Ayat 98:1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ
Orang-orang yang kufur dari Ahlulkitab dan orang-orang musyrik tidaklah berhenti sampai datang kepada mereka bukti yang nyata,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُlam yakuni lladziina kafaruu min ahli l-kitaabi wa-l-musyrikiina munfakkiina hattaa ta'tiyahumu l-bayyinatuorang-orang yang kufur dari Ahlulkitab dan orang-orang musyrik tidaklah berhenti sampai datang kepada mereka bukti yang nyata
Terjemahan per kata (12 kata)
- لَمْlamtidak
- يَكُنِyakuniadalah
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- مِنْmindari
- أَهْلِahlikalangan
- الْكِتَابِl-kitaabiKitab
- وَالْمُشْرِكِينَwa-l-musyrikiinadan orang-orang musyrik
- مُنْفَكِّينَmunfakkiinaberhenti
- حَتَّىٰhattaasampai
- تَأْتِيَهُمُta'tiyahumudatang kepada mereka
- الْبَيِّنَةُl-bayyinatubukti nyata
Inti bacaan
Pembukaan Al-Bayyinah dengan pengamatan tentang kebutuhan bukti: 'orang-orang yang kufur dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidaklah berhenti sampai datang kepada mereka bukti yang nyata', pengakuan bahwa keraguan berlanjut hingga bukti konkret disajikan, kebutuhan akan kejelasan sebelum perubahan sikap.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Kata (مُنْفَكِّينَ, munfakkiina) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti melepaskan ikatan. Ia cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 90:13 dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai.
Pemakaian di 90:13 patut dicatat tersendiri, sebab di sana tertulis (فَكُّ رَقَبَةٍ, fakku raqabatin), membebaskan budak. Jadi akar yang di satu tempat menyebut melepaskan orang dari perbudakan, di sini menyebut orang yang tidak terlepas dari keadaannya sendiri. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya.
Kata (الْبَيِّنَةُ, al-bayyinatu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 98:1 dan 98:4, keduanya di dalam surah ini. Akarnya berarti jelas dan memisahkan. Ia dipakai di 454 ayat, dan itu menjadikannya salah satu akar yang paling sering muncul. Jadi akar yang dipakai ratusan kali memberi satu bentuk yang cuma dipakai di satu surah, dan surah itu diberi nama menurut bentuk itu.
Susunan kalimatnya juga patut diperhatikan. Ia berbentuk pengingkaran yang dibatasi kata yang berarti sampai, sehingga yang dinyatakan bukan keadaan yang tetap melainkan keadaan yang berakhir pada satu titik. Bahasa Indonesia menahannya dengan "tidaklah berhenti sampai", memakai dua bagian untuk menahan pengingkaran dan batasnya sekaligus.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berhenti dari apa, dan tidak disebut apa yang mereka kerjakan sebelum bukti itu datang. Kata (مُنْفَكِّينَ, munfakkiina) berdiri tanpa keterangan yang menyertainya. Ketiadaan itu membuat ayatnya terbuka bagi lebih dari satu pembacaan, dan Al-Qur'an tidak memilih salah satunya.
Dua golongan yang disebut di ayat ini dirangkai dengan satu huruf sambung, tanpa dibedakan bobotnya. Allah menaruh keduanya pada kedudukan yang sama terhadap datangnya bukti, dan yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang. Susunan yang sama dipakai lagi di 98:6, dan di sana keduanya juga disebut berdampingan tanpa dibedakan.
Kata (الْبَيِّنَةُ, al-bayyinatu) bertakrif, sehingga yang disebut bukan sembarang bukti melainkan yang sudah tertentu. Tetapi apa isinya belum diterangkan di ayat ini. Keterangannya baru datang di 98:2 dan 98:3, dua ayat kemudian. Jadi Al-Qur'an menyebut namanya lebih dulu dan menerangkannya belakangan, dan penundaan itu menahan perhatian pembacanya pada kata yang menjadi nama surah ini. Sebuah kata yang cuma hidup di satu surah menahan perhatian pada surah itu sendiri.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan pernyataan tentang orang yang kufur dari Ahlulkitab dan orang-orang musyrik, dan kata yang menyebut keadaan mereka muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 90:13 dan ayat ini.
Pemakaian di 90:13 patut dicatat tersendiri, sebab di sana akar yang sama menyebut membebaskan budak. Jadi akar yang di satu tempat menyebut melepaskan orang dari perbudakan, di sini menyebut orang yang tidak terlepas dari keadaannya sendiri. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun.
Kata yang menyebut buktinya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 98:1 dan 98:4, keduanya di dalam surah ini. Akarnya dipakai di 454 ayat. Jadi akar yang dipakai ratusan kali memberi satu bentuk yang cuma dipakai di satu surah, dan surah itu diberi nama menurut bentuk itu.
Susunan kalimatnya berbentuk pengingkaran yang dibatasi kata yang berarti sampai, sehingga yang dinyatakan bukan keadaan yang tetap melainkan keadaan yang berakhir pada satu titik. Dan yang tidak disebut menerangkan pula: tidak disebut berhenti dari apa. Kata itu berdiri tanpa keterangan yang menyertainya, sehingga ayatnya terbuka bagi lebih dari satu pembacaan, dan Al-Qur'an tidak memilih salah satunya.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata yang menyebut keadaan mereka cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 90:13 dan 98:1. Di 90:13 Allah memakainya untuk membebaskan budak. Jadi akar yang di satu tempat menyebut melepaskan orang dari perbudakan, di sini menyebut orang yang tidak terlepas dari keadaannya sendiri. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang kepadanya. Yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang kepadanya.
- Kata yang menyebut buktinya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 98:1 dan 98:4, keduanya di dalam surah ini. Akarnya dipakai di 454 ayat, dan itu menjadikannya salah satu akar yang paling sering muncul. Jadi akar yang dipakai Allah ratusan kali memberi satu bentuk yang cuma dipakai di satu surah, dan surah itu diberi nama menurut bentuk itu. Yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang kepadanya.
- Susunan kalimatnya berbentuk pengingkaran yang dibatasi kata yang berarti sampai, sehingga yang dinyatakan Allah bukan keadaan yang tetap melainkan keadaan yang berakhir pada satu titik. Jadi yang digambarkan bukan sifat yang melekat selamanya. Sesuatu yang punya batas selalu menyediakan kemungkinan berubah, dan batas itu di sini berupa datangnya bukti yang nyata. Yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang kepadanya.
- Allah tidak menyebutkan berhenti dari apa, dan tidak menyebutkan apa yang mereka kerjakan sebelum bukti itu datang. Kata itu berdiri tanpa keterangan yang menyertainya. Ketiadaan itu membuat ayatnya terbuka bagi lebih dari satu pembacaan, dan Al-Qur'an tidak memilih salah satunya. Apa yang paling sulit ditinggalkan seseorang, sampai ia memerlukan bukti yang nyata untuk melepaskannya? Yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang kepadanya.
- Ayat ini menyebut dua golongan di dalam satu kalimat: yang kufur dari Ahlulkitab dan orang-orang musyrik. Keduanya dirangkai dengan satu huruf sambung, tanpa dibedakan bobotnya. Allah menaruh keduanya pada kedudukan yang sama terhadap datangnya bukti, dan yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang. Yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang kepadanya.
- Kata yang menyebut buktinya bertakrif, sehingga yang disebut bukan sembarang bukti melainkan yang sudah tertentu. Tetapi apa isinya belum diterangkan di ayat ini. Keterangannya baru datang di 98:2 dan 98:3, dua ayat kemudian. Jadi Allah menyebut namanya lebih dulu dan menerangkannya belakangan, dan penundaan itu menahan perhatian pembacanya pada kata itu. Yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang kepadanya.
Ayat 98:2
رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً
Seorang Rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةًrasuulun mina llaahi yatluu shuhufan muthahharatanseorang Rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan
Terjemahan per kata (6 kata)
- رَسُولٌrasuulunseorang rasul
- مِنَminadari
- اللَّهِllaahiAllah
- يَتْلُوyatluumembacakan
- صُحُفًاshuhufanlembaran-lembaran
- مُطَهَّرَةًmuthahharatanyang disucikan
Inti bacaan
Identifikasi bukti nyata yang dimaksud: '(yaitu) seorang Rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan', pengungkapan bahwa bukti yang ditunggu berwujud kehadiran nyata (Rasul) dan pesan tertulis yang murni.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(yaitu)" tidak dipakai. Kalimat ini fragmen apositif lanjutan dari (الْبَيِّنَةُ, al-bayyinatu) di 98:1, dan menambahkan kata pembuka yang tidak ada di Arabnya akan mengubah hubungan antarayat menjadi lebih longgar daripada yang tertulis. Di Arabnya keduanya menempel tanpa kata sambung apa pun.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa bukti yang disebut di 98:1 ternyata seorang utusan, bukan sebuah benda atau sebuah tanda. Jadi yang menjadi bukti seseorang yang membacakan, bukan sesuatu yang dilihat dan diperiksa. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu dengan satu kalimat pun.
Rangkaian (صُحُفًا مُطَهَّرَةً, shuhufan muthahharatan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akar kata pertamanya berarti lembaran tulisan. Ia dipakai di 9 ayat, yaitu 20:133, 43:71, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan ayat ini. Di 87:19 tertulis (صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ, shuhufi ibraahiima wa-muusaa), dan di 80:13 tertulis (صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ, shuhufin mukarramatin).
Kata (مُطَهَّرَةً, muthahharatan) berasal dari akar yang berarti bersih dan suci. Akar itu dipakai di 26 ayat, dan bentuknya bentuk yang dikenai pekerjaan. Jadi yang tertulis bukan lembaran yang suci dengan sendirinya melainkan lembaran yang disucikan, dan bentuk itu mengharuskan adanya yang menyucikannya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "yang disucikan", bukan "yang suci".
Kata (رَسُولٌ, rasuulun) tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan utusan tertentu yang sudah dikenal namanya melainkan seorang utusan. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu bahwa ia diutus dari Allah dan membacakan apa yang dibawanya.
Kata kerja (يَتْلُو, yatluu) berarti membacakan, bukan menyerahkan atau menunjukkan. Jadi yang dikerjakan utusan itu membaca di hadapan orang, bukan meletakkan sesuatu di tangan mereka. Al-Qur'an memilih kata itu dan tidak menerangkan pilihannya dengan satu kalimat pun. Menerima sesuatu yang dibacakan berbeda dari menerima sesuatu yang diserahkan untuk dibaca sendiri.
Susunan 98:1 sampai 98:3 juga patut dicatat. Yang pertama menyebut nama buktinya, yang kedua menyebut siapa yang membawanya, dan yang ketiga menyebut apa isinya. Jadi keterangannya diberikan berlapis, dan tiap lapis menambah satu hal saja. Pembacanya sampai ke isinya melalui jalan yang tidak bisa dipotong, dan tidak ada satu lapis pun yang bisa dilewati. Menerima yang dibacakan menuntut hadir; menerima yang diserahkan cukup dengan menyimpan. Menerima yang dibacakan menuntut hadir; menerima yang diserahkan cukup dengan menyimpan.
Tafsiran
Ayat ini menerangkan bukti yang disebut di 98:1, dan yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa buktinya ternyata seorang utusan, bukan sebuah benda atau sebuah tanda. Jadi yang menjadi bukti seseorang yang membacakan, bukan sesuatu yang dilihat dan diperiksa.
Kalimat ini fragmen apositif yang menempel langsung kepada kata terakhir di 98:1, tanpa kata sambung apa pun di antaranya. Menambahkan kata pembuka yang tidak ada di Arabnya akan mengubah hubungan antarayat menjadi lebih longgar daripada yang tertulis, dan kerapatan itu bagian dari caranya bekerja.
Rangkaian yang menyebut lembarannya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akar kata pertamanya dipakai di 9 ayat, yaitu 20:133, 43:71, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan ayat ini. Di 87:19 akar itu menyebut lembaran-lembaran dua utusan terdahulu, dan di 80:13 lembaran yang dimuliakan.
Kata sifatnya bentuk yang dikenai pekerjaan. Jadi yang tertulis bukan lembaran yang suci dengan sendirinya melainkan lembaran yang disucikan, dan bentuk itu mengharuskan adanya yang menyucikannya. Dan kata untuk utusannya tidak bertakrif, sehingga yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu bahwa ia diutus dari Allah dan membacakan apa yang dibawanya.
Renungan dan Hikmah
- Bukti yang disebut di ayat sebelumnya ternyata seorang utusan, bukan sebuah benda atau sebuah tanda. Jadi yang dijadikan Allah sebagai bukti seseorang yang membacakan, bukan sesuatu yang dilihat dan diperiksa. Sebuah bukti yang berupa orang menuntut sikap yang berbeda dari bukti yang berupa benda: yang satu ditimbang, yang lain harus dihadapi. Yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu dari siapa ia diutus kepada mereka. Yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu dari siapa ia diutus kepada mereka.
- Kata sifat yang dipakai bentuk yang dikenai pekerjaan. Jadi yang tertulis bukan lembaran yang suci dengan sendirinya melainkan lembaran yang disucikan, dan bentuk itu mengharuskan adanya yang menyucikannya. Akarnya dipakai di 26 ayat. Sesuatu yang suci dengan sendirinya tidak berutang kepada siapa pun; sesuatu yang disucikan selalu menunjuk kepada yang menyucikannya. Yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu dari siapa ia diutus kepada mereka.
- Kata untuk utusan tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan utusan tertentu yang sudah dikenal namanya melainkan seorang utusan. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu bahwa ia diutus dari Allah dan membacakan apa yang dibawanya. Yang menentukan bukan siapa dia, melainkan dari siapa ia datang. Yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu dari siapa ia diutus kepada mereka.
- Akar kata untuk lembaran dipakai di 9 ayat, yaitu 20:133, 43:71, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan 98:2. Di 87:19 Allah memakainya untuk lembaran-lembaran dua utusan terdahulu, dan di 80:13 untuk lembaran yang dimuliakan. Jadi kata yang sama menyebut apa yang dibawa utusan sebelumnya dan apa yang dibacakan di ayat ini. Yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu dari siapa ia diutus kepada mereka.
- Kalimat ini menempel langsung kepada kata terakhir di ayat sebelumnya, tanpa kata sambung apa pun di antaranya. Menambahkan kata pembuka yang tidak ada di Arabnya akan mengubah hubungan antarayat menjadi lebih longgar daripada yang tertulis. Kerapatan itu bagian dari caranya bekerja: nama dan keterangannya jatuh sebagai satu tarikan, bukan sebagai dua pernyataan. Yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu dari siapa ia diutus kepada mereka.
- Kata kerja yang dipakai berarti membacakan, bukan menyerahkan atau menunjukkan. Jadi yang dikerjakan utusan itu membaca di hadapan orang, bukan meletakkan sesuatu di tangan mereka. Apa bedanya menerima sesuatu yang dibacakan kepadamu dan menerima sesuatu yang diserahkan untuk kaubaca sendiri? Allah memilih yang pertama, dan pilihan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu dari siapa ia diutus kepada mereka.
Ayat 98:3
فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ
Yang di dalamnya ada tulisan-tulisan yang lurus.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌfiihaa kutubun qayyimatunyang di dalamnya ada tulisan-tulisan yang lurus
Terjemahan per kata (3 kata)
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- كُتُبٌkutubunkitab-kitab
- قَيِّمَةٌqayyimatunyang lurus
Inti bacaan
Kualitas isi wahyu yang lurus: 'yang di dalamnya ada tulisan-tulisan yang lurus', penegasan konten yang jelas dan tegak, tidak berbelit atau ambigu dalam menyampaikan panduan.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (كُتُبٌ قَيِّمَةٌ, kutubun qayyimatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata (قَيِّمَةٌ, qayyimatun) sendiri juga muncul 1 kali dalam bentuk ini. Ayat ini yang terpendek di dalam surahnya, dan ia menutup keterangan tentang bukti yang dimulai di 98:2.
Akar (قَيِّمَةٌ, qayyimatun) berarti berdiri dan menegakkan. Akar itu dipakai di 597 ayat, salah satu akar yang paling sering muncul. Akar yang sama memberi kata untuk berdiri, untuk menegakkan, untuk kaum, dan untuk yang lurus. Akar itu juga memberi bentuk yang dipakai di 95:4 untuk sebaik-baik penegakan, dan bentuk yang dipakai di 98:5 pada rangkaian penutup ayat itu.
Jadi (قَيِّمَةٌ, qayyimatun) dan bentuk sejenisnya muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 98:5. Di sini ia menyifati tulisan-tulisan yang ada di dalam lembaran, dan di sana ia menyifati apa yang diperintahkan. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma kata yang berulang.
Kata (كُتُبٌ, kutubun) berbentuk jamak dan tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan satu kitab tertentu melainkan tulisan-tulisan. Bahasa Indonesia menahannya dengan "tulisan-tulisan", bukan dengan "kitab", sebab kata kitab dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur menunjuk satu benda yang utuh dan bernama.
Susunan tiga ayat pertama surah ini juga patut dicatat. Yang pertama menyebut namanya, yang kedua menyebut siapa dia, dan yang ketiga menyebut apa yang dibawanya. Jadi keterangannya diberikan berlapis, dari nama ke orang ke isi, dan tiap lapis menambah satu hal saja. Susunan berlapis semacam itu membuat pembacanya sampai ke isinya melalui jalan yang tidak bisa dipotong.
Kata (كُتُبٌ, kutubun) berbentuk jamak dan tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan satu kitab tertentu melainkan tulisan-tulisan. Bahasa Indonesia menahannya dengan "tulisan-tulisan", bukan dengan "kitab", sebab kata kitab dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur menunjuk satu benda yang utuh dan bernama. Ketelitian itu menjaga agar yang disebut tidak menyempit menjadi satu benda saja.
Kata sifat (قَيِّمَةٌ, qayyimatun) berarti lurus dan tegak, bukan baru atau berbeda. Jadi yang dinyatakan tentang tulisan itu bukan bahwa ia menggantikan yang sebelumnya, melainkan bahwa ia lurus. Sesuatu yang lurus tidak mengingkari yang lurus sebelumnya, dan 98:2 memang memakai kata yang sama dengan kata untuk lembaran para utusan terdahulu di 87:19. Yang lurus tidak mengingkari yang lurus sebelumnya, dan itu berlaku bagi tulisan mana pun. Yang lurus tidak mengingkari yang lurus sebelumnya, dan itu berlaku bagi tulisan mana pun.
Tafsiran
Ayat ini menutup keterangan tentang bukti yang dimulai di 98:2, dan ia yang terpendek di dalam surahnya. Rangkaian yang dipakai muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata sifatnya sendiri juga muncul 1 kali dalam bentuk ini.
Akar kata sifatnya dipakai di 597 ayat, salah satu akar yang paling sering muncul. Akar yang sama memberi kata untuk berdiri, untuk menegakkan, untuk kaum, dan untuk yang lurus. Akar itu juga memberi bentuk yang dipakai di 95:4 untuk sebaik-baik penegakan.
Kata sifat yang sama muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 98:5. Di sini ia menyifati tulisan-tulisan yang ada di dalam lembaran, dan di sana ia menyifati apa yang diperintahkan. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma kata yang berulang.
Susunan tiga ayat pertama surah ini juga patut dicatat. Yang pertama menyebut namanya, yang kedua menyebut siapa dia, dan yang ketiga menyebut apa yang dibawanya. Jadi keterangannya diberikan berlapis, dari nama ke orang ke isi, dan tiap lapis menambah satu hal saja. Susunan berlapis semacam itu membuat pembacanya sampai ke isinya melalui jalan yang tidak bisa dipotong. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati.
Renungan dan Hikmah
- Kata sifat di ayat ini muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 98:3 dan 98:5. Di sini ia menyifati tulisan-tulisan yang ada di dalam lembaran, dan di sana ia menyifati apa yang diperintahkan Allah. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma kata yang berulang di dua tempat. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati.
- Akar kata sifat di ayat ini dipakai di 597 ayat, salah satu akar yang paling sering muncul. Akar yang sama memberi bentuk yang dipakai Allah di 95:4 untuk sebaik-baik penegakan. Jadi akar yang menyifati susunan manusia di satu surah juga menyifati tulisan yang dibawa utusan di surah ini. Yang tegak pada manusia dan yang lurus pada tulisan dinamai dari satu sumber kata. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati.
- Kata yang dipakai berbentuk jamak dan tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan satu kitab tertentu melainkan tulisan-tulisan. Padanan yang dipakai menahan bentuk jamaknya, sebab kata kitab dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur menunjuk satu benda yang utuh dan bernama. Ketelitian itu menjaga agar yang disebut tidak menyempit menjadi satu benda saja. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati.
- Tiga ayat pertama surah ini memberikan keterangan berlapis: yang pertama menyebut namanya, yang kedua menyebut siapa dia, dan yang ketiga menyebut apa yang dibawanya. Tiap lapis menambah satu hal saja. Allah menyusunnya sedemikian sehingga pembacanya sampai ke isinya melalui jalan yang tidak bisa dipotong, dan tidak ada satu lapis pun yang bisa dilewati. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati.
- Ayat ini yang terpendek di dalam surahnya, dan ia menutup keterangan tentang bukti. Sesudahnya surah berpindah kepada apa yang terjadi pada orang yang menerima bukti itu. Jadi bagian yang paling pendek berdiri sebagai engsel antara keterangan dan akibatnya. Apa yang membuat sebuah keterangan cukup, sehingga pembicaraan bisa berpindah kepada tanggapan atasnya? Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati.
- Kata sifat yang dipakai berarti lurus dan tegak, bukan baru atau berbeda. Jadi yang dinyatakan Allah tentang tulisan itu bukan bahwa ia menggantikan yang sebelumnya, melainkan bahwa ia lurus. Sesuatu yang lurus tidak mengingkari yang lurus sebelumnya, dan 98:2 memang memakai kata yang sama dengan kata untuk lembaran para utusan terdahulu. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati.