بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ
Orang-orang yang kufur dari Ahlulkitab dan orang-orang musyrik tidaklah berhenti sampai datang kepada mereka bukti yang nyata,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُlam yakuni lladziina kafaruu min ahli l-kitaabi wa-l-musyrikiina munfakkiina hattaa ta'tiyahumu l-bayyinatuorang-orang yang kufur dari Ahlulkitab dan orang-orang musyrik tidaklah berhenti sampai datang kepada mereka bukti yang nyata
Terjemahan per kata (12 kata)
- لَمْlamtidak
- يَكُنِyakuniadalah
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- مِنْmindari
- أَهْلِahlikalangan
- الْكِتَابِl-kitaabiKitab
- وَالْمُشْرِكِينَwa-l-musyrikiinadan orang-orang musyrik
- مُنْفَكِّينَmunfakkiinaberhenti
- حَتَّىٰhattaasampai
- تَأْتِيَهُمُta'tiyahumudatang kepada mereka
- الْبَيِّنَةُl-bayyinatubukti nyata
Inti bacaan
Pembukaan Al-Bayyinah dengan pengamatan tentang kebutuhan bukti: 'orang-orang yang kufur dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidaklah berhenti sampai datang kepada mereka bukti yang nyata', pengakuan bahwa keraguan berlanjut hingga bukti konkret disajikan, kebutuhan akan kejelasan sebelum perubahan sikap.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Kata (مُنْفَكِّينَ, munfakkiina) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti melepaskan ikatan. Ia cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 90:13 dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai.
Pemakaian di 90:13 patut dicatat tersendiri, sebab di sana tertulis (فَكُّ رَقَبَةٍ, fakku raqabatin), membebaskan budak. Jadi akar yang di satu tempat menyebut melepaskan orang dari perbudakan, di sini menyebut orang yang tidak terlepas dari keadaannya sendiri. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya.
Kata (الْبَيِّنَةُ, al-bayyinatu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 98:1 dan 98:4, keduanya di dalam surah ini. Akarnya berarti jelas dan memisahkan. Ia dipakai di 454 ayat, dan itu menjadikannya salah satu akar yang paling sering muncul. Jadi akar yang dipakai ratusan kali memberi satu bentuk yang cuma dipakai di satu surah, dan surah itu diberi nama menurut bentuk itu.
Susunan kalimatnya juga patut diperhatikan. Ia berbentuk pengingkaran yang dibatasi kata yang berarti sampai, sehingga yang dinyatakan bukan keadaan yang tetap melainkan keadaan yang berakhir pada satu titik. Bahasa Indonesia menahannya dengan "tidaklah berhenti sampai", memakai dua bagian untuk menahan pengingkaran dan batasnya sekaligus.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berhenti dari apa, dan tidak disebut apa yang mereka kerjakan sebelum bukti itu datang. Kata (مُنْفَكِّينَ, munfakkiina) berdiri tanpa keterangan yang menyertainya. Ketiadaan itu membuat ayatnya terbuka bagi lebih dari satu pembacaan, dan Al-Qur'an tidak memilih salah satunya.
Dua golongan yang disebut di ayat ini dirangkai dengan satu huruf sambung, tanpa dibedakan bobotnya. Allah menaruh keduanya pada kedudukan yang sama terhadap datangnya bukti, dan yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang. Susunan yang sama dipakai lagi di 98:6, dan di sana keduanya juga disebut berdampingan tanpa dibedakan.
Kata (الْبَيِّنَةُ, al-bayyinatu) bertakrif, sehingga yang disebut bukan sembarang bukti melainkan yang sudah tertentu. Tetapi apa isinya belum diterangkan di ayat ini. Keterangannya baru datang di 98:2 dan 98:3, dua ayat kemudian. Jadi Al-Qur'an menyebut namanya lebih dulu dan menerangkannya belakangan, dan penundaan itu menahan perhatian pembacanya pada kata yang menjadi nama surah ini. Sebuah kata yang cuma hidup di satu surah menahan perhatian pada surah itu sendiri.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan pernyataan tentang orang yang kufur dari Ahlulkitab dan orang-orang musyrik, dan kata yang menyebut keadaan mereka muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 90:13 dan ayat ini.
Pemakaian di 90:13 patut dicatat tersendiri, sebab di sana akar yang sama menyebut membebaskan budak. Jadi akar yang di satu tempat menyebut melepaskan orang dari perbudakan, di sini menyebut orang yang tidak terlepas dari keadaannya sendiri. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun.
Kata yang menyebut buktinya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 98:1 dan 98:4, keduanya di dalam surah ini. Akarnya dipakai di 454 ayat. Jadi akar yang dipakai ratusan kali memberi satu bentuk yang cuma dipakai di satu surah, dan surah itu diberi nama menurut bentuk itu.
Susunan kalimatnya berbentuk pengingkaran yang dibatasi kata yang berarti sampai, sehingga yang dinyatakan bukan keadaan yang tetap melainkan keadaan yang berakhir pada satu titik. Dan yang tidak disebut menerangkan pula: tidak disebut berhenti dari apa. Kata itu berdiri tanpa keterangan yang menyertainya, sehingga ayatnya terbuka bagi lebih dari satu pembacaan, dan Al-Qur'an tidak memilih salah satunya.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata yang menyebut keadaan mereka cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 90:13 dan 98:1. Di 90:13 Allah memakainya untuk membebaskan budak. Jadi akar yang di satu tempat menyebut melepaskan orang dari perbudakan, di sini menyebut orang yang tidak terlepas dari keadaannya sendiri. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang kepadanya. Yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang kepadanya.
- Kata yang menyebut buktinya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 98:1 dan 98:4, keduanya di dalam surah ini. Akarnya dipakai di 454 ayat, dan itu menjadikannya salah satu akar yang paling sering muncul. Jadi akar yang dipakai Allah ratusan kali memberi satu bentuk yang cuma dipakai di satu surah, dan surah itu diberi nama menurut bentuk itu. Yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang kepadanya.
- Susunan kalimatnya berbentuk pengingkaran yang dibatasi kata yang berarti sampai, sehingga yang dinyatakan Allah bukan keadaan yang tetap melainkan keadaan yang berakhir pada satu titik. Jadi yang digambarkan bukan sifat yang melekat selamanya. Sesuatu yang punya batas selalu menyediakan kemungkinan berubah, dan batas itu di sini berupa datangnya bukti yang nyata. Yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang kepadanya.
- Allah tidak menyebutkan berhenti dari apa, dan tidak menyebutkan apa yang mereka kerjakan sebelum bukti itu datang. Kata itu berdiri tanpa keterangan yang menyertainya. Ketiadaan itu membuat ayatnya terbuka bagi lebih dari satu pembacaan, dan Al-Qur'an tidak memilih salah satunya. Apa yang paling sulit ditinggalkan seseorang, sampai ia memerlukan bukti yang nyata untuk melepaskannya? Yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang kepadanya.
- Ayat ini menyebut dua golongan di dalam satu kalimat: yang kufur dari Ahlulkitab dan orang-orang musyrik. Keduanya dirangkai dengan satu huruf sambung, tanpa dibedakan bobotnya. Allah menaruh keduanya pada kedudukan yang sama terhadap datangnya bukti, dan yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang. Yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang kepadanya.
- Kata yang menyebut buktinya bertakrif, sehingga yang disebut bukan sembarang bukti melainkan yang sudah tertentu. Tetapi apa isinya belum diterangkan di ayat ini. Keterangannya baru datang di 98:2 dan 98:3, dua ayat kemudian. Jadi Allah menyebut namanya lebih dulu dan menerangkannya belakangan, dan penundaan itu menahan perhatian pembacanya pada kata itu. Yang membedakan bukan asal-usulnya melainkan sikapnya terhadap bukti yang datang kepadanya.