وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan pertanggungjawaban kepada-Nya lagi hanif, menegakkan salat, dan memberikan zakat. Itulah pertanggungjawaban yang lurus.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَwa-maa umiruu illaa li-ya'buduu llaaha mukhlishiina lahu d-diina hunafaa'amereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan pertanggungjawaban kepada-Nya lagi hanif
  2. وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِwa-yuqiimuu sh-shalaata wa-yu'tuu z-zakaata wa-dzaalika diinu l-qayyimatidan menegakkan salat, dan memberikan zakat, dan itulah pertanggungjawaban yang lurus

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. أُمِرُواumiruumereka diperintahkan
  3. إِلَّاillaakecuali
  4. لِيَعْبُدُواli-ya'buduuagar mereka menyembah
  5. اللَّهَllaahaAllah
  6. مُخْلِصِينَmukhlishiinadengan memurnikan
  7. لَهُlahubaginya
  8. الدِّينَd-diinapertanggungjawaban
  9. حُنَفَاءَhunafaa'alurus
  10. وَيُقِيمُواwa-yuqiimuudan hendaklah mereka menegakkan
  11. الصَّلَاةَsh-shalaatasalat
  12. وَيُؤْتُواwa-yu'tuudan mereka menunaikan
  13. الزَّكَاةَz-zakaatazakat
  14. وَذَٰلِكَwa-dzaalikadan itulah
  15. دِينُdiinuagama
  16. الْقَيِّمَةِl-qayyimatiyang lurus

Inti bacaan

Definisi ringkas kewajiban inti: 'mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan pertanggungjawaban kepada-Nya lagi hanif, menegakkan salat, dan memberikan zakat', rangkuman esensial ajaran yang sederhana: keikhlasan, ibadah rutin, dan kepedulian sosial, kerangka minimal namun mendasar.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(istikamah)" dan "(benar)" tidak dipakai. Kata tunjuk (وَذَٰلِكَ, wa-dzaalika) memuat dzaalika yang menunjuk jauh, dan hal itu dikonfirmasi morfologi. Karena itu ia diterjemahkan "itulah" dan bukan "inilah"; draf yang sudah memakai bentuk jauh sejak awal memang tepat, dan tidak diubah.

Rangkaian (مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ, mukhlishiina lahu d-diina) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:29, 10:22, 29:65, 31:32, 40:14, 40:65, dan 98:5. Di 10:22, 29:65, dan 31:32 ia muncul dalam gambaran orang yang berdoa ketika ditimpa bahaya, dan di 7:29, 40:14, serta 40:65 ia muncul sebagai perintah.

Kata (حُنَفَاءَ, hunafaa-a) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:31 dan ayat ini. Akarnya berarti condong lurus meninggalkan yang salah. Ia dipakai di 12 ayat, dan bentuk tunggalnya muncul di 10 ayat, antara lain 2:135, 3:67, 3:95, 6:79, dan 30:30. Jadi bentuk jamaknya jauh lebih jarang daripada bentuk tunggalnya, dan kedua kemunculan bentuk jamak itu berada di dalam kalimat tentang penyembahan yang tidak dicampuri.

Rangkaian (دِينُ الْقَيِّمَةِ, diinu l-qayyimati) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata terakhirnya berasal dari akar yang sama dengan (قَيِّمَةٌ, qayyimatun) di 98:3, sehingga satu kata sifat muncul dua kali di dalam surah ini. Di 98:3 ia menyifati tulisan-tulisan, dan di sini ia menyifati apa yang diperintahkan.

Yang paling perlu diperhatikan adalah apa yang disebut sebagai isi perintahnya. Yang disebut cuma tiga hal: menyembah Allah dengan mengikhlaskan, menegakkan salat, dan memberikan zakat. Tidak ada yang keempat, dan tidak ada keterangan tentang jumlah atau caranya. Sebuah pernyataan yang menyebut isi perintah dengan sependek itu menutup pembacaan bahwa yang dituntut sesuatu yang rumit dan bercabang.

Kata (الدِّينَ, ad-diina) memikul dua makna yang dipakai bergantian di seluruh Al-Qur'an, yaitu hari perhitungan dan agama. Padanan "pertanggungjawaban" mengikuti makna yang pertama, konsisten dengan pilihan yang sama di 95:7 dan 107:1. Jadi yang diikhlaskan bukan sekadar bentuk ibadah, melainkan kepada siapa seseorang merasa harus mempertanggungjawabkan hidupnya.

Letak ayat ini juga menerangkan. Ia datang tepat sesudah 98:4 yang menyebut perpecahan, sehingga kependekan daftarnya berhadapan langsung dengan perpecahan yang baru saja disebutkan. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan urutan ayatnya sendiri yang mengerjakannya tanpa perlu penjelasan tambahan. Yang diperintahkan cuma tiga hal, dan kependekan itu berhadapan dengan perpecahan tadi.

Tafsiran

Ayat ini menyatakan bahwa yang diperintahkan kepada mereka cuma tiga hal, dan yang paling perlu diperhatikan adalah kependekan daftarnya. Yang disebut menyembah Allah dengan mengikhlaskan, menegakkan salat, dan memberikan zakat. Tidak ada yang keempat, dan tidak ada keterangan tentang jumlah atau caranya.

Sebuah pernyataan yang menyebut isi perintah dengan sependek itu menutup pembacaan bahwa yang dituntut sesuatu yang rumit dan bercabang. Dan letaknya tepat sesudah 98:4 yang menyebut perpecahan, sehingga kependekan itu berhadapan langsung dengan perpecahan yang baru saja disebutkan.

Rangkaian yang menyebut pengikhlasan muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:29, 10:22, 29:65, 31:32, 40:14, 40:65, dan 98:5. Di 10:22, 29:65, dan 31:32 ia muncul dalam gambaran orang yang berdoa ketika ditimpa bahaya. Jadi rangkaian yang sama dipakai untuk apa yang terjadi dengan sendirinya ketika orang terdesak dan untuk apa yang diperintahkan pada keadaan biasa.

Kata terakhir ayat ini berasal dari akar yang sama dengan kata sifat di 98:3, sehingga satu kata sifat muncul dua kali di dalam surah ini. Di 98:3 ia menyifati tulisan-tulisan, dan di sini ia menyifati apa yang diperintahkan. Yang lurus pada tulisan dan yang lurus pada perintah dinamai dengan kata yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Yang disebut Allah sebagai isi perintahnya cuma tiga hal: menyembah dengan mengikhlaskan, menegakkan salat, dan memberikan zakat. Tidak ada yang keempat, dan tidak ada keterangan tentang jumlah atau caranya. Sebuah pernyataan yang menyebut isi perintah sependek itu menutup pembacaan bahwa yang dituntut sesuatu yang rumit dan bercabang. Ketiadaan ukuran menutup jalan untuk merasa aman lewat perhitungan sendiri. Ketiadaan ukuran menutup jalan untuk merasa aman lewat perhitungan sendiri.
  • Letak ayat ini tepat sesudah 98:4 yang menyebut perpecahan, sehingga kependekan daftarnya berhadapan langsung dengan perpecahan yang baru saja disebutkan. Allah tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Apa yang sebenarnya dipertengkarkan orang, kalau yang diperintahkan kepada mereka cuma tiga hal sependek ini? Ketiadaan ukuran menutup jalan untuk merasa aman lewat perhitungan sendiri. Ketiadaan ukuran menutup jalan untuk merasa aman lewat perhitungan sendiri.
  • Rangkaian yang menyebut pengikhlasan muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:29, 10:22, 29:65, 31:32, 40:14, 40:65, dan 98:5. Di 10:22, 29:65, dan 31:32 Allah memakainya dalam gambaran orang yang berdoa ketika ditimpa bahaya. Jadi rangkaian yang sama dipakai untuk apa yang terjadi dengan sendirinya ketika orang terdesak dan untuk apa yang diperintahkan pada keadaan biasa. Ketiadaan ukuran menutup jalan untuk merasa aman lewat perhitungan sendiri. Ketiadaan ukuran menutup jalan untuk merasa aman lewat perhitungan sendiri.
  • Kata yang berarti condong lurus muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk jamak ini, yaitu di 22:31 dan 98:5, sedangkan bentuk tunggalnya muncul di 10 ayat, antara lain 2:135, 3:67, 3:95, 6:79, dan 30:30. Jadi bentuk jamaknya jauh lebih jarang, dan kedua kemunculannya berada di dalam kalimat tentang penyembahan yang tidak dicampuri. Ketiadaan ukuran menutup jalan untuk merasa aman lewat perhitungan sendiri.
  • Kata terakhir ayat ini berasal dari akar yang sama dengan kata sifat di 98:3, sehingga satu kata sifat muncul dua kali di dalam surah ini. Di 98:3 ia menyifati tulisan-tulisan, dan di sini ia menyifati apa yang diperintahkan Allah. Yang lurus pada tulisan dan yang lurus pada perintah dinamai dengan kata yang sama, dan hubungannya tidak pernah dinyatakan. Ketiadaan ukuran menutup jalan untuk merasa aman lewat perhitungan sendiri.
  • Kata yang diterjemahkan pertanggungjawaban di ayat ini memikul dua makna yang dipakai bergantian di seluruh Al-Qur'an, yaitu hari perhitungan dan agama. Padanan yang dipakai mengikuti makna yang pertama, konsisten dengan pilihan yang sama di 95:7 dan 107:1. Jadi yang diikhlaskan bukan sekadar bentuk ibadah, melainkan kepada siapa seseorang merasa harus mempertanggungjawabkan hidupnya. Ketiadaan ukuran menutup jalan untuk merasa aman lewat perhitungan sendiri.