فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ

Yang di dalamnya ada tulisan-tulisan yang lurus.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌfiihaa kutubun qayyimatunyang di dalamnya ada tulisan-tulisan yang lurus

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  2. كُتُبٌkutubunkitab-kitab
  3. قَيِّمَةٌqayyimatunyang lurus

Inti bacaan

Kualitas isi wahyu yang lurus: 'yang di dalamnya ada tulisan-tulisan yang lurus', penegasan konten yang jelas dan tegak, tidak berbelit atau ambigu dalam menyampaikan panduan.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (كُتُبٌ قَيِّمَةٌ, kutubun qayyimatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata (قَيِّمَةٌ, qayyimatun) sendiri juga muncul 1 kali dalam bentuk ini. Ayat ini yang terpendek di dalam surahnya, dan ia menutup keterangan tentang bukti yang dimulai di 98:2.

Akar (قَيِّمَةٌ, qayyimatun) berarti berdiri dan menegakkan. Akar itu dipakai di 597 ayat, salah satu akar yang paling sering muncul. Akar yang sama memberi kata untuk berdiri, untuk menegakkan, untuk kaum, dan untuk yang lurus. Akar itu juga memberi bentuk yang dipakai di 95:4 untuk sebaik-baik penegakan, dan bentuk yang dipakai di 98:5 pada rangkaian penutup ayat itu.

Jadi (قَيِّمَةٌ, qayyimatun) dan bentuk sejenisnya muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 98:5. Di sini ia menyifati tulisan-tulisan yang ada di dalam lembaran, dan di sana ia menyifati apa yang diperintahkan. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma kata yang berulang.

Kata (كُتُبٌ, kutubun) berbentuk jamak dan tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan satu kitab tertentu melainkan tulisan-tulisan. Bahasa Indonesia menahannya dengan "tulisan-tulisan", bukan dengan "kitab", sebab kata kitab dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur menunjuk satu benda yang utuh dan bernama.

Susunan tiga ayat pertama surah ini juga patut dicatat. Yang pertama menyebut namanya, yang kedua menyebut siapa dia, dan yang ketiga menyebut apa yang dibawanya. Jadi keterangannya diberikan berlapis, dari nama ke orang ke isi, dan tiap lapis menambah satu hal saja. Susunan berlapis semacam itu membuat pembacanya sampai ke isinya melalui jalan yang tidak bisa dipotong.

Kata (كُتُبٌ, kutubun) berbentuk jamak dan tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan satu kitab tertentu melainkan tulisan-tulisan. Bahasa Indonesia menahannya dengan "tulisan-tulisan", bukan dengan "kitab", sebab kata kitab dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur menunjuk satu benda yang utuh dan bernama. Ketelitian itu menjaga agar yang disebut tidak menyempit menjadi satu benda saja.

Kata sifat (قَيِّمَةٌ, qayyimatun) berarti lurus dan tegak, bukan baru atau berbeda. Jadi yang dinyatakan tentang tulisan itu bukan bahwa ia menggantikan yang sebelumnya, melainkan bahwa ia lurus. Sesuatu yang lurus tidak mengingkari yang lurus sebelumnya, dan 98:2 memang memakai kata yang sama dengan kata untuk lembaran para utusan terdahulu di 87:19. Yang lurus tidak mengingkari yang lurus sebelumnya, dan itu berlaku bagi tulisan mana pun. Yang lurus tidak mengingkari yang lurus sebelumnya, dan itu berlaku bagi tulisan mana pun.

Tafsiran

Ayat ini menutup keterangan tentang bukti yang dimulai di 98:2, dan ia yang terpendek di dalam surahnya. Rangkaian yang dipakai muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata sifatnya sendiri juga muncul 1 kali dalam bentuk ini.

Akar kata sifatnya dipakai di 597 ayat, salah satu akar yang paling sering muncul. Akar yang sama memberi kata untuk berdiri, untuk menegakkan, untuk kaum, dan untuk yang lurus. Akar itu juga memberi bentuk yang dipakai di 95:4 untuk sebaik-baik penegakan.

Kata sifat yang sama muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 98:5. Di sini ia menyifati tulisan-tulisan yang ada di dalam lembaran, dan di sana ia menyifati apa yang diperintahkan. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma kata yang berulang.

Susunan tiga ayat pertama surah ini juga patut dicatat. Yang pertama menyebut namanya, yang kedua menyebut siapa dia, dan yang ketiga menyebut apa yang dibawanya. Jadi keterangannya diberikan berlapis, dari nama ke orang ke isi, dan tiap lapis menambah satu hal saja. Susunan berlapis semacam itu membuat pembacanya sampai ke isinya melalui jalan yang tidak bisa dipotong. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati.

Renungan dan Hikmah

  • Kata sifat di ayat ini muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 98:3 dan 98:5. Di sini ia menyifati tulisan-tulisan yang ada di dalam lembaran, dan di sana ia menyifati apa yang diperintahkan Allah. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma kata yang berulang di dua tempat. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati.
  • Akar kata sifat di ayat ini dipakai di 597 ayat, salah satu akar yang paling sering muncul. Akar yang sama memberi bentuk yang dipakai Allah di 95:4 untuk sebaik-baik penegakan. Jadi akar yang menyifati susunan manusia di satu surah juga menyifati tulisan yang dibawa utusan di surah ini. Yang tegak pada manusia dan yang lurus pada tulisan dinamai dari satu sumber kata. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati.
  • Kata yang dipakai berbentuk jamak dan tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan satu kitab tertentu melainkan tulisan-tulisan. Padanan yang dipakai menahan bentuk jamaknya, sebab kata kitab dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur menunjuk satu benda yang utuh dan bernama. Ketelitian itu menjaga agar yang disebut tidak menyempit menjadi satu benda saja. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati.
  • Tiga ayat pertama surah ini memberikan keterangan berlapis: yang pertama menyebut namanya, yang kedua menyebut siapa dia, dan yang ketiga menyebut apa yang dibawanya. Tiap lapis menambah satu hal saja. Allah menyusunnya sedemikian sehingga pembacanya sampai ke isinya melalui jalan yang tidak bisa dipotong, dan tidak ada satu lapis pun yang bisa dilewati. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati.
  • Ayat ini yang terpendek di dalam surahnya, dan ia menutup keterangan tentang bukti. Sesudahnya surah berpindah kepada apa yang terjadi pada orang yang menerima bukti itu. Jadi bagian yang paling pendek berdiri sebagai engsel antara keterangan dan akibatnya. Apa yang membuat sebuah keterangan cukup, sehingga pembicaraan bisa berpindah kepada tanggapan atasnya? Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati.
  • Kata sifat yang dipakai berarti lurus dan tegak, bukan baru atau berbeda. Jadi yang dinyatakan Allah tentang tulisan itu bukan bahwa ia menggantikan yang sebelumnya, melainkan bahwa ia lurus. Sesuatu yang lurus tidak mengingkari yang lurus sebelumnya, dan 98:2 memang memakai kata yang sama dengan kata untuk lembaran para utusan terdahulu. Tiap lapis keterangan menambah satu hal saja, dan tidak ada lapis yang bisa dilewati.