رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً
Seorang Rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةًrasuulun mina llaahi yatluu shuhufan muthahharatanseorang Rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan
Terjemahan per kata (6 kata)
- رَسُولٌrasuulunseorang rasul
- مِنَminadari
- اللَّهِllaahiAllah
- يَتْلُوyatluumembacakan
- صُحُفًاshuhufanlembaran-lembaran
- مُطَهَّرَةًmuthahharatanyang disucikan
Inti bacaan
Identifikasi bukti nyata yang dimaksud: '(yaitu) seorang Rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan', pengungkapan bahwa bukti yang ditunggu berwujud kehadiran nyata (Rasul) dan pesan tertulis yang murni.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(yaitu)" tidak dipakai. Kalimat ini fragmen apositif lanjutan dari (الْبَيِّنَةُ, al-bayyinatu) di 98:1, dan menambahkan kata pembuka yang tidak ada di Arabnya akan mengubah hubungan antarayat menjadi lebih longgar daripada yang tertulis. Di Arabnya keduanya menempel tanpa kata sambung apa pun.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa bukti yang disebut di 98:1 ternyata seorang utusan, bukan sebuah benda atau sebuah tanda. Jadi yang menjadi bukti seseorang yang membacakan, bukan sesuatu yang dilihat dan diperiksa. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu dengan satu kalimat pun.
Rangkaian (صُحُفًا مُطَهَّرَةً, shuhufan muthahharatan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akar kata pertamanya berarti lembaran tulisan. Ia dipakai di 9 ayat, yaitu 20:133, 43:71, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan ayat ini. Di 87:19 tertulis (صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ, shuhufi ibraahiima wa-muusaa), dan di 80:13 tertulis (صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ, shuhufin mukarramatin).
Kata (مُطَهَّرَةً, muthahharatan) berasal dari akar yang berarti bersih dan suci. Akar itu dipakai di 26 ayat, dan bentuknya bentuk yang dikenai pekerjaan. Jadi yang tertulis bukan lembaran yang suci dengan sendirinya melainkan lembaran yang disucikan, dan bentuk itu mengharuskan adanya yang menyucikannya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "yang disucikan", bukan "yang suci".
Kata (رَسُولٌ, rasuulun) tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan utusan tertentu yang sudah dikenal namanya melainkan seorang utusan. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu bahwa ia diutus dari Allah dan membacakan apa yang dibawanya.
Kata kerja (يَتْلُو, yatluu) berarti membacakan, bukan menyerahkan atau menunjukkan. Jadi yang dikerjakan utusan itu membaca di hadapan orang, bukan meletakkan sesuatu di tangan mereka. Al-Qur'an memilih kata itu dan tidak menerangkan pilihannya dengan satu kalimat pun. Menerima sesuatu yang dibacakan berbeda dari menerima sesuatu yang diserahkan untuk dibaca sendiri.
Susunan 98:1 sampai 98:3 juga patut dicatat. Yang pertama menyebut nama buktinya, yang kedua menyebut siapa yang membawanya, dan yang ketiga menyebut apa isinya. Jadi keterangannya diberikan berlapis, dan tiap lapis menambah satu hal saja. Pembacanya sampai ke isinya melalui jalan yang tidak bisa dipotong, dan tidak ada satu lapis pun yang bisa dilewati. Menerima yang dibacakan menuntut hadir; menerima yang diserahkan cukup dengan menyimpan. Menerima yang dibacakan menuntut hadir; menerima yang diserahkan cukup dengan menyimpan.
Tafsiran
Ayat ini menerangkan bukti yang disebut di 98:1, dan yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa buktinya ternyata seorang utusan, bukan sebuah benda atau sebuah tanda. Jadi yang menjadi bukti seseorang yang membacakan, bukan sesuatu yang dilihat dan diperiksa.
Kalimat ini fragmen apositif yang menempel langsung kepada kata terakhir di 98:1, tanpa kata sambung apa pun di antaranya. Menambahkan kata pembuka yang tidak ada di Arabnya akan mengubah hubungan antarayat menjadi lebih longgar daripada yang tertulis, dan kerapatan itu bagian dari caranya bekerja.
Rangkaian yang menyebut lembarannya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akar kata pertamanya dipakai di 9 ayat, yaitu 20:133, 43:71, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan ayat ini. Di 87:19 akar itu menyebut lembaran-lembaran dua utusan terdahulu, dan di 80:13 lembaran yang dimuliakan.
Kata sifatnya bentuk yang dikenai pekerjaan. Jadi yang tertulis bukan lembaran yang suci dengan sendirinya melainkan lembaran yang disucikan, dan bentuk itu mengharuskan adanya yang menyucikannya. Dan kata untuk utusannya tidak bertakrif, sehingga yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu bahwa ia diutus dari Allah dan membacakan apa yang dibawanya.
Renungan dan Hikmah
- Bukti yang disebut di ayat sebelumnya ternyata seorang utusan, bukan sebuah benda atau sebuah tanda. Jadi yang dijadikan Allah sebagai bukti seseorang yang membacakan, bukan sesuatu yang dilihat dan diperiksa. Sebuah bukti yang berupa orang menuntut sikap yang berbeda dari bukti yang berupa benda: yang satu ditimbang, yang lain harus dihadapi. Yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu dari siapa ia diutus kepada mereka. Yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu dari siapa ia diutus kepada mereka.
- Kata sifat yang dipakai bentuk yang dikenai pekerjaan. Jadi yang tertulis bukan lembaran yang suci dengan sendirinya melainkan lembaran yang disucikan, dan bentuk itu mengharuskan adanya yang menyucikannya. Akarnya dipakai di 26 ayat. Sesuatu yang suci dengan sendirinya tidak berutang kepada siapa pun; sesuatu yang disucikan selalu menunjuk kepada yang menyucikannya. Yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu dari siapa ia diutus kepada mereka.
- Kata untuk utusan tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan utusan tertentu yang sudah dikenal namanya melainkan seorang utusan. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu bahwa ia diutus dari Allah dan membacakan apa yang dibawanya. Yang menentukan bukan siapa dia, melainkan dari siapa ia datang. Yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu dari siapa ia diutus kepada mereka.
- Akar kata untuk lembaran dipakai di 9 ayat, yaitu 20:133, 43:71, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan 98:2. Di 87:19 Allah memakainya untuk lembaran-lembaran dua utusan terdahulu, dan di 80:13 untuk lembaran yang dimuliakan. Jadi kata yang sama menyebut apa yang dibawa utusan sebelumnya dan apa yang dibacakan di ayat ini. Yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu dari siapa ia diutus kepada mereka.
- Kalimat ini menempel langsung kepada kata terakhir di ayat sebelumnya, tanpa kata sambung apa pun di antaranya. Menambahkan kata pembuka yang tidak ada di Arabnya akan mengubah hubungan antarayat menjadi lebih longgar daripada yang tertulis. Kerapatan itu bagian dari caranya bekerja: nama dan keterangannya jatuh sebagai satu tarikan, bukan sebagai dua pernyataan. Yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu dari siapa ia diutus kepada mereka.
- Kata kerja yang dipakai berarti membacakan, bukan menyerahkan atau menunjukkan. Jadi yang dikerjakan utusan itu membaca di hadapan orang, bukan meletakkan sesuatu di tangan mereka. Apa bedanya menerima sesuatu yang dibacakan kepadamu dan menerima sesuatu yang diserahkan untuk kaubaca sendiri? Allah memilih yang pertama, dan pilihan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Yang menjadi bukti bukan nama melainkan kedudukan, yaitu dari siapa ia diutus kepada mereka.