وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ

Dan tidaklah terpecah orang-orang yang diberi Kitab kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُwa-maa tafarraqa lladziina uutuu l-kitaaba illaa min ba'di maa jaa'atsumu l-bayyinatudan tidaklah terpecah orang-orang yang diberi Kitab kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. تَفَرَّقَtafarraqaberpecah
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. أُوتُواuutuudiberi
  5. الْكِتَابَl-kitaabaKitab
  6. إِلَّاillaakecuali
  7. مِنْmindari
  8. بَعْدِba'disesudah
  9. مَاmaaapa yang
  10. جَاءَتْهُمُjaa'atsumudatang kepada mereka
  11. الْبَيِّنَةُl-bayyinatubukti nyata

Inti bacaan

Fenomena perpecahan yang muncul justru setelah kejelasan: 'dan tidaklah terpecah orang-orang yang diberi Kitab kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata', ironi bahwa perpecahan bukan akibat kurangnya informasi, melainkan muncul setelah kejelasan tersedia, menunjukkan bahwa perpecahan berakar dari faktor lain (kepentingan, ego) bukan ketidaktahuan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الْبَيِّنَةُ, al-bayyinatu) muncul untuk kedua kalinya di ayat ini, dan kedua kemunculannya di seluruh Al-Qur'an ada di dalam surah ini, yaitu di 98:1 dan 98:4. Jadi kata yang menjadi nama surah ini tidak dipakai di ayat lain mana pun.

Yang paling perlu diperhatikan adalah letak perpecahannya di dalam waktu. Yang tertulis bahwa mereka tidak terpecah kecuali sesudah bukti itu datang, bukan sebelumnya. Jadi datangnya bukti tidak menyatukan mereka melainkan justru menandai saat mereka terpecah. Susunan itu berlawanan dengan yang biasa dibayangkan orang tentang datangnya keterangan yang jelas.

Kata kerja (تَفَرَّقَ, tafarraqa) berasal dari akar yang berarti memisahkan. Akar itu dipakai di 66 ayat, dan artinya terpisah menjadi bagian-bagian. Bentuk yang dipakai bentuk yang menyatakan perbuatan yang dikerjakan oleh pelakunya sendiri, bukan yang ditimpakan dari luar. Jadi mereka memisahkan diri, bukan dipisahkan.

Rangkaian (مِنْ بَعْدِ مَا, min ba'di maa) menandai sesudah, dan susunannya dirangkai dengan pengecualian di depannya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "kecuali setelah", memakai dua kata untuk menahan pembatasan dan waktunya sekaligus. Yang dinyatakan bukan sekadar urutan melainkan sebab: perpecahan itu tidak akan ada seandainya buktinya tidak datang.

Susunan 98:1 dan ayat ini bercermin. Yang pertama menyatakan mereka tidak berhenti sampai bukti datang, dan yang ini menyatakan mereka tidak terpecah kecuali sesudah bukti datang. Jadi satu peristiwa yang sama, yaitu datangnya bukti, menjadi batas bagi dua keadaan yang berbeda. Al-Qur'an menaruh keduanya berjarak dua ayat tanpa menghubungkannya dengan satu kalimat pun.

Rangkaian (مِنْ بَعْدِ مَا, min ba'di maa) menandai sesudah, dan susunannya dirangkai dengan pengecualian di depannya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "kecuali setelah", memakai dua kata untuk menahan pembatasan dan waktunya sekaligus. Yang dinyatakan bukan sekadar urutan melainkan sebab: perpecahan itu tidak akan ada seandainya buktinya tidak datang.

Yang disebut terpecah di ayat ini orang-orang yang diberi Kitab, bukan dua golongan yang disebut di 98:1. Jadi yang dibicarakan berpindah dari yang menolak kepada yang menerima. Al-Qur'an tidak menerangkan perpindahan itu dengan satu kalimat pun. Yang sudah menerima keterangan ternyata bisa terpecah justru karena keterangannya, dan itu perkara yang berbeda dari menolak sejak awal. Yang paling terang justru yang memisahkan orang, dan itu tidak pernah diterangkan sebabnya. Yang paling terang justru yang memisahkan orang, dan itu tidak pernah diterangkan sebabnya.

Tafsiran

Ayat ini menyatakan bahwa perpecahan orang yang diberi Kitab terjadi sesudah bukti itu datang, bukan sebelumnya. Jadi datangnya bukti tidak menyatukan mereka melainkan justru menandai saat mereka terpecah. Susunan itu berlawanan dengan yang biasa dibayangkan orang tentang datangnya keterangan yang jelas.

Kata yang menyebut buktinya muncul untuk kedua kalinya di sini, dan kedua kemunculannya di seluruh Al-Qur'an ada di dalam surah ini, yaitu di 98:1 dan 98:4. Jadi kata yang menjadi nama surah ini tidak dipakai di ayat lain mana pun.

Kata kerjanya berasal dari akar yang dipakai di 66 ayat, dan artinya terpisah menjadi bagian-bagian. Bentuk yang dipakai bentuk yang menyatakan perbuatan yang dikerjakan oleh pelakunya sendiri, bukan yang ditimpakan dari luar. Jadi mereka memisahkan diri, bukan dipisahkan, dan tanggungan perpecahan itu tinggal pada mereka.

Susunan 98:1 dan ayat ini bercermin. Yang pertama menyatakan mereka tidak berhenti sampai bukti datang, dan yang ini menyatakan mereka tidak terpecah kecuali sesudah bukti datang. Jadi satu peristiwa yang sama menjadi batas bagi dua keadaan yang berbeda. Al-Qur'an menaruh keduanya berjarak dua ayat tanpa menghubungkannya dengan satu kalimat pun.

Renungan dan Hikmah

  • Yang tertulis bahwa mereka tidak terpecah kecuali sesudah bukti itu datang, bukan sebelumnya. Jadi datangnya bukti tidak menyatukan mereka melainkan justru menandai saat mereka terpecah. Susunan itu berlawanan dengan yang biasa dibayangkan orang tentang datangnya keterangan yang jelas. Mengapa sesuatu yang paling terang justru memecah orang yang menerimanya? Yang memisahkan diri tidak punya siapa pun untuk dituntut atas perpecahannya sendiri. Yang memisahkan diri tidak punya siapa pun untuk dituntut atas perpecahannya sendiri.
  • Bentuk kata kerja yang dipakai Allah menyatakan perbuatan yang dikerjakan oleh pelakunya sendiri, bukan yang ditimpakan dari luar. Jadi mereka memisahkan diri, bukan dipisahkan. Akarnya dipakai di 66 ayat. Perbedaan itu menentukan siapa yang menanggung akibatnya: yang dipisahkan bisa menuntut yang memisahkan, dan yang memisahkan diri tidak punya siapa pun untuk dituntut. Yang memisahkan diri tidak punya siapa pun untuk dituntut atas perpecahannya sendiri. Yang memisahkan diri tidak punya siapa pun untuk dituntut atas perpecahannya sendiri.
  • Kata yang menyebut buktinya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 98:1 dan 98:4, dan keduanya di dalam surah ini. Jadi kata yang menjadi nama surah ini tidak dipakai Allah di ayat lain mana pun. Sebuah kata yang cuma hidup di satu surah menahan perhatian pada surah itu, dan pembacanya tidak punya tempat lain untuk menimbangnya. Yang memisahkan diri tidak punya siapa pun untuk dituntut atas perpecahannya sendiri.
  • Susunan 98:1 dan ayat ini bercermin. Yang pertama menyatakan mereka tidak berhenti sampai bukti datang, dan yang ini menyatakan mereka tidak terpecah kecuali sesudah bukti datang. Jadi satu peristiwa yang sama menjadi batas bagi dua keadaan yang berbeda. Allah menaruh keduanya berjarak dua ayat tanpa menghubungkannya dengan satu kalimat pun. Yang memisahkan diri tidak punya siapa pun untuk dituntut atas perpecahannya sendiri.
  • Rangkaian yang menandai waktu di ayat ini dirangkai dengan pengecualian di depannya, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar urutan melainkan sebab. Perpecahan itu tidak akan ada seandainya buktinya tidak datang. Allah menyatakannya dengan susunan kalimat, bukan dengan kata yang berarti sebab, dan susunan itu sendiri sudah cukup untuk menyampaikannya. Yang memisahkan diri tidak punya siapa pun untuk dituntut atas perpecahannya sendiri.
  • Yang disebut terpecah di ayat ini orang-orang yang diberi Kitab, bukan dua golongan yang disebut di 98:1. Jadi yang dibicarakan berpindah dari yang menolak kepada yang menerima. Allah tidak menerangkan perpindahan itu dengan satu kalimat pun. Yang sudah menerima keterangan ternyata bisa terpecah justru karena keterangannya, dan itu perkara yang berbeda dari menolak. Yang memisahkan diri tidak punya siapa pun untuk dituntut atas perpecahannya sendiri.