تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

Turun para malaikat dan Ruh pada malam itu dengan izin Tuhan mereka untuk setiap urusan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍtanazzalu l-malaa'ikatu wa-r-ruuhu fiihaa bi-idzni rabbihim min kulli amrinturun para malaikat dan Ruh pada malam itu dengan izin Tuhan mereka untuk setiap urusan

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. تَنَزَّلُtanazzaluturun
  2. الْمَلَائِكَةُl-malaa'ikatupara malaikat
  3. وَالرُّوحُwa-r-ruuhudan Ruh
  4. فِيهَاfiihaapada malam itu
  5. بِإِذْنِbi-idznidengan izin
  6. رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
  7. مِنْmindari
  8. كُلِّkullisegala
  9. أَمْرٍamrinurusan

Inti bacaan

Aktivitas kosmik yang menyertai malam istimewa: 'turun para malaikat dan Ruh pada malam itu dengan izin Tuhan mereka untuk setiap urusan', gambaran kesibukan spiritual yang intens, malam yang dipenuhi aktivitas ilahi yang terarah dan bertujuan.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja pembukanya (تَنَزَّلُ, tanazzalu) berbentuk kelima dari akar yang berarti turun, dan bentuk itu menyatakan perbuatan yang berlangsung berulang atau bertahap. Ia berbeda dari bentuk keempat yang dipakai di 97:1, (أَنْزَلْنَاهُ, anzalnaahu), yang menyatakan menurunkan sekaligus. Jadi satu akar dipakai dua kali di dalam surah yang sama dengan dua bentuk yang berlawanan sifatnya: yang diturunkan sekali di pembuka, dan yang turun berulang di sini.

Bentuk kelima pada (تَنَزَّلُ, tanazzalu) itu sendiri dipakai di 7 ayat: 19:64, 26:210, 26:221, 26:222, 41:30, 65:12, dan ayat ini. Di 19:64 malaikat berkata bahwa mereka tidak turun kecuali dengan perintah Tuhan, dan di 41:30 malaikat turun kepada orang-orang yang istikamah. Jadi bentuk ini memang melekat pada turunnya makhluk yang diperintah, bukan pada turunnya wahyu sekaligus.

Kata (وَالرُّوحُ, wa-r-ruuhu) disebut terpisah sesudah malaikat, disambung kata sambung, sehingga ia tidak termasuk ke dalam mereka melainkan berdiri sendiri. Akarnya berarti angin dan ruh. Ia hadir di 52 ayat. Di 17:85 disebut bahwa ruh termasuk (مِنْ أَمْرِ رَبِّي, min amri rabbii), urusan Tuhanku, dan bahwa manusia tidak diberi pengetahuan tentangnya kecuali sedikit. Penyebutan terpisah di ayat ini karena itu sejalan dengan kedudukannya di tempat lain, yaitu sesuatu yang tidak digolongkan ke dalam apa pun.

Kata kerjanya juga berbentuk perempuan tunggal, yaitu (تَنَزَّلُ, tanazzalu), meski pelakunya para malaikat yang jamak. Susunan itu biasa dalam bahasa Arab untuk jamak yang tak berakal atau untuk jamak yang diperlakukan sebagai satu kesatuan, dan bahasa Indonesia tidak menandainya sama sekali. Padanan "turun" karena itu dibiarkan tanpa penanda jumlah, sebagaimana (تَرْمِيهِمْ, tarmiihim) di 105:4 yang juga berbentuk perempuan tunggal untuk burung yang banyak.

Susunan (بِإِذْنِ رَبِّهِمْ, bi-idzni rabbihim) menyatakan bahwa turunnya berlangsung dengan izin, bukan atas kehendak sendiri, dan itu sejajar persis dengan pernyataan malaikat di 19:64. Sedangkan (مِنْ كُلِّ أَمْرٍ, min kulli amrin) memakai kata (كُلِّ, kulli) yang berarti setiap, tanpa batas jenis. Akar yang berarti menyuruh itu hadir di 226 ayat dan menyebut perintah maupun urusan sekaligus. Padanan "untuk setiap urusan" menahan keluasan itu tanpa memilih salah satu dari dua sisinya. Kata (فِيهَا, fiihaa) di tengah kalimat memakai kata ganti perempuan tunggal yang merujuk kembali ke malam itu, dan inilah pertama kalinya namanya tidak disebut utuh sesudah tiga ayat pertama. Perpindahan dari nama ke kata ganti itu terjadi persis sesudah pertanyaan di 97:2 dijawab, dan ia berlanjut di 97:5 yang juga cukup memakai kata ganti.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan turunnya para malaikat dan Ruh pada malam tersebut membawa setiap urusan yang ditetapkan. Yang bergerak di ayat ini bukan manusia, melainkan yang datang kepadanya.

Perhatikan arah seluruh surah sampai di sini. Di 97:1 sesuatu diturunkan, di 97:4 para malaikat dan Ruh turun. Dua kali gerakan yang sama arahnya, yaitu dari atas ke bawah, dan tidak sekali pun disebutkan gerakan dari bawah ke atas. Malam yang paling bernilai ini digambarkan bukan sebagai saat manusia naik, melainkan sebagai saat sesuatu turun kepadanya.

Bahwa turunnya disebut berlangsung dengan izin juga menempatkan seluruh peristiwa pada kedudukan tertentu. Yang turun bukan bertindak sendiri, dan yang mereka bawa disebut setiap urusan tanpa dibatasi jenisnya. Bandingkan dengan 65:12 yang menyebut perintah-Nya turun di antara langit dan bumi agar manusia mengetahui bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu: kata kerja yang dipakai di sana sama bentuknya dengan yang di sini, dan keduanya menggambarkan turunnya ketetapan, bukan turunnya penghuni langit sebagai kunjungan.

Ruh yang disebut terpisah juga menahan sesuatu. Ia tidak digolongkan ke dalam malaikat meski disebut bersama mereka, dan di 17:85 dinyatakan bahwa ia termasuk urusan Tuhan serta manusia tidak diberi pengetahuan tentangnya kecuali sedikit. Jadi di dalam ayat yang menerangkan malam paling bernilai ini, ada satu hal yang tetap dibiarkan tidak diterangkan, dan ia disebut justru untuk menandai bahwa keterangannya berhenti di situ.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut mereka turun dengan izin, bukan atas kemauan. Ada perintahnya. Ada izinnya. Susunan itu sejajar persis dengan pernyataan malaikat di 19:64 bahwa mereka tidak turun kecuali dengan perintah Tuhan. Yang paling dekat kepada-Nya pun tidak bergerak tanpa izin, dan penyebutan itu menutup gambaran tentang penghuni langit yang datang dan pergi menurut kehendaknya sendiri. Yang paling dekat pun tetap menunggu izin, dan izin itu disebut sebelum tugasnya diuraikan.
  • Ruh disebut terpisah dari malaikat. Bukan digabung. Disebut sendiri. Kata sambung di depannya membuatnya berdiri di luar golongan yang baru saja disebut. Di tempat lain dinyatakan bahwa ruh termasuk urusan Tuhan dan manusia tidak diberi pengetahuan tentangnya kecuali sedikit, sehingga penyebutan terpisah di sini sejalan dengan kedudukannya yang memang tidak digolongkan ke dalam apa pun. Di tengah ayat yang menerangkan malam paling bernilai, ada satu hal yang tetap dibiarkan tak diterangkan.
  • Urusannya disebut setiap urusan. Allah tidak membatasi. Bukan satu perkara. Kata yang dipakai berarti setiap, tanpa batas jenis, dan akarnya menyebut perintah sekaligus urusan. Yang turun pada malam itu karena itu tidak bisa dipersempit menjadi satu bidang tertentu dari kehidupan seseorang, sebab yang tertulis mencakup seluruhnya tanpa menyebut satu pun contohnya. Akar katanya menyebut perintah sekaligus urusan, dan Allah tidak memilih salah satu dari dua sisi itu.
  • Sepanjang surah ini gerakan yang disebut selalu dari atas ke bawah: sesuatu diturunkan di ayat pertama, para malaikat dan Ruh turun di ayat ini. Tidak sekali pun disebut gerakan dari bawah ke atas. Malam yang paling bernilai digambarkan bukan sebagai saat manusia naik, melainkan sebagai saat sesuatu turun kepadanya, dan perbedaan arah itu mengubah siapa yang sedang mengerjakan apa. Yang menunggu di bawah tidak sedang mengerjakan perjalanan; ia sedang menunggu kedatangan.
  • Bentuk kata kerja di ayat ini berbeda dari yang dipakai di ayat pertama, meski akarnya sama. Yang di pembuka menyatakan menurunkan sekaligus, yang di sini menyatakan turun berulang dan bertahap. Satu akar, dua bentuk berlawanan, dalam lima ayat. Yang sekali turun tidak terulang; yang berulang datang lagi setiap kali malamnya datang. Satu akar dipakai Allah dua kali dengan dua bentuk berlawanan di dalam surah yang cuma lima ayat.
  • Bentuk kata kerja yang dipakai di sini muncul di tujuh ayat, dan di beberapa di antaranya ia menyebut malaikat yang turun kepada orang beriman atau turun dengan perintah Tuhan. Jadi bentuk ini memang melekat pada turunnya pihak yang diperintah, bukan pada turunnya wahyu sekaligus. Siapa sebenarnya yang sedang bergerak pada malam ketika seseorang merasa dirinya sedang mendekat? Sepanjang surah ini gerakan yang disebut Allah selalu turun, dan tak sekali pun disebut gerakan naik.