سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sejahtera ia hingga terbitnya fajar.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِsalaamun hiya hattaa mathla'i l-fajrisejahtera ia hingga terbitnya fajar

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. سَلَامٌsalaamunkesejahteraan
  2. هِيَhiyaia
  3. حَتَّىٰhattaasampai
  4. مَطْلَعِmathla'iterbit
  5. الْفَجْرِl-fajrifajar

Inti bacaan

Kedamaian yang menyeluruh sepanjang malam: 'sejahtera ia hingga terbitnya fajar', jaminan ketenangan dan keberkahan yang berlangsung sepanjang durasi malam istimewa tersebut, kualitas waktu yang bebas dari gangguan.

Penjelasan pilihan kata

Kata pembukanya (سَلَامٌ, salaamun) berbentuk tak bertakrif dan diletakkan di depan, mendahului kata gantinya. Akarnya berarti selamat dan damai. Ia hadir di 127 ayat dan menyebut keselamatan, kesejahteraan, dan kedamaian sekaligus. Padanan "sejahtera" dipilih untuk menahan ketiganya tanpa memilih salah satu, sebab yang dinyatakan bukan ucapan salam melainkan keadaan malam itu sendiri.

Peletakan (سَلَامٌ, salaamun) di depan kata gantinya perlu diperhatikan. Susunan biasa akan menempatkan pokoknya lebih dulu lalu sifatnya, sedangkan di sini sifatnya yang didahulukan. Bahasa Arab memakai pembalikan semacam itu untuk menegaskan, dan bahasa Indonesia menirunya dengan menempatkan "sejahtera" di kepala kalimat pula. Yang ditegaskan bukan bahwa malam itu punya kesejahteraan, melainkan bahwa kesejahteraan itulah keadaannya.

Kata ganti (هِيَ, hiya) berbentuk perempuan tunggal dan merujuk kembali ke malam yang disebut di tiga ayat pertama. Inilah kedua kalinya kata ganti dipakai menggantikan namanya, sesudah (فِيهَا, fiihaa) di 97:4. Jadi dua ayat terakhir surah ini tidak lagi menyebut namanya sama sekali, cukup menunjuknya, dan perpindahan itu terjadi sesudah pertanyaan di 97:2 dijawab.

Kata (حَتَّىٰ, hattaa) sebelum batasnya berarti hingga, dan ia menandai ujung yang tercakup, bukan ujung yang dikecualikan. Jadi kesejahteraan itu berlangsung sampai batas tersebut dan berhenti di sana. Sesuatu yang diberi batas berarti punya akhir, dan pemberian batas itu sendiri menyatakan bahwa keadaan tersebut bukan keadaan tetap melainkan keadaan yang datang lalu berlalu.

Kata terakhirnya (مَطْلَعِ, mathla'i) muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini, dan bentuk itu juga satu-satunya dari lemanya. Ia menyebut tempat atau saat terbitnya sesuatu, dari akar yang berarti terbit dan naik. Akar itu hadir di 18 ayat. Padanan "terbitnya" menahan sisi saat itu. Yang dipakai sebagai batas bukan tengah malam dan bukan pula pagi, melainkan (الْفَجْرِ, l-fajri), fajar, dari akar yang berarti membelah dan menerobos. Akar itu hadir di 21 ayat dan berkaitan dengan membelah, sebagaimana dibahas di 113:1. Jadi batas malam ini adalah saat gelapnya terbelah.

Perlu dicatat pula bahwa seluruh surah ini, sejak (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ, innaa anzalnaahu) di 97:1 sampai ayat ini, tidak memuat satu pun kata kerja perintah. Kelima ayatnya berupa keterangan: sesuatu diturunkan, malamnya dinamai, nilainya dibandingkan, para malaikat turun, dan malam itu sejahtera. Bandingkan dengan 106:3 yang memuat perintah menyembah, atau 108:2 yang memerintahkan bersalat dan berkurban. Surah yang berbicara tentang malam paling bernilai justru tidak menyuruh apa-apa, dan kesimpulannya diserahkan penuh kepada pembacanya.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini menegaskan kesejahteraan penuh yang meliputi malam tersebut hingga fajar tiba. Yang disebut bukan perbuatan yang harus dikerjakan, melainkan keadaan yang berlangsung.

Perhatikan bahwa seluruh surah ini tidak memuat satu pun perintah. Tidak ada seruan untuk bangun, tidak ada anjuran untuk beribadah, dan tidak ada ancaman bagi yang melewatkannya. Lima ayatnya seluruhnya berupa keterangan: sesuatu diturunkan, malam itu dinamai, nilainya dibandingkan, para malaikat turun, dan malam itu sejahtera. Surah yang berbicara tentang malam paling bernilai justru tidak menyuruh apa-apa, dan yang tersisa bagi pembacanya adalah menyimpulkan sendiri.

Batas yang disebut juga menerangkan sesuatu. Kesejahteraan itu dinyatakan berlangsung hingga terbitnya fajar, jadi ia punya ujung. Sesuatu yang punya ujung bisa terlewat. Bandingkan dengan 97:3 yang menyatakan malam ini lebih baik daripada seribu bulan: sesuatu yang bernilai lebih dari delapan puluh tahun ternyata berakhir dalam beberapa jam, dan tidak diberi tanda kapan tepatnya ia datang. Dua keterangan itu berdiri berdampingan tanpa satu pun kalimat yang menghubungkannya, dan penghubungnya diserahkan kepada yang membaca. Yang menyimpulkan sendiri biasanya menyimpulkan lebih dalam.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut batas waktunya. Sejahtera. Sampai fajar terbit. Kata yang dipakai untuk terbitnya muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, dan yang dipilih sebagai batas bukan tengah malam atau pagi melainkan fajar, yaitu saat gelapnya terbelah. Batas itu berarti kesejahteraan tersebut punya ujung, dan sesuatu yang punya ujung selalu bisa terlewat oleh yang menunggunya. Kata penghubung sebelum batasnya pun menandai ujung yang tercakup, jadi kesejahteraan itu berhenti tepat di sana.
  • Yang disebut kesejahteraannya berlangsung, bukan datang sekejap. Bukan sesaat. Semalam penuh. Kata sifatnya pun diletakkan Allah di depan kata gantinya, susunan yang dipakai untuk menegaskan, sehingga yang dinyatakan bukan bahwa malam itu punya kesejahteraan melainkan bahwa kesejahteraan itulah keadaannya sepanjang malam sampai batas yang disebutkan. Susunan terbalik semacam itu dipakai untuk menegaskan, dan bahasa Indonesia menirunya dengan meletakkan sejahtera di kepala kalimat.
  • Surah ini ditutup Allah dengan kata sejahtera. Bukan dengan perintah. Dengan kedamaian. Dan bukan cuma penutupnya: seluruh lima ayatnya tidak memuat satu pun perintah, tidak ada seruan untuk bangun, tidak ada anjuran beribadah, dan tidak ada ancaman bagi yang melewatkannya. Surah tentang malam paling bernilai justru tidak menyuruh apa-apa. Bandingkan dengan surah-surah tetangganya yang memuat perintah menyembah atau bersalat; yang ini menyerahkan kesimpulannya penuh kepada pembacanya.
  • Sesuatu yang dinyatakan lebih baik daripada seribu bulan ternyata berakhir dalam beberapa jam, dan tidak diberi tanda kapan tepatnya ia datang. Dua keterangan itu berdiri berdampingan di dalam surah yang sama tanpa satu pun kalimat yang menghubungkannya. Penghubungnya diserahkan kepada yang membaca, dan yang menyimpulkannya sendiri biasanya menyimpulkan lebih dalam daripada yang diberi kesimpulan. Allah meletakkan dua keterangan itu berdampingan dan membiarkan jaraknya terbuka.
  • Dua ayat terakhir surah ini tidak menyebut nama malam itu sama sekali, cukup menunjuknya dengan kata ganti. Perpindahan dari nama ke penunjukan terjadi sesudah pertanyaan di ayat kedua dijawab. Yang sudah dikenal tidak perlu diulang namanya, dan pengulangan yang berhenti pada waktunya justru menandai bahwa perkenalannya sudah selesai. Tiga penyebutan penuh berturut-turut, lalu dua penunjukan, dan perpindahannya terjadi tepat sesudah pertanyaannya dijawab.
  • Yang dipakai sebagai batas bukan angka jam, melainkan peristiwa, yaitu terbitnya fajar. Akar kata untuk fajar berkaitan dengan membelah, sehingga batas malam ini adalah saat gelapnya terbelah dari dalam. Batas yang berupa peristiwa tidak bisa dilihat di jam dinding, dan yang menunggunya harus memperhatikan langit. Apa yang sedang dikerjakan seseorang pada saat gelap mulai terbelah? Batas yang berupa peristiwa menuntut orangnya memperhatikan langit, bukan jam, dan memperhatikan itu sendiri sudah pekerjaan tersendiri.