وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ
Dan tidaklah terpecah orang-orang yang diberi Kitab kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُwa-maa tafarraqa lladziina uutuu l-kitaaba illaa min ba'di maa jaa'atsumu l-bayyinatudan tidaklah terpecah orang-orang yang diberi Kitab kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata
Catatan pilihan kata (ringkas)
(akar f-r-q, a-t-y, k-t-b, b-'-d, j-y-a, b-y-n): wa maa tafarraqa lladhiina uutu l-kitaaba illaa min ba'di maa jaa'athumu l-bayyinah diterjemahkan 'terpecah HANYA setelah datang bukti nyata' (akar f-r-q + akar b-y-n, perpecahan agama BUKAN krn kurang-bukti, tapi setelah bukti jelas datang: akar perpecahan=sikap, bukan ketakcukupan wahyu; sejalan sensus-kecukupan terjemahan ini, cf. 3:19, 42:14). Selaras.
Aplikasi
Fenomena perpecahan yang muncul justru setelah kejelasan: 'dan tidaklah terpecah orang-orang yang diberi Kitab kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata', ironi bahwa perpecahan bukan akibat kurangnya informasi, melainkan muncul setelah kejelasan tersedia, menunjukkan bahwa perpecahan berakar dari faktor lain (kepentingan, ego) bukan ketidaktahuan.