pertanyaan dijawab, namanya tidak perlu diulang lagi. Yang sudah dikenal cukup ditunjuk. Tiga penyebutan penuh berturut-turut lalu berhenti, dan berhentinya itu menandai bahwa perkenalannya sudah selesai dikerjakan.
- Rentang yang dipakai sebagai pembanding lebih panjang daripada umur yang biasanya diberikan kepada seseorang. Artinya satu malam ini bisa melampaui seluruh kesempatan yang ia punya. Perbandingan itu tidak menghibur, sebab ia juga berarti kesempatan sebesar itu bisa lewat begitu saja tanpa disadari. Berapa banyak malam yang sudah dilewati seseorang tanpa pernah menghitungnya? Perbandingan ini tidak menghibur, sebab ia juga berarti kesempatan sebesar itu bisa lewat begitu saja tanpa disadari sama sekali.